
Devan tengah duduk menatap serius dokter di depannya yang sedang memeriksa hasil pemeriksaan istrinya dengan raut wajah tidak terbaca.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Devan penasaran.Dokter itu menghela nafas letih lalu mendogakkan wajahnya menatap Devan yang tengah gusar.
"Begini tuan Devan, kami sudah melakukan pemeriksaan keseluruhan, pada istri anda dan semua hasilnya baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu, kenapa istri saya belum sadar dok." tanyanya lagi dengan sorot mata menyelidik.
"Justru itu masalahnya tuan," ucapnya pelan penuh kehati-hatian.Devan mengerutkan kening mendengar pernyataan itu
"Maksud dari kata-kata anda itu apa dok.?" Tanya Devan santai namun dengan sorot mata tajam.
"Begini tuan sebagai manusia kita hanya bisa berusaha yang terbaik dan hanya Allah yang menentukan segalanya."
"Tolong dokter katakan pada intinya," ujarnya dengan intonasi meninggi. Dokter menelan Slavina dengan kasar sembari mengelap keringatnya begitu gugup berada di depan Devan yang menatapnya seakan mau menerkam.
"Begini tuan istri anda baik-baik saja tapi sekarang dia mengalami koma."
Devan terdiam sejenak mencoba memperjelas apa yang di dengar.
"Coba jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi dengan istri saya." Tanyanya lagi mulai serius namun dengan sorot mata tajam
"Be.... nar tuan istri anda koma." ucapnya gugup dengan tangan bergetar, membuat Devan tergelak, lalu bangkit.
brukkkk Devan mengebrak meja dengan keras.
"Jagan main-main denganku.Anda tidak sadar sekarang berhadapan dengan siapa hah" teriaknya menggema di seluruh ruangan.
Dokter itu terdiam ketakutan setengah mati mendengar kemarahan Devan yang mengerikan.
"Tadi anda bilang istri saya baik-baik saja sekarang anda bilang dia koma
Devan menghampiri dokter itu dan mencengkram bajunya.
"Anda ingi mempermainkan saya dokter,?" ujarnya penuh emosi
"Tidak.....tidak tuan, mana berani saya, apa yang saya ucap kan itu benar tuan." Jawabnya terbata-bata sembari mengangkat kedua tangannya tanda minta ampun.
Devan melepaskan cengkraman nya lalu memijat pelipisnya merasa frustasi.
"Bagaimana mungkin, aku melihat sendiri mobil itu belum sampai menabrak laura." Lirihnya
lalu menatap dokter itu dengan tajam.
__ADS_1
"Kenapa ini bisa terjadi dokter" teriaknya dengan tatapan nyalang, membuat dokter itu ketakutan setengah mati.
"Maaf tuan, itu di luar kuasa kami, ini juga jarang terjadi di dunia kedokteran."
"Lakukan apapun, berikan obat yang terbaik atau aku akan membawanya keluar negeri, ya... aku akan membawanya ke Singapura."
"Maaf kan saya tuan... masalah nya bukan di pengobatan. Secara fisik nona jelas baik-baik saja tapi...." ucap nya terpotong seraya menunduk.
"Tapi apa...?" tanyanya sembari mengalihkan matanya menatap dokter itu yang ketakutan.
"Maafkan saya tuan mungkin ini hanya kesimpulan saya saja, mungkin batin nona yang terluka hingga dia tidak ingin sadar dari tidurnya."
"Apa...".Devan terkejut mendengar pernyataan dokter itu, membuat nya menganga tak percaya.
"Terus apa yang bisa, aku lakukan untuk membuat nya sadar" Devan mengusab rambutnya dengan kasar merasa frustasi.
"Itu semua tergantung dari keajaiban dan nona sendiri, jika nona tidak punya semgat hidup meski di bawa kemana pun dia tidak akan sadar." Mendengar itu Devan menjatuhkan tubuhnya bersandar di meja.
" Laura kenapa jadi begini.... aku harus berbuat apa" Lirihnya bersama air mata yang telah lolos dari pelupuk matanya.
"Sabar tuan selama dunia ini masih berputar tidak ada yang tidak mungkin." ujar dokter meyakinkan sembari menepuk pelan pundaknya.
******
Saga berlari dengan kencang sepeti orang kesetanan setelah tau, kamar Emeli dia berhenti di depan ruang Emeli. Nafas nya tersengal dengan mata mulai mengembun.
Saga berjalan dengan gontai menatap Emeli yang terbaring di rumah sakit, ada sesak menjalar di dadanya air mata telah lolos dari pelupuk matanya.
Dia duduk dengan perlahan. Lalu meraih tangan Emeli, mencium tangan itu, ada ras penyesalan begitu mendalam, ada rasa yang tak mampu di ungkapkan, sembari mengusab air matanya yang telah jatuh.
"Kenapa jadi seperti ini Emeli...,
kenapa jadi seperti ini.... aku yang salah. Aku yang salah aku mohon maaf kan aku, kamu boleh menghukum ku apa saja, tapi Jagan begini.
Aku seperti tidak bisa bernafas, menatap mu berbaring di sini.
pukul... aku, marahi...aku, aku rela..... Emeli, kamu boleh minta apapun meski nyawaku mintalah tapi Jagan begini. Saga menggelengkan kepala sembari menangis tapi jagan begini Emeli."Saga melepaskan tangannya lalu mengusab lembut wajah Emeli.
"Apa yang sebenarnya terjadi Emeli.?"lirihnya menatap nanar gadis yang terbaring di ranjang.
Tiba-tiba pintu terbuka Saga mengusab air matanya lalu membalikkan wajah menatap seseorang yang telah berdiri di ambang pintu. Terlihat penampilan nya begitu lusuh dan berantakan.Saga bergegas bangkit dan merangkul Devan keluar ruangan.
"Sebenarnya apa yang terjadi kenapa Laura begini?"tanya Saga namun Devan hanya diam tak bergeming dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Devan.?" tanyanya lagi berteriak.Tiba-tiba Devan menatap tajam Saga dan berbalik mencengkeramnya.
"Kamu tanya padaku, sebenarnya apa terjadi hah.... justru aku yang harusnya bertanya padamu, rahasia apa, yang kamu dan Laura sembunyikan, hingga ada seseorang yang ingin membunuhnya."tanyanya lebih marah
Alangkah terkejutnya Saga mendengar pernyataan Devan badannya melemas dan tidak tau harus berbuat apa.
"Kamu bohong kan Devan, tidak mungkin Dia di celakai seseorang." Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.Dengan cepat Devan menghempaskan cengkraman Saga dan berbalik mencengkram nya dengan kuat.
"Untuk apa aku bohong.... kalau memang aku bohong, aku tidak akan dia sini. Dan lelaki itu tidak akan terbujur kaku di kamar mayat." teriaknya dengan mata penuh emosi sembari menunjuk salah satu ruangan
"Tidak kamu salah Devan," Saga menggelengkan kepala tidak percaya Fandi telah tiada.Devan memperkuat cengkraman nya menggoncang tubuh Saga dengan kuat
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan Saga, hingga seseorang ingin mencelakai istriku. jawab Saga... jawab jangan diam."teriak nya lagi.
"Bahkan kalian pernah pergi bersama, dan setelah pulang, lengan Laura terluka, aku tanya sekali lagi katakan Saga apa yang sebenarnya terjadi." teriaknya penuh emosi melengking sempurna di seluruh ruangan.
"Katakan Saga...."Devan geram melihat saga diam tak bergeming langsung, melayangkan pukulan ke wajah Saga hingga tersungkur. Devan menghampiri nya dan terus memukulinya membabi buta membuat Saga bersimbah darah.
Tiba-tiba Wijaya dan Ardi berlari menghampiri dan melerai. Ardi memegang tubuh Devan sedang Wijaya menghampiri Saga yang tersungkur dengan mulut berdarah.
"Berhentilah Devan tenang lah,"ujar Ardi memegangi tubuh putranya. Devan berontak namun Ardi memeganginya semakin kuat.
"Lepaskan aku pa... karna dia Laura koma, dan dokter bilang Laura tidak punya semangat untuk hidup, aku yakin semua ini gara-gara
dia pa.." teriaknya meronta mencoba melepaskan.
Pernyataan Devan membuat semua orang tertegun, dan tidak percaya apa yang di dikatakannya.
"Apa yang kamu ucapakan Devan..?" tanya Ardi sembari merengkuh lengan putranya dan menatapnya nanar.
"Iya pa... dokter bilang Laura koma," lirihnya Tampak lesu dengan mata mulai mengembun.
Ardi begitu terkejut dengan keadaan menantunya.
Tiba-tiba Ardi merasakan sakit yang luar biasa di jantungnya di memegang dadanya sembari meringis. Semua orang masih tertegun langsung menatap Ardi bersamaan yang sedang meringis.
"Papa kenapa....?" tanya Devan
Wijaya yang menatap sahabatnya kesakitan langsung menghampirinya .
"Devan kita bawa dia ke dokter"ucap Wijaya sembari memapahnya. Lalu mereka membawanya meninggalkan Saga yang mematung .Sedang Saga mengepalkan tangan dengan kuat dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Benar kata devan, aku yang salah secara tidak langsung akulah yang mencelakai Emeli.
__ADS_1
Fandi aku tidak menyangka kamu akan berakhir seperti ini, Aku berjanji akan menjaga Emeli. Ku harap kamu bisa tenang di sana.
Aaaaarkrkk teriak Saga sembari menjambak rambutnya.Di iringi air mata yang lolos dari pelupuk matanya.