Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
kejadian ini berawal


__ADS_3

"Kenapa kamu sekejam ini, di mana hatimu saat membunuh mereka. Apa kamu tidak memikirkan keluarga yang ditinggalkan. Dr Naina bahkan masih memiliki putri kecil yang sangat membutuhkan Mamanya.


"Dia tidak akan mati, kalau kamu tidak mencari tahu, ini bukan salahku, tapi salah mu." Diandra mehempas kepala Emeli dengan kasar.


Emeli tergelak


" Sampai kapan kamu akan mencari pembenaran. Sebentar lagi kamu akan menerima pembalasan. Aku pastikan kamu akan mendekam di penjara." Emeli berucap, dengan berani menatap lawannya dengan tatapan menantang.


"Benarkan?" Diandra tergelak, dia melipat tangannya dengan tatapan mengejek.


"Itu tidak mungkin terjadi. Karena Saga, akan melakukan apapun untuk menyelamatkan mu, termasuk menukar bukti itu!" Diandra menegaskan.


"Tidak mungkin, kali ini kamu salah, Aku yakin, Saga akan memutuskan yang benar. Dia pasti akan melaporkan mu ke polisi." Emeli berucap dengan lantang. Sedang Diandra, yang mendengar ucapan lawan bicaranya. Hanya mengeleng, sambil mengecap beberapa kali.


"Apa kamu sebodoh itu? Tidak bisa melihat cinta Saga yang begitu besar padamu. Kamu tahu aku sangat iri padamu, bagaimana bisa membuat dua orang sekaligus. Devan dan Saga mencintai mu seperti itu." Diandra mencengkram dagu emeli penuh emosi.


"Asal kamu tau, aku tidak pernah memaksa mereka menyukaiku." elak Emeli, menatap tajam wanita yang mencengkeramnya.


"Busyet...,teriak Diandra sambil menghempaskan, wajah Emeli dengan kasar.


"Devan sangat sedih semalam. Bahkan Aku tidak pernah melihat dia sekacau itu, aku cemburu Emeli, rasanya aku ingin membakar mu hidup-hidup. Kerena membuat suamiku mencintai mu sedalam itu." ucap Diandra, dengan sorot mata penuh kebencian.


"Aku tidak pernah berniat menggodanya. Justru suamimu yang mendekatiku." Emeli membantah.


"Aku tidak peduli. Yang aku tau dia sangat mencintaimu. Dan aku sangat marah, dengar Emeli..., aku sangat marah."Diandra menarik nafas panjang, tangannya bergerak mengambil kater yang terselip di saku celananya. Senyum tersungging di wajah Diandra, saat menatap pisau kater tajam di depannya.


"Mau apa kamu Diandra?" lirih Emeli ketakutan.


Matanya melebar, jantungnya berdetak cepat, nafasnya memburu, ketakutan hebat di rasa, bahkan kening dan pelipisnya berkeringat dingin. Akan tetapi sebisa mungkin menunjukkan keberanian.


"Apa yang ingin kamu lakukan Diandra?" Emeli bertanya lagi . Saat senyum Diandra, kian melebar.


"Aku penasaran? Jika wajah cantik mu rusak, apa mereka berdua masih mencintai mu." Diandra tertawa senang.


"Diandra jangan gila." bentak Emeli dengan nafas tak beraturan.


"Kamu salah Emeli, aku memang gila. Aku gila..., karena takut kehilangan Devan. Devan satu satunya milik ku. Dan aku mulai kehilangan dia, karena kamu dia berubah, aku akan menghancurkan wajahmu. Agar Devan tidak menyukaimu lagi." Diandra menjelaskan.

__ADS_1


"Bajingan, kamu Diandra. Aku tidak bisa bayangkan. Bagaimana terkejutnya Devan, memiliki istri pembunuh seperti mu." Emeli berucap, mencoba mengalihkan keinginan Diandra. Tiba-tiba Diandra tertawa lapas.


"Aku acungi jempol keberanian mu Emeli, tapi sayangnya Devan tidak akan mengetahui kebenaran ini. Karena aku akan melenyapkan mu!" Bisik Diandra, lalu mengukir wajah tawanannya dengan leter, membuat Emeli terperanjat takut.


"Sayang sekali wajah secantik ini, harus hilang dengan kater ini. Emeli tamat lah riwayatmu."


Diandra melayangkan tangan bersama tajamnya later yang akan di daratkan ke wajah Emeli.


"Tidak...,"teriak Emeli sambil memejamkan mata mulai pasrah.


Tiba-tiba Tangan Diandra terhenti saat ponselnya. Yang berada di sakunya berdering, wanita itu mengecap kesal, lalu mengambil ponselnya. Kening Diandra berkerut melihat nama Suamiku, tertera di ponselnya.


"Devan...?" satu nama terucap dari bibir Diandra, lalu pandangannya teralih pada Emeli yang menatapnya tajam.


"Diam! Kalau kamu berani bicara, aku pastikan akan membunuhmu, dengan cara yang sangat menyakitkan." Diandra mengancam, kemudian sedikit menjauh, mengangkat telponnya.


"Devan, apa dia berniat membantuku, terimakasih..., aku harap kalian akan cepat datang. Saga, Devan. Aku takut! Aku tidak sanggup lagi, berpura-pura kuat di depannya"


Diandra berdehem lalu mengangkat telpon dari suaminya.


"Halo sayang, ada apa?"


"Aku di luar ada keperluan penting, ada apa sayang?"


"Aku Mau mengajakmu, mengurus surat perceraian ku dengan Laura."


Apa? suara Diandra terdengar terkejut.


"Iya Diandra, Aku sadar dia tidak pantas untukku. Dan Hanya kamu wanita yang patut aku cintai."


Mendengar kalimat yang di ucapkan suaminya, Diandra Menyungingkan senyum kemenangan. Lalu meletakkan kembali kater di tangannya ke saku celana.


"Benarkah sayang? Akhirnya kamu sadar sayang. Hanya aku yang pantas untuk mu."


"Iya aku menunggu, Aku merindukan mu cepat pulang"


"Iya sayang setelah urusan ku selesai, aku akan pulang.

__ADS_1


"Baiklah sayang, I love you"


"love you to."


Devan mematikan ponselnya lalu mencengkram kuat ponselnya dengan manik mata berkaca-kaca. Saga yang melihat Devan terlihat kacau, menepuk pundaknya. Menguatkan. Devan terdiam mengusap air matanya yang mengalir di pelupuk matanya.


Devan menarik nafas panjang , dia tidak menyangka keluarganya akan jadi seperti ini, Wanita yang sangat dia cintai ternyata bukan istrinya, di tambah lagi mengetahui Diandra seorang penjahat membuatnya semakin hancur.


"Masih berapa lama kita sampai ke tempat Emeli, Saga?" lirih Devan, masih tertunduk lesu.


"Mungkin setengah jam lagi, Aku harap diandra tidak nekad." Saga berucap sambil memfokuskan diri menyetir.


Di sebuah ruangan wanita cantik bejalan dengan gontai menatap Emeli dengan senyum mengejek.


"Kamu tahu, aku senang Akhirnya Devan sadar, hanya aku yang pantas di sisinya." ucap Diandra, yang sudah berada di depan Emeli.


"Diandra, kenapa kamu lakukan semua ini? kalau Devan mencintaimu, dia akan menerima mu apa adanya. Dan tidak akan pernah meninggalkan mu. Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, sehingga membunuh Laura?" Pertanyaan Emeli, membuat Diandra tergelak.


"Laura ya..." Diandra memegang dagunya seolah berpikir.


"Oh iya, aku ingat karena Laura, pembunuhan berantai ini terjadi. Dan mungkin kamu selanjutnya. Kasian sekali kamu Emeli seharusnya kamu diam, bukan mencari tahu tentang Laura. Dengan menjadi Laura, kamu akan leluasa menikmati kekayaan Wijaya."


"Aku bukan orang seperti kamu, bisa bahagia di atas derita Laura. Apalagi kamu telah melenyapkan ya!" Teriak Emeli, begitu kesal.


" Kamu berani meneriaki ku" Diandra mendekat lalu menjambak rambut Emeli dengan kasar , Emeli yang kesakitan hanya bisa meringis.


"Kamu tau, itu salahnya kenapa malam itu berani sekali mengancam ku. Oiya, kamu ingin tahu bagaimana aku melenyapkan gadis malang itu. Tidak, tidak, aku tidak membunuhnya dia mati sendiri. Mungkin lebih tepatnya dia mati karana aku tidak menolongnya"


"Apa maksudmu?" tanya Emeli yang tak mengerti arti ucapan Diandra.


"Kamu tahu, Laura mati tengelam, aku ingat betul kejadian itu.


"Byurrr....! Suara air itu terdengar ,saat gadis malang itu terjatuh, bahkan tangannya melambai-lambai meminta tolong" Diandra memperagakan


"Tapi aku biarkan! Aku biarkan, Laura mati tegelam. Dengan begitu, rahasiaku akan aman bersama kematiannya. Karna kamu sebentar lagi akan menyusul Laura. Aku beritahu satu rahasia yang Laura tau." Diandra melangkah ke depan memunggungi Emeli, wanita itu menarik napas panjang


"kejadian ini berawal...."

__ADS_1


.


__ADS_2