
"Kita tidak akan pulang, kita menginap di hotel ini." ujar Devan dengan datar.
"Yang benar saja...?" mendelik kesal
"Aku terlalu capek untuk pulang ke rumah,setelah kita berlarian"
"Salah sendiri membuatku kesal,kita pulang saja ya...."mendekati Devan menunjukkan senyum termanisnya.
" Tidak"ucapnya melirik sekilas emeli lalu melipat tangan di dada.
"Apa kamu tidak kasian, pada Diandra pasti dia menunggu mu?"
"Dia tidak pulang, katanya ada keperluan mendesak."
Emeli mengigit bibirnya karena bingung memikirkan cara membujuk Devan.
"Kalau aku, tidak pulang saga akan menghawatirkan ku," lirihnya.
mendengar nama saga, Devan
mendogakkan wajahnya, menatap emeli geram.
"Memangnya kamu anak kecil, berhentilah memikirkannya, kamu sudah menikah,
kamu jadi tangung jawabku bukan dia,
dan aku akan tetap menginap di sini terserah kamu mau pulang apa tidak?" jawabnya dengan ketus.
"Dasar manusia galak" memutar matanya dengan malas.Lalu membuka dompet di dalam tasnya yang terlihat kosong, menghela nafas kesal dengan wajah masam.
"Setidaknya pinjami aku uang ya....?" dengan wajah memohon.
"Aku tidak pernah bawa uang cast," tampak acuh.Emeli menggaruk lehernya karena frustrasi"Devan melirik gadis itu, dengan senyum kemenangan.
"Jalanan di sini jauh dan lengang apalagi ini sudah malam, jika saga menjemput ku, akan membahayakan.
Sepertinya memang tidak ada jalan lain."
gumamnya dalam hati.Menggaruk lehernya dengan wajah frustasi.
Jhoni datang membawa kunci hotel berbentuk id card "saya sudah pesan dua kamar tuan?"
Tampa aba-aba emeli mengambil satu kunci kamar, lalu bergegas pergi, meninggalkan dua orang yang mematung.
Jhoni yang menatap heran,
sedang Devan tersenyum kecil.
Emeli masuk kedalam kamar dia terperangah, menatap ruangan yang begitu besar dan mewah.
Emeli duduk di kasur berukuran king size.
"Ini Yaman sekali," menggoyang tubuhnya di atas kasur.
"Saga pasti khawatir aku harus menghubungi nya."Emeli mengambil gawai dalam tas lalu menelpon.
"halo saga?"
"kamu kemana, kenapa belum pulang?"
"*A*ku tidak pulang, aku menginap di hotel."
"Apa... di hotel bersama siapa?"
"Devan dan Jhoni."
__ADS_1
"*T*idak... aku akan menjemputmu."
"Aku baik baik saja, lagian aku tinggal di kamar yang berbeda"
"Kamu yakin?" tanyanya.
"lya aku yakin, Jagan khawatir aku akan baik baik saja."
"Kalau ada apa-apa, langsung kabari aku" suara Saga terdengar khawatir.
"Siap bos" lalu mematikan handphone nya.
Emeli menghempaskan tubuhnya di kasur, mulai memejamkan mata.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang membangunkannya, lalu berjalan
membuka pintu ,terlihat seorang lelaki tampan berdiri membawa beberapa paper bag.
"Devan ada apa lagi..?"sambil mengusap wajahnya yang mengantuk.
lelaki itu menjulurkan paper bag itu pada emeli.
"Apa ini?" ucap Emeli
" ltu baju, memang kamu tidak mau mandi, gantilah bajumu, lihatlah penampilanmu sekarang.
Emeli tergelak melihat tubuhnya sendiri.
"Benar juga, aku belum mandi, terima kasih ya"
Emeli menutup pintu
lalu masuk ke kamar mandi, setelah mandi emeli merasakan badannya menjadi lebih fresh,saat keluar matanya terbelalak menatap Devan yang duduk santai di sofa memainkan gawainya.
"Mau istirahatlah,jawabnya sambil memainkan gawainya.
"lnikan kamar ku,bukankah kamu tidur dengan Jhoni?"dengan sorot mata menyelidik
Devan menghela nafas dan mendogakkan wajah menatap gadis di depannya.
"Memang kamu pikir Jhoni istriku,?" dengan tatapan tajam.
Emeli menggaruk lehernya dengan wajah masam.
"Kenapa tidak memesan kamar satu lagi?"
"Ini hotel bintang lima, apa kamu pikir murah
menyewa kamar di sini, sudahlah Jagan cerewet."lalu melangkah mendekati Emeli yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
" Minggir aku mau mandi" sedikit mendorong Emeli ke samping.
"Aku tidak mau tidur seranjang, dengan mu?"teriaknya.
mendengar ucapan emeli Devan menghentikan langkahnya.
" Kalau kamu tidak mau, tidur saja di sofa"
kemudian masuk ke kamar mandi.
"Dasar gadis bodoh" menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Devan keluar, mengenakan baju santai terlihat begitu segar, dengan rambut basah yang menambah kegagahannya.
Devan mengerutkan dahi, melihat emeli yang sudah tidur di sofa dengan posisi yang tidak beraturan.
__ADS_1
Menggelengkan kepalanya sembari tersenyum
lalu mendekati emeli dan menggendongnya ala brit style, dengan pelan Devan merebahkan tubuh Emeli di kasur berukuran king size,
Dia duduk di samping emeli lalu menundukkan wajahnya.Menelisik setiap inci dari wajah gadis berparas cantik yang tengah tertidur pulas.
Devan menjulur tangan lalu membelai pipinya.
"Kenapa kamu sebodoh ini,apa kamu tidak menyadari semua sudah aku rencanakan,
aku melakukan semua ini, karena ingin menghabiskan waktu bersamamu,
bahkan aku melakukan hal bodoh yang belum pernah aku lakukan."
"Kamu tau... aku rela meninggalkan rapat yang sangat penting , hanya untuk menemui mu"
Devan menghela nafas panjang
.
"Andai kamu tahu,
aku sangat marah, bila orang lain mendekatimu, apalagi menyentuhmu, pipi ini hanya untuk ku." Devan mencium kedua pipi Emeli. "Dan hidung ini juga untuk ku" mengusap pucuk hidung gadis itu lalu menciumnya.
Tangan Devan berhenti pada bibir emeli yang ranum dan menggoda, dengan pelan Devan menciuminya "manis" sembari tersenyum dengan sorot mata tak lepas memandang gadis berparas cantik di depannya.
Devan kembali menciumnya , ciuman yang awalnya lembut berubah menuntut hingga gadis itu menggeliat sembari mengecap bibirnya, lalu tertidur kembali, membuat Devan Terperanjat lalu mengangkat wajahnya.
Setelah di rasa cukup, devan menjatuhkan tubuhnya di samping Emeli.
Memindahkan tubuh gadis itu masuk dalam dekapannya, sembari membelai lembut.
"Sebenarnya aku menyadari, aku mencintai mu,aku rela melakukan apapun asal cintamu kembali, Laura kenapa kamu tidak menyadari cintaku.Bahkan perasaanku pada Diandra tidak pernah sedalam ini, aku ingin selalu seperti ini bersamamu." mengeratkan pelukannya dengan mata mulai terpejam.
Saat pagi tiba emeli begitu nyaman dengan posisi tidurnya.
"Nyaman sekali..."mengeratkan pelukannya ke tubuh Devan.
" Sampai kapan kamu akan memeluk ku begini?"Emeli membuka mata mendengar ucapan devan, dia melonjak kaget dengan cepat melepas pelukannya dan menjauh.
"Kenapa kamu di sini ?" dengan sorot mata menyelidik
"lihat kamu dimana" dengan wajah Tampa ekspresi. "kenapa aku di sini, pasti kamu memindahkan ku?"mengacungkan tangan ke wajah Devan dengan kesal.
"Yang benar saja ini tempatku, kamu sendiri datang ke sini dan memeluk ku."
"Kamu bohong.... kan?"dengan sorot mata menuduh.
"Coba kamu pikir, kalau aku macam-macam padamu,
tentu ada perubahan di tubuh mu?"dengan tatapan menggoda.
Emeli terperanjat dan menatap tubuhnya sendiri. "Benar juga aku tidak merasa apapun yang aneh pada diriku, lagi pula seleranya bukan aku."gumam emeli
"kenapa diam?"
"Maaf... mungkin aku tidur sambil berjalan, ini penyakit ku dari kecil,menggaruk lehernya dengan senyum di paksakan.
" Apa itu hanya alasan?"Devan turun dari ranjang dengan seringai liciknya,
lalu mendekati emeli.
" Tidak....,aku tidak bohong, aku tidak ada niat seperti itu." Emeli berjalan mundur sambil melambaikan tangannya , berharap dia akan menjauh.Dengan tiba-tiba Devan mengungkung tubuh Emeli dengan kedua tangannya, lalu mendekat kan wajahnya.
"Kalau kamu mau.... pagi ini aku bisa mengajarimu." lirihnya dengan tatapan menggoda.Mendengar ucapan Devan , mata emeli terbelalak, tubuhnya me mematung, deru nafasnya memburu dengan jantung berdentum tak karuan.
__ADS_1