
"Malam ini... aku akan mengajarimu menjadi istri yang sebenarnya."
Devan menggapai tubuh Emeli memegang lengannya dengan erat. pukulan dan teriakkan sudah tidak di hiraukan lagi... pikirannya hanya satu mengikat Laura dalam hidupnya.
Dengan cepat dia mengungkung tubuh Emeli. Mengunci sisi kiri dan kanan dengan kedua tangan kekarnya, gadis itu histeris dan terus melawan.Karena hasrat membuat Devan hilang kewarasannya.hingga terus menciumi tubuh Emeli dengan bringas.
Teriakan Emeli terhenti saat bibir Devan membungkam mulutnya.. matanya membola dengan deru nafas memburu, membuat debaran jantungnya terpacu lebih cepat.
Satu tangan Emeli meraba raba sudut meja mencari barang yang bisa menghentikan. keberingasan Devan.Sedang tangan satunya di kuasai Devan,dia menautkan sela sela jarinya di dalam jari-jari istrinya. Membuatnya tak bergeming.
Tiba-tiba tangan itu menggapai remote AC dengan cepat menarik dan memukul keras.... wajah Devan yang sedang menuruti hasratnya.
brakkk...Devan meringis memegang keningnya yang lebam dengan cepat emeli mendorong tubuh lelaki yang menindihnya hingga terjungkal.
Dia berlari ke arah pintu mencoba membukanya namun pintu itu terkunci
"tolong.... tolong..." teriaknya sembari mengetok pintu berulang-ulang namun tak ada satupun sautan.Matanya mulai memerah memecahkan tangis pilu.
Tubuhnya terguncang karna isakan.
badannya seolah mati rasa...robekan luka
tidak Emeli hiraukan yang di pikir hanya lari dari lelaki bak serigala yang mau menerkam.
"tolong... tolong..." teriaknya lagi namun
semuanya sia-sia tidak ada satupun yang menjawab.
Devan bangkit seraya tersenyum licik
"Teriak lah sayang karna rumah ini sudah aku kosongkan sedari awal... aku ingin memberi pelajaran pada istri pembangkang sepertimu."
Tubuh Emeli bergetar hebat...
dia bergidik ngeri, menatap Devan yang mendekat menyilang kan kedua tangannya di dada dengan tatapan tajam.
Tampa terasa bulir-bulir kristal mengalir terus membasahi pipinya.
Devan merangkul tubuh emeli mengunci kedua tangan gadis itu dalam dekapannya. lalu menciumi leher jenjang yang menjulang indah nan menggoda.
"Sayang aku hanya meminta hak ku sebagai suamimu mengapa kamu terus saja memberontak.?"
Emeli berbalik menatap ,wajah Devan yang menempel ke pipinya.
"Cuuiihh..... Aku tidak Sudi...",dengan berani Emeli meludahi wajah Devan.dengan sorot mata tajam.Mata Devan terbelalak mendapati ludah menciprat di wajahnya... dia melepaskan pelukannya.Mengacungkan tangan ke wajah Emeli yang ketakutan.
"Aku sudah cukup sabar kamu yang memaksaku bertidak kasar.
Devan membuka sabuk celananya sekali tarikan sabuk itu terlepas lalu menggapai tangan emeli dan mengikatnya dengan kencang."Kamu sendiri yang memaksaku..."
Dia mengangkat tubuh Emeli dan menjatuhkan ke ranjang.
__ADS_1
"Bahkan aku rela mengemis cinta padamu... yang belum pernah aku lakukan, tapi kau tetap saja menolak ku..."
mencengkram dagu Emeli dengan mata mulai mengembun.
"Aku harus bagaimana laura... aku harus bagaimana lagi?"teriaknya dengan air mata yang telah jatuh.
Air mata Devan menetes ke wajah Emeli, gadis itu memejamkan mata dengan bulir kristal tak henti keluar dari pelupuk matanya.
Seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Dia melemas dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.. Ada rasa sesak di dada seolah tembikar masuk dalam hati mengoyak tak tersisa.
Devan menumpukan keningnya ke kening Emeli suasana hening terasa hanya sebuah isakan yang terdengar dari dua manusia yang saling bertumpu.
Tiba-tiba mata Devan terbelalak menatap tangannya yang penuh dengan darah.lalu mendongak gak wajah mengedarkan pandangan terlihat darah segar berceceran.
Matanya terhenti pada legan Emeli. kemeja berwarna navy yang dipakainya terlihat basah sedangkan sprei putih di bawahnya memperlihatkan tetesan darah.
Dengan cepat Devan menarik kemeja itu, hingga kancingnya bertebaran ke segala arah.
Emeli hanya diam tertegun dengan tindakan Devan tenaganya sudah habis terkuras tidak mampu lagi melawan.
Dengan cepat Devan menyingkap lengan Emeli terlihat luka jahitan telah robek dan terus mengeluarkan darah.
Devan terperanjat, dia menatap wajah Emeli yang pucat lalu bangkit Dan berdiri dari tubuh Emeli.
Aaaaarkrkk ..... teriaknya sembari menjambak rambut nya dengan kasar. Dia melangkah menjauh...lalu memukuli dinding membabi buta membuat tangannya memar dan menguarkan darah.dia menjatuhkan tubuhnya dengan deru nafas memburu. suasana hening terasa mereka hidup dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Devan bejalan mendekati Emeli menutupi tubuhnya dengan selimut. membelai rambutnya dengan lembut dengan sorot mata berkaca-kaca. sedang Emeli memalingkan wajah dari Devan.
"Kenapa berhenti.... kenapa tidak kau teruskan bahkan jika kau membunuhku sekarang aku tidak bisa melawan mu." lirihnya sambil menyeka air mata yang jatuh.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu terluka." lirihnya dengan nada lembut menatap iba istrinya terlihat jelas ada penyesalan guratan kesedihan yang mendalam.
"Kenapa kamu merasa bersalah...,
Tampa pikir panjang kamu selalu melakukan apa yang kamu inginkan Tidak perduli perasaan orang lain"
"Aku hanya bertanya... kenapa kamu menjawab yang lain, bersiap-siap lah kita akan ke
rumah sakit sekarang." Devan bangkit dan melangkah pergi.
"Tidak aku tidak mau pergi biarkan aku disini" ucapannya menghentikan langkah Devan.
Pria itu memejamkan mata lalu berbalik menatap Emeli kesal.
"Lihat kondisi mu ,wajahmu pucat dan lukamu terus mengeluarkan darah" teriak Devan dengan emosi.
"Kenapa kamu takut... bahkan jika aku mati di sini aku tidak peduli..." ucap Emeli dengan tatapan kosong yang masih terlentang di bawah selimut.
"Kamu tidak perduli dengan hidupmu tapi kamu pedulikan dengan saga dan ayahmu.
__ADS_1
Aku mungkin tidak bisa menyakitimu...dengan mereka aku bisa melakukan apa saja" ancamnya.
"Apa yang mau kau lakukan?"ujar Emeli dengan sorot mata penuh tanya.
"Itu tergantung dari sikap mu jika kau menurut pada ku.. mereka akan baik-baik saja.
Tapi kalau tidak Jagan salahkan aku berbuat nekat."
"Satu lagi Jagan menantang ku, karna kamu tidak tau siapa yang kmu hadapi sekarang.
Seorang Devan Ardiansyah bisa melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya."
Devan berbalik lalu membuka pintu dengan kunci yang sedari tadi di simpan dalam saku celananya.
Setelah menutupnya Devan menyenderkan tubuhnya pada pintu sembari memejamkan mata. "Maafkan aku Laura... maaf kan aku."
lalu mengepalkan tangan dengan geram.
Selang berapa menit Devan keluar dengan pakaian santainya memasuki kamar Emeli dia mengedarkan pandangannya melihat kamar yang berantakan dengan noda darah yang berceceran.devan menghela nafas pilu
pandangannya terhenti pada gadis yang berdiri di pinggir jendela yang telah Mengganti pakaian.
Dia mendekat dan membelai lembut rambut Emeli.
"Bagus sayang jika kamu menuruti ku..." dengan sigap Emeli menjauhkan tubuhnya dari tangan Devan dengan tatapan sinis.
Devan hanya bisa tersenyum.
"Baiklah ayo kita berangkat." ujarnya lalu melangkah pergi.
Devan membawa Emeli ke rumah sakit bukan Tampa alasan dia ingin tau apa yang terjadi pada istri kecilnya itu.... belum lagi beberapa lebam dan cakaran yang dilukiskan di tubuh istrinya.
Mobil Devan sampai di rumah sakit tapi bukan rumah sakit milik Wijaya karna dia takut papanya dan mertuanya akan marah mendapati keadaan istri nya.
Devan turun dari mobil lalu membuka pintu mobil untuk Emeli.
Namun gadis itu hanya diam. tak bergeming dengan cepat Devan menggendongnya ala bridal style.
Emeli terlonjak kaget dengan perlakuan Devan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
dia mencoba memberontak tapi Devan malah memperkuat pegangannya.
"Diam kalau tidak lenganmu akan tambah parah." jawabnya ketus lalu menutup pintu mobil dengan kaki jenjang nya.
Devan melangkah masuk kerumah sakit benar saja semua mata tertuju padanya.
Bahkan ada beberapa orang berbisik bisik setelah menatap Devan.
Emeli yang malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Mengeratkan pegangan sembari mengigit bibirnya, karena gugup melihat orang-orang terus memperhatikan mereka.
__ADS_1
Devan tersenyum penuh arti menatap tingkah istrinya... lalu memelankan langkah agar bisa lebih lama memeluk emeli.
menyusuri lorong rumah sakit dengan tampang acuh.