
Sebenarnya sebelum kecelakaan terjadi kami sudah membuat janji temu, dengan putri anda untuk menanyakan salah satu pasiennya."
"terus..." ucap Susi dengan sorot mata penuh tanya."Karena pasien putri anda ada kaitannya dengan hilangnya saudara saya."
"Maksudnya pasien naina bukan orang baik begitu..."tampak menyelidik.
"Kurang lebih seperti itu nyonya, dan maaf sebelumnya apa ini gelang putri anda."
menyodorkan gelang masih terbungkus plastik.
Matanya Susi memerah dengan tangan yang bergetar. "Iya gelang ini mirip dengan gelang putriku kalian dapat dari mana?"
"Tidak jauh dari tempat kecelakaan."ucap emeli
Tiba-tiba Susi berdiri dengan wajah marah "Bagaimana mungkin... bahkan jasad putriku saja tidak bisa di kenali, karna ganasnya api."
kalian mau mencoba menipu saya, dengan gelang imitasi ini."bentaknya.
"Maaf kan saya nyonya, tapi anda harus tau
kami mencurigai bahwa Dr.naina di celakai oleh orang yang Sama yang telah mencelakai saudara kami." lirih Saga mencoba menyakinkan. "Kalian pikir aku semudah itu percaya pada kalian hah.?"
"memang gelang ini sekilas Sama dengan milik putriku... tapi polisi menyatakan itu murni kecelakaan tunggal mungkin ini hanya mirip, sudah lah sebaiknya kalian pergi. Aku tidak ada waktu mendengar bualan kalian." lalu melangkah pergi masih memegang gelang di tangannya.
"Ini kenyataan nyonya tolong percayalah pada kami" ,Emeli berlari memegang lengan Susi dengan cepat Susi mendorong emeli hingga tersungkur. Saga yang berdiri terkejut langsung membatu Emeli berdiri."Panggil satpam usir mereka.Ucap Susi dengan suara membentak.
lalu satpam datang menyeret Emeli dan Saga.
"Nyonya dengar kan saya dulu..." emeli meronta untuk melepaskan.;"Apa anda rela jika orang mencelakai putri anda bebas begitu saja, dengarkan aku tolonglah." Susi bergegas pergi Tampa menghiraukan teriakan Emeli.
"Tunggu... semua orang menoleh ke sumber suara terlihat gadis kecil dengan wajah pucat. Susi bergegas menghampiri."Caca sayang kenapa keluar, caca harus istirahat Caca kan masih sakit." tiba-tiba gadis kecil itu mengambil gelang yang berada ditangan Susi.
"Ini gelang bunda nek..." Susi terperanjat mendengar ucapan caca.
"Kamu yakin sayang, mungkin hanya mirip saja"
"Tidak caca yakin nek. Sedangkan emeli dan Saga terus di seret keluar oleh satpam
"tunggu lepaskan mereka... kalian boleh pergi."
Emeli dan Saga terperanjat dengan keputusan Susi lalu berdiri mematutung.Menatap interaksi cucu dan nenek itu.
"Kemudian Susi berbalik menatap Felicia.gadis kecil di depannya. "Kenapa kamu seyakin itu sayang" dengan tatapan lirih.
"Sebelum bunda pergi ,bunda meletakkan tas dan gelang ini di meja,karna terlihat cantik Caca mencobanya tapi..." gadis itu menunduk wajahnya terlihat takut.
__ADS_1
"Tapi kenapa sayang,katakanlah dengan sorot mata lembut sembari tersenyum.
"Caca menjatuhkannya, hingga gelang ini retak dan permata bunganya jatuh, lihatlah ini nek."
Menunjukkan bagian gelang yang retak.
Mendengar pengakuan Felicia,Susi tiba-tiba lemas hampir pingsang dengan sigap emeli memapahnya.
"Anda tidak apa-apa nyonya?"ucap emeli karena khawatir.Tidak aku tidak apa-apa mencoba menyeimbangkan diri lalu berjongkok di depan cucunya.Menelisik wajah felicia dengan mata berkaca-kaca.
"Nenek kenapa?"lirihnya dengan wajah sendu.
"Nenek tidak apa-apa sayang." sembari mengelus pipi tembem cucunya. "Nenek Jagan marah sama Caca lalu pergi seperti bunda.
Caca janji gak akan nakal lagi nek....
kemaren caca juga mau mengaku ke bunda... tapi setelah menelpon bunda buru-buru memakai gelangnya, lalu pergi."lirihnya masih sesenggukan karena tangis.
"Seharusnya Caca jujur, kalau Caca yang ngerusak gelangnya, biar bunda gak marah dan pulang ke rumah lagi...... hiks hiks hiks sembari mengusap air mata yang jatuh.
"Caca sayang... kan ada nenek yang selalu menemani caca." lalu memeluk Feli sembari mengusap lembut rambutnya.
Tidak terasa air mata emeli jatuh melihat interaksi yang memilukan,lalu mulai mendekati Caca yang telah melepaskan pelukan neneknya Emeli berjongkok menghadap Gadis kecil itu.
Caca menganggukkan tanda setuju.
"Kamu bilang bunda menelpon sebelum pergi apakah bunda menyebut nama siapa yang menelpon?"
"Tidak bunda hanya marah,dengan orang yang di telpon, bunda bilang kalau dia sakit, dan harus berobat ke Tante Selin... kalau tidak bunda akan mengatakan semuanya kepada orang yang akan di ditemuinya besok,
setelah itu bunda buru-buru pergi."
"Kecelakaan naina pada hari Jumat dan pada hari Sabtu kami sudah janjian, berarti yang di maksud naina adalah memberi tahuku."ucap Saga tampak kaget.
Jadi yang di telpon naina tidak lain adalah pelakunya." Susi menutup mulutnya yang terkejut mengetahui anaknya di sengaja celakai.
"Kita harus bisa menangkap pelaku itu, aku akan batalkan kepindahan ku ke Jepang besok, untuk menyelesaikan kasus naina."ujar susi
"Jagan nyonya karena itu terlalu berisiko...,
kita tidak memilik bukti untuk menyeretnya ke pengadilan. Lagi pula.... identitasnya belum kita ketahui. Dia orang yang berbahaya aku takut dia akan nekat, melukai anda dan Caca sebaiknya anda pergi ke luar negri, ini demi kebaikan caca nyonya."
"Tapi..."Susi Tampak ragu.
"percayakan semua pada kami ini demi kebaikan caca."ucap emeli dengan sorot mata meyakinkan.
__ADS_1
Nyonya siapa Selin yang di maksud Caca.?" tanya emeli. "Dia teman naina waktu sekolah,kalau tidak salah selin seorang psikiater.
"Jika Selin seorang psikiater berarti pelaku mempunyai gangguan mental."
"Maaf nyonya apa anda tau, cara saya bisa menghubungi Selin?"
"Seingat ku pernah menyimpan kartu namanya, saya ambil dulu.Susi bergegas pergi tak lama dia datang membawa kartu nama.lalu menyodorkan ke saga.
terima kasih semoga ini bisa membantu...
kami permisi dulu nyonya.
tunggu mencengkram tangan saga dengan mata mengembun
"kalau memang anak saya di celakai tolong...tegakkan keadilan untuk putriku."
saya akan melakukan yan terbaik nyonya memegang tangan Susi dengan sorot mata menyakinkan.
"Terimakasih dan maaf telah berbuat kasar pada kalian." dengan guratan penyesalan.
"Kami mengerti" ucap Saga lalu melangkah pergi.
"Bibi.....teriak Felicia yang berlari kearah Emeli, Emeli dan saga menghentikan langkahnya mendengar teriakan,saat berbalik terlihat Caca berlari ke arahnya. Emeli berjongkok untuk menyambut.
"Ada apa sayang?"menatap Caca dengan wajah sendunya. "Bundaku orang baik, dia orang yang paling berarti dalam hidupku, jika memang bundaku di celakai orang...aku mohon bik tangkap orang itu... karna dia tega memisahkan aku dengan bunda.tubuh gadis itu berguncang karna isak tangis dengan air mata yang mengalir.
Emeli langsung memeluk gadis kecil di depannya.
"Bibi janji bibi akan berusaha yang terbaik," tangis caca tumpah di pelukan Emeli.
Dia mengeratkan pelukannya ada rasa sesak menatap Caca menangis pilu.
Emeli melepaskan pelukannya. lalu mengusap pipi Caca yang basah.
"Tapi caca janji... harus sembuh dan doain bibi"
" Pasti bik " lalu mengangguk.
Gadis pintar mengacungkan jempolnya sembari tersenyum.
"Ya sudah ayo masuk...itu nenek menunggu."
Caca mengangguk dan berlari ke arah neneknya caca melambaikan tangan lalu menutup pintu.
Emeli melangkah pergi dengan gontai ada rasa sesak menyeruak di hatinya. Dia begitu terenyuh menatap gadis kecil seperti caca yang kehilangan ibunya .
__ADS_1