Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
rencana kalian


__ADS_3

Emeli keluar rumah menunggu tempat yang di janjikan Saga.Angin malam terasa kencang dan begitu dingin bersama kilatan petir yang menyambar membuat Emeli semakin resah.


"Saga kenapa belum datang, hal penting apa yang akan dia sampaikan, sampai harus ke sini di pagi buta." Emeli yang gelisah menyilangkan tangannya sembari mengusap-usap kedua lengannya merasa kedinginan .


"Emeli..." ucap seorang lelaki di balik punggungnya.Mendengar suara itu Emeli berbalik.Dia terbelalak menatap Fandi berada di depannya memakai jaket biru dan sebuah tas ransel mengalung di punggungnya.


"Fandi kenapa kamu di sini.." tanyanya terkejut sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari sosok yang sedari tadi di nanti.


"Di mana Saga, Jagan bilang kalian."ucapnya terhenti merasa janggal, karena pertemuannya dengan Fandi terlalu kebetulan.


"Ini semua demi kamu," ujar Fandi menyakinkan yang mengerti kecurigaan Emeli.


"Apa maksudmu?" tanya. Emeli menyelidik.


"Kami lakukan semua ini demi kebaikan mu Emeli... kami tidak mau kamu kenapa-napa." Fandi mencoba menyakinkan Emeli yang terlihat ragu.


"Sebenarnya apa rencana kalian, hingga membuatku menunggu di pagi buta."Tanyanya dengan sorot mata tajam


"Kamu tau sendiri di sini tidak aman bagimu, Saga cerita berulang kali, orang itu berusaha mencelakai mu terakhir saat di pesta itu. Kami sangat yakin dia akan kembali sebelum niatnya terpenuhi." Ujar Fandi penuh penekanan.Emeli mengepalkan tangan merasa di permainkan dengan sorot mata mulai mengembun.


"Lantas apa maksud semua ini?" Tanyanya santai berusaha untuk terlihat tenang meski dalam hatinya berkecamuk pilu.


"Aku akan membawa mu pergi dan Saga telah mempersiapkannya. Kita tinggal berangkat saja ke luar negeri."


Emeli terkejut dengan pernyataan Fandi membuat dia terpaku tidak percaya.


Dia tidak menyangka, Saga orang yang paling ia percaya. Mengambil keputusan untuk dirinya Tampa melibatkannya.


kilatan Ingatan sedari tadi bersama Saga bermunculan, dengan ucapannya bagai misteri kini terjawab sudah.


"Jadi ini maksud Saga.."ucapnya lirih, Emeli menunduk tidak terasa air matanya jatuh.


Fandi mendekati Emeli berusaha untuk menenangkannya. Dia menggapai lengan Emeli lalu menyentuh nya dengan lembut.


"Aku tau kamu terkejut... tapi ini semua kami lakukan untuk kebaikan mu."Lirihnya.


Emeli menyeka air matanya dan mendongak kan wajah menatap Fandi dengan tatapan tajam.


" Hah..., Emeli tergelak.


Apa kamu bilang... ini semua demi aku, omong kosong macam apa itu."Lalu menghempaskan tangan Fandi dengan kasar menatapnya dengan kilatan amarah.


"Kamu tau kak, kalian orang-orang yang paling aku percaya, tapi ini yang aku dapatkan.

__ADS_1


Emeli menghela nafas kesal, sembari menggelengkan kepala dengan air mata yang telah jatuh.


"Kenapa.... kenapa tidak menanyakan dulu pendapatku, Apa kalian sadar tentang perbuatan kalian, kalian benar-benar berhasil menghancurkan perasaanku." teriaknya.


"Kalaupun aku mati, di tangan penjahat itu... aku rela kak, tapi tidak... orang yang aku percaya membohongiku seperti ini." Ucap Emeli sembari terisak. Fandi tertegun tidak menyangka reaksi Emeli akan semarah ini.


Kilatan petir menyambar bersama datangnya derasnya hujan, menguyur tubuh Fandi dan Emeli.


"Emeli tenanglah, kita berteduh dulu hujannya sangat deras," Fandi membuka jaketnya dan menutupi tubuh Emeli namun Emeli dengan cepat menghempaskan jaket itu.


Tidak tinggal diam, Fandi mencengkram tangan Emeli saat hendak pergi.


"Tunggu Emeli dengarkan dulu penjelasan ku."


"Lepaskan aku, Kalian pikir aku tidak punya perasaaan, sampai aku sendiri tidak bisa menentukan nasib ku." Lirihnya meronta mencoba melepaskan tangan Fandi.


"Apa kalian pikir... aku boneka, yang bisa kalian atur semau kalian." teriaknya.


"Aku lakukan semua ini, demi kamu..., Emeli kamu tau, aku sangat mencintaimu bahkan aku rela melawan dunia demi kamu" ujarnya mencoba meyakinkan.


"Cukup aku tidak mau dengar lagi...,


cinta adalah alasan yang menutupi ke keegoisan mu kak, jika kamu mencintai ku harusnya kamu menghargai perasaanku."


"Aaww.... teriak Fandi sembari melepaskan cengkraman nya.Dengan cepat Emeli berlari menembus malam bersama derasnya hujan yang terus mengguyur tubuhnya.


"Emeli tunggu...." teriak Fandi mengambil jaketnya lalu bergegas mengejarnya.


Seorang dalam mobil mengintai sembari tersenyum penuh kemenangan.


"Ini waktunya kamu pergi Emeli di sini bukan tempatmu." lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Tiba-tiba cahaya Lambu menembus derasnya hujan, sinarnya begitu cepat bejalan menuju Emeli yang tengah berlari.


Emeli yang menyadari mobil itu sudah terlalu dekat dia tertegun tak beranjak, lalu menutup mata dengan lengannya


"Aaarkkkk.....


"Emeli... teriak Fandi.


********


Di tengah malam tidur Devan terganggu saat tenggorokan nya kering tercekat dia, memaksakan matanya terbuka,lalu membangunkan dirinya mengambil air di atas laci,namun naas air itu sudah tandas.

__ADS_1


Devan menghela nafas letih, lalu mengedarkan pandangannya yang terhenti, pada Diandra yang tengah tertidur di bawah balutan selimut hingga tubuhnya tak terlihat.


Devan menjulurkan tangan, merasa bersalah karena sudah beberapa hari ini komunikasinya dengannya, tidak berjalan baik, seperti biasanya tidak ada lagi tegur sapa dan kecup manja.


Setelah pertengkaran itu. Diandra berubah menjadi istri yang dingin di hadapannya, Setelah berfikir Devan menarik tangannya yang tengah melayang takut, kalau-kalau sentuhan itu menganggu tidurnya.


Dia beranjak dari tempat tidurnya. Melangkah gontai menuju dapur, Setelah menuntaskan dahaganya,


Tiba-tiba Devan memicingkan mata menatap kamar Emeli sedikit terbuka dengan lampu masih menyala,Devan menatap jam yang berada di dinding menunjukkan jam 02:00 dini hari.


Karena penasaran Devan berjalan mendekat, lalu mengintip di celah pintu untuk memastikan Emeli sedang tertidur.


Devan mengerutkan keningnya merasa di kamar tidak ada orang, lalu dengan cepat mendorong pintu itu.


Alangkah terkejutnya istri kecilnya tidak ada Devan melangkah cepat membuka lemari Namun baju-bajunya masih tersusun rapi.


Devan berusaha tenang dan berfikir positif.


"Mungkin dia tidur di kamar Saga, bukankah Saga sedang tidak menginap di rumah ini."


Lalu keluar menaiki tangga namun langkahnya terhenti. Karna penasaran dia berbalik arah menuju kamar Saga, mendorong gagang pintu dengan pelan.


Devan terbelalak mendapati kamar itu kosong


Nafasnya naik turun dengan debaran jantung lebih cepat.Pertanyaan dan kekhawatiran terus bermunculan di benaknya.


Devan memijit pelipisnya berpikir keras harus mencari dimana istri kecilnya,


tidak mungkin dia pulang kerumahnya, kalau pun iya pasti Wijaya mengabarinya.


Dia berlari keluar rumah, dia memutar matanya malas seketika membuka pintu di sambut derasnya hujan. Namun matanya tertuju pada pintu gerbang yang sedikit terbuka,


Pikirannya kalut memikirkan istrinya yang menghilang membuat Devan memberanikan diri menebus derasnya hujan di tengah kencangnya angin malam.


"Laura.... Laura..." teriaknya sambil berlarian berharap dia akan menemukan istrinya, hujan terus menguyur tubuhnya membuat Devan menggigil.


Samar-samar Devan mendengar seorang menangis, Dia beranikan diri untuk mendekat mencoba menuntas kan rasa penasarannya.


Langkahnya seolah tertarik oleh tangisan dan teriakan yang terdengar memilukan.


Tiba-tiba matanya terbelalak mendapati apa yang di depannya.


"Laura..... teriaknya

__ADS_1


__ADS_2