Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
Apa gadis ini


__ADS_3

"Saga....lirihnya pelan menatap Saga yang berdiri di ambang pintu.


"Ya aku saga Emeli bukan Devan, maaf jika aku bukan orang yang kmu harapkan." ujarnya Lalu melangkah mendekati Emeli dengan sorot mata tak terbaca.


"Syukurlah kamu sudah sadar.." Saga menjulurkan tangannya ingin membelai rambutnya, namun dengan cepat Emeli, memundurkan tubuhnya menghindari tangan Saga,


Saga mengerutkan kening atas perlakuan Emeli


sejenak tatapan Meraka saling beradu seolah ingin membaca pikiran masing-masing. kemudian Emeli membuang muka ke arah lain.


Saga menghela nafas kasar, dia bingung harus memulainya dari mana.


"Emeli aku minta maaf telah melakukan semua ini pada mu."


"Apa kata maaf cukup untuk menyelesaikan segalanya," jawabnya datar dengan mata mulai mengembun.


"Aku tau aku salah hingga Fandi meninggal, tapi dengarkan dulu penjelasan ku, dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jawab Saga penuh penekanan, menatap Emeli dengan sorot mata mengiba."


Emeli terdiam, masih membuang muka dan terlihat acuh.Saga mengerutkan keningnya sembari mengusap pelipisnya dengan raut wajah kesal.


"Aku harus bagaimana, agar kamu bisa mengerti, apa yang aku lakukan demi kebaikan mu , aku tau.... aku juga tidak bisa membuat Fandi kembali tapi tolong Jagan begini."


Emeli mendongakkan wajah menatap tajam wajah Saga yang terlihat frustasi,


"Kak Fandi meninggal itu sudah takdirnya , yang aku kecewa kenapa kamu mengambil keputusan tampa melibatkan ku." jawabnya dengan intonasi tinggi sembari mengusab air matanya yang jatuh.


"Waktu itu aku kalut, aku takut terjadi apa-apa padamu,dan aku pikir jika kamu pergi dengan Fandi kamu akan aman dan bahagia dengannya.


"Hah.... Emeli tergelak kenapa sepicik itu pemikiran mu." Menggelengkan kepalanya menatap Saga nanar.


"Emeli aku mohon,mengertilah....., aku melakukan ini, Karna ingin melindungi mu, perasaan ku juga sakit memutuskan ini semua."tegasnya penuh penekanan, sembari merengkuh kedua lengan Emeli.


"Lepaskan aku..." ucapnya meronta untuk melepaskan cengkraman Saga.


"Tidak kamu harus percaya, padaku." mempererat tangannya.


"Bruk...." tiba-tiba Devan mendorong tubuh Saga hingga cengkeramannya terlepas dan tubuhnya terhempas ke laci di sebelah ranjang Emeli.


Devan dengan cepat menarik kerah baju Saga dengan sorot mata menantang.


"Berani sekali kau menyentuh istriku.." teriaknya penuh emosi.


"Ini bukan urusan mu" ujar Saga membuat Devan semakin geram.


"Urusannya adalah urusanku dia istriku" dengan tangan masih mencekam kuat baju Saga.

__ADS_1


"Hah.... Saga tergelak.Asal kamu tau dia itu..."


"Berhenti aku mohon.." teriak Emeli yang menatap mereka penuh ketegangan. Membuat dua pasang mata yang bertikai beralih menatap nya.


"Devan...., aku mohon beri kami sedikit waktu untuk berbicara." lirihnya dengan sorot datar.


"Tapi Laura..."jawabnya ragu atas permintaan wanita yang di anggap, istrinya.


"Aku mohon Devan, sebentar saja."ucap Emeli lagi membuat Devan menghela nafas kasar dan melepaskan cengkraman nya.Lalu mendekati Emeli dengan tatapan heran.


"Baiklah kalau ada apa-apa teriak saja, aku di luar." Devan mengusab lembut rambut Emeli dan sejenak menatap Saga dengan sorot mata mengancam lalu mengerakkan kakinya melangkah keluar.


"Terimakasih Emeli kamu masih mau membelaku, Tapi kamu percaya kan padaku"


tanyanya lagi penuh harap. Membuat Emeli menatap intens wajah Saga yang terlihat murung.


"Saga aku mohon Jagan bahas ini dulu, aku perlu waktu untuk menerima semuanya."


"Baiklah aku akan pergi, tapi aku berharap kmu memberiku kesempatan lagi."


"Di mana pemakaman kak Fandi?" tanyanya tiba-tibamembuat saga sedikit terkejut.


"Di TPU, Tidak jauh dari rumah sakit ini."


"Aku ingin istirahat, sebaiknya kamu pergi..." Emeli berbalik dan berbaring memunggunginya menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya dengan air mata yang telah jatuh.


Saga hanya mengangguk dengan perasaan bersalah lalu melangkah dengan gontai keluar ruangan.


Devan masuk mengerutkan kening merasa bingung menatap Emeli yang tertidur sedangkan Saga keluar dengan raut wajah sedih.


******


Diandra keluar dari mobil melangkah mendekati danau lalu melipat kedua tangannya


dengan tatapan penuh emosi.


"Laura... di tempat ini aku menghabisi mu,dan kamu tau sekarang... ada yang mengaku sebagai dirimu, aku saja sampai heran kenapa bisa semirip itu dengan mu.


Andai aku tau jadinya seperti ini... dari awal aku akan menghabisinya juga, saat pertama kali bertemu dengannya."


Flash on


Devan keluar menuju mobil tergesa-gesa bersama Jhoni.Tiba-tiba lengannya di cengkram seseorang membuat Devan berbalik menatapnya.


"Diandra...ujarnya menatapnya heran wanita yang tengah berada di depannya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana sayang kenapa buru-buru?" tanyanya.


"Aku mau ke rumah sakit" Diandra mengerutkan kening mendengar ucapan Devan.


"Siapa yang sakit sayang?" tanyanya lagi khawatir.


"Pak Wijaya sudah sadar, aku ingin menemuinya bagaimanapun dia masih mertuaku."


"Boleh aku ikut,?" ucap Diandra penuh harap


"Tentu saja kalau kamu mau."Lalu mereka bergegas pergi ke rumah sakit.


Alangkah terkejutnya Diandra, tubuhnya melemas dengan tangan gemetar menatap wanita yang sama persis seperti Laura yang tengah duduk berbincang bersama Saga, Namun Diandra berusaha bersikap biasa saja.


"Bagaimana mungkin, aku yakin sekali Laura telah mati, apa aku salah, apa dia masih hidup,aku harus memastikannya."


Devan yang datang ke rumah sakit Tampa di undang membuat Saga emosi perdebatan sengit bahkan adu jotos terjadi.


Sedangkan seorang wanita terdiam mematung dengan pikirannya melayang jauh melihat Emeli yang berada di depannya.


"Apa benar dia Laura, kalau benar dia Laura, tentu dia akan marah besar padaku mengingat kejadian malam itu. Tapi tidak dengan gadis di depanku, dia bersikap biasa saja, tidak aku harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi."


Suasana memanas dengan perkelahian yang tak kunjung usai, hingga akhirnya Saga pergi mengejar Emeli yang berlari keluar.


Pagi harinya Diandra datang ke tempat di danau dimana dia menghabisi Laura, Diandra Berjam-jam berdiri di pinggir danau bingung harus berbuat apa.


"Apa yang sebenarnya terjadi aku harus bagaimana untuk mencari tau kebenaran nya."ujarnya sembari menatap danau di depannya.


"Jangan di situ neng nanti jatuh seperti gadis yang meninggal beberapa bulan lalu." teriak bapak tua pedangan asongan yang tengah menjajahi jualannya.


Setelah berucap pria itu melangkah pergi, dan


Diandra yang terperanjat atas pengakuan pria itu bergegas menghampirinya.


"Permisi pak?" ujar Diandra dengan sopan


"Ada apa, mau membeli sesuatu neng ?"


"Bukan... bukan, tadi bapak bilang ada yang meninggal di danau ini , apa itu benar pak?"


"Oh iya benar neng, saya sendiri yang menolongnya.Malam itu aku ingat betul kejadiannya neng, sayang sekali gadis yang sangat cantik tapi harus mati mengenaskan."


mendengar penuturan bapak itu diandra mengambil handphone dan menunjukkan foto Laura.


"Maaf... apa gadis ini, yang bapak maksud?"tanyanya dengan sorot mata penasaran.Bapak itu membelalakkan mata menatap foto yang di berikan Diandra.

__ADS_1


********


maaf telat up masih repot di dunia nyata hehehe


__ADS_2