Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
terlalu kebetulan


__ADS_3

Dengan mulut menganga dan tangan bergetar Ali mengambil handphone yang di tunjukkan Diandra.


"Iya ini orangnya, apa anda mengenalnya?"


"Apa bapak yakin dia orangnya.?"tanyanya, lagi untuk memperjelas.


"Aku yakin sekali, bahkan aku sendiri yang membawanya ke rumah sakit, Namun sayang takdir berkata lain. jawabnya lesu, lalu mendogakkan wajahnya menatap Diandra heran.


"Kamu siapanya... kenapa bisa memiliki foto gadis ini." tanya Ali menyelidik.


"A...ku..., aku," jawabnya gelagapan karna bingung harus menjawab apa, dengan cepat Diandra memasang wajah sedih sembari menangis.


"Hiks hiks hiks.... Aku tidak percaya, adik ku bernasib seperti ini." lalu mengusap air matanya. Diandra dengan pintarnya memasang wajah sedih.


"Tenanglah nak yang terjadi biarlah berlalu, doakan saja dia tenang di sana." ujar Ali menepuk pelan pundak Diandra.


"Nama kamu siapa?" tanya Ali lagi.


"Aku..... aku Siska dan saudaraku yang bapak tolong itu namanya intan." jawabnya datar.


"Maaf kalau boleh tau, nama bapak sendiri siapa?"


"Aku Ali, Ali Mustafa, pedagang asongan yang sering mangkal di sini."


"Apa bapak punya bukti, dari semua yang bapak bicarakan itu benar, buka apa-apa saya butuh itu untuk meyakinkan diri saya pak." ujar Diandra dengan tatapan memohon.


"Ada neng, saya simpan di rumah."


Setelah itu Ali bergegas membawa Diandra ke rumahnya. Lama Diandra menunggu Ali keluar membawa barang yang terbungkus plastik. lalu menyerahkannya pada Diandra.


Karena penasaran dengan cepat Diandra membuka plastik itu, alangkah terkejutnya dia mendapati pakaian Laura yang dia pakai malam itu.


"ini benar milik Laura aku ingat betul pakaian ini, lalu siapa wanita itu yang sama persisi dengan laura."


"Kenapa baru sekarang, neng mencari adiknya.?" pertanyaan Ali membuyarkan lamunan Diandra.


"Begini pak sebenarnya kami, tinggal di luar negeri, Intan berpamitan untuk liburan di sini setelah itu kami kehilangan kontak." tuturnya sedih. Diandra tertunduk dengan air mata mulai mengembun, sembari mengengam erat pakaian Laura.


Ayah kami begitu kahawatir, hingga keluarga kami menyusulnya kesini, Bahkan karna hal itu ayahku beberapa hari ini bolak balik ke rumah sakit karena frustasi memikirkan intan."


Ali hanya menyimak dengan tatapan penuh percaya.


"Boleh saya minta tolong?" tanya Diandra lagi yang sudah menatap pria tua di depannya.


"Apa neng, kalau saya bisa pasti saya bantu." ujar Ali.


"Jagan bilang pada siapapun tentang Intan, biar aku saja yang akan menjelaskan pada ayah pelan-pelan, sebab kalau dia mendengar kabar ini dari orang lain, aku takut ayah tidak akan bertahan." ucapnya dengan sedih.


Membuat pak Ali memelas seraya tertunduk sedih.


"Jika itu yang terbaik saya akan lakukan neng."

__ADS_1


"Apa polisi tau tentang ini pak?" tanya Diandra memegang tangan Ali penasaran.


Tidak neng, saya langsung memakamkannya di dekat sini, Karana tidak ada yang mengaku sebagai keluarga nya di rumah sakit. Lagi pula bapak juga takut, nanti di kira bapak yang membuat gadis itu meninggal."


"Di mana pemakamannya pak?" tanya Diandra lagi.


"Di dekat sini neng TPU jelas raya, neng tinggal lurus saja, nanti jga nyampe."


Diandra mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan lalu memberikan nya pada pak Ali.Namun Ali bersikeras menolaknya.


"Tidak usah neng saya ikhlas" mengeluhkan kepalanya tanda menolak.


"Tolong pak terima, ini tidak apa-apa nya.Di banding jasa bapak pada adik saya terim kasih pak." lalu melangkah pergi dan masuk mobil


"Jadi benar, Laura sudah meninggal jadi orang itu hanya mengaku sebagai Laura.


Terserah dia mau jadi pa, yang penting di tidak menganggu hubungan ku dan Devan." lalu melajukan mobilnya.


flash off


"Hah..... Diandra tergelak,Kamu tunggu saja Emeli, kamu akan bernasib sama seperti Laura."


ujarnya setelah mengingat kejadian itu.


*****


Sudah beberapa hari Emeli di rumah sakit, keadaan nya mulai membaik, membuat dokter memutuskan untuk memperbolehkannya pulang.


"Ayah.."ucapnya sembari menatap Wijaya yang mendekat bersama Saga yang mengikutinya dari belakang.


"Apa kamu siap sayang,ayo kita pulang papa sudah menyiapkan makanan enak di rumah,


ucap Wijaya sembari merangkul mesra Emeli.


"Benarkah, aku jadi tidak sabar." Ucap Emeli antusias, sedangkan Saga hanya menjadi pendengar yang baik sesekali menyunggingkan senyum.


Tiba-tiba Devan datang dengan nafas tersengal karna berlari dari luar,membuat semua mata menatap heran pada Devan yang berada di ambang pintu.


"Devan kamu kenapa,?' tanya Wijaya bingung.


"Oh pak Wijaya, aku buru-buru ke sini untuk menjemput Laura pulang."


"'Tidak Laura tidak akan pulang ke rumah mu, bukankah sudah di bahas kalau Laura akan tinggal bersama ayahnya sampai dia benar benar-benar pulih." tegas Saga.


"Tapi aku tidak menyetujuinya," mengerakkan kakinya melangkah mendekati Emeli .


"Setuju tidak setuju, ini keputusan yang terbaik untuknya." ujar Saga dengan sorot mata menantang.


"Aku tidak peduli dia istriku, jadi sudah jadi tugasku menjaganya. Dan kamu Jaga sikap mu. Jagan selalu mengikuti istri orang,." menatap Saga dengan tatapan tajam lalu mengengam tangan Emeli dan melangkah keluar


Dengan cepat Saga mengengam lengan Emeli membuat langkah Emeli terhenti, Devan menyadari itu lalu berbalik menatap Saga kesal.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan mu membawanya." tegas Saga


"Lalu Apa hak mu , melarang ku,Aku suaminya aku lebih berhak dengannya dan jaga sikapmu." sembari mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Saga dengan sorot mata mengancam.


Wijaya menghela nafas kasar melihat pertikaian dua pria di hadapannya.


"Cukup Jagan bertengkar di sini, di sini rumah sakit"


"Kalian hanya memikirkan,ego kalian sendiri biarlah putriku yang memutuskan dimana dia akan tinggal." Lalu berbalik menatap Emeli.


"Laura sayang kamu mau tinggal dengan siapa itu terserah kmu Nak sekarang tidak ada paksaan?tanya Wijaya pada Emeli


"Untuk apa lagi di tanya, sudah pasti dia akan memilih rumahnya sendiri.


Ucap Saga sembari mendekat lalu mengandeng Laura dan melangkah pergi. Sedangkan Devan hanya mematung melihat Saga dan Emeli.


Tiba-tiba langkah kaki Emeli berhenti membuat Saga berbalik ke arahnya


"Ada paa lagi...?" tanya Saga heran


"Biarkan aku tinggal bersama Devan," ucap Emeli membuat Saga terkejut lalu melepaskan genggaman nya.


"Kamu sadar apa yang kamu katakan?"


Saga merengkuh kedua lengan Emeli dengan tatapan tajam. Emeli menjawabnya dengan anggukan.


Saga melepaskan tangannya lalu berbalik arah memijat pelipisnya dengan wajah kesal.Wijaya datang menghampiri Saga menepuk pundaknya pelan.


"Biarkan Laura memilih,kita hormati keputusannya, Jagan di paksa, aku yakin dia punya alasan sendiri."


"Tapi tuan" jawaban saga di bungkam dengan gelengan kepala Wijaya.


"Saga dia bukan anak kecil lagi sekarang Laura menjadi gadis yang kuat bukan begitu Laura?" tanyanya pada Laura yang sedang menyimak pembicaraan nya dengan Saga.


"Iyah ayah" jawabnya ragu


Devan menyunggingkan senyum atas keputusan Emeli, lalu melangkah mendekat.


"Baiklah keputusan telah di buat,kita pulang sayang?"lalu merangkul Emeli dan melangkah keluar


Sebelum keluar ruangan Emeli berbalik menatap Saga yang mematung menatapnya penuh emosi.


"Laura... kalau jalan itu lihat kedepan bukan ke belakang, ujar Devan yang menyadari Emeli menatap Saga. Sekaligus membuyarkan lamunan Emeli..


"Lepas kan aku bisa jalan sendiri," Emeli melepaskan tangan Devan dan melangkah sendiri. Sedangkan Devan hanya menatap heran.


"Maafkan aku saga aku harus berbuat ini , aku ingin menyelidiki siapa dalang dari semua ini. Terlalu kebetulan, penjahat itu muncul di pagi buta yang tidak jauh dari rumah devan.


Apapun yang terjadi aku harus mengungkapkan kebenarannya, demi semua demi korban yang berjatuhan Karna kejahatannya."


"Laura...

__ADS_1


__ADS_2