Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
Aku berjanji


__ADS_3

Setelah mengetahui Fandi meninggal dengan cepat Saga mengurus pemakamannya.


Sudah dua hari Emeli koma tidak menunjukkan hasil apapun,pagi ini Saga sedang duduk di pusara Fandi sembari menabur bunga.


"Fandi aku tidak tau apa yang terjadi malam itu hingga membuat kalian seperti ini."Saga menghela nafas panjang menatap nisan Fandi dengan tatapan sendu.


"Emeli... sampai hari ini belum sadar, dia tidak menunjukkan perkembangan apapun,Maaf kan aku Fandi ini juga salah ku.


Mungkin setelah dia sadar dia akan marah padaku.Saga menghela nafas letih


"Aku berjanjian padamu, aku akan menemukan pelakunya, tidak akan aku biarkan dia bebas begitu saja." Lalu memegang nisan Fandi menatap nya dengan sorot mata penuh penyesalan.


"Beristirahat lah dengan tenang, dan Emeli aku yang akan menjaganya."


Setelah cukup lama saga berziarah,dia beranjak pergi. belum lama saga berjalan tiba-tiba seseorang lelaki menabraknya, tampa di sadari saga. dengan gesit tangan pria itu mengambil handphone yang berada di sakunya.


"Maaf tuan aku tidak sengaja..." ucapnya sembari menunduk


"Lain kali kalau jalan hati-hati.." ucap Saga kesal. Lalu meneruskan langkahnya tampa merasa curiga.


Sedang pria muda itu tersenyum penuh kemenangan,setelah mengirim pesan pada seseorang dia bergegas pergi.


pria itu berjalan ke rumah kosong mendapati seseorang telah menunggunya.


"Pekerjaan sudah saya selesaikan ini kan yang anda mau." Tegasnya sembari memberikan ponsel Saga pada orang itu.


"Bagus Zico Hamdan , aku tidak mau Emeli hidup lagi, kamu jalankan perintahku aku mau ini hari terakhir untuknya dan satu lagi aku tidak mau mendengar kata gagal seperti sebelumnya."


"Waktu itu aku sudah mempersiapkan dengan rapi nona...aku tidak tau kalau ada orang yang mengetahui semuanya.


Tapi anda sangat kejam nona,karena menolong Emeli anda menyingkirkan nya juga." ujar Zico datar .


"Hah...dia tergelak, Itu salahnya sendiri rela berkorban.Jalankan misi mu nanti malam dan kalau ketahuan kamu tau kan, harus apa."jawabnya penuh penekanan dengan sorot mata tajam.


"Aku tau nona, aku rela memberikan nyawaku untuk rahasia ini. Tapi anda harus menepati janji untuk kesejahteraan keluarga ku."


Tegasnya.


"Kamu tenang saja bukankah aku tidak pernah ingkar janji, aku sudah mengatur asuransi untuk mu, selama 25 tahun ke depan keluarga mu akan terjamin."


"Terima kasih nona, setidaknya kalau ada


apa-apa dengan ku,aku tidak perlu khawatir lagi."


"Bagus... ini untuk mu" sembari melempar tas yang sedari tadi di pegang dengan cepat Zico


menangkapnya.


" Itu untuk pekerjaan mu nanti malam, langkah selanjutnya aku akan mengabari mu." lalu melangkah pergi meninggalkan Zico yang mematung.

__ADS_1


*******


Saga pulang ke rumah Devan untuk mengambil barang yang tertinggal di sana, sejak pertengkaran nya dengan Devan Saga tidak lagi menepati rumah Devan sampai suasana lebih kondusif, setidaknya sampai Emeli sadar


Saat Saga mendorong kopernya keluar kamar Dia melihat bik Imah yang membawa beberapa pakaian, tengah masuk ke kamar Emeli.


Saga mengalihkan langkahnya untuk menghampiri bik Imah.


"Apa itu bik..?" tanya Saga yamg menatap bik Imah membuka lemari. Mendengar ucapan saga bik Imah berbalik, menatap Saga yang berdiri di depan pintu.


"Ini baju nona den kemaren tuan devan membawanya dari rumah sakit." sembari mengangkat tangannya menunjukkan pada Saga.Saga mengerutkan kening menatap jaket bukan milik Emeli.


"Bik boleh saya lihat jaket itu..." sembari melangkah lebih dekat.


"Yang ini den?" lalu menjulurkan tangan memberi jaket itu.


"Bukankah ini bukan punya Laura, ini jaket pria kan, kenapa bisa di sini bik?"


"Maaf kalau itu saya kurang tau."Saga menatap jaket itu seksama, terlihat sulaman bertuliskan nama Fandi."


"Boleh aku pinjem sebentar bik." bik Imah terdiam sejenak mencoba berpikir.


"Boleh den... ujarnya lalu menyerahkan


jaket itu. Saga bergegas keluar menaiki mobil bersamaan jaket yang di bawanya.


"Aku tau, aku harus berbuat apa... kamu harus sadar Emeli, tidak akan aku biarkan pengorbanan Fandi sia-sia.


Dia melangkah mendekat lalu duduk di samping Emeli.


Ada rasa sesal menatapnya terbaring di ranjang tidak sadarkan diri, lalu dengan pelan menggapai tangan Emeli dan memberikan jaket itu ke tanggannya.


"Kamu bisa mendengar ku, kamu bisa merasakan ini apa.ini jaket Fandi... bangunlah Emeli jgan begini jgan menyerah.... Fandi tidak menginginkan ini jagan biarkan pengorbanan Fandi jadi sia-sia." Lirihnya dengan mata mulai mengembun.


"Aku tau... kamu begitu shock melihat orang yang kamu cintai mati di hadapan mu, kamu pernah bilang, dia lah alasan kamu bertahan.


tapi Emeli kamu harus ingat di sini banyak yang menyayangimu, ada... aku, pak Wijaya dan banyak yang lain. Bukankah kamu sudah menganggap tuan Wijaya sebagai ayah mu.


Dan kamu lupa pada Felicia.... bukankan kamu sudah berjanji untuk memberikan keadilan untuk ibunya...


Aku mohon Emeli.... bangunlah jagan menyerah,kamu mempunyai banyak alasan untuk hidup. Jagan biarkan orang jahat itu merasa menang setelah pa yang dilakukannya.


Dia telah membuat anak kecil kehilangan ibunya seorang ayah menderita karna dia telah membunuh putrinya, dan sekarang dia juga menyingkirkan Fandi orang yang tulus mencintaimu.


Apa kamu rela melepaskan penjahat itu begitu saja. Dan tanpa kamu aku tidak tau harus berbuat apa.Saga tertunduk bersama bulir-bulir kristal yang telah lolos di pelupuk matanya


Tiba-tiba tangan Emeli bergerak dari pelupuk matanya keluar bulir-bulir bening mengalir membasahi pipinya


Belum sempat Saga menyadarinya tangannya sudah di tarik Devan dengan kasar lalu menyeretnya keluar ruangan.

__ADS_1


"Berani sekali kamu masuk ke ruangan istriku" teriaknya sembari menghempaskan tubuh Saga,lalu mengacungkan tangannya dengan geram .


"Sebelum kamu mengatakan semuanya aku tidak akan mengijinkan mu menemui Laura"


"Tapi Devan..." saga mencoba menjelaskan namun Devan mengusirnya.


"Pergi Saga kalau tidak, aku tidak akan segan" teriaknya lagi penuh emosi.


Saga menangkap kemarahan begitu besar terpancar dari manik mata Devan.


Membuatnya mengalah dia tidak ingin semuanya menjadi tambah rumit, lalu bergegas pergi.


Devan menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam ruangan.Matanya terbelalak menatap Emeli menangis.


"Kenapa kamu menangis sayang, apa Saga menyakitimu," sembari mengusab pipi Emeli yang basah.


"Aku tidak akan biarkan dia menyakitimu, kamu aman sekarang, aku akan menjaga mu."Lirihnya menatap nanar wajah Emeli yang masih terpejam.


Ketukan pintu terdengar membuat Devan berbalik menghadap sumber suara.


Terlihat wanita cantik melangkah mendekat.


"Diandra..."ujar Devan terkejut.


wanita itu tersenyum penuh arti menghampiri Devan, dan bergelayut manja di lengannya.


"Aku merindukan mu sayang sudah beberapa hari ini kamu tidak pulang?" tanyanya manja.


"Maafkan aku sayang kamu tau sendiri aku sedang menjaga laura." sembari memegang tangan Diandra menyakinkan.Diandra melirik Emeli yang tengah terbaring.


"Bagaimana keadaannya sekarang sayang."


"Masih tetap sama, belum ada perkembangan" jawab Devan lesu.


"Aku yakin dia akan segera sadar" ucap Diandra menatap Devan sembari tersenyum.


"Terima kasih sayang, atas pengertiannya maaf jika selama ini aku egois."


"Sudahlah sayang kmu tau sendiri aku sangat mencintaimu bagaimana mungkin aku bisa marah padamu"


"Sayang apa kamu akan bersikap sama kalau aku yang terbaring di sini?" tanyanya lagi membuat Devan mendongakkan wajah menatap Diandra intens.


"Sayang Jagan bilang begitu, kalian sama-sama penting bagiku,aku tidak ingin hal buruk juga menimpamu" Lalu menarik tubuh Diandra dalam pelukannya.


"Sayang temani aku makan ya... aku blm makan saat ke sini." ujar Diandra manja.


Devan mengerutkan kening mencoba berpikir tidak mungkin dia meninggal kan Emeli, tapi juga tidak ingin mengecewakan Diandra.


"Baiklah aku ke kamar mandi sebentar", lalu mengecup kening Diandra dan melangkah pergi.

__ADS_1


Sedang Diandra berbalik menatap laura dengan sorot mata tak terbaca.


.


__ADS_2