
"Tok... tok... tok.. sayang apa kamu sudah Bagun,"
Devan mengetok pintu kamar Emeli namun tidak ada sautan,berulang kali di mencoba tapi hasilnya tetap sama.
"Mungkin Laura butuh waktu untuk sendiri bagaimana pun masalah ini tidak mudah baginya "
"Baiklah sayang kalau kamu tidak mau keluar tapi Jagan lupa makan, " lalu bergegas pergi tanpa merasa curiga.
***
Di kantor Devan yang tengah sibuk berkutat dengan berkas-berkas penting perusahaan nya.
"Bruk...." seseorang mengebrak meja kerjanya dengan cukup keras, Devan yang terkejut mendogakkan wajah menatap seseorang yang berani mengganggunya.
"Papa..?" lirihnya masih dalam keterkejutan menatap heran Papa nya yang terlihat marah.
"Ada apa Pa?" tanyanya penasaran.
"Kamu bilang ada apa, setelah kamu mempermalukan Papa di depan keluarga Wijaya," sahutnya geram.
"Maksud Papa apa? tanyanya lagi dengan tatapan menyelidik.
"Jagan berlaga tidak tau, aku tau semua, yang kamu lakukan Devan. Kamu telah berbuat hal yang tidak pantas dengan merebut klien perusahan wijaya dengan segaja bukan." tanyanya dengan marah, mendengar ucapan Papanya membuat Devan terperanjat.
"Itu aku lakukan, karna aku punya alasan sendiri Pa." Jawabnya tertunduk gugup.
"Cukup Devan apapun alasannya, kamu tidak boleh bertidak seperti itu, aku tidak mau tau kembalikan Klien yang kamu rebut ,kalau tidak kamu tau kan kalau Papa sudah marah." Ancamnya.
"Baiklah nanti Devan lakukan pa." Ardi menghela nafas kesal, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi depan putranya.
"Aku tau alasan kamu melakukan itu, karena Laura kan,tapi tidak begini Devan," ujarnya dengan nada lebih pelan.Menatap putranya yang terlihat bingung.
"Aku hanya ingin menggertak Saga untuk menjauhi istriku Pa , sebagai seorang lelaki aku tau kalau Saga menaruh hati pada istriku dan aku tidak suka kelancangan nya itu Pa." Ardi bangkit lalu mendekati putranya yang terlihat frustasi. menepuk pundak putranya mencoba menenangkan.
"Papa tau nak, kamu cemburu, lihat Papa ,apa pernah Papa mengajarkanmu bersikap bodoh seperti itu." Devan mendongakkan wajahnya menatap netra Ardi yang serius.
"Kamu sadar apa yang kamu lakukan itu bukan membuat Laura bersimpati, malah sebaliknya dia akan membenci mu" ujarnya.
"Maafkan Devan pa, Devan terbawa emosi
Devan akan memperbaiki semuanya." Adi menghela nafas merasa beban yang dipikulnya semakin berat.
"Kamu tau Wijaya tetap diam meski kamu bersikap kasar dengan putrinya, karna masih menghormati janjinya padaku. Dengan sikap mu yang seperti ini itu sama saja mencoreng namaku di depan Wijaya.
Mana janjimu yang akan membahagiakan Laura, aku sudah berusaha keras membujuk Wijaya untuk menerima mu , sekali lagi kamu membuat ulah. Aku tidak akan pernah membantu mu lagi. Devan bangkit mengengam tangan Papanya yang terlihat marah dengan sorot mata nanar.
__ADS_1
"Pa aku minta maaf.Ujar Devan dengan sorot mata penyesalan. Ardi mendongkakan wajahnya menatap putranya yang berdiri di sampingnya dengan tatapan memelas.
"Aku tidak butuh Maaf mu Devan, buktikan bahwa kamu memang layak untuk Laura, melepaskan tangan Devan lalu melangkah pergi dengan rasa kecewa.
"Kenapa jadi begini," lirihnya dengan sorot mata penuh penyesalan.
*****
Setelah pulang kantor Saga tidak berniat pulang kerumah justru mobilnya berhenti di rumah Devan.
Hatinya tidak tenang sebelum memastikan keadaan Emeli, pasalnya sudah dari semalam Emeli tidak mengangkat telpon nya.
Dia keluar dari mobi sedikit tergesa-gesa pikirannya hanya fokus pada Emeli rasa khawatirnya terus menuntun nya untuk memastikan ke keadaannya.Saat berjalan masuk dia berpapasan dengan bik Imah.
"Den Saga... "ucapnya namun Saga tidak menanggapi dia terus mengerakkan kakinya menuju kamar Emeli.
"Tok... tok... tok.. Emeli kamu di dalam, ujarnya mengetok pintu kamar Emeli dengan cemas. sedang Imah yang melihatnya dengan cepat menghampiri.
"Maaf Den." ucap Imah yang berdiri di samping Saga, membuat Saga berbalik menatapnya.
"Ada apa bik?" jawab Saga penasaran melihat wajah Ima kelihatan gusar.
"Sebenarnya,dari pagi nona Laura belum keluar kamar Den, saya sudah mencoba mengetok ya berulang kali untuk sekedar mengantarkan makanan namun tidak ada sautan Fen." Ungkapnya jujur
"Kemana kamu Emeli,"
Ditengah kecemasannya mata Saga teralih pada handphone Emeli yang tergelak di ranjang.
"Saya harus bagaimana Den, apa saya harus memberitahu tuan." tanya Imah kebingungan.
"Apa Devan tidak tau kalau istrinya pergi?"
"Sepertinya tidak Den, bahkan tuan tadi menyuruh saya untuk mengantarkan makanan untuk nona Laura." sahutnya.
"Ada pa ini..?" ucap Devan yang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah penasaran.Dengan cepat saga menarik kerah baju Devan.
"Di mana Laura?" teriak Saga penuh emosi.
"Apa maksud mu?" tegas Devan yang tidak mengerti apa-apa.
" Jagan berlaga tidak tau, Laura pergi..., bahkan handphonenya tertinggal di sini, kamu yang menyembunyikan dia kan?" tanyanya dengan intonasi tinggi.
"Lepaskan, aku bahkan tidak tau kalau dia pergi." tegas Devan menghempas tangan Saga lalu tatapan nya beralih pada bik Imah yang berdiri ketakutan.
"Bik Imah apa benar yang di katakan Saga,
__ADS_1
laura pergi." Imah tidak menjawab hanya menunduk takut."
"Bik jawab bik" teriak Devan kesal.
"Iya Den.., saya baru tau kalau nona tidak ada di kamarnya, saya kira nona hanya malas keluar kamar." Jawabnya gugup.
" Kenapa kamu baru bilang bik?"
"Maafkan saya tuan," jawabnya bingung,
setelahnya Devan langsung berlari keluar terburu-buru.
"Mau kemana kamu?" teriak Saga yang melihat Devan berlari keluar, lalu mengejarnya.
"Robi sini.. "ucap Devan memanggil sekuritinya.
yang tengah berdiri di pos jaga rumahnya. securiti itu dengan cepat menghampiri.
"Ada apa tuan?" tanyanya penasaran.
"Kamu tau nona Laura pergi kemana?" tanya Devan dengan tatapan tajam.
"Itu kemaren malam nona emm" jawabnya gugup
"Jawab yang jelas?" teriak Devan lalu menarik baju Robi membuatnya gemetar ketakutan.
"Semalem nona pergi, katanya hanya mengantar tas ransel tuan, setelah itu saya ketiduran, tidak tau nona kembali atau tidak." jujurnya.
"Bruk... Devan meninju securiti itu hingga tersungkur.
"Dasar bodoh kenapa kamu tidak bilang padaku." teriaknya kesal.
"Maaf tuan, tadi pagi tuan buru-buru jadi saya tidak sempat memberitahu."
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada istriku" teriaknya lagi, sambil melayangkan Beberapa pukulan ke wajah Robi.
"Ampun tuan, saya tidak mengira nona akan pergi dan tidak kembali" lirihnya mengangkat kedua tangan tanda menyerah.Devan mengehela nafas kesal lalu melepaskan Robi
"Itu bukan salahnya, tapi salah kamu menjadi suami tidak berguna," sahut Saga yang berdiri tidak jauh darinya.
"Berani kamu?" ucap Devan mengacungkan tangan ke tubuh Saga
"Aku tidak punya waktu meladeni mu lebih baik aku pergi mencari Laura." Jawabnya sinis, menghempaskan tangan Devan, lalu masuk mobil.
"Emeli kemana kamu, apa ini ada hubungannya dengan kecurigaan mu terhadap seseorang"
__ADS_1