Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
kegilaan macam apa


__ADS_3

Emeli merasa geram lalu melepaskan kedua tangan Devan


"Kalau kamu merasa Diandra istri yang sempurna, kenapa harus menjadikanku istri lain, kamu bisa menceraikan ku sekarang juga, aku tidak peduli." Jawabnya penuh penekanan.


"Laura.... "teriak Devan melayangkan tangan ingin menampar namun terhenti, membuat Emeli membelalakan mata.


"Kenapa berhenti Tampar aku, tampar Devan. ujar Emeli emosi sembari menepuk pipinya mendekatkan ke tangan Devan,Devan tertegun dengan sikap Emeli yang berani lalu menghempaskan tangannya dengan kasar.


Emeli yang begitu kesal langsung menarik baju Devan.


"Kamu tau Devan.... kamu adalah orang paling egois yang pernah aku temui." ucapnya seraya melepas cengkeramannya dengan kilatan penuh amarah yang terpancar jelas dari manik matanya, lalu melangkah pergi dengan sedikit pincang.


"Kenapa kaki mu,?" tanya Devan setelah melihat langkah Emeli sedikit berbeda.


"Bukan urusan mu, jawabnya ketus Tampa henti meneruskan langkahnya.


"Laura berhenti di situ, teriak Devan penuh amarah. Tapi Emeli tetap meneruskan langkahnya tampa memperdulikan kemarahan Devan.


Dengan cepat Devan menggerakkan kakinya setengah berlari, lalu menghadang tubuh Emeli di depan pintu. Membuat Emeli menatapnya kesal, sedangkan Diandra tersenyum penuh kemenangan.


"Jawab kenapa kaki mu hah,bentaknya mencengkram lengan Emeli dengan sorot mata khawatir.


"Cukup Devan, aku benci dengan sikap arogan mu itu, kalau begini terus aku benar-benar muak, dan akan pergi meninggalkan mu, ujar Emeli sembari melepaskan cengkraman devan.


Mendengar itu Devan tertegun, pasalnya tak pernah terpikirkan untuk melepaskan Emeli,


Emeli menyingkir tubuh Devan yang menghadang jalannya, lalu dengan cepat masuk kamar dan menutup pintu dengan keras.


Membuat Devan tersadar dan menggedor pintu berulang kali dengan tatapan penuh amarah.


"Buka Laura, kita harus bicara... , Laura


Masalah ini belum selesai, Laura buka," teriak Devan sembari terus menerus menggedor pintu dengan emosi, lama tak ada sautan Devan dengan kesal menendang pintu.


"Sial mengapa jadi begini...." Ujarnya sembari mengusab rambutnya dengan frustasi.


Diandra yang sedari tadi tersenyum memperhatikan adegan itu, melangkahkan kakinya mendekati Devan dengan wajah berubah sedih.


"Tenang sayang kamu harus sabar menghadapinya, kamu tau kan dia masih 19 tahun tidak mudah, gadis kecil seperti nya menghadapi masalah ini."

__ADS_1


"Tapi Diandra"ucapan Devan terhenti oleh tangan Diandra yang memegang pundaknya sembari menggelengkan kepala.


"Devan sayang, kalau kamu menemuinya dalam keadaan sama-sama emosi, urusan bukannya selesai malah tambah panjang." ujar Diandra menyakinkan.


"Terimakasih Diandra, kamu benar-benar istri pengertian aku beruntung mendapatkan mu," ucap Devan sembari menjulur tangan mengusap lembut pipi Diandra.


"Aku juga beruntung memiliki suami setampan dirimu." Diandra langsung memeluk tubuh suaminya menyadarkan kepalanya senyaman mungkin di dada bidang Devan lalu tersenyum penuh arti.


"ini belum seberapa, permainan akan segera di mulai Devan, bahkan kamu sendiri yang akan melempar Emeli keluar dari rumah ini, jangan sebut aku Diandra kalau tidak bisa melakukan itu."


Pagi yang cerah mulai datang, Setelah membereskan riasan tipisnya, Emeli keluar kamar.Terlihat di ruangan makan sudah ada Devan dan Diandra sedang sarapan.


Melihat mereka berdua Emeli memutar matanya malas lalu beranjak pergi melewati dua pasang mata sedari tadi menatapnya.


"Mau kemana kamu?" tanya Devan dengan nyaringnya,membuat langkah Emeli terhenti


" Cari sarapan di luar "jawabnya datar tampa menatap Devan yang bertanya.


"Hargai Diandra yang sudah susah payah menyiapkan semuanya untuk kita" ujar Devan dengan intonasi tinggi.


"Laura sebaiknya kita sarapan bersama,"ucap Diandra lembut.Mendengar kelembutan Diandra Emeli merasa heran.


"Aku bilang aku ingin pergi keluar, silahkan nikmati makanan kalian, dan tolong Jagan ganggu aku lagi." sejenak Emeli berbalik menatap mereka berdua bergantian, lalu membuang muka dan meneruskan langkahnya menuju pintu.


"Kalau kamu terus membangkang jagan salahkan aku, kalau terjadi sesuatu pada Saga." Ucap Devan santai, sambil mengoles roti dengan selai. Mendengar ucapan Devan membuat Emeli berbalik dan menatap Devan kesal.


"Apa maksudmu, kenapa membawa Saga, ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia." tanyanya heran.


"Tentu saja ada, Karna kamu begitu perduli padanya, terserah apa yang kamu putuskan, yang pasti hidup dan mati Saga sekarang berada di tangan mu. Dan satu hal lagi, aku jamin ucapan ku bukan isapan jempol belaka. ujarnya. lalu menatap tajam Emeli yang terlihat kebingungan.


Setelah berpikir, Emeli berjalan mendekati mereka dengan wajah masam lalu menarik kursi di depan Diandra, mengambil roti di meja lalu memakannya dengan kesal.


Devan hanya menyunggingkan senyum menatap Emeli yang sekarang bisa di gertak.


Berbeda dengan Diandra sibuk mencari perhatian dan bermanja Manja ke Devan,di hadapan Emeli. Sedangkan Emeli yang di panasi terlihat cuek dengan sikap Diandra,


setelah makan Emeli beranjak pergi


"Jagan pergi dulu, duduk."ucap Devan santai dengan tatapan mengancam

__ADS_1


"Apalagi bukankah aku sudah selesai sarapan"


tanya Emeli kesal.


"Aku dan Diandra, ingin membicarakan hal penting dengan mu, jadi duduklah dan dengarkan baik-baik." Tegasnya


"Katakan apa yang mau kalian bicarakan padaku." jawab Emeli yang sudah duduk sembari melipat kedua tangannya kesal.


Devan menyunggingkan senyum menaruh kedua tangannya dia atas meja,lalu menatap Emeli tajam.


" Aku penuhi permintaan mu Laura ,Diandra sudah mau menerima mu, dia mau berbagi diriku dengan mu." penyataan itu membuat Emeli terkejut langsung berdiri.


"Kamu bohong kan Devan.?" tanya Emeli serius


Devan dengan santai berbalik menatap Diandra lalu menyentuh lengannya dengan lembut.


"Diandra sayang apa ucapanku pada Laura itu benar, dan jelaskan apa yang telah kita sepakati." Diandra menjawab dengan senyuman lalu mendogakkan wajah menatap Emeli.


"Aku Diandra rela berbagi suami dengan mu, termasuk urusan ranjang." ujarnya santai Membuat Emeli Terperanjat menganga tak percaya


"Tunggu apa maksud mu Diandra? tanyanya lagi memastikan,Devan tersenyum lalu menatap Emeli dengan senang.


"Bukankah sudah jelas, kamu memberi syarat akan menerimaku jika Diandra setuju. Sekarang aku penuhi permintaan mu," tegas Devan dengan senyum kemenangan.


"Tidak mungkin ,ini tidak mungkin apa kamu serius Diandra?"


"Tentu saja asalkan suami ku ini bahagia kenapa tidak, oiya kamu jga harus dengar peraturannya, devan sayang jelaskan pada laura."ujarnya seraya memegang lengan Devan dengan manja.


"Karna Diandra setuju. jadi kita mulai dari berbagi kamar, mulai nanti malam, selama seminggu empat hari aku akan bersama Diandra dan dua hari bersama mu dan satu hari untuk aku tidur sendiri."


"Ini kegilaan macam apa , aku tidak setuju apalagi berbagi kamar dengannya" tunjuk Emeli ke wajah Devan dengan raut wajah kesal


"Aku tidak minta persetujuan mu, lagian kamu tahu kan konsekuensi nya kalau kamu membantahku." mendengar itu Emeli terdiam dia tidak tau harus berbuat apa.


Devan bangkit dan mendekati Emeli yang terlihat shock, lalu mendekatkan wajah ke telinga Emeli.


"Aku sudah lelah bersikap kasar padamu, aku hanya ingin mengikuti permainan mu sayang." lalu mengecup pipi Emeli,membuat Emeli membelalakan mata


"Kamu..."mengacungkan tangan ke wajah Devan dengan tatapan penuh amarah.

__ADS_1


"Apa....?" jawabnya sembari memegangi telunjuk Emeli, suasana berubah menjadi tegang dengan tatapan tajam yang saling beradu.


__ADS_2