
Emeli menghampiri saga yang diam mematung lalu melambai-lambaikan tangannya di wajah Saga.
Hemm
Saga mencoba menetralkan kegugupan.
"Apa yang kamu lakukan?""habis tadi kamu diem saja."Di tanya bukannya jawab, malah bengong?"saga,memijat pelipisnya, mencoba mencari alasan yang tepat.
" Ada sedikit masalah di kantor, tapi sudah bisa di atasi. "Oh begitu ya,"gimana penampilanku cantik kan?"menggerak-gerakan alisnya naik turun,"Lumayanlah"saga hanya melirik sekilas lalu membuangnya.
Ciiihhh...
"Lumayan katanya,dasar pria arogan ,tidak bisakah dia berbohong sedikit saja"
bibir emeli mengerucut dengan memasang wajah masam.
"Ayo , cepatlah kita sudah terlambat"sambil melangkah pergi, Emeli berlari karna tak terbiasa memakai heels, dia terjatuh untung dengan sigap Saga menangkapnya.
Emeli memegang pundak Saga, sedangkan Saga melingkari tangannya di di pinggang Emeli ,sekilas seperti orang berdansa.
Suasana hening terasa mata mereka saling beradu,ada desir aneh yang menyeruak ke tubuh Emeli.
"Ehemm"
"Jagan pacaran di sini,belum puas yang
saling Padang?"ucapan pegawai toko yang sedari tadi berada di sana seketika membuyarkan lamunan mereka.
Mereka melepaskan pegangan,Tiba-tiba suasana menjadi canggung, saga menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
Sedangkan emeli hanya diam, dengan wajah merah merona bak kepiting rebus,
Saga menarik emeli keluar dari toko.
"Kenapa tidak hati-hati,apa ada yang luka?" menyapu seluruh tubuh Emeli,
gadis itu hanya menggelengkan kepalanya,
"Sebenarnya aku tak terbiasa memakai heels, apalagi setinggi ini"keluhnya.
Saga menghela nafas panjang
"Kita cari ukuran heels yang membuat kamu nyaman"merekapun mencari yang di butuhkan Emeli, setelah mendapatkan lalu beranjak pergi.
Di dalam mobil."Saga"ucap emeli
Hemm,
"Aku terlihat cantik ya, bahkan aku sendiri tak sadar kalau aku secantik ini."
Saga mengerutkan dahi mencerna ucapan gadis di sampingnya."Sejak kapan kau jadi narsis,?" tanyanya.
"Ini bukan narsis, tapi kenyataan,
mbak-mbak salon bilang tadi, kalau aku ini cantik" sembari tersenyum.
"Tentu saja, mereka akan mengatakan itu agar kamu datang lagi ke sana ,kalau tidak ada pelanggan siapa yang akan memberi mereka gaji."Emeli mengerutkan dahi mencoba berfikir.
"Makanya Jagan terlalu lugu,"menunjuk nunjuk dahi emeli, dan satu tangan menyetir.
Awwww
"Sakit"Emeli mengelus dahinya memasang wajah kesal dengan mulut yang mengerucut,
"Sudah berhenti bicara tak penting ,aku harus fokus mengemudi,kalau ada apa-apa,kau mau tanggung jawab."
"Selang beberapa lama mobil itu berhenti, di sebuah bangunan yang di penuhi dekorasi indah , Saga dan Emeli keluar dari mobil , menghampiri Emeli dan menjulurkan lengannya.
Emeli hanya diam menatap dengan sorot mata heran.
"Ayo cepatlah" mengambil tangan emeli dan meletakkan di lengannya.
"Jangan berfikir tidak-tidak,aku tidak mau, kamu mempermalukan diri, di depan banyak orang,seperti tadi di mall."
"Iya iya" kemudian mereka berjalan beriringan.
Sedangkan di dalam gedung.
__ADS_1
Devan mengambilkan minuman Diandra dengan senyum hangat,tiba-tiba ada tangan kekar merangkul Devan,dari belakang.
"Halo bro sudah lama kita gak ketemu?"
"Miko"pekik Devan dengan tampang kaget,
" Sejak kapan kamu pulang dari paris ?dengan mata berbinar lalu memeluk sahabatnya itu.
"Daddy menyuruhku pulang, untuk mengurus perusahaanya ,karna Daddy skrg sering sakit-sakitan, maklum faktor umur,
"lalu usaha mu yang di sana?"temanku ada yang menghandle.
Tiba-tiba mata Miko tertuju pada gadis di samping sahabatnya."Ngomong-ngomong siapa gadis cantik ini?"
"Jangan macam-macam dia tunangan ku,"
Devan memilih merahasiakan identitas istri mudanya itu,karna hanya keluarga saja yang tahu,begitupun pernikahannya dengan laura.
Hanya sebatas perjanjian,apalagi ayah Devan sangat menentang pernikahannya dengan Diandra.dengan alasan karena lebih memilih Laura untuk jadi menantunya.
"Wah rupanya aku kalah cepat,
hebat sekali anda bisa menaklukkan manusia kulkas ini" Sambil tersenyum mengejek.
"Hai aku Miko sahabat tunangan mu?"
menjulurkan tangan untuk bersalaman.
Diandra pun membalasnya
"Diandra"dengan seulas senyum yang lembut.
"Coba saja aku bertemu dengan mu, lebih dulu, pasti sekarang kau jadi kekasihku"
Devan mengetok kepala Miko,"lalu mau taruh di mana gadis gadis mu itu?" "Itukan di sana, sedangkan di sini aku blm ada.
"Kalau ada kenalin dong,lagi serius cari jodoh nich...siapa tahu punya kenalan secantik tunangan mu?" tanyanya antusias.
Lalu menggerak-gerakan kedua alisnya,
saat Laura mengambil minum.
"Nona Laura" ujar lelaki di sampingnya
,Laura mengerutkan dahi mencoba berfikir,
"apa kau masih mengingatku?"Kau kan yang di rumah sakit itu ,bersama Devan
dengan tangan Laura yang menunjuk arah Jhoni.
"Hem...Emeli hanya berdehmm.
"Kata tuan besar, anda kehilangan ingatan,saya turut bersedih nona."ujar Jhoni tulus.
"Terima kasih" dengan nada ketus.
Saat berbincang bincang degan Devan tatapan Miko terhenti pada seorang gadis berparas cantik yang memegang gelas.
"Kamu kenapa kok ngelamun?"
Ucap Devan yang menatap heran sahabatnya.
"Gak usah cariin jodoh, jodohku sudah datang aku jemput dia dulu ya"
Devan mengerutkan dahinya
lagi-lagi merasa heran dengan tingkah konyol Miko,"dasar Casanova"gumamnya sambil tersenyum.
Emeli berjalan menuju tempat duduk di depannya terdapat meja bundar di kelilingi kursi.Jhoni pun ikut duduk di bangku itu.
menghadap Emeli"
,"Kenapa kau mengikuti ku?"
" Nona sendirian,saya jga sendirian,apa salah jika saya coba menghibur nona?"
sebenarnya Jhoni merasa kasian Dengan Laura karna dia pikirLaura datang sendiri sedangkan suaminya datang berduaan bersama istri mudanya.
__ADS_1
"Sendiri...siapa bilang aku sendiri,aku,"
belum selesai emeli menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba seorang pria mendekat.
"Halo jodohku" dengan senyum menggoda.
"jodohku.., ucap Emeli tampak bingung.
"Maaf apa maksud ucapan anda.?"
"Sebelum aku jelaskan, kenalkan aku Miko" menjulurkan tangan untuk bersalaman , Laura membalasnya dengan senyum yang di paksakan.
"Aku adalah tipe lelaki setia, aku sedang
mencari jodoh." ucapnya Todopoint'
Lantas apa hubungan dengan ku, tanya Emeli heran.
"Tentu saja ada nona, karena ketika aku melihatmu aku yakin kamu adalah jodoh ku,ibu dari anak-anakku"
Emeli menelan Slavina dengan kasar mendengar kekonyolan miko.
Dari kejauhan Devan menatap Emeli yang sedang berbicara dengan Miko.
Tangan nya mengepal dengan sorot mata tajam.Lalu mengajak Diandra duduk di belakang kursi Emeli karna penasaran apa yang di bicarakan mereka.
"Ibu dari anak-anak mu, apa saya tidak salah dengar" tiba-tiba Miko mecoba memegang tangan Emeli, tapi emeli menghempaskan.
"Jaga sikap mu?"suara Saga terdengar dari belakang punggung Emeli.
Miko langsung berdiri, kamu siapa berani ikut campur urusanku?"tanyanya.
"Dia pengawal ,nona Laura gadis sedari tadi kamu goda" ucap Jhoni sambil menguyah makanan yang tadi diambil.
"Owwww...cuma pengawal,pergilah" Sambil mengibaskan tangannya.
"Aku yang akan menjaga majikan mu,"
rahang Saga mengeras melangkah mendekati Miko lalu mencengkram kerah bajunya
"Beraninya kau?"dengan intonasi meninggi.
Miko berbalik mencengkram baju Saga,
"Cuma jongos saja berlagak?"
Emeli mecoba menengahi pertengkaran mereka yang cukup menyita perhatian.
Begitupun Devan. dan Diandra yang telah berdiri melihat pertengkaran itu,di balik punggung Emeli
"Sudahlah ini pesta orang."
sambil menurunkan kedua tangan yang saling mencengkram.
Sedangkan Saga menghela nafas panjang dengan tatapan penuh amarah.
Hal yang sama jga di lakukan Miko.
Perkenalkan dia Sagara Aditya, pengawal saya,"
lalu Emeli memegang lengan Saga, sekaligus kekasihku."
Miko menganga tak percaya mendengar apa yang di sampaikan Emeli , lalu mengusap wajahnya menahan sesak di dada.
Sedangkan Devan matanya terbelalak penuh amarah ,tangannya mengepal ada nyeri di hati,bagaimana tidak istrinya mengakui lelaki Lain sebagai kekasihnya tepat di hadapannya.
Mendengar itu Jhoni terperangah.Dia
yang sedang makan langsung tersedak, buru-buru mengambil air minum, memukul-mukul dadanya karena sesak.
Dahinya di penuhi keringat bercucuran.
"Kenapa hidupku di penuhi dengan orang-orang
penuh masalah" Jhoni menggeleng penuh keheranan.
"Apa ini yang di namakan selingkuh terang-terangan?"gumamnya dalam hati.
__ADS_1