Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
Aku jamin itu


__ADS_3

*****


Di sebuah ruangan, dokter memeriksa Emeli dengan raut wajah gusar.


Bagaimana keadaan istriku dok, tadi dia sempat tidak bernafas, tanya Devan penuh kekhawatiran.Namun dokter itu tidak menjawab hanya fokus pada Emeli.


"Suster tolong bawakan alat pacu jantung sekarang," tegasnya pada salah satu suster di sebelahnya.


Dokter kenapa dengan istri saya, tanya Devan lagi, namun lagi-lagi dokter itu tidak menjawab hanya terus memeriksa keadaan Emeli, Devan geram lalu menghampiri dokter itu dan mengguncang lengannya.


"Kenapa dengan istri saya jawab dok ?"tanya Devan kesal.


"Maaf tuan kami sedang berusaha menyelamatkan istri anda, tolong mengerti lah."


ujarnya dengan raut wajah menyakinkan.


"Apa maksudmu dokter..." Devan mempererat cengkraman nya, penuh emosi


"Suster tolong sus," ucap dokter meminta bantuan salah satu suster di sampingnya.


Mendengar nya suster langsung menghampiri Devan.


"Maaf tuan, jika anda di sini terus bagaimana dokter akan menolong istri anda, menjulurkan tangan melepas tangan Devan yang mencengkram dokter, lalu mengiringnya keluar.


"Tapi sus... dia istriku aku harus tau keadaannya." Lirihnya penuh penekanan, yang telah menghentikan langkahnya.


" Iya saya tau tuan tapi kalau anda di sini terus, anda akan mengganggu konsentrasi dokter mengertilah tuan ini sangat genting masalah hidup dan mati istri anda" jawabnya penuh penekanan membuat Devan terdiam.


Alat pemacu jantung datang di dorong seorang suster mendekati ranjang Emeli, Dokter itu mengambil lalu menggosok-gosok nya dahulu.


Kemudian menaruhnya di dada Emeli membuat tubuhnya ikut tertarik ke atas lalu terhempas kembali ke ranjang, berulang kali dokter itu lakukan untuk menolong nyawa Emeli.


Membuat Devan menganga tak percaya melihat keadaan Emeli, bersama air mata yang keluar Tampa permisi.


"Tolonglah tuan, anda harus keluar sekarang." Suster itu mendorong tubuh Devan yang mematung keluar ruangan lalu menutup pintunya.


Setelah pintu tertutup Devan menyenderkan kepalanya di dinding ada rasa sesak menjalar di hatinya. Dia begitu khawatir, namun tidak tau harus berbuat apa.


Devan mendongak wajahnya lalu menjatuhkan dirinya di lantai... sembari memijat pelipisnya.


Kesedihan yang teramat besar dia rasakan. Namun tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunggu dan menunggu.


kahawatir dan cemas menjadi satu menjadi rasa yang menyakitkan mengubah Devan yang kuat menjadi pria yang rapuh. Devan duduk di lantai, memegangi kedua lututnya dengan tatapan kosong.


******

__ADS_1


Seseorang yang mendapat kabar dari Zico langsung mengerem mobilnya mendadak,


dia begitu terkejut dengan kabar yang di terima. Setelah cukup lama berfikir, lalu memutar mobilnya berbalik arah.


Sesampainya di rumah sakit, dia tertegun menatap zico yang terbujur kaku berada di atas tandu dengan mata terbuka.


dia mengepalkan tangan dengan sorot mata penuh amarah, terlihat jelas pancaran kebencian dari manik matanya.


"Terima kasih telah setia padaku, kamu pergilah dengan tenang..., aku juga akan menepati janjiku menjamin keluarga mu." lalu melangkah masuk dengan anggun ke dalam rumah sakit.


Usapan halus di rambutnya membuat Devan mendogakkan wajahnya yang sedari tadi tertunduk menangis pilu.


"Diandra..." Lirihnya dengan tatapan sendu,


Diandra berlutut dan mengusab lembut pipi suaminya yang terlihat basah.


"Laura dia....."belum sempat devan meneruskan kata-katanya,Diandra langsung memeluknya.


"Tenanglah, sayang semua akan baik-baik saja. Pantas saja aku merasa tidak tenang makanya aku kembali ke sini."


"Kamu tau Diandra ada orang yang ingin mencelakai Laura,"


"Benarkah..." Diandra terlonjak kaget sembari melepaskan pelukannya dan memasang wajah terkejut.


"Aku jadi takut Devan, aku takut orang itu juga akan mencelakai ku...." ucapnya sambil terisak. Devan mendongakkan wajah Diandra untuk menatapnya.


" Tapi aku takut Devan," sembari menangis sesenggukan, dengan cepat Devan mendekap Diandra sembari mengusab rambutnya.


"Ada aku Diandra, aku akn melindungi mu dan Laura. Aku akan pastikan kalian baik-baik saja."


mendengar penuturan Devan membuat Diandra mengepalkan tangan dengan sorot mata tajam, sembari tersenyum.


"Tapi aku juga Pastikan Devan akan melenyapkan Emeli dengan tanganku sendiri, aku jamin itu."


Tiba-tiba pintu terbuka Devan melepaskan pelukannya dan bergegas menghampiri dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya dok ?"


baru saja dokter keluar Devan sudah menodongnya dengan pertanyaan, dengan raut wajah khawatir.Dokter itu tersenyum penuh kelegaan.


"Alhamdulillah tuan... ini sebuah keajaiban di Abang kematian nya. Nona Laura bisa mengatasinya dengan baik, bahkan dia sudah siuman sekarang"


"Apa betul dok...." tanyanya lagi.


Devan merengkuh lengan dokter ingin memperjelas apa yang di dengarnya.

__ADS_1


Dokter itu mengangguk sembari tersenyum.


Devan membungkam mulutnya yang menganga tak percaya dengan Penggung tangannya,kemudian menarik nafas lega.


"Terima kasih, terimakasih dok,"ujarnya dengan mata berbinar-binar


"Iya sama-sama tuan, tapi Jagan Bebani istri anda dengan hal-hal yang berat, dan dia juga harus cukup istirahat."


"Pasti dok " ucapnya dengan yakin sembari tersenyum penuh kelegaan.


Dokter itu menepuk bahu Devan dengan senyuman lalu melangkah pergi.


Devan Langsung melangkah masuk dalam ruangan menatap Emeli yang telah sadar.


"Laura...." ujarnya membuat Emeli berbalik menatap ke arah Devan yang kian mendekat. Tampa aba-aba Devan mencium kening Emeli membuat netranya terbelalak.Devan mengusab kening Emeli dengan lembut.


"Kamu tau sayang betapa takutnya aku tadi....


sungguh aku tidak tau lagi, jika kamu benar-benar tidak sadar." Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.


Sedangkan Emeli hanya terdiam mematung, tidak tau harus berbuat apa.


Dari kejauhan Diandra mengepalkan tangan dari manik matanya terpancar kemarahan yang besar.


"Awas saja kau Emeli... aku akan membuat mu menyesal, telah merebut Devan dari ku. Devan hanya milik ku dan untukku. Lihat saja


aku akan menyingkirkan mu selamanya, ini janjiku Emeli."


Diandra memutar matanya kesal sembari menghela nafas panjang, lalu mengubah ekspresinya, memasang wajah khawatir dan perlahan mulai mendekati Devan dan Emeli.


Usapan halus di punggungnya membuat Devan berbalik arah menatap Diandra yang telah berdiri di belakang punggungnya.


"Diandra..."dia bangkit dengan raut wajah bersalah telah mengacuhkan salah satu istrinya.


"Bagaimana keadaannya sayang" sambil menatap Emeli yang terbaring di ranjang, dengan sorot mata tak terbaca.


"Benar kata dokter dia sudah sadar" jawabnya penuh kesenangan.


"Syukurlah...."Diandra menunjuk kan senyum termanisnya.


"Laura aku sangat kahawatir padamu. Apalagi Devan, dia sudah beberapa hari tidak pulang selalu menemanimu di sini,


kita memang beruntung memiliki suami seperti nya." Lalu merangkul Devan menatapnya penuh cinta.


Emeli hanya menyimak, menatapnya dengan tatapan datar lalu tersenyum kecil.

__ADS_1


"Laura kan sudah sadar, sebaiknya kamu pulang... istirihat. Aku yakin kamu capek, nanti biar aku yang mengabari pak Wijaya kalau putrinya sudah siuman


"Maaf Diandra, aku tidak bisa pergi sebelum memastikan keadaan Laura baik-baik saja"


__ADS_2