Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
gapai tangan ku


__ADS_3

Dert dert dert....


bunyi hanpone Devan yang terus berbunyi membuatnya mengambil handphone itu yang tersimpan di saku


dia mengerutkan kening melihat pesan yang masuk,lalu bergegas keluar menuju Diandra


"Sayang aku harus, pergi sebentar tolong jaga Laura.." lalu melangkah pergi Namun Diandra memegang tangannya membuat Devan berbalik menatap Diandra.


"Mau pergi kemana sayang.. kenapa terburu-buru.?" tanyanya.


"Ini penting... aku tidak akan lama tolong ya," Devan menjulur tangan mengusab pipi Diandra pelan, dengan sorot mata memohon.


Diandra pun melepaskan tangan Devan sembari tersenyum.


"Pergilah jagan khawatir ada aku, yang akan menjaganya." Devan menghela nafas lega lalu melangkah pergi dan menghilang di kejauhan.


****


Di basemen rumah sakit Devan masuk mobil tiba-tiba pandangannya tertuju pada mobil Saga yang tengah terparkir. Sejenak berfikir lalu bergegas turun untuk memastikan.


"Kenapa Saga di sana, bukankah dia menyuruhku ke kantor nya" ,gumamnya sambil melangkah mendekati mobil itu.


tok tok tok suara ketokan dari kaca mobil Saga membuyarkan lamunannya. Saga mendongak kan wajah menatap Devan yang mengerakkan jarinya nyuruhnya untuk keluar. Lalu Saga bergegas keluar dari mobil menatap Devan penuh tanya.


"Ada apa lagi.. ?"tanyanya sinis


" Hah.... Devan tergelak jagan berlaga bodoh Kamu yang menyuruhku menemui mu, bahkan berulang kali kamu mengirim pesan padaku." Jawabnya kesal.


"Tidak itu tidak mungkin bagaimana bisa, aku mengirimi pesan sedang..."


ucapan Saga terpotong karna ponsel Devan berdering.


dret dret dert...Devan menatap layar ponsel yang tertera nama Diandra, lalu mengangkatnya.


"Ada apa sayang...?""


"Aku harus pergi ada urusan penting di butik. sayang... pelanggan ku dari luar negeri datang ingin menemui ku.


Dan kamu jgan khawatir Emeli sudah aku titipkan ke suster jaga"


"Tapi sayang...."


"Sudah ya aku buru buru I love you "


lalu mematikan telpon.


"Diandra... Diandra" Devan menatap handphonenya yang terputus lalu menghempaskan tangannya dengan kasar.


"Ada apa Devan?" tanya Saga menatap Devan yang terlihat kesal.

__ADS_1


"Bukan urusanmu jawabnya ketus," sembari mendelik kesal


"Katakana apa yang kamu ingin sampaikan padaku..."tanya Devan dengan raut wajah serius, Saga mengerutkan kening mencoba mencerna apa yang di maksud Devan yang membuatnya bingung.


"Omong kosong apa ini,?" jawabnya tak mengerti.


"Kamu bilang aku omong kosong, lihat ini kamu sendiri yang mengirim pesan." Jawabnya geram sembari menunjukkan handphonenya berisi pesan dari nama Saga yang berbaris rapi.


"Lihatlah kamu menyuruhku ke kantor untuk menemui mu, Karna kmu ingin mengatakan rahasia mu dan Laura kan."


Mata Saga terbelalak menatap ponsel Devan, dia merasa bingung.dan berpikir keras.


"Bagaimana mungkin, aku mengirimi mu pesan sedang handphone ku saja hilang tadi."jawabnya dengan nada datar.Tiba-tiba Saga tertegun dan mengingat sesuatu.


"Laura sama siapa..?" tanya Saga dengan sorot mata tajam.


"Tadi dia bersama Diandra, tapi... sekarang Diandra pulang karna, ada urusan." Jawabnya di tengah kebingungan atas pertanyaan Saga.


Kamu ceroboh sekali Devan..... teriaknya Saga bergegas berlari dengan cepat meninggalkannya.


"Kenapa dengan Saga, kenapa dia bertingkah aneh,Devan menghela nafas panjang tiba-tiba mengingat Laura membuatnya terkejut .


Apa Jangan-jangan.... sial Devan pun berlari mengikuti Saga....dia menyadari bahwa, ini sebuah jebakan.


*****


Sedangkan seorang pria berpakaian dokter masuk kedalam ruangan Emeli, dia menatap tajam lalu melangkah mendekat. Lalu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


"Sayang sekali, wanita secantik kamu harus mati muda. Maafkan aku nona... karna melenyapkan mu adalah pekerjaan ku.


Dia menarik bantal di bawah kepala Emeli lalu menaruhnya di atas wajahnya.


Dia menekan bantal itu dengan kuat hingga otot-otot di tangannya terlihat. Tiba-tiba tangan Emeli bergerak mencoba melawan hingga, tiang selang infusnya terjatuh. Namun gerakan tangan itu semakin melemah lalu terjatuh.


Zico mendengar langkah orang berlari mulai mendekat, karena buru-buru, dia belum sempat membereskan semuanya. Bantal dan selang infus itu masih terlihat berantakan, dia membanting bantal di tangan nya dengan kesal lalu berlari dan bersembunyi di balik pintu.


"Emeli ....."teriak Saga bersama pintu yang terbuka, matanya terbelalak mendapati kondisi Emeli dia melangkah dengan gontai tubuhnya lemas tidak tau harus buat apa, Lalu terdiam mematung.


Sedangkan Devan yang baru sampai juga terkejut menatap


kamar Emeli yang berantakan. Devan langsung berlari menatap Emeli memeriksa nafasnya yang terhenti..


"Laura.... bagun Laura.... tidak... ini tidak mungkin, cepat panggil dokter." teriak Devan menyadarkan Saga yang mematung. Membuatnya bergegas keluar memanggil dokter.


Zico yang menyadari Devan sedang fokus pada Emeli mengendap-endap keluar ruangan dan melangkah pergi.Di tengah kepanikan saga membawa dokter berpapasan dengan Zico.


Tiba-tiba langkahnya terhenti mengingat wajah orang yang menabrak nya sama dengan dokter tadi, yang berpapasan dengannya.


Saga berbalik namun sudah tidak mendapati keberadaan Zico.

__ADS_1


"Suster tutup semua pintu. Jagan biarkan satu orang pun keluar, dan bilang pada keamanan buat penjagaan ketat dari segala arah." Teriak Saga lalu berlari mengejar Zico yang entah kemana


"Iya tuan.." jawab suster itu yang heran melihat Saga namun dengan cepat suster itu mengabari pihak keamanan


Zico yang dengan cepat Menganti penampilannya di kamar mandi, tertegun mendapati kerumunan orang yang tengah di larang keluar.


Lalu dia berjalan ke semua pintu keluar namun hasilnya nihil, semua penjagaan begitu ketat.


Karena tidak ada jalan keluar, Zico mengambil ponsel dan menelpon seseorang.


"Sepertinya aku tidak bisa bertahan lagi, kamu harus menepati janji mu jika aku celaka."


Lalu mematikan ponselnya.


Tiba-tiba Zico tersandar bahwa Saga tengah menatapnya tajam dan berlari ke arahnya. Membuat dia berlari ke atas gedung, namun sebelum dia naik tangga darurat, zico membuang handphonenya di kolong meja.


Lalu meneruskan larinya naik ke atas sedang Saga mengejarnya dari belakang.


Zico menatap sekeliling lalu naik di tembok pembatas gedung. saga datang dengan nafas tersengal di ikuti beberapa ke keamanan, matanya terbelalak menatap Zico yang sedang membahayakan dirinya.


"Tenang kita bisa bicara baik-baik," sembari menjulurkan tangannya dan melangkah maju.


"Diam di situ atau aku akan loncat." Ancamnya.


"Katakanlah siapa yang menyuruhmu..?" tanya Saga di tengah kepanikan.


" Hah Zico tergelak, tidak ada yang menyuruhku aku sendiri yang ingin membunuh Emeli."


"Apa alasan kmu ingin membunuh Emeli?" tanya dengan marah.


"Tidak ada, karna aku tidak menyukainya"


"Kenapa kamu jga membunuh dr naina," tanyanya lagi


"Alasan tetap sama aku tidak menyukai mereka." jawab Zico penuh penegasan dengan sorot mata tajam.


"Kamu pikir aku bodoh bisa percaya dengan dengan alasan konyol mu itu hah."


"Aku akan meringankan hukuman mu, dan aku jga akan membayar lebih besar darinya tapi beritahu aku siapa pelakunya."


"Kamu tidak akan bisa membayar, lebih besar dari dia... aku akan membawa rahasia ini sampai aku pergi." jawab Zico dengan nada mengejek.


"Jagan bodoh... meski kamu tidak memikirkan dirimu, pikirkan keluarga mu pasti mereka menunggu mu"


"Ha-ha-ha zico tertawa lepas, "Itu sudah aku pikirkan Jagan repot repot mengurusi keluarga ku."


Saga mulai mendekati zico. Dengan wajah penuh kecemasan.


"Gapai tangan ku kita bisa bicarakan baik-baik" ucapnya sembari menjulurkan tangannya.

__ADS_1


Zico tersenyum dan merentangkan tangan. Tiba-tiba dia menjatuhkan tubuhnya.


"Tidak....." teriak Saga sembari berlari langkahnya terhenti di tembok pembatas, dengan tangan masih terjulur ke bawah. Matanya terbelalak menatap tubuh Zico yang terkapar bersimbah darah.


__ADS_2