
Dia melewati begitu saja Devan dan Diandra yang berpelukan.
Tiba-tiba satu tangan Devan mencengkram tangan Emeli membuat langkah Emeli terhenti.Dan satu tangan yang lain masih memeluk Diandra.
Emeli berbalik melihat tangannya yang di pengangi lalu beralih ke wajah Devan yang sedang menatapnya dengan sorot mata tak terbaca.
"Dasar pria serakah sudah punya istri cantik masih saja kurang,"
Menatap Devan dengan kesal lalu dengan cepat mengigit tangannya hingga terlepas.
"Aww..." Devan meringis lalu mengibaskan tangannya yang terasa perih.
Dia menatap kesal Emeli yang tersenyum sinis lalu melangkah pergi.
Sedang Diandra yang mendengar suaminya meringis melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa sayang" tanyanya dengan sorot mata menyelidik.
"Tidak aku merasa MAH ku kambuh,"elaknya.
"Apa kamu jarang makan sayang,"tanyanya dengan nada manja.
"Bagaimana aku bisa makan. Kalau kamu tidak di sampingku sayang," dengan sorot mata menggoda sembari mengelus kepala istrinya.
"Ayo...aku antar ke kamar, sebaiknya kamu istirahat."mereka melangkah menuju kamar selang beberapa langkah Devan berbalik menatap kamar Emeli yang tertutup rapat.
"Kamu kenapa sayang..." tanya Diandra menatap suaminya yang mematung.
"Ah tidak apa-apa,ayo... "ucapnya. Lalu meneruskan langkah.
******
Di tengah malam Devan terbangun, dia menutupi tubuh Diandra dengan selimut lalu duduk menyenderkan kepalanya di dinding.
pikirannya kacau.. memikirkan kedua istrinya.
Diandra yang bersikap manja. bahkan tidak mau makan di ruang makan.Dia memilih makan di kamar di temani Devan.
Sedangkan Devan selalu gelisah pikirannya tertuju pada istri kecilnya meski sifatnya yang sering menolak itu menjadi daya tarik sendiri buat Devan.
Emeli benar-benar membuatnya menggila belum genap setengah hari dia tidak melihat istrinya Namun, rindunya kian mencengkram begitu menuntut untuk di lepaskan .
Dia beranjak dari tempatnya bergegas keluar kamar lalu menutup pintu secara perlahan.
Dia teruskan langkahnya berhenti, pada sebuah kamar lalu memegang handle pintu terlihat seseorang tertidur di bawah selimut. lalu tersenyum.
"Ternyata kamu sudah tidur sayang,"
lalu merebahkan tubuhnya di sampingnya. sembari memeluk.
Di pagi hari Diandra turun dari tangga mendekati Emeli yang sedang sarapan pagi.
"Di mana Devan... , baru Diandra sampai sudah menodongkan pertanyaan pada Emeli.
"Kemana Devan, tanyanya lagi."
Emeli tidak bergeming tetap menikmati roti yang sedari tadi dengan santainya.
"Bukankah dia bersama mu?"tanya Emeli menyelidik.
"Jagan bohong Laura. Memang semalem Devan tidur dengan ku setelah aku Bagun dia sudah pergi."
"Untuk apa aku bohong, bisa saja kan dia berangkat ke kantor."
__ADS_1
"Tidak mungkin" handphone dan barang-barang nya, masih ada di sini.
Jawab Laura kamu sembunyikan di mana Devan.?"ujarnya dan terus menuduh Emeli.
"Brakk.... Emeli mengebrak meja.
Cukup Diandra aku bilang aku tidak tau suami mu, lagi pula Jagan menyalahkan orang kalau kamu sendiri tidak becus menjaganya."jawabnya ketus.
"Kamu berani.."Ucap Diandra dengan mata tajam.
"Apa... kamu pikir, aku takut padamu ,Jagan karna selama ini aku diam..., kamu mau menindas ku."Diandra mengepal menatap Emeli dengan geram.
*****
Di kamar Emeli... Devan terbangun namun enggan membuka mata.
Dia mengeratkan pelukan tangannya, melingkar di perut polos tampa baju. Lalu menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman manis.
Pikiran nakal mulai muncul. Tangan itu menjalar ke atas. Tiba-tiba kening Devan mengerut dia merasa aneh.
Tangan itu mencari benjolan yang biasa di sukai para lelaki. Tapi dia tidak menemukan.
Saat keheranan mulai berkecamuk. Tangan kekar mencengkram jari Devan dengan kuat, membuatnya bangkit begitupun Saga,
Pandangan mereka saling bertemu.
"Aaaaarkrkk...." Mereka berteriak menggema di seluruh ruangan. setelah menyadari telah berbagi ranjang bersama.
Saga yang geram melayangkan tinju ke mata Devan membuatnya sedikit menghitam,
"Dasar pria mesum...." ujarnya lalu segera bangkit.
"Brakkk..... pintu terbuka Emeli dan Diandra terperanjat menatap suaminya, berbagi ranjang bersama pria. Apalagi Saga tidak mengenakan baju...kebiasaannya saat tidur.
"Berani Sekali kamu menonjok ku,"teriak Devan kesal lalu bangkit.
"Salah sendiri masuk secara diam- diam dan melakukan hal yang memalukan." Dengan intonasi lebih tinggi dengan sorot mata penuh amarah.
"Kamu yang apa-apaan ini kamar istriku, lancang sekali kamu tidur di sini."
"Aku yang meminta menukar kamar semalam. Saut Emeli mengigit bibirnya menahan tawa.
Devan berbalik menatapnya, dengan kilatan amarah bercampur malu.
"Kamu...." Devan mengacungkan telunjuknya ke wajah Emeli dengan geram.
Sedang Emeli hanya tertunduk bingung.
Sayang kenapa kamu disini... Diandra mendekati Devan lalu memegang tangannya.
"Entahlah..." jawabnya bingung.
Dia menghempaskan tangannya dengan kasar. Lalu melangkah pergi, dengan tergesa-gesa, sedang Diandra mengekornya.
"Ini gara-gara kamu Emeli," teriak Saga penuh emosi.Diabterperanjat menatap Saga bak kepiting rebus menahan amarah padanya.
Emeli menggaruk leher sembari nyengir kuda menunjuk giginya yang berbaris rapi.
"Maaf..." lirihnya dengan wajah tertunduk.
Lalu menutup pintu perlahan. Dia terkekeh melihat kejadian barusan, yang mengocok perut, tapi sedari tadi di tahan.
Membuat dia tertawa terpingkal di depan pintu
__ADS_1
Tiba-tiba Saga keluar lalu menjitak kepala Emeli.
"Memangnya lucu apa?" teriaknya yang memerah karena kesal. Dengan cepat Emeli kabur meninggalkan Saga dengan kemarahan nya.
Devan keluar dari kamar mandi setelah memakai bajunya di dalam.
"Sayang kenapa kamu bisa di sana." tanya Diandra menyelidik.
"Cukup, Diandra aku sudah terlalu malu tadi jangan bahas itu lagi." Bentaknya
membuat Diandra tertunduk dan menangis.
Melihat kesedihan Diandra,
Devan menghela nafas panjang lalu menghampiri.
"Maaf sayang, aku tadi terlalu emosi sampai membentak mu." Devan menunduk mengusap air mata yang tengah jatuh di pipinya.
Diandra mendongakkan wajah lalu memeluk Devan.
"Jagan marah lagi... kamu tau kan. Hanya kamu yang aku miliki, jika kamu marah bahkan aku tidak punya lagi semangat hidup."
"Iya sayang aku minta maaf, aku tidak akan membentak mu lagi,sudah ya... Nangisnya." Sembari mengusap rambut Diandra lalu mencium keningnya.
"Devan kenapa kamu ada di kamar Laura," tanyanya lagi.dengan mata menyelidik.
"Oh itu.... kamu tau kan, aku lelah kemaren karena dia selalu bikin ulah dan membuatku frustrasi jadi kebawa mimpi."
"Apa hubungannya..?" Diandra mendongakkan wajah menatap Devan yang lebih tinggi darinya.
"Ya tentu saja ada sayang, aku memimpikannya membuatku tidak sadar berjalan ke kamarnya.
Kamu percayakan pada suamimu ini,"tanyanya mengoda.
"Diandra mengangguk" meyakinkan.
"Ayolah aku lapar nanti MAH suami mu ini kambuh lagi."Devan melepaskan pelukannya dan melangkah keluar.
"Meski kmu membohongiku aku akan mempercayaimu Devan." mengepalkan tangannya dengan sorot mata penuh emosi.
Tiba-tiba Devan kembali mendatangi Diandra.
"Kenapa diam ayolah, aku sudah lapar," ucapnya seraya menuntun Diandra keluar.
Devan dan Diandra duduk di ruang makan.
Dia gelisah lalu mengedarkan pandangannya mencari sosok yang di rindukan.
"Sayang kamu mau makan nasi goreng, apa roti"tanyanya pada Devan.
"Roti saja jawabnya."Tampa menoleh.
Tiba-tiba bik Imah datang dari pintu utama.
"Bik sini bik.." ucap Devan mengibaskan tangannya.
"Ada apa den.." dia mendekat dengan sopan.
"kemana semua kok pada sepi?" tanyanya.
"Oh den Saga sudah berangkat ke kantor barusan.dan non Emeli berada di halaman membatu saya merawat tanaman._
"yasudah bibi boleh pergi,"
__ADS_1
"Permisi den.." ucapnya Sembari menundukkan badannya.