Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
tidak


__ADS_3

Emeli aku mohon Jagan libatkan dirimu dengan masalah orang lain,lagi pula kamu memiliki identitas sendiri, aku akan membawamu pergi kita tinggalkan masalah orang-orang itu.Dan aku janji akan membuat mu bahagia"


"Hah.." Emeli tergelak mendengar ucapan Fandi "Tidak semudah itu kak,aku sudah terlibat dengan masalah ini aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


Maaf...aku tidak bisa..."sembari menggelengkan kepalanya dengan mata mulai mengembun. Emeli melepaskan cengkraman tangan Fandi di lengannya dan melangkah pergi.


Tiba-tiba Fandi merengkuh Emeli dari belakang menundukkan kepala sembari menopangkan dagunya di pundak Emeli.


"Lepaskan aku kak, lepaskan" Emeli berontak Namun cengkram Fandi semakin erat mengunci tubuhnya hingga sulit bergerak.


"Emeli...kamu tau aku sempat berfikir untuk meninggalkanmu... tapi setelah aku tau kamu hanya di manfaat kan. Aku tidak rela," ucapnya penuh penegasan.


"Aku tau aku salah... maafkan aku, ikutlah bersamaku." lirihnya dengan air mata yang jatuh menetes membasahi pundak emeli.


"Apa bedanya.... bukankah dulu kamu hanya memanfaatkan ku, untuk mendapatkan kak Mauren. Lagi pula aku bukan barang setelah kakak buang lalu kakak pungut lagi." ucap Emeli datar. Namun menusuk di hati Fandi, ada penyesalan mendalam mendengar kebenaran itu keluar dari seorang yang di cintai ya.


"Maafkan aku Emeli, aku..."


"Cukup... kak, aku telah memaafkan mu tapi Jagan berharap lebih dari itu.. lepaskan aku kalau tidak aku akan membencimu selamanya" ujar Emeli datar dengan tatapan kosong namun penuh makna.


Pegangan Fandi mulai melemah ada rasa sesak menjalar di hatinya. Dia menghela nafas letih sembari melepaskan cengkraman.


Emeli melangkah pergi Tampa menoleh sedang Fandi menatap kepergian gadis yang di cintai dengan rona wajah penuh penyesalan. Dia terus menatap Emeli hingga menghilang di kejauhan.


Emeli masuk dalam ruang pesta, matanya menyapu seluruh ruangan, mencari Saga namun tidak terlihat.


Sayang kamu dari mana saja, mendengar suara itu Emeli mendogakkan wajah menatap Ardi yang berjalan mendekat.


Lalu merangkul tubuh Emeli menuntun mendekati meja Devan dan diandra, Diandra yang melihat Emeli mendekat. Membuat wajahnya berubah menjadi masam sedangkan Devan menatapnya. Dengan sorot mata tak terbaca. Ardi menduduk kan Emeli di kursi yang bersebelahan langsung dengan Devan.


"Papa aku...," ucap Emeli mencoba bangkit namun Ardi menahannya.


Tempatmu di sini sayang, Jagan biarkan orang lain merebutnya." sembari menatap sinis Diandra yang duduk di samping Devan.


Ardi merengkuh kedua lengan Emeli menatapnya tajam.


"Sayang kamu baik-baik di sini, jangan kemana-mana jaga suamimu, ucap Ardi sembari tersenyum lalu bergegas pergi.


Emeli menatap kedua orang di meja itu secara bergantian. "Kenapa aku harus di meja ini, bersama dua orang yang sangat aku hindari,"


Dia membatin dan menghela nafas panjang.


lalu membuang muka ke segala arah mencoba menetralkan kegugupannya.


Sedang Devan menatap intens wajah Emeli, yang terlihat jelas sedang gelisah, dia mencoba tersenyum. Namun dari matanya terlihat jelas kesedihan.


"Kamu dari mana saja.?" tanya Devan membuat Emeli mendongak kan wajah menatapnya.

__ADS_1


sejenak tatapan mereka beradu,namun dengan cepat Emeli membuangnya."


"Aku kemana bukan urusan mu,jawabnya Tampa menoleh.


"Laura.... bisa tidak, kamu lebih bersikap baik terhadap suami mu hah." Bentaknya.


Tiba-tiba Emeli berdiri beranjak pergi namun dengan cepat Devan mencengkram tangannya dengan kuat, dengan sorot mata tajam..


"Lepas Devan sakit" ucap Emeli memegang. pergelangan tangannya yang memerah di pegang Devan.


"Duduk kalau tidak aku akan bertindak lebih kasar, jauh dari pada ini. Dapat di pastikan apa yang akan aku lakukan untuk mengajari istri pembangkang seperti mu."menatap Emeli dengan tatapan mengancam.


Membuat Emeli bergidik ngeri, lalu duduk kembali, membuat Devan melepaskan penganngnya.


"Sayang Jagan buang-buang waktu mu, hanya untuk dia, Biarkan dia pergi." ucap Diandra terdengar manja.


"Tidak sayang... aku ingin dia menghargai suaminya dan tidak bertindak sesukanya."jawabnya penuh penegasan.


"Boleh kah aku pergi.. apa aku di sini hanya untuk jadi penonton kemesraan kalian, tolonglah aku sudah bosan aku ingin pergi" mengatupkan kedua tangannya dengan tatapan kesal.


"coba saja kalau kau berani... dengan tatapan mngacam."


"Sial kenapa aku harus terjebak seperti ini" Emeli membatin lalu mengusap keningnya merasa frustasi.


"Sayang biarkan dia pergi, lagi pula Papa sudah tidak terlihat lagi." sembari bergelayut manja di lengan Devan.


Diandra yang terkejut hanya diam lalu menunduk terlihat jelas kilatan kebencian dan amarah dari matanya. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat.


Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa segelas jus oranye.


"Ini nona minumannya," ucap pelayan itu sembari menaruh minuman di atas meja Emeli.


"Kenapa suara pelayan itu begitu aneh," gumamnya dalam hati. Sekilas menatap wajah pelayan itu lalu membuangnya kembali.


"Aku tidak memesannya mungkin anda salah orang." jawab Emeli datar.


"Oh maaf nona" ketika pelayan itu mau mengambil lagi, tangannya di pegang Emeli.


"Sudahlah biarkan saja aku haus... di sini suasananya begitu panas."Sembari menatap Diandra dan Devan secara bergantian dengan tatapan mengejek.


" Yasudah kamu boleh pergi," ucap Emeli dengan wajah datar.


Selang beberapa langkah pelayan itu, menyunggingkan senyuman.


*****


Sementara Fandi yang duduk sendiri di dalam ruangan setelah mendengar penolakan begitu terpukul dia tidak menyangka Emeli akan menolaknya setegas itu, padahal dia begitu yakin kalau Emeli masih mencintai nya.

__ADS_1


Fandi mengusap rambutnya dengan kasar. terlihat begitu frustasi.


"Aku tidak boleh menyerah, aku akan Pastika akan membawa mu pergi dari mereka."


Lalu menghela nafas panjang kemudian bangkit dan berencana pergi.


Dia sudah tidak berminat lagi ke pesta


saat di parkiran. saat Fandi merogoh sakunya untuk mengambil kunci mobil,


kunci itu itu terjatuh Tampa sengaja


tertendang hingga masuk ke bawah mobil.


Fandi menundukkan badannya menjulurkan tangan untuk menggapainya.


Tiba-tiba seseorang lelaki keluar, berpakaian biasa membawa tas ransel memakai masker dan topi melewati Fandi di sisi kiri.


Pria itu menghentikan langkahnya mendengar notifikasi handphone nya berdering.Tampa menyadari Fandi di bawahnya.


"Aku tidak menyangka bos selicik ini. Dia benar-benar pintar, Bahkan polisi tidak akan sanggup melacak ku.Kasihan sekali gadis cantik itu, padahal dia masih muda tetapi harus mati."


Fandi telah menggapai kunci mobilnya Dian mengerutkan kening mendengar ucapan lelaki itu yang terdengar jelas sembari menggelengkan kepala.


"Hah itu bukan urusan ku, yang penting bos telah membayar ku sangat mahal.


Setelah dia meminum jus oranye itu, pekerjaan ku akan selesai dia akan mati.


Dan tidak ada lagi, wanita yang akan berani mengaku sebagai nyonya Laura Wijaya lagi."


Pria itu tersenyum lalu beranjak pergi.


Dia membuka tasnya lalu membuang bungkusan plastik di tong sampah.


dan bergegas pergi menghilang di kejauhan


Fandi hanya menggelengkan kepala sembari menatap kepergian pria itu.


"Aku tidak menyangka ada orang sejahat itu"


Fandi masuk dalam mobil tiba-tiba dia teringat sesuatu.


"Laura wijaya.... gadis cantik.... mengaku-ngaku apa jangan-jangan." sial dia membanting setir lalu keluar dari mobil. Fandi berlari begitu kencang seperti orang kesetanan peluh bercucuran di tubuhnya membuat rambutnya yang kering terlihat basah.


Dia berhenti di ruangan pesta, dengan nafas tersengal lalu mengedarkan pandangannya mencari Emeli di tengah kerumunan.


Matanya terbelalak ketika melihat Emeli sudah memegang minuman berisi Oranye jus itu terangkat dan mau meminumnya.

__ADS_1


"Tidak...."


__ADS_2