Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
Maafkan Laura diandra


__ADS_3

"Kamu tidak pantas hidup Diandra, kamu harus mati,?" Emeli menjulurkan tangan mencekik kuat leher Diandra dengan tatapan penuh kebencian.


Diandra mencoba melawan namun kekuatan Emeli jauh lebih besar, dada Diandra sudah terasa sesak dengan raut wajah yang memerah kesakitan.


Devan terbelalak lalu mendorong tubuh Emeli dengan kasar hingga tersungkur di lantai.


"Kamu tidak apa-apa Diandra,?" tanya Devan khawatir, sembari mengelus punggung Diandra.


"Uhuk... uhuk."Diandra batuk memegangi


dadanya yang terasa sesak.


"Aku salah apa Laura." Lirihnya dengan raut wajah tampa dosa.


Kini tatapan Devan teralih pada Emeli, yang sudah bangkit, menatap salah satu istrinya itu dengan penuh amarah.


"Apa kamu gila Laura, apa yang kamu lakukan? Teriak, Devan geram.


"Aku tidak gila, dia yang gila." menunjuk Diandra dengan marah, Membuat Devan berbalik menatap Diandra yang merintih kesakitan dengan tatapan tak terbaca.


"Ada apa semua ini Diandra.?" tanya Devan dengan tatapan menyelidik.


"Aku juga tidak tau Devan," Lirihnya, memelas.


"Jangan membuat kami bingung apa maksudmu Laura...?" tanya Devan lagi yang sudah berbalik menatap Emeli.


"Asal kamu tau Devan, istrimu Diandra adalah iblis, dia pembunuh berdarah dingin. Bahkan istrimu Laura telah dia lenyapkan?Jelas Emeli. Membuat Devan semakin bingung.


"Laura apa yang kamu katakan, Lihat kamu baik-baik saja, kamu masih berdiri di sini kenapa kamu menganggap dirimu, meninggal.?" Tanyanya semakin bingung.


"Laura meninggal Devan iblis itu yang membunuhnya, bukan cuma Laura, Dr Naina kak Fandi ,dia juga yang melenyapkannya." Tegas Emeli bergetar penuh emosi seolah ada beban berat yang saat ini dia lepaskan.


Devan menggeleng kepala tak percaya dia melangkah mendekati Emeli mencoba menenangkan emosinya.


"Laura aku tau, kamu sedang banyak pikiran tolong sadarlah, Jagan buat aku kahawatir," Devan mencoba menggapai lengan Emeli mencoba memeluknya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, justru dia yang kehilangan akal sehat,Diandra kamu harus mati." Emeli meronta dalam pelukan Devan ingin menghampiri Diandra. Namun Devan memperkuat pelukannya.


"Laura tenanglah, Laura.." Lirihnya


"Aku bukan Laura, Laura sudah mati dan dia yang membunuhnya." Emeli menunjuk Diandra yang terlihat gugup.Sejenak Devan tertegun dengan ucapan Emeli tapi dengan tegas pikirannya membantah.


"Asal kamu tau Devan, Diandra juga yang menabrak kak Fandi, dia yang membunuh kak fandi." Teriak Emeli semakin melemah merasakan sakitnya kehilangan yang teramat sangat. Perlahan tapi pasti tubuhnya merosot ke lantai bersama tangisan yang kian pecah.


"Laura aku tau kamu sedang frustasi, tapi Jagan begini." Devan merengkuh lengan Emeli dengan sorot mata nanar.


Devan kamu harus percaya padaku, wanita itu jahat. Ucap Emeli memandang manik mata Devan ingin meyakinkan.


"Laura tenanglah itu tidak mungkin," tegasnya.


"Jadi kamu pikir aku pembohong baiklah aku sendiri yang akan melenyapkan nya."


Laura bangkit melangkah penuh emosi Tampa aba-aba menjambak rambut diandra. Devan naik pitam menarik Emeli


"Plak... plak... dua tamparan mendarat keras di pipi Emeli, Emeli tertegun menyentuh pipinya yan memerah, menatap nanar Devan yang menyesali perbuatannya.


"Devan kamu menamparku, apa yang aku katakan itu benar," Lirihnya dengan air mata yang telah jatuh.


"Dia yang membuat kak Fandi meninggal, dia yang menabraknya." Jelasnya


"Omong kosong macam apa itu Laura, ucapan mu tidak masuk akal, kamu bilang Laura meninggal, lalu siapa yang berdiri di depanku sekarang.


Terus kamu bilang Fandi di tabrak Diandra, apa kamu tau waktu aku keluar mencari mu Diandra masih tertidur pulas, bagaimana mungkin Dia bisa berada di dua tempat sekaligus.


Laura aku tau, kamu banyak pikiran, kamu tenang ya..., aku akan menyembuhkan mu." Devan mendekat mencoba menyentuh lengan Emeli, namun Emeli menghindar sembari menggeleng kepala tak percaya.


"Kamu tidak akan mengerti meski aku jelaskan, apa kamu bisa melihat anak kecil kehilangan ibunya.Apa kamu mengerti bagaimana kehilangan orang yang ku cintai direnggut di depan mataku.Tidak Diandra harus mati aku tidak mau ada korban lain,"


Emeli mengedarkan pandangannya matanya teralih menatap pisau yang tergeletak di atas keranjang buah.


Dengan cepat Emeli melangkah mengambil pisau itu membuat semua orang terperangah

__ADS_1


"Kamu harus mati Diandra, Emeli berlari lalu mengacungkan pisau itu namun dengan cepat Devan mengengam pisau itu menghadangnya dari tubuh Diandra, hingga darah segar mengalir dari celah jari-jari Devan."


"Devan..." ucap Diandra dan Emeli bersamaan.


Emeli Terperanjat tubuhnya melemas membuatnya melepaskan pisau itu.


"Cukup Emeli ini sudah di luar batas." Devan yang tersulut emosi, menyeretnya Emeli ke kamar mandi.


Sedang Diandra mengikutinya dengan sedikit senyum kemenangan, karna strategi nya berhasil.


Devan menghempaskan tubuh Emeli dengan kasar hingga tersungkur di lantai kamar mandi yang dingin itu, seketika Devan mengulurkan tangan menghidupkan kan sower, menyiram Emeli Tampa ampun.


"Devan lepaskan aku," jeritnya namun Devan tidak bergeming amarahnya malah semakin menjadi-jadi


"Otak kamu perlu di cuci Laura, cukup sudah aku bersabar padamu." Dengan satu tangan mencengkram Emeli.Devan terus menerus menyiram, Emeli meronta namun Devan tetap tidak bergeming membuat tubuh Emeli melemas.


"Sebaiknya kamu renungkan kesalahan kamu di sini." Tegasnya lalu menghempaskan sower dan berlalu pergi.


Emeli bangkit dengan sekujur tubuhnya basah kuyup, tubuhnya mulai linglung pening di kepalanya sangat terasa, bersama buramnya mata secara perlahan mulai gelap


"Brukk"


Emeli pisang kepalanya membentur betap hingga mengeluarkan darah, darah itu membaur mengikuti air sower yang terus mengalir.


Diandra yang menyadari Devan mulai mendekat memasang wajah sedih.


"Devan kemari aku harus bermain cantik agar menyakinkan."


Seketika Diandra menangis sejadi-jadinya, melihat Devan kian mendekat, Devan datang langsung menarik Diandra dalam pelukannya,


"Kenapa Laura menuduhku sekejam itu, bahkan membunuh seekor semut saja aku tidak tega Devan," lirihnya sembari terisak.


"Kenapa Laura bisa sekejam itu memfitnahku,


aku takut Devan aku takut dia akan bertindak nekad padaku." Mengeratkan pelukannya ke dada bidang Devan.

__ADS_1


"Maafkan Laura Diandra, mungkin Laura shock setelah insiden kemaren aku berjanji semua akan baik-baik saja." Ucapnya mengusap lembut rambut Diandra.


Diandra tersenyum puas, lalu pura-pura pingsan, agar Devan lebih simpatik padanya, Devan membelalakkan mata terperanjat melihat Diandra tidak sadarkan diri.


__ADS_2