
Tidak ada pikiran lain selain memberi pelajaran pada istri kecilnya Laura, agar tidak main-main dengannya.
Lalu mobil itu berhenti di depan rumah Devan Devan membuka pintu lalu mencengkram pergelangan Emeli dengan kasar dia menyeretnya Dengan penuh amarah.
"Lepas Devan..., sakit... lepas," ujar Emeli meronta sembari memukuli tangan Devan, Namun Devan tidak bergeming dia terus menarik Emeli masuk rumah dengan sorot mata penuh emosi.
Sedangkan di lantai atas Diandra menatap tajam Devan menyeret Emeli dengan kasar masuk kamar.
"Tidak aku harus berbuat sesuatu, Jagan sampai Devan berhubungan dengan Emeli."
Diandra mencengkram dinding pagar pembatas dengan tatapan kesal.
"Barrkk....." Devan menutup pintu dengan keras lalu menguncinya, dan melangkah mendekati Emeli sembari menatap tubuh Emeli yang telah di hempaskan Devan ke ranjang.
Emeli begitu takut tubuhnya gemetar menatap Devan menatapnya tajam seakan serigala mau menerkam, dia memundurkan tubuhnya dengan rasa kalut yang tidak bisa di gambarkan.
"Kamu begitu senang kan menantang ku, aku akan layani tantangan mu."Devan mendekat dengan seringai jahat, dengan cepat Emeli bangkit lalu berlari menuju kamar mandi lalu menutup pintu.
"Buka Laura percuma kamu lari , kali ini aku tidak akan melepaskan mu,sudah terlalu sabar aku menghadapi mu , tapi kali ini kamu benar-benar keterlaluan." teriaknya di balik pintu.
Emeli menghadang pintu sembari menutup mulutnya air matanya telah lolos dari pelupuk matanya hingga mengalir deras bersama ketakutan yang membuat badannya bergetar hebat.
"Aku harus bagaimana, aku tidak menyangka Devan semarah ini,"lirihnya
"Buka Emeli...." teriak Devan meninggi menggema di seluruh ruangan
Emeli mencoba menaham pintu itu di tengah kekalutan yang melanda, berkali-kali Devan mendobrak pintu, kekuatan Emeli kalah jauh dari kekuatan Devan hingga pintu itu terbuka.
Terlihat Devan begitu marah dengan cepat dia
menggapai Emeli yang mencoba berontak.
"Lepaskan aku Devan, kamu tidak bisa melakukan ini padaku." ujarnya meronta-ronta ingin melepaskan cengkraman Devan dengan. air mata yang terus berlinang.
"Kenapa tidak, aku suami mu, apa cuma Saga yang berhak menyentuhmu hah." bentaknya.
sembari menarik kasar rambut Emeli membuatnya meringis ngilu.
Tampa aba-aba Devan membopong tubuh Emeli, teriakan dan pukulan Emeli tidak dihiraukannya.
__ADS_1
Devan menghempaskan tubuh Emeli ke kasur berukuran Quin zise.Lalu dengan cepat membuka kemeja putih dan menghempaskan ke segala arah.
Hingga terpampang jelas otot kekar yang terlihat mengkilap karna keringat juga cakaran Emeli yang terlukis dengan sedikit darah yang bergaris di lukanya.
Tampa aba-aba Devan menindih tubuh Emeli, lalu mencengkram dagunya, sedang satu tangan memegang tangan Emeli
"Apa cintaku tidak layak untuk mu ,sebenci itukah kamu padaku hah... hari ini aku akan mengikat mu, dan mengajarimu menjadi istri sesungguhnya nya." Tegas Devan penuh emosi
Devan mendekatkan wajahnya ke wajah Emeli lalu menciumi bibir ranum nan menggoda itu dengan paksa, Awalnya hanya ciuman biasa lambat laun menjadikan lumatkan yang memaksa.
Devan yang diliputi rasa amarah dan gairah bersamaan seperti serigala mencengkram. mangsanya, begitu bringas Tampa ampun.
Air mata Emeli jatuh, mengalir membasahi pipinya, dia tidak tau harus berbuat apa atas perlakuan Devan yang memaksa.
******* itu semakin menjadi-jadi hingga menjalar ke leher Emeli Devan mengigit leher jenjang Emeli membuat teriakan gadis itu berubah mendesah, membuat Devan semangat menjalan kan aksinya.
Devan begitu bersemangat di tengah kesedihan Emeli, Devan terus memaksa Emeli untuk memenuhi kebutuhan biologisnya karna dengan cara ini dia menjadikan Emeli miliknya yang sesungguhnya.
Di tengah aksinya yang membara ingin menyalurkan hasratnya sembari merobek paksa baju Emeli hingga tak berbentuk.
"Pyarrrr....terdengar kegaduhan dari luar, sejenak Devan menghentikan aksi nya lalu ingin segera menyelesaikan. Dia bangkit ingin membuka celananya.
"Tolong... tolong..." samar-samar terdengar suara Diandra meminta tolong di balik pintu
"Tolong... tolong suara itu terdengar lagi." membuat Devan yakin dan mengurungkan niatnya.
"Sial....." Devan mengacak rambutnya dan berlari bertelanjang dada keluar kamar.
Emeli bangkit dan mengambil baju Devan lalu memakainya. ada rasa sesak dan lega bersamaan karna aksi Devan tak tersampaikan.
"Diandra...." ujar Devan matanya terbelalak
menatap diandra yan terkapar di lantai tak sadarkan diri dengan tangan bersimbah darah.
Devan berlari mendekat, lalu
membopong tubuh Diandra ke mobil untuk membawanya ke rumah sakit
Sedang Emeli berjalan mengintip Devan yang sedang berlari mengendong Diandra keluar rumah.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa ini kebetulan atau Diandra sengaja menolongku.Tidak ini semua bukan urusan ku, sebaiknya aku pergi dari neraka ini." lalu mengambil koper dan memasukan semua pakaian dan melangkah pergi
dert dert dert tiba-tiba ponselnya berdering yang tergeletak di ranjang. Emeli membelalakan mata menerima pesan devan.
"Jagan pernah kabur dariku, Kalau tidak kamu akan melihat jasad Saga terpampang jelas di surat kabar."
Emeli menghempaskan handphone nya dengan kasar, sejenak terdiam berpikir apa yang harus dia lakukan, pergi atau mengorbankan diri. Emeli menangis sejadi-jadinya Tampa suara kekalutan dan kesedihan ini menjadi satu yang berwujud penderitaan yang di ciptakan Devan.
Tiba-tiba Emeli mendongak wajahnya yang sedari menunduk yang tertutup lengan.
"Tidak Emeli kamu tidak boleh lemah, kamu harus kuat, musuh mu akan tertawa dan pengorbanan kak Fandi akan sia-sia." ujarnya menyakinkan diri
Emeli bangkit lalu melangkah keluar ,
dia mendekati tangga, yang terlihat masih berserakan dari pecahan mangkuk dan darah yang masih berceceran di lantai
"Kenapa ada darah, apa Diandra jatuh dan mengenai tubuhnya hingga terluka
kenapa begitu pas.Tapi yang terpenting karena dia aku terselamatkan.
Emeli menghela nafas lega tiba-tiba matanya teralih pada pisau yang tergeletak di lantai dapur, bersama ceceran darah di dekatnya,lalu
Emeli melangkah mendekat sembari berpikir keras.
"Kenapa darahnya berada di dua tempat, apa Diandra sengaja, Aku harus waspada aku yakin Diandra, wanita misterius dan menyimpan banyak rahasia. lalu mendogakkan wajah menatap lantai atas.
"Apa aku harus menyelidikinya?" tak lama Emeli berfikir dia bergegas menaiki tangga dan masuk ke kamar Devan.
Dia membuka pintu kamar Devan menatap k takjub kamar yang begtu megah dengan, beberapa jendela kaca menjulang tinggi sejenak Emeli terpesona lalu men fokuskan lagi pada tujuannya.
Dia berjalan mendekat kesebuah lemari, perlahan Emeli membukanya ternyata sebuah pintu menuju ruangan penyimpanan baju terlihat sangat besar dan indah bernuansa putih berdesain amerika klasik Emeli masuk menatap tajam ke seluruh ruangan.
Dengan pelan dia berjalan ke sebuah meja besar berlapiskan kaca di dalam nya berjejeran dasi dan jam tangan rolex bermerk dan mewah.
Lalu Emeli mengedarkan pandangannya mencari lemari Diandra, yang terlihat jelas hanya deretan baju Devan dan jaz yang tergantung rapi.
Matanya teralih pada sebuah gaun yang tergantung. di atasnya ada beberapa baju diandra yang terlipat rapi.
dia mendekat menyibak-jibak baju mencari sesuatu.
__ADS_1
Lalu mata Emeli tertuju pada satu baju hitam yang terlipat paling bawah, yang di rasa pernah dia lihat,tapi dimana dia berpikir keras, tiba-tiba Emeli tertegun
"Baju ini...?"