
"Sebenarnya apa yang terjadi ?"tanya Ardi penasaran.
Entahlah pa... aku sendiri juga bingung. Ardi mengerutkan keningnya mencoba berpikir sembari menatap putranya melangkah lalu duduk di kursi.Ardi mengekori nya dan duduk di samping putranya.
Maksud kamu apa Devan,Ardi menodongkan pertanyaaan yang sama pada putranya dengan sorot mata tajam.
"Malam itu Laura keluar dari rumah. Aku mencarinya dan mendapati dia dan lelaki itu di tengah jalan dengan keadaan..." Devan menggelengkan kepala Ucapannya yang tercekat mengingat kejadian yang mengerikan itu. dengan mata mulai mengembun sembari bernafas letih.
Ardi memegang bahu devan mencoba menenangkan putranya.
"Sudahlah nak ini sudah takdir sebaiknya kita berdoa agar Laura cepat siuman." lirihnya.
"Tetap saja pa, aku merasa gagal menjadi seorang suami, yang tidak bisa melindungi istrinya."ujarnya sembari tertunduk penuh penyesalan.
*****
Sedang di tepat lain di dalam sebuah apartemen seorang pria tangah mabuk duduk di meja di temani beberapa botol yang berserakan di dekatnya
hah.... Saga tergelak dengan mata memerah mencoba tersenyum dalam tangisan. menatap foto seorang wanita yang di pegang ya.
"Emelia Anandita...aku tidak menyangka perasaanku akan sesakit ini melepas mu.."
Lalu meneguk minumannya."Hah Saga tertawa lalu menangis.seperti orang tidak waras.
"Emeli selamat berbahagia dengan orang yang kamu cintai."seketika Saga mengusap air matanya yang telah jatuh.
"Kenapa...kenapa, Emeli kamu tidak menyadari perasaan ku selama ini, apa aku tidak cukup baik bagimu.... iya, aku memang tidak cukup baik bagimu..." teriaknya lalu menghempaskan botol di depannya hingga terjatuh dan berserakan di lantai.
Saga menjambak rambutnya dengan frustasi lalu menundukkan wajahnya di meja
"Aku memang tidak pantas untuk mu, sudah beberapa kali kamu hampir celaka karna aku
tapi.... kenapa hatiku sesakit ini..."
"Kamu tau... aku menyukaimu ..,entah sejak kapan perasaan ini ada. Yang jelas dia sudah merebut semua hidupku harapanku dan kebahagiaanku." ucapnya sembari menatap tajam foto yang terlentang di meja.
"Emeli... setidaknya aku masih beruntung, meski kamu tidak membalas perasaan ku. Aku bisa melindungi mu.ini lebih baik dari pada melihatmu celaka,lebih baik aku saja yang hancur.."Emeli....lirihnya lalu memejamkan mata dengan pelan.
hari mulai terik menyinari wajah saga yang masih tertidur di kursi dia mengerjap karna Sinar matahari menerpa wajahnya yang masuk melalui celah ruangan.
Saga membuka matanya sembari memijat pelipisnya yang pening.Lalu bangkit membersihkan tubuhnya ke kamar mandi.
Sebuah mobil berhenti, di rumah Wijaya Saga keluar dari mobil berencana mengambil berkas yang tertinggal di rumahnya dia melangkah masuk.
"Aden...." ucap bik asih yang tidak sengaja melihatnya.
panggilan bik asih membuat langkah Saga terhenti dan berbalik menatap. Bik asih yang kian mendekat.
"Ada apa bik,"tanyanya datar.
"Begini den...ehh" ucapan bik asih terhenti bingung mau mulai dari mana. Saga mengerutkan kening melihat bik asih yang terlihat ragu ragu.
"Ada apa bik bicaralah" ucapnya menyakinkan.
"Begini den..tuan Wijaya pergi ke rumah sakit. ujarnya gugup.
"Apa tuan Wijaya kambuh lagi bik sehingga di bawa ke rumah sakit," tanyanya panik.
"Bukan begitu maksud saya den." Ujar bik asih sembari menatap Saga yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Terus kenapa bik, yang jelas kalau bicara" tanyanya lagi mulai kesal.
"Nona Laura kecelakaan dan sekarang tuan Wijaya menjenguknya den ?"
Hah Saga tergelak merasa apa yang di ucapkan bik asih hanya candaan.
"Jagan bercanda bik, itu tidak lucu."
Saga bernafas lega dan melangkah pergi
meninggalkan bik asih yang tengah menatapnya heran.
Den bibik serius, kalau aden tidak percaya.. Aden bisa memeriksa sendiri di rumah sakit. Lirihnya menyakinkan membuat langkah saga terhenti.Lalu dengan cepat berbalik dan merengkuh lengan wanita paruh baya itu.
"Jagan bercanda.... bibik sadar apa yang bibik katakan." menatap bik asih dengan sorot mata mematikan.
"Saya serius den saya sendiri yang mendengar tuan Ardi, mengabari tuan Wijaya di pagi tadi."
Tiba-tiba tubuh Saga melepas dengan deru nafas semakin cepat.
Bagaimana mungkin Emeli kecelakaan bahkan aku berpikir dia sedang bahagia bersama Fandi.
"Dimana rumah sakitnya bik," tanya Fandi memotong lamunannya sendiri, terlihat jelas kepanikan terpancar dari wajahnya.
"Di rumah sakit juragan den." ucap bik Inah membuat Saga bergegas dengan setengah berlari.
Dia masuk mobil melajukannya dengan kencang. Bahkan Saga tidak memperdulikan panggilan bik asih yang memangilnya.
"Adu... aden tadi gak percaya, giliran tau langsung lari kesetanan. Mana ngebut lagi semoga tidak terjadi apa-apa. pada Aden Saga" sembari menatap Saga yang menghilang di kejauhan.
******
Saat pintu lift hampir tertutup Jhoni menjulurkan tangan di celah life membuatnya membuka kembali.
Jhoni tertegun menatap Adila yang berada di dalam life, dia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis yang membuat hatinya berdebar di sini.
"Kenapa masih di situ cepat masuk aku sedang terburu-buru." ucap Adila ketus melihat tangan Jhoni masih melayang membuat life tidak menutup.
"Oh iya maaf.."Jhoni melangkah masuk dan berdiri di samping Adila bersama beberapa orang lagi.
"Maaf nona kenapa anda di sini." Jhoni menyapa nya dengan lembut.
Adila memicingkan mata melihat pria asing berkacamata, dia melihat ujung kaki hingga kepala menatap penampilan Jhoni terlihat kurang ok.Lalu menghela nafas kesal dengan wajah masam.
"Aku pindah tugas di sini.." jawabnya malas.
"Wah anda bekerja di sini jadi dengan mudah ki..."belum selesai Jhoni berbicara Adila sudah lebih dulu menjedanya.
"Cukup saya tidak biasa berbicara dengan pria asing. Tolong Jagan ganggu ke tentangan saya dengan pertanyaan anda yg tidak bermutu." jawabnya sinis.
Membuat Jhoni menelan Slavina dengan kasar melihat gadis yang di disukainya bersikap acuh.
Mama...mama... aku tidak mau mobil-mobilan yang ini, ini terlalu kecil." ucap bocah sembari menangis yang merengek pada mamanya yang berdiri di samping Jhoni.
"hiks hiks hiks aku tidak mau mobil ini" sembari melemparnya,
" Iya sayang nanti mama beliin yang baru sudah Jagan menangis lagi,"
lalu ibu itu mengendong anaknya.Tampa tau mainannya sudah di lempar.Life terbuka Adila bergegas keluar.
__ADS_1
"Tunggu dokter..." ucap Jhoni membuat langkah Adila terhenti dan berbalik menatap Jhoni.
Jhoni melangkah Tampa sengaja menginjak mobil mobilan di itu membuatnya terjungkal dan jatuh ke pelukan adila
Adila yang terkejut dan belum siap menangkap Jhoni lalu terjatuh bersamaan, terjungkal di lantai membuat dua insan itu bertumpu di tempat tidak semestinya.
tik
tok
tik
tok
hening terasa saat kedua pasang mata itu bertemu.Deheman salah seseorang yang yang berkerumun di dekatnya memuat mereka tersadar membuat Adila mendorong tubuh Jhoni dengan kasar.Lalu bangkit
"Kamu ....." ucap dila kesal sembari mengacungkan tangannya ke wajah Jhoni dengan tatapan tajam .
"Maaf nona ini tidak seperti yang ada pikirkan"
sanggah Jhoni kebingungan.
Kalau mau indehoy Jagan di sini,di sini rumah sakit bukan hotel.Ucap seorang lelaki yang berjalan melewati mereka
"Ini tidak sengaja" sanggahnya.
"Cukup... belum puas mempermalukan ku. dasar manusia mesum." Teriaknya geram lalu melangkah pergi.Namun tiba-tiba Jhoni mencengkram lengannya membuat Adila berbalik menatap Jhoni sini.
"Lepaskan..." ucap Adila dengan mata melotot.
"Tidak nona anda harus dengar penjelasan saya dulu." ucap Jhoni meyakinkan.
Adila yang sangat marah melayangkan tangan ingin menampar Jhoni, tapi lagi-lagi dengan sigap Jhoni menangkap pergelangan Adila.
Adila yang sangat marah karena tangan dan lengannya di cengkram. Tampa aba-aba langsung, menendang si Otong Jhoni. membuat Jhoni melepas kan cengkraman dan meringis memegangi senjatanya.
"Jagan pernah macam-macam dengan ku"
lalu melangkah pergi meninggalkan Jhoni yang kesakitan.
Selang beberapa lama, Jhoni menghampiri Devan yang duduk termenung dengan penampilan yang berantakan. Terlihat jelas rasa cemas di wajahnya, membuat dia tidak bisa istirahat hingga warna hitam melingkar dimatanya.
"Tuan... "ucap Jhoni pelan membuat Devan mendogakkan wajahnya dengan malas.
Jhoni duduk di samping tuanya di kursi tunggu.
" Bagaimana keadaan nona tuan," tanyanya khawatir.Devan hanya menghela nafas letih.
"Entahlah, Jhoni papa dan pak Wijaya yang menjaganya." jawabnya lesu.
"Saya yakin, nona akan baik-baik saja tuan." lirihnya untuk menyemangati tuannya.
"Aku tidak tau Jhoni, yang jelas sampai sekarang dia belum sadar."ujarnya malas dengan tatapan sendu.
"Tuan devan bisa kita bicara sebentar" ucap dokter yang berdiri di sampingnya.Membuat Jhoni dan Devan berdiri bersamaan.
"Tentang apa dok?" tanyanya menyelidik
"Ini tentang istri anda," ucap dokter dengan nada serius dengan sorot mata tak terbaca.
__ADS_1