
Seperti biasa selain hari libur setiap pagi Jhoni menjemput tuannya,
dia memarkirkan mobil tepat di depan rumah Devan, Ketika turun, lalu melihat nona mudanya sedang asik menggunting bonsai, dengan cepat jhoni menghampiri.
"Ehemm pohonnya bagus nona anda pintar sekali membentuknya."ucap Jhoni sambil melipat tangannya di dada.
"Tentulah aku kan termasuk orang berbakat" jawab Emeli sembari menepuk pelan dadanya.
Jhoni memicingkan mata mendengar pengakuannya lalu menggelengkan kepala.
"Apa tuan ada?" tanyanya lagi.
"Kayaknya ada mungkin, lagi makan sama istrinya"jawab Emeli datar.
Jhoni mengerutkan kening mendengar ucapan Emeli yang terlihat biasa saja.
"Kenapa anda tidak ikut makan bersama mereka,?"ucap Jhoni penasaran.
"Untuk apa bisa hilang selera makan ku bila bersama mereka." jawabnya datar.
"Anda berubah nona,dulu. anda sangat pendiam dan tertutup tapi sekarang anda lebih ceria aku ikut bahagia melihat perubahan anda."
Emeli mendongakkan wajahnya menatap Jhoni yang terlihat tulus dari sorot matanya.
Dia hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Sejak kapan kamu datang." Ujar Devan berjalan mendekat bersama Diandra,membuat Emeli dan Jhoni menatapnya bersamaan.
"Anda sudah siap tuan"
Jhoni mengambil tas yang di bawa Devan.Lalu menatap jam yang melingkar di tangan kirinya.
Maaf tuan seperti nya kita harus berangkat, kalau tidak mungkin akan terlambat.
Devan memutar badannya menghadap Diandra "Sayang aku berangkat dulu" lalu melangkah pergi tiba-tiba tangan Diandra menarik bajunya.
"Sayang dasi kamu belum rapi... sini aku rapikan."
Diandra membenarkan dasi Devan sedangkan Devan mencuri Padang pada Emeli yang terlihat acuh dan sibuk dengan tanamannya.
Dia mengepal sembari bernafas kesal.
"Sudah," ucap Diandra.
"Terima kasih sayang..." saat Devan mau berbalik Diandra menarik dasinya.
"Kamu melupakan sesuatu?"tanya Diandra.
Devan mengerenyitkan dahi mencoba berpikir namun hasilnya nihil.
"Apa?" Diandra menunjuk pipinya sendiri.
"Astaga aku kira apa dia langsung mencium pipi kiri Diandra."
"Ya sudah masuk, tangan kamu kan masih sakit." Diandra hanya mengangguk. dan bergegas masuk dalam rumah.
"Dia mendekati Emeli yang selalu sibuk dengan pohonnya."
Apa pohon itu begitu penting hingga kau melupakan sekitarmu"tanya Devan dengan ketus.
Emeli mengecap bibirnya memutar matanya. malas lalu membalikan badan menghadap Devan.
"Ini urusanku bukan urusan mu bisa tidak Jagan menggangguku." Emeli mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Jagan berlaga Pylon, semua tentangmu adalah urusanku jelas aku masih suamimu."
"Jagan buat mood rusak. Pagi ini aku tidak ingin berdebat lagi." Lalu bergegas
Dengan cepat Devan menghadang langkahnya. "Apa lagi ucap Emeli dengan tatapan kesal."
"Nanti malam ada pesta, ku harap kamu datang." Sepertinya aku sibuk mendorong tubuh Devan ke samping lalu melangkah pergi.
"Bukan aku yanga mengundangmu tapi papa."
Membuat langkah Emeli terhenti.
"Terserah jika kamu tidak datang aku hanya menyampaikan saja."
"Tapi dapat di pastikan papa akan sangat kecewa padamu." Emeli menghela nafas lalu meneruskan langkahnya.
Devan masuk dalam mobil membanting pintu dengan keras membuat Jhoni terlonjak kaget
"Di kantor ada tas yang kamu beli dulu buat Laura. Berikan padanya dan pastikan malam ini dia memakainya.
"Tapi tuan..."
"Aku tidak mau ada penolakan." Tekannya dengan sorot mata tajam berhasil membungkam mulut Jhoni.
"Baik tuan"
"Mereka yang berantem selalu aku yang Kena batunya.Kenapa aku selalu sial di tengah pertengkaran mereka."
"Kenapa diam ayo cepat jalan." bentaknya
"Baik tuan.." lalu melajukan mobil sesuai perintah.
*******
Di tengah megahnya pesta. Bersama dekorasi indah dan memukau.Yang membuat orang berdecak kagum.
Devan menghela nafas kesal matanya selalu melanglang buana mencari sosok yang di nantikan.Seorang gadis yang tak kunjung datang meski pesta sudah sedari tadi di mulai.
Devan bangkit lalu melangkah mengambil minuman,semuanya terasa hambar pikirannya
kacau.Ada kekecewaan yang tergambar dari raut wajah sedihnya.
Devan berbalik tiba-tiba menabrak seseorang
"Ma..af" ucapnya terpotong melihat seorang pria yang di kenalnya.
"Kamu kenapa bisa di sini?" ucapnya sambil menunjuk.
"Tuan Devan kebetulan kalian bertemu"
Suara Riski memecahkan suasana canggung Devan mengerenyitkan kening mendengar ucapan Riski.
"Maksudnya apa ya pak bisa di jelaskan?"
"Kenalkan tuan dia Afandi pratama manajer pemasaran di cabang kita yang baru."ucap Riski memperkenalkan Fandi.
"Oh.."Devan nampak terkejut. tapi berusaha menyembunyikan.
"Fandi kenalkan dia putra pemilik angkasa grup
tuan Devan Ardiansyah."
Devan menjulurkan tangan dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1
"Devan...." ucapnya dengan wajah datar.
Fandi bersalaman dengan kikuk.
"Saya Fandi." ujarnya.
"Tuan Devan Fandi ini sangat hebat baru dia menjabat perusahaan sudah berkembang cepat meski usianya sangat muda tapi kemampuannya sangat luar biasa." Ucap Riski begitu mengagumi sosok pekerjanya itu.
"Semoga kamu bisa mengembangkan potensi mu dengan lebih baik lagi."jawab Devan.
Lalu melangkah saat berpapasan Devan menepuk bahu Fandi.
"Aku harap kamu tidak menganggu istriku lagi, Kalau tidak karir mu hancur di sini."ucap Devan penuh penekanan."
"Aku tidak peduli dengan karier ku,
Asal dia bahagia aku akan melepasnya."jawab Fandi penuh penegasan.
bagus lalu melangkah pergi."
Di luar Saga dan Emeli keluar dari mobil mengenakan gaun berwarna putih panjang Tampa lengan. Dengan aksen brokat dan membiarkan rambut hitamnya tergerai indah.Tidak lupa memakai kalung dan anting berlian senada,menambah kesan anggun di paras cantiknya.
Emeli melangkah mendekati Ardiansyah yang tengah berbincang-bincang.
tepukan halus di punggung Ardi membuatnya menoleh menatap gadis manis yang tersenyum di depannya.
"Laura sayang kamu datang nak,kamu cantik sekali.."Ucap Ardi memandang gadis itu terpukau.
"Terimakasih dan maaf Laura baru datang."
"Tidak masalah yang penting kamu sudah mau ke sini."jawabnya
"Benarkah ini semua karena papa telah memberiku baju dan perhiasaan ini."
"Tunggu sayang seingat papa, papa tidak pernah memberiku hadiah itu.Pernyataan Ardi membuat Email terkejut.
"Tapi kata Jhoni ini dari papa "Ungkapnya sekali lagi,seraya berfikir dengan keras.
"Mungkin dia salah sebut nama, pasti Devan yang menyuruhnya papa akui selera Devan memang yang terbaik."
Sembari mengangkat kedua jempolnya membuat Emeli tersipu malu.
Tiba-tiba seseorang memanggil Ardi dari kejauhan.
"Sayang papa pergi dulu kamu bahagia di sini,
oiya saga tolong jaga menantu ku ini."
Mengusap pipi Emeli lalu melangkah pergi
meninggalkan kan Saga dan Emeli yang berdiri mematung.
"Aku tidak menyangka Devan akan memberimu barang semewah ini, seperti nya hati Devan mulai tersentuh." Ucap Saga mengejek.
"Sudahlah Jagan di bahas lagi, aku seperti kena jebakan Betmen." Ucapnya dengan wajah masam.
"Sudah Jagan cemberut nanti cantiknya ilang" Sembari mencubit lembut pipi Emeli lalu menggandengnya masuk
"Dari jauh seorang pria tampan menatap mereka dengan mata berkaca-kaca.
Aku tidak tau Emeli, siapa sebenarnya mereka dan mana yang kamu pilih.Tapi satu yang pasti aku tidak sebanding dengan mereka."
Devan menjatuhkan bokongnya dengan halus di kursi tiba-tiba pandangan nya teralih pada sosok yang baru datang.
__ADS_1
Wanita itu berjalan dengan anggun di bawah gemerlap lampu yang menyinari, Dengan gaun putih yang terjatuh lembut di tubuhnya. Sesekali melempar senyum lalu mengalungkan rambutnya di balik telinga.
"Oh Tuhan aku mencintainya."