
Apa selama ini kebaikanku tidak ada artinya,
sampai berani menguji kesabaran ku..."
Devan mengepalkan tangan dengan penuh amarah.
Laura kamu akan tahu kemarahan ku yang sebenarnya.
brukkkkk
Devan menonjok cermin, hingga darah mengucur deras dari tangganya.
Diandra yang sedang berdandan mendengar kegaduhan bergegas bangkit menggedor pintu kamar mandi.
dor dor dor
"Sayang ada apa, kamu tidak apa-apa kan,devan bukan pintunya Devan... buka..."sambil berteriak dan terus menggedor pintu.
Setelah cukup lama Devan membuka pintu dengan tangan berlumuran darah,
Diandra terlonjak mendapati keadaan suaminya
"Kamu kenapa?"
meraih tangan Devan yang terluka lalu menatap kaca yang berserakan dengan tatapan heran.
"Aku terpeleset, hingga tanganku terkena kaca." kilahnya. "Baiklah aku obati dulu tangan mu."
Diandra mengambil kotak obat lalu mengobati tangan suaminya, sembari mengusap air matanya yang mulai jatuh.
"Kamu kenapa sayang,kenapa menangis?" mengusap lembut pipi Diandra.
"Kamu membuatku takut, kamu tau aku sangat mencintaimu, daripada kamu yang terluka lebih baik aku saja."
"Suit..Devan menutup mulut Diandra dengan telunjuknya.
"aku tidak suka kamu berbicara seperti itu,percayalah aku baik baik saja,
sudah Jagan menangis lagi."mengusap air mata yang jatuh di pipinya."
"Jangan terluka lagi , bahkan kamu tidak tau betapa sakitnya aku melihatnya, bahkan aku rela memberikan nyawaku untukmu."ucap Diandra."Tiba-tiba Devan menarik tubuh Diandra dalam pelukannya.
"Jangan pernah mengatakan itu, kamu adalah orang yang penting bagiku dan istri terbaik yang aku miliki."
"Maafkan aku Diandra... aku tahu kamu sangat mencintaiku, tapi hatiku lebih memilih Laura, maaf... maafkan aku." gumamnya dalam hati.
Setelah tenang Diandra tertidur di pelukan Devan,secara perlahan Devan melepaskan pelukan diandra,dia bergegas keluar menuju balkon kamar menatap langit yang gelap dengan semilir angin yang merasuk di tubuhnya.
__ADS_1
"Laura kamu kemana... kenapa tidak pulang,kembalilah aku sangat membutuhkan mu."dia memejamkan mata mengeratkan tangganya di pagar besi.
******
Emeli dan Saga menginap di hotel dengan kamar yang berbeda setelah pagi mereka bergegas pergi,menuju tempat terjadinya kecelakaan.
emeli keluar dari mobil menatap jalanan yang lengang dan sepi yang terlihat hanya beberapa pohon yang menjulang tinggi.
"lni tempatnya saga?"
"Menurut informasi begitu,"sambil membuka kaca mata hitam yang di pakainya.
"Pantas saja tidak ada sisi tv tempatnya seperti ini,tapi jalan ini bukan menuju rumah sakit ataupun ke rumah naina,dan kamu tau Saga, jalan ini hanya ada satu tujuan yaitu jalan tol."
"Benarkah,jadi untuk apa dia kesini?"
"Mungkin menemui seseorang."
"Maksudmu?"ucap Saga dengan sorot mata penuh tanya.
"Mungkin pelakunya, bisa saja dia meminta dr naina untuk menemui nya disini,
aku semakin yakin ini bukan kecelakaan biasa."dengan sorot mata menyelidik.
"Jika benar begitu emeli,
kita harus cari bukti, mungkin di sini ada petunjuk."
Saga menarik lengan emeli dengan kasar.
"Emeli dengarkan aku,aku tau ini penting bagimu,tapi lihat,
jalanan ini sangat sepi sangat bahaya, jika terus disini sampai malam, apalagi kondisimu dari pagi belum istirahat, lihat wajahmu mulai pucat, "aku mohon kita pulang..., besok kita kembali lagi."
"Tapi saga, tidak ada tapi tapian, kita pulang
lihatlah, bahkan kita menyusuri cukup jauh dari tempat kejadian, menarik tangan emeli sembari melangkah.tiba-tiba emeli menginjak sesuatu yang mencurigakan.
"tunggu saga."Saga berbalik menatap emeli heran.Gadis itu berjongkok dan mengambil sapu tangan di sakunya, mengambil barang itu dengan hati-hati "inikan..."ujar emeli
terlihat sebuah gelang perak dengan bercak darah yang menempel.
"Mungkin ini sebuah petunjuk"
" Tapi emeli benda ini cukup jauh dari TKP" Saga mendekati Emeli menatap benda itu lebih intens."Memang tapi apa salah jika kita mengujinya,bantu aku menemui keluarga dokter naina."
"Baiklah nanti aku akan cari tau informasinya
__ADS_1
ini sudah hampir gelap kita kembali ke hotel sekarang"Emeli mengangguk dan mereka bergegas pergi ke hotel.
********
Di kantor seorang lelaki tampan hanya diam menatap makanan yang ada di depannya.
"makanlah tuan, dari pagi anda belum makan"
"tidak aku sedang tidak berselera."dengan raut wajah lesu.
Jhoni hanya menggelengkan kepala menatap bosnya yang terlihat berantakan,
hingga memberanikan diri bertanya.
"Kenapa anda gelisah tuan,apa ada masalah?"
hmmm mendongakkan wajah menatap jhoni.
"Laura dia pergi bersama Saga sampai sekarang belum kembali."
"mungkin nona Laura merindukan ayahnya, lalu menginap di sana, apa anda sudah menanyakannya tuan?"
"Iya kamu benar" Devan bangkit lalu bergegas pergi.
"Tuan anda mau kemana?"
"Tentu saja ke rumah mertuaku." Jhoni mengikutinya dari belakang.
*****
Sampai di rumah Laura, karna kesal Devan langsung masuk menghampiri Wijaya yang tengah memberi makan ikan.
Wijaya tersenyum menyambut menantunya datang.
"Ada apa, Devan tumben datang, ke sini?"
"Dimana Laura"dengan sorot mata tajam.
"oh Laura kamu mencari Laura" sebaiknya kita duduk dulu sambil minum teh."
"Aku tidak ada waktu cepat katakan."
Wijaya menghela nafas panjang dengan sorot mata tidak terbaca.
"Apa dia tidak memberitahumu?"
"maksudnya "
__ADS_1
"Dia sedang liburan bersama saga."
"Apa...." mata Devan memerah menahan amarah lalu mengepalkan tangan.