
"Kamu? Saga berucap, sambil menunjuk Devan yang terlihat penuh emosi.
"Ada apa lagi Devan, bukankah urusan kita sudah selesai!" ucap Saga begitu kesal, atas perlakuan kasarnya secara tiba-tiba
"Saga kamu keterlaluan,?"tanpa aba-aba, Devan menarik kerah baju Saga. Dan mendorongnya ke badan mobil.
"Masalah ini belum selesaikan, Kamu kan. Yang menyuruh istriku untuk menceraikan ku,
dengar Saga. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Laura." Devan menegaskan.
"Aku tau, pasti kamu yang menghasut laura selama ini, karena kamu menginginkannya." ucap Devan, masih Mencengkram baju Saga dengan manik mata penuh kebencian.
"Lepaskan aku Devan, Kamu harus tau dia bukan istrimu. Mau kamu, menceraikannya atau tidak. Emeli tidak punya ikatan denganmu." jelas Saga, membuat Devan terperangah, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan.
"Apa maksudmu, siapa emeli, siapa dia?"Devan yang merasa kebingungan, mengeratkan cengkramannya ke baju Saga. Dia yakin saga hanya ingin mencoba mempermainkannya.
"Apa selama ini kamu tidak sadar, gadis itu bernama Emeli, bukan Laura istrimu. Asal kamu tau, aku yang menyuruhnya menjadi Laura agar bisa mengungkap, misteri hilangnya istrimu."
"Hah!" Devan tergelak, sambil menggelengkan, tidak percaya.
"Kamu pikir aku ini bodoh, percaya bualanmu. Omong kosong macam apa ini, aku sedang tidak ingin main-main Saga!" Devan menggertakkan giginya penuh amarah.
"Apa aku terlihat sedang bercanda. Bahkan aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Apa kamu tidak bisa membedakan, kalau gadis itu, bukan Laura. Jika dia Laura bisa di pastikan dia akan menerima mu sebagai suaminya, beda dengan Emeli yang selalu menolak mu, selama ini." Saga menjelaskan.
__ADS_1
Mata Devan melebar, tangannya melemah lalu melepaskan cengkraman.Tidak bisa dipungkiri apa yang di ucapkan Saga benar, Laura yang sekarang beda jauh, dengan Laura yang dulu, mati-matian mengejarnya.
"Tidak mungkin Laura meninggal. Apalagi gadis yang selama ini aku cintai adalah gadis yang bernama Emeli, itu tidak mungkin. Oh Tuhan, permainan macam apa ini. Kenapa aku tidak menyadarinya." Devan bergumam, lalu mengusap wajahnya frustasi.
Saga beranjak pergi, tanpa memperdulikan Devan yang terlihat shock. Lelaki itu tergesa-gesa, dia tau waktunya tidak banyak untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya. Saga dengan cepat masuk mobil, lalu melajukannya. Namun tiba-tiba Devan menghadang mobil Saga.
"Devan!" lirih Saga. refleks. Mengerem mendadak, nafasnya memburu dengan emosi yang kian meledak. Lelaki tegap itu, keluar dari mobilnya, dengan tatapan penuh amarah.
"Aku butuh penjelasan, tentang apa yang kamu ucapkan?" Devan bertanya, sambil menatap Saga yang berjalan mendekati nya.
"Brukk"
"Brukk"
"Brukk"
"Aku sedang terburu-buru, Dan kamu menghambatnya. Aku sedang di kejar waktu untuk menyelamatkan Emeli. Kalau sampai terlambat. Diandra akan mencelakainya." ucap Saga emosi.
Saga meninggalkan Devan yang kesakitan, dan bergegas masuk mobil. Saat Saga ingin melajukan mobilnya. Devan, mengikutinya. Lalu masuk mobil tanpa persetujuan.
"Apalagi, aku bilang aku tidak punya waktu!" teriak Saga, penuh amarah.
"Aku hanya ingin lihat, apa yang kamu ucapan itu benar, atau hanya bualan semata." ujar devan dengan tatapan tajam, Saga menghela nafas, percuma meladeni Devan yang tidak akan ada habisnya.
__ADS_1
Saga memutuskan melajukan mobilnya, meski membawa Devan. Mobil itu melaju dengan kencang, tidak ada ucapan, suasana sangat hening, kedua penghuninya, sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Devan memikirkan apa yang diucapkan Saga, sedangkan lelaki yang menyetir mobil begitu khawatir dengan Emeli. Banyak sesal yang dirasa, banyak andai yang ingin dilakukan
Andai dia tidak membawa Emeli ke dalam masalah Laura. Mungkin gadis itu akan selamat, tapi yang terjadi harus terjadi. Saga hanya berusaha sekuat mungkin. Agar bisa menyelamatkan Emeli dari Diandra.
*
Mobil yang membawa Emeli berhenti di sebuah rumah kumuh. Yang terletak di pinggiran kota, kedua pria itu membopong tubuh Emeli dan menaruhnya di sebuah ruangan yang terlihat berantakan. Banyak debu, dan jaring laba-laba yang berserakan di atap-atap ruangan.Mereka menaruh tubuh Emeli, yang pura-pura tidak sadarkan diri di lantai tampa alas.
Arman mengedarkan pandangannya dan Memeriksa semua sakunya. "Eh! bro, Loe liat hape gue gak, tadi gue taruh di mana?" tanya Arman, pada temannya yang beranjak pergi dari ruangan itu.
"La mana gue tau, loe sendiri yang naro, malah tanya ke gue. Loe ingat-ingat lagi, siapa tau lupa ." jawab temannya, yang bertubuh kekar.
"Tadi seinget gue ada di mobil bro, kok bisa hilang ya...?" Arman mengingat-ingat.
"Mungkin terjatuh pas loe ke semak-semak kali?" ucap temannya sambil meneruskan langkahnya, keluar.
"Iya juga kali ya?" Arman memegang dagunya seraya berpikir, pandangannya teralih pada punggung temannya yang menghilang di balik pintu.
"Woy..., tunggu jangan tinggalkan gue!" Setelah berucap Arman berlari keluar, tidak lupa menutup pintu.
Mendengar pintu tertutup. Seorang wanita tergeletak di lantai, perlahan membuka matanya, setelah di rasa aman.
__ADS_1
Emeli melihat tangannya yang terikat, gadis itu, menggigit tali di tangannya hingga terlepas, dia sadar waktunya terbatas. Gadis itu mengambil handphone yang sedari tadi tersimpan dalam sepatunya, lalu menghubungi Saga.