
Mendengar penolakan Devan, Diandra mengepalkan tangan dengan geram Namun, sebisa mungkin memperlihatkan wajah biasa saja, sembari tersenyum yang di paksakan.
"Tenang Diandra kamu harus bermain cantik Jagan biarkan Emeli menang dan Devan meninggalkan mu."
"Baiklah sayang jika itu keputusan mu, tolong jaga Laura untuk ku," sembari tersenyum lalu mengalihkan pandangannya menatap Emeli dan menggapai tangannya.
"Aku doakan kamu, cepat sembuh ya.." ujar Diandra dengan lembut, dengan sorot mata tak terbaca,sedangkan Emeli hanya mengangguk lalu menyunggingkan senyum menatap heran tingkah Diandra yang berubah.
Diandra melangkah pergi Namun dengan cepat Devan mengejarnya lalu menggapai tangan Diandra,Membuat Diandra berbalik menatap Devan dengan lembut.
"Terima kasih banyak telah mengerti.Aku pikir kamu akan marah," ujar Devan sembari memegang tangan Diandra dengan lembut.
Diandra tersenyum lalu mengusap pipi Devan.
"Sayang mana mungkin, aku bisa marah, kamu tau kan aku sangat mencintaimu, asal kamu bahagia apapun itu akan aku lakukan."
"Ya sudah aku pulang dulu, Jagan lupa makan dan tolong jaga Laura untuk ku, aku takut terjadi apa-apa padanya." matanya mengintip sejenak Emeli dengan tatapan tajam,lalu mengalihkan pandangannya menatap Devan lembut.
"Aku akan menjaganya sayang, kamu tenang saja, dan hati-hati di jalan." lalu mengecup pipi Diandra.
Diandra tersenyum lalu melangkah pergi.meninggalkan Devan yang terus menatapnya.
*******
Diandra menghentikan mobil di rumah Devan dia bergegas masuk dan berjalan dengan cepat masuk kamar, tiba-tiba membanting pintu dengan keras, membuat seisi rumah terlonjak kaget.
"Aaarrrk....... teriaknya menjambak rambutnya dengan keras membuat rambut indah itu tergerai berantakan dengan sorot mata penuh emosi,
Tidak Devan... kamu hanya milik ku ,tidak boleh ada yang memiliki hatimu selain aku..." teriaknya lagi, lalu berjalan menghempaskan semua barang yang berjejer rapi di kaca rias hingga berserakan di lantai.
Belum puas Diandra membanting semua bantal dan selimut ke lantai dia sangat emosi dan begitu kesal, atas perlakuan Devan yang lebih mementingkan Emeli dari pada dirinya.
Diandra mengambil gelas di atas laci dan melemparnya hingga pecah berserakan menjadi beberapa beling yang tajam. Dia mendekati beling itu dengan nafas tersengal dan menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
Tiba-tiba Diandra mengambil salah satu beling dan menggenggamnya erat hingga darah segar mengucur dari celah jari-jari nya.
"Dulu aku tidak perduli kamu menyamar jadi Laura, tapi setelah Devan lebih mementingkan mu, aku tersadar bahwa aku kalah satu langkah.
Aku tidak akan biarkan Emeli merebut Devan dariku setelah semua Aku lakukan,
__ADS_1
Aku akan menyingkirkan mu Sama seperti aku menyingkirkan Laura dan Naina.
Apalagi Zico meninggal, karna mu ,aku berjanji Emeli aku akan mengantarmu ke neraka secepatnya," ujar penuh kebencian dengan sorot mata tajam.
Lalu melangkah pergi dengan darah masih menetes saat membuka pintu matanya terbelalak menatap bik Imah yang berada depan pintu.
merasa di tatap dengan tajam membuat bik Imah tertunduk ketakutan.
"Maaf nona tadi bibi dengar kegaduhan bibi takut terjadi apa-apa dengan nona, makanya bibi buru-buru ke sini nona." Lirihnya masih dengan wajah tertunduk.Diandra tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke telinga bik Imah.
"Cepat bereskan, seperti biasa Jagan sampai Devan tau masalah ini ,kalau tidak kamu tau sendiri apa yang bisa aku lakukan padamu,"
bidiknya pelan namun penuh penekanan, membuat bulu kuduk bik Imah meremang ketakutan.
"Iya nona saya mengerti...,"jawabnya ketakutan lalu melangkah pergi masuk kamar sedang Diandra menyunggingkan senyum lalu bergegas keluar.
****
Sedangkan Saga yang baru saga keluar dari kantor polisi setelah menjadi saksi atas kasus Zico.
Dia berjalan masuk mobil dengan raut wajah kesal lagi lagi, saga tidak berhasil mencari dalang dari semuanya, Diandra begitu rapi menyiapkan semuanya hingga barang bukti tidak di temukan.
****
Sedang di rumah sakit Devan dengan telaten mengurus dan menunggu Emeli.
"Apa ada yang kamu butuhkan..?"ucap Devan memecahkan suasana hening.
Emeli mendongakkan wajah menatap Devan yang tersenyum dengan manik mata yang terlihat tulus.
"Tidak aku tidak membutuhkan apapun, ujar Emeli gugup."
Devan membungkukkan badannya menatap wajah Emeli semakin dekat,membuat Emeli reflek memundurkan wajahnya dengan mata terbelalak. Kemudian Devan mendongakkan kan tubuhnya dan tertawa lepas.
"Ha ha ha lihat wajah mu begitu malu Jagan sungkan aku ini suami mu apa yang kamu inginkan pasti akan aku lakukan." lalu menjulurkan tangan mengacak rambut Emeli,membuat mendelik kesal.
Aku mau ke kantin,apa kamu mau nitip sesuatu tanyanya, namun Emeli hanya menggelengkan kepala.
"Oiya satu lagi papa dan ayah mu tidak bisa ke sini mereka sedang ke Singapura, kemaren papa kambuh dan berobat di sana, dan ayahmu pak Wijaya yang menemaninya, dan aku jga sudah mengabari, mereka kamu sudah sadar dan baik-baik saja."
__ADS_1
"Papa kambuh bagaiman keadaannya ?" tanya Emeli khawatir.
"Jagan khawatir papa sekarang sudah pulih" mungkin besok dia akan terbang ke sini. lalu Devan melangkah pergi namun terhenti karena Emeli memegang tangannya membuat Devan tersenyum senang.
"Terima kasih..." Lirihnya Emeli dari balik punggungnya. Devan berbalik sembari tersenyum dan menatap Emeli dengan tatapan menggoda.
"Apa sayang aku tidak dengar?" tanya Devan yang sengaja menggoda istrinya.
"Terima kasih" ulangnya dengan wajah tertunduk, Devan mendekat kan wajahnya ke wajah Emeli dengan senyum yang tak lepas.
Tiba-tiba menowel-novel hidung mancung Emeli dengan kerlingan menggoda.
"Kamu mengemaskan sayang kalau seperti ini,
Apa yang tidak akan aku lakukan untuk istri tersayang ini. membuat Emeli memundurkan tubuhnya dengan mata terbelalak.
Jagan menghentikan langkahku lagi sayang aku sudah lapar,ujarnya dengan mata berbinar binar.Devan berdiri tegak dengan tersenyum lalu melangkah keluar lalu menghilang di balik pintu.
tok tok ketokan pintu membuat Emeli menoleh, keluarlah kepala Devan yang tiba-tiba menyembul.
"Apa kmu yakin tidak menginginkan sesuatu?" tanyanya menggoda
"Tidak...." jawabnya tegas
"Tok tok tok ketukan pintu kembali terdengar
kepala Devan muncul lagi dengan senyum menggoda.Membuat Emeli yang melihatnya mendelik kesal.
"Apa apa lagi ?"tanya kesal dengan wajah masam.
"Tidak aku hanya ingin bertanya pa kmu yakin tidak menginginkan, sesuatu atau mengucapkan sesuatu."
"Aku tidak membutuhkan sesuatu, dan tidak mau mengatakan sesuatu lagi." jawabnya dengan nada ketus Tampa melihat
"Baiklah..." lalu kepala Devan menghilang kembali. Emeli menelan Slavina dengan kasar mengahadapi tingkah Devan yang menurut nya mengesalkan.
tok tok tok ketukan pintu kembali terdengar Emeli merasa geram.
"Ada apa lagi Devan, ujarnya dengan intonasi meninggi. sembari berbalik menatap pintu Namun mata Emeli terbelalak mendapati bukan Devan yang mengetuk.
__ADS_1