
"Karna kamu sudah mencintainya kan, katakan Devan, katakan." Diandra mengerakkan tangannya memukul-mukul dada Devan.
Dengan sigap Devan menarik Diandra dalam pelukannya. "Maafkan aku, Diandra aku tidak bisa mengatur perasaan ku sendiri." Lirihnya.
Diandra mendorong tubuh Devan dengan keras.
"Kamu gila Devan... kenapa kamu lakukan itu, kamu tau aku sangat mencintaimu, bahkan aku bisa nekad." Teriaknya dengan sorot mata penuh amarah.
"Diandra tolonglah jagan seperti ini. Aku akan berusaha bersikap adil." Devan menggapai tangan diandra lalu menggenggam nya untuk menenangkan.
"Tidak Devan kamu hanya milikku,dan bukan untuk siapapun." Diandra mencengkram baju Devan mendongakkan wajahnya menatap netra suaminya dengan tatapan mengiba.
"Kamu sendiri yang bilang, pernikahan mu dan laura hanya menyenangkan papa setelah setahun kamu akan melepasnya.
Lihat aku Devan apa kurangnya aku."Tangannya terjulur memegang pipi Devan menghadapkan pada dirinya.
"Kamu bilang saja apa yang kurang aku akan merubahnya. Tapi tolong jangan lakukan ini padaku," ucapnya lirih di sela air matanya yang mulai jatuh. Devan memegang tangan Diandra yang bertumpu di atas pipinya lalu menatapnya dengan nanar.
"Aku juga tidak bisa mengatur perasanku diandra.Maafkan aku." Ujarnya dengan hati-hati.
Diandra membelalakan mata mendengar penuturan Devan, lalu melepaskan tangannya dengan kilatan penuh amarah dan mundur beberapa langkah.
"Diandra aku.....,"ujarnya mencoba memberi penjelasan, belum sempat bicara tangan Diandra terangkat seolah tidak mau mendengarnya.
"Cukup Devan kalau itu pilihan mu,aku yang akan menyingkir benalu itu"
Diandra melangkah keluar dengan langkah kencang ingin menuntaskan semua masalahnya karena Laura, dengan kilatan amarah yang tergambar jelas di wajahnya.
Devan membelalakkan mata dan begitu marah mendengar ucapan Diandra yang membuatnya tidak bisa menahan emosi dengan cepat Devan mengejarnya lalu menyeretnya masuk dan menghempaskan tubuh Diandra di ranjang
Lalu memegang dagunya dengan penuh emosi.
"Coba saja kalau kamu berani...,"ucap Devan penuh penegasan dengan tatapan tajam nan menusuk.
"Aku sudah cukup sabar menanggapi tingkah mu. Selama ini aku juga sudah berusaha memberikan yang terbaik. yang aku bisa, tapi kamu terus menguji kesabaran ku.
Dengar Diandra kalau kmu begini terus aku bisa saja meninggalkan mu.
Aku tidak main-main, kamu tau sendiri kalau aku marah."
Lalu menghempas kan cengkeramannya dan melangkah keluar menutup pintu dengan keras
Panggilan dan teriakan Diandra di sela tangisnya tidak Devan hiraukan lagi sampai dia menghilang di balik pintu.
"Ini semua gara-gara Laura,aku tidak akan membiarkan." Mencengkram kuat sprei dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
Devan melangkah keluar menaiki mobil dengan kecepatan tinggi,lalu berhenti di sebuah apartemen.Suara ketukan membangunkan Jhoni yang sedang tertidur lelap. Jhoni mengucek matanya dengan kesal.
"Siapa malam-malam begini bertamu"ucapnya dengan mulut mengerucut dengan wajah masam lalu bergegas membuka pintu.
Matanya terbelalak mendapati bosnya ada di ambang pintu dengan tampilan berantakan. tidak ada lagi Devan yang modis dan rapi yang ada di hadapannya Devan yang lusuh dan kacau.
"Tuan anda baik-baik saja , kenapa anda seperti ini." tanyanya menyelidik.
"Boleh aku tinggal di sini,untuk malam ini saja."
Ucapnya datar, tampa energi terlihat jelas kegundahan dari raut wajahnya.
"Masuklah tuan," Jhoni mempersilahkan
Devan melangkah ke sofa dia menghempaskan bokongnya ke sofa yang lembut lalu duduk dengan wajah kusut.Jhoni bergegas membuatkan tuannya teh panas, setelah itu melangkah mendekat.
"Sebaiknya anda minum ini dulu tuan."Jhoni menyodorkan teh yang masih mengepul itu di meja, depan Devan.
"Terimakasih kasih Jhoni " ucapnya.
Dia meminumnya dengan tatapan Tampa ekspresi.Devan menghela nafas letih sembari menyenderkan tubuhnya di sofa yang empuk.
"Sebenarnya apa yang terjadi tuan apa karna insiden tadi" tanyanya tampak ragu.
Devan mengangguk lalu mendongkakan wajahnya menatap Jhoni.
Jhoni menyunggingkan senyum mendengar penuturan Devan yang sebenarnya dia sudah tau sejak lama.
Devan mengerenyitkan kening mendapati ekspresi Jhoni yang nampak biasa saja
"Kenapa kamu biasa saja?" tanyanya heran.
"Maaf tuan bahkan aku sudah menyadari sebelum anda mengatakan padaku tapi anda sendiri yang belum mau mengakuinya."
Devan menghela nafas berat. Lalu menundukkan wajahnya dengan pikiran berkecamuk membuat raut wajah sedihnya terlihat jelas.
"Kenapa tuan, bukankah wajar seorang suami mencintai istrinya,"tanyanya sembari menatap Devan intens menunggu sebuah jawaban.
"Kamu benar Jhoni, aku berhak mencintai nya,aku suaminya.Tapi kamu taukan sekarang Laura tidak menyukaiku, apalagi melihat kejadian tadi." Devan mengepalkan tangan mengingat kejadiannya yang menguras emosi.
"Aku terlambat Jhoni, cinta yang dulu Laura berikan kini benar-benar hilang dan aku melihat cinta itu untuk orang lain di matanya.
Andai waktu bisa terulang aku menyesal telah menolaknya."lalu mengusab wajahnya dengan kasar.
Jhoni mendekat menepuk pelan pundak tuanya merasa kasian, sembari mencoba menenangkan.
__ADS_1
"Tuan anda belum terlambat, cukup anda melakukan yang terbaik untuk meyakinkan nona Laura bahwa anda benar-benar tulus padanya."
Devan mendongakkan wajahnya menatap manik Jhoni yang terlihat tulus.
"Apa kamu yakin Jhoni ?" Jhoni mengangguk sembari tersenyum.
Devan menghela nafas panjang dengan senyum di paksakan.
"Kamu tau Jhoni bukan cuma itu masalahku sekarang Diandra cemburu padanya bahkan berani mengancam ku. Aku tidak tau lagi, harus menghadapinya bagaimana."
"Mungkin nona Diandra, butuh waktu melihat suaminya berbagi cinta. Itu konsekuensinya menikahi dua wanita sekaligus." Ucapnya Tampa merasa bersalah.
Devan mengerenyitkan kan kening menatap Jhoni tajam mendengar ucapannya, sedang Jhoni menggaruk kepalanya sembari menunjukkan gigi putihnya yang berbaris rapi. karna merasa keceplosan.
******
Seorang pria yang tidak lagi muda, terlihat jelas dari beberapa garis halus yang tergambar di wajahnya. Dia keluar dari mobil mewahnya, lalu menlangkah masuk ke dalam rumah Devan.
"Tuan besar anda datang" ucap bik imah
sembari menunduk, dengan tangan membawa nampang berisikan makanan di atasnya.
"Devan mana bik" tanyanya sembari mengedarkan pandangan di seluruh ruangan.
"Tuan Devan pergi tuan... dari semalem belum pulang " jawabnya lembut.
"Lalu Diandra di mana dia" tanyanya lagi.
"Nyonya Diandra pagi-pagi sekali sudah berangkat tuan."
"Kalau Laura ada di mana?"
"Nona Laura di kamarnya, dia belum keluar dari semalem sampai sekarang belum makan." jawab bi Imah jujur.
"Jadi makanan ini buat Laura, berikan biar aku yang membawanya."
"Iya tuan..." sembari menyodorkan nampan itu ke bosnya lalu melangkah pergi.
Ketukan pintu di kamar Laura terdengar lagi.
"Aku sudah bilang bik, aku masih kenyang." Ucapnya yang masih malas untuk Bagun Karena pikirannya yang masih kalut.
"Sayang ini papa nak buka dulu pintunya" ucap Ardi di balik pintu.
Mendengar bariton suara lelaki itu, Emeli bergegas Bagun lalu sedikit membereskan penampilannya yang berantakan.
__ADS_1
Dia menyeka air matanya yang masih nampak
Emeli menghela napas lalu membuka pintu dengan senyum yang di paksakan.