Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
harus bagaimana


__ADS_3

Matanya terbelalak ketika melihat Emeli sudah memegang minuman berisi Oranye jus itu terangkat dan mau meminumnya.


"Tidak...."teriak Fandi lalu dengan cepat berlari menghampiri Emeli. melempar gelas itu dengan paksa.


"Pryarrr...."


Suara gelas nyaring terdengar di Rungan yang telah pecah menjadi beberapa beling yang berserakan di lantai membuat suasana yang bising menjadi hening.


Hingga orang-orang terpaku, membuat semua mata tertuju pada satu titik


Begitupun Emeli yang tertegun dengan mulut menganga menatap Fandi di depannya dengan nafas tersengal.


"Ada apa kak?" tanyanya di tengah keterkejutan dia pun penasaran.


"Air.... air itu beracun Emeli, ucapnya terbata-bata. Sembari menunjuk pecahan gelas dengan deru nafas terengah-engah.


Belum usai keterkejutan sikap Fandi kini Emeli di kejutkan kembali dengan peryataannya.


Emeli bangkit dan menghampiri Fandi.


"apa yang kakak katakan" tanyanya menyakinkan yang di dengar itu tidak salah.


"Itu benar Emeli air itu beracun." Lalu merengkuh pundak Emeli dengan sorot mata memohon.


"Pergilah denganku di sini bukan tempatmu."ucapnya dengan tatapan memohon.


Belum sempat Emeli menjawab Fandi menarik tangan Emeli untuk pergi.


"Kak Fandi tunggu dulu kak.... Fandi.."


Emeli meronta melepaskan tangan namun sedikitpun Fandi tidak bergeming di terus melangkah pergi, menerobos para tamu menuju pintu.


"Bruuuk..."


tonjokan keras melayang ke wajah Fandi.


"Berani sekali kamu menyentuh istriku," ucap Devan penuh amarah lalu melepaskan tangan Emeli dan menariknya ke belakang punggungnya.


"Aku tidak punya urusan dengan mu urusanku dengan nya." Ujar Fandi lalu mencoba menggapai tangan Emeli namun dengan cepat Devan menangkap tangan Fandi.


"Aku sudah memperingatkan mu berulang kali tapi kamu tidak mengindahkannya." Ucap Devan berapi-api.


"Langkahi dulu aku jika ingin membawanya."


"Asal kamu tau dia buka istrimu... tapi kekasihku."jawab Fandi membuat semua orang terkejut tak terkecuali Emeli.


Mendengar ucapan Fandi membuat Devan tersulut emosi dia menarik baju Fandi lalu melayangkan pukulan hingga tersungkur.


Belum puas juga Devan menghampiri Fandi dan mencengkram bajunya dengan tatapan tajam seolah ingin menerkam.


"Berani sekali mulut kotor mu itu memfitnah istriku tarik kembali ucapan mu, atau kamu akan menyesal." Ucap Devan penuh penekanan. Menatap Fandi dengan sorot mata penuh amarah.


"Tidak akan, Karena memang benar gadis itu adalah orang yang aku cintai bukan istrimu."


Jawabnya Fandi penuh menegaskan.

__ADS_1


Devan mulai geram tidak dapat lagi menahan emosinya, lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah fandi hingga babak belur dan mulutnya mengeluarkan darah.


Suasana begitu mencekam, semua orang hanya diam menonton, tidak dapat melakukan apapun Karena yang tengah marah adalah pemilik perusahaan. Sementara Diandra melipat tangannya sembari tersenyum puas.


Melihat keadaan Fandi yang menyedihkan terkulai lemas dan bersimbah darah membuat Emeli tidak bisa menahan diri.


Emeli menghampiri Devan menahan tubuhnya untuk tidak meneruskan emosinya.


"kak aku mohon lepaskan dia, kalau tidak, dia akan mati"ucap nya menyakinkan dengan sorot matan memohon.


"Minggir Laura... aku tidak terima dia, mengatakan yang tidak-tidak tentang mu" teriaknya.


"Tidak..," Emeli memeluk tubuh Devan dengan erat, seolah ingin menahan tubuhnya agar tidak beranjak.


"Minggir Laura....." teriak devan penuh emosi.


Namun Emeli tidak bergeming hanya menggelengkan kepala.


" Aku mohon kak... dia bisa mati." Ucapnya mengiba dengan air mata yang telah jatuh membasahi pipinya.


Devan menatap Emeli dengan penuh amarah merengkuh lengannya lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar.Emeli akan jatuh namun dengan sigap Saga menangkapnya.


"Kamu tidak apa-apa "ucap saga khawatir


Emeli bangkit melepaskan tangan Saga.


"Aku harus membantu kak Fandi...." lirihnya.


Namun saga menolak dia tetap memegang pergelangan tangan nya.


"Persetan dengan semua itu, aku tidak perduli lepaskan aku Saga" teriaknya


Saga yang terkejut melihat kemarahan Emeli Tampa sadar melepaskan tangannya.


Emeli berlari ke arah Fandi yang telah di pukuli Devan membabi buta dia menarik lengan Devan lalu mendorongnya dengan kuat, hingga tubuhnya mundur beberapa langkah.


Devan diam terpaku atas tindakan Emeli.


Emeli mencoba menolong Fandi untuk bangkit


yang terkulai lemas di lantai.


Terlihat beberapa lebam di wajahnya dengan mulut yang mengeluarkan darah.


"Kak Fandi.... kamu tidak apa-apa.?" Tanyanya menatap Fandi dengan tatapan nanar.


Lalu menyentuh wajah Fandi yang babak belur tidak terasa dengan bulir bulir bening lolos dari matanya. Emeli tidak bisa membohongi dirinya rasa cinta itu masih ada dan masih sama.


Fandi mengangguk sembari tersenyum. Fandi tidak menyangka Emeli akan membelanya, hatinya menghangat meski sekujur tubuhnya terasa remuk.


"Lepaskan dia..." teriak Devan geram.


Namun Emeli tidak bergeming dia menatap Devan degan kilatan penuh amarah.


"Tidak aku tidak akan melepasnya kamu sudah keterlaluan devan."jawabnya dengan intonasi tinggi.

__ADS_1


Devan mendekat mencoba menarik lengan Emeli Namun dengan cepat Emeli menghempaskan tangan devan.


"Laura berani kamu..." tanyanya penuh emosi seraya mengepalkan tangannya.


"Kenapa kamu mau memukulku juga, atau mau membunuhku... lakukan, lakukanlah jika itu membuatmu puas," ucapnya penuh penegasan.


Devan terperanjat atas perkataan yang keluar dari bibir Emeli.


"Apa ini alasan mu selalu menolak ku, Laura.." lirihnya dengan mata berkaca-kaca." Emeli hanya tertunduk diam tanpa kata.membuat Devan semakin kesal.


"Aaarkkkk......


Teriaknya lalu menghempaskan semua barang yang berada di atas meja dia lakukan berulang-ulang ke beberapa meja, seperti orang gila kesetan-nan.


Emeli memejamkan matanya sembari tertunduk, sejujurnya Dian takut melihat kemarahan Devan yang mengerikan.


Dengan nafas tersengal Devan menghampiri Emeli. Lalu menarik tangannya mendekatkan wajahnya ke wajah Emeli membuat deru nafasnya yang hangat menerpa paras Emeli.


"Aku tidak akan melepaskan mu... agar kamu tau sakitnya sebuah penolakan," ucapnya penuh penekanan dengan sorot mata tajam.


Lalu menarik Emeli, namun Emeli tetap terdiam Devan berbalik menatap Emeli penuh emosi. "Kalau kamu begini terus Jagan salahkan aku membunuhnya di sini, aku tidak main-main Laura bahkan aku tidak peduli konsekuensi nya."


Emeli mendongakkan wajahnya menatap Devan, terlihat jelas dari manik matanya menunjukkan keseriusan, Emeli melepaskan tangan. Dengan cepat Devan menariknya pergi.... semua orang yang bergerombol membuka jalan melihat Devan keluar penuh amarah.


Di saat Emeli melangkah bersama Devan dia berbalik menatap nanar Fandi yang masih terkulai di lantai.


Sesampainya di mobil Devan melepaskan cengkraman nya lalu membuka mobil.


"Masuk Jagan menguji kesabaran ku Laura."


Emeli hanya menuruti Devan dalam kebisuan.


Devan masuk mobil lalu menjalankan mobil itu dengan kecepatan tinggi. Tidak ada pembicaraan di dalam mobil hanya suasana tengang penuh emosi yang terasa.


Mobil berhenti di rumah Devan.


"Kenapa kamu membelanya mati-matian Laura?" tanyanya lirih Namun penuh penekanan.Emeli mendogakkan wajahnya menatap Devan tajam.


"Apa aku harus diam melihatmu memukulnya sampai mati begitu..."


"Berani kamu,"ucap Devan dengan intonasi tinggi. sembari menatap tajam.


"Apa kmu akan marah seperti tadi, lakukan aku tidak peduli.Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana kalau apa yang di ucapakan kak Fandi benar bahwa ada orang yang meracuniku.


Tampa menyelidiki nya kamu malah


menghakiminya, itu sama saja kamu mau membunuh orang yang menyelamatkan ku." Devan tersadar bahwa kemungkinan itu benar.


"Laura aku ..


cukup Devan aku sudah muak dengan sikapmu yang ke kanak-kanakan.Dan tidak pernah berfikir panjang." Emeli membuka mobil dan bergegas keluar ..


meninggalkan Devan yang mematung setelah mendengar, jawaban Emeli seperti tamparan keras baginya.


Aaarkk.. teriaknya lalu memukuli setir mobil dengan keras. Setelah puas dia menjatuhkan kepalanya di setir mobi.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana laura agar kamu mencintaiku lagi" lirihnya. Dengan air mata yang telah lolos dari pelupuk matanya.


__ADS_2