
Byurrr..... Emeli mengerjapka mata menyadari seseorang menyiram nya dengan air hingga sekujur tubuhnya basah kuyup.
"Dia menatap seseorang di depannya yang menatapnya sinis,lalu menyadari tangan dan kakinya terikat dengan mulut di lakban,
hatinya di penuhi ketakutan namun sebisa mungkin dia terlihat tegar,Emeli melihat layang sepupunya itu dengan tajam.
"Selamat datang sepupuku, di neraka ini" ucapnya tajam sembari tersenyum penuh arti.
"Setelah lama aku menantikan ke kesempatan ini.... akhirnya datang juga. kamu tau aku selalu mengintai mu," ungkap Mauren menjulurkan tangannya menyentuh wajah Emeli dengan telunjuk lalu menyusuri seolah melukisnya dengan tatapan kesal.
"Kamu harus mati sama seperti Fandi yang telah mati karena mu. Mauren mengalihkan tangannya ke Surai hitam rambut Emeli dengan tiba-tiba menjambak rambutnya dengan keras bersama dengan tatapan tajamnya penuh dengan kebencian.
"Emeli hanya bisa meringis dalam kebisuan, mendapati perlakuan kasar sepupunya itu, dengan mata mulai mengembun karna kesakitan yang dirasa.
"Kamu tau aku sangat mencintainya, tapi dengan tega kamu melenyapkannya, kenapa bukan kamu saja yang mati... kenapa kak Fandi hah." Ungkapnya histeris dengan mata berkaca-kaca, seolah ingin meluapkan dendam yang selama ini di simpannya.
Mauren menghempaskan tangannya dengan kasar hingga kepala Emeli terjungkal.Emeli meronta seolah ingin berbicara. Mauren yang mengerti mendekatkan wajahnya ke wajah Emeli menatap nya dengan tatapan tajam.
"Kenapa kamu mau membela diri hah?" bentaknya menatap Emeli yang mengangguk membenarkan pertanyaannya."
"Baiklah aku beri kesempatan sebelum kamu mati." Mauren menjulurkan tangan melepaskan lakban yang menutup mulut Emeli ,membuat Emeli meringis merasakan perih.
"Kamu salah Mauren, aku tidak membunuh Fandi itu semua kecelakaan." tegasnya dengan nafas tersengal.
"Apa kamu kira aku bodoh, aku tau Fandi mengorbankan dirinya untuk mu, keluarga Fandi bisa menerima karna orang kota itu memberikan kompensasi yang sangat besar untuk mereka. Tapi tidak denganku, aku tidak terima lelaki yang selama ini aku cintai mati sia-sia karena mu.
Kenapa bukan kamu saja yang mati, Apa kamu tau bertahun-tahun aku mengejarnya dia tetap saja menolak, kamu tau kenapa, karna dia hanya menginginkan mu ." Bentaknya dengan air mata yang sudah jatuh.
"Dan sekarang saat kamu muncul di depannya kamu merenggutnya dariku." Lirihnya
"Tidak itu semua tidak benar, kamu yang lebih dulu merebutnya dariku ,dan setelah kejadian itu aku meninggalkannya tapi kak Fandi sendiri yang mengejar ku kamu tau itukan." Sanggah Emeli
__ADS_1
"Hah.... Mauren tergelak sekarang nasi sudah jadi bubur, karna mu kak Fandi sudah mati kamu harus mati juga," tegasnya
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Emeli melihat mauren menjulurkan tangan.
"Mengantarmu menemui Fandi, sampaikan salam ku padanya." ucapnya dengan tatapan tajam lalu mencekik Emeli dengan kencang.
Emeli meronta menyadari tangan Mauren mencekik lehernya.
"Jagan Mauren.... Mauren.... lirihnya dengan suara yang semakin melemah Emeli meronta tapi apalah daya tubuhnya sudah di ikat dia tidak bisa melawan lagi.
"Kamu harus membayar kematian kak Fandi dengan harga yang setimpal, ucapnya tangan Mauren mempererat cekik kan dengan tatapan mata penuh emosi, Emeli mengerakkan tubuhnya seolah ingin berontak, nafasnya terasa sesak dia sudah pasrah mungkin ini adalah akhir dari perjalanan hidupnya, mati di tangan sepupunya sendiri Mauren
******
Devan membuka kamar Emeli ada rasa bersalah menyeruak di hatinya karena selama ini dia sadar hanya bisa menyakitinya.
Dia mengerakkan kaki melangkah masuk, lalu duduk di tepi ranjang, pandangannya menyusuri setiap sudut kamar, yang selama ini di tempati istrinya. khawatir dan rasa rindunya menyelimuti perasaannya, Devan mengambil bantal lalu memeluknya erat seolah ingin memeluk Emeli yang kini menghilang.
"Kamu di mana.... Laura, kembalilah aku membutuhkan mu."Lirihnya tidak terasa air mata lolos dari pelupuk matanya mengalir deras tidak terbendung.
"Devan seberharga itukah Emeli di matamu hingga sepanjang hari kamu hanya menangisinya, bahkan kamu mengacuhkan ku yang selalu berada di depan mu."
"Dert... dert... dert... ponsel Devan berdering suara itu menyadarkan dari lamunannya.
Halo Jhoni, bagaimana ada kabar tentang laura?"
"Tidak tuan"
"Lalu kenapa kamu meneleponku" jawabnya dengan nada marah.
"Ada klien datang dari luar negeri ingin menemui tuan secara langsung"
__ADS_1
"Dasar bodoh, aku bilang tidak ingin bekerja dan aku sudah menyuruhmu menghandle semua pekerjaan ku kan."
"Saya mengerti tuan, tapi beliau memaksa ingin bertemu dengan anda"
"Aku tidak perduli, kalau dia memaksa batalkan saja kerjasama kita. Dan satu lagi Jagan meneleponku kalau kamu belum dapat kabar tentang Laura."
"Baik tuan"
Lalu mematikan ponselnya Devan menghela nafas kesal mengusap rambutnya dengan frustasi
"Kemana kamu Laura sudah 5 hari kamu menghilang tampa kabar." lirihnya dengan wajah sendu.
Dert... dert... sebuah pesan masuk dari handphone Devan, matanya terbelalak membaca pesan dari orang suruhannya, memberitahu informasi tentang Emeli dengan cepat Devan bergegas pergi dengan setengah berlari. Melewati Diandra yang berada di samping pintu.
"Tunggu Devan kamu mau kemana?" tanya Diandra berlari mengejar nya lalu meraih tangan Devan, membuat Devan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Diandra
"Aku akan mencari Laura ada yang memberi informasi penting tentang keberadaan nya."
"Tunggu Devan mungkin saja dia sendiri yang ingin pergi dari mu, kenapa kamu harus repot mencarinya." ujarnya dengan tangan masih menggenggam tangan Devan
"Cukup Diandra, aku tidak peduli dia berniat kabur atau di culik orang yang aku tau aku harus membawanya kembali" tegasnya
"Tidak Devan ?" ucapnya dengan tatapan mengiba.
"Lepaskan aku Diandra." teriak Devan kesal,namun Diandra tidak bergeming dia mengeratkan tangannya lalu mengelengkan kepala tidak mengijinkan Devan.
"Lepaskan aku Diandra" teriak Devan lebih kencang menggemma di ruangan menatap Diandra dengan tatapan tajam. Diandra terperanjat atas perlakuan Devan yang sangat kasar lalu melepaskan tangannya perlahan.
Devan yang melihat Diandra melepasnya dengan tatapan nanar langsung bergegas pergi meninggalkan Diandra yang mematung dengan mata mulai mengembun.
Devan memasuki mobil lalu menjalankan mobilnya dengan kencang yang di pikirkan hanya satu membawa Emeli pulang.
__ADS_1
Diandra mengepalkan tangan melihat nanar kepergian Devan tidak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Ini semua gara-gara kamu Emeli." teriaknya lalu berlari menangis, menaiki tangga.