
Emeli melangkah pergi dengan gontai ada rasa sesak menyeruak di hatinya. Dia begitu terenyuh menatap gadis kecil seperti caca yang kehilangan ibunya.
Emeli dan saga masuk mobil lalu bergegas pergi.Di perjalan Emeli hanya menatap jendela mobil, diam termenung sesekali menyeka air matanya yang jatuh."Emeli kamu kenapa... apa ada yang salah?"ujar Saga dengan tatapan penuh tanya.
Emeli menghela nafas dan menghapus air matanya."Tidak aku hanya merasa sedih Caca mengingatkanku pada diriku waktu kecil."
mendogakkan wajah menatap Saga.
"Kamu tau saga menjadi anak yang di tinggal orang tuanya sungguh sangat menyakitkan."
Tiba-tiba Saga menghentikan mobilnya menatap emeli dengan intens.
Mata mereka saling beradu suasana hening terasa.
"Kamu lupa Emeli aku juga Sama sepertimu orang tuaku pergi dari kecil... untung tuan Wijaya yang merawat kami."
"kami maksudnya"menatap dengan sorot mata penuh tanya.
"Aku punya seorang adik perempuan, dia di luar negeri tuan Wijaya menyekolahkannya di sana.
"Maka dari itu sampai kapan pun, aku tidak akan bisa membalas kebaikan keluarga Wijaya... bahkan aku tidak akan melepaskan orang yang menyakiti keluarga Wijaya. Apalagi mencelakai Laura seperti sekarang sampai ke ujung dunia aku akan mengejar nya.
"Kamu tidak sendiri Saga, aku akan membantu mu. dengan sorot mata menyakinkan
Saga mencubit pipi emeli senyum mengembang di wajah Saga memperlihatkan gigi putih yang berbaris rapi.
"Aaww... sakit" ucap emeli dengan raut wajah masam. "Jadilah kuat Emeli... jika kamu selemah ini, bagaimana kamu bisa mewujudkan harapan Caca"
"Baiklah mulai sekarang aku akan jadi lebih kuat ...."mengepalkan tangan menunjukkan pada Saga sembari tersenyum.
"Bagus gadis pintar... dan aku yakin jika kita bersama kita akan melewati masalah ini.saga menjulurkan tangan mengacak rambut emeli.
******
Di sebuah bar seorang pria menghabiskan beberapa wiski,dia terlihat berantakan dengan sorot mata sendu.Jhoni mendekat dan memapah tuannya. "Tuan anda sudah mabuk berat,sebaiknya saya antar anda pulang."
"Aku tidak mabuk... Jhoni"ucapnya dengan suara parau lalu mendorong tubuh Joni
__ADS_1
"Aku hanya sedih" melangkah ke meja dengan sempoyongan.
Devan memijat pelipisnya menatap Jhoni dengan tatapan nanar. "Kau tau Jhoni dia tidak peduli padaku ,sudah seminggu dia pergi ,tidak pernah sekalipun mengabari ku"
mengambil gelas berisi wine di teguk ya hingga tandas.
"Apa aku tidak seberarti itu ....?" dia melempar gelas dan menghempaskan beberapa botol minuman di atas meja hingga pecah berserakan di lantai. Hingga suara dentuman musik yang keras tiba-tiba berhenti banyak sorot mata menatap Devan yang sempoyongan
"Kenapa kenapa kalian menatapku mau mati hah?"dengan sorot mata mengancam.
Jhoni menghampiri dan memapah tuannya untuk pulang.Lalu mendekati pelayan menyodorkan sebuah kartu.
"Ini kartu nama ku semua kerugian akan saya tanggung." lalu bergegas pergi
Jhoni merebahkan tubuh Devan yang terkulai lemas di kursi mobil
"Aku tidak menyangka anda jadi Sekacau ini..."
menghela nafas panjang , lalu memijat pelipisnya menatap bosnya .
Jhoni mengemudikan mobil menuju rumah Devan. Setelah sampai Jhoni memapah Devan sampai pintu kamar dia mengetok perlahan.
Wajahnya terkejut menatap suaminya yang mabuk berat. Jhoni melangkah masuk menghempaskan tubuh Devan ke rajang secara perlahan.
"Kenapa Devan jadi seperti ini?"
"Mungkin mood tuan... sedang tidak baik ,saya permisi nona?"
"Baiklah..." ucap diandra seraya mengangguk
perlahan duduk di samping suaminya yang tertidur, Dia mengusap lembut wajah Devan
"Kamu kenapa sayang, tidak biasanya kamu mabuk.
Diandra membuka kancing kemeja untuk Menganti baju Devan tiba-tiba tangan kekar Devan mencengkram kuat pergelangan Diandra Devan bangkit dengan sorot mata nanar lalu memeluknya.
" Kenapa kamu pergi... kamu tidak tau betapa tersiksanya aku, kamu bisa lakukan apapun tapi Jagan pergi...." dengan suara pelan namun masih bisa di dengar.
__ADS_1
Diandra mendorong tubuh Devan dari pelukannya menatap heran sang suami, mendengar kata-kata yang di yakini bukan untuk dirinya.
"Devan kamu kenapa sadarlah..?"
Tampa kata tangan Devan mengusap lembut pipi Diandra dengan tatapan nanar, membuat Diandra diam terpaku dengan sikap suaminya
"Jagan tinggalkan aku,,,, aku mencintai mu Laura." lalu pingsan bersandar di tubuh istrinya.Diandra terperanjat hatinya begitu sakit mendengar ucapan Devan, dia tidak menyangka laki-laki yang sangat di cintai ya mencintai wanita lain.
Matanya memerah menahan air matanya yang hampir jatuh tangan meremas baju Devan menahan amarah.
"Kenapa kamu lakukan ini Devan" lirihnya.
*****
Hari kini mulai siang... Devan mengerjakan matanya menatap Diandra yang di duduk manis di depannya.
"Diandra kenapa aku disini.?" wajahnya terlihat heran. "Kamu semalam mabuk... Jhoni membawamu pulang."
Devan memijat pelipisnya karena kepalanya terasa pening. "Kamu baik baik saja sayang mengusap lembut rambut Devan?"
"Selama kamu di samping ku, aku akan baik-baik saja" meraih tangan Diandra lalu menciumnya.
Diandra tersenyum lalu mencubit pipi Devan "Masih saja gombal, ada apa tidak biasanya kamu mabuk seperti semalam?" tanya diandra dengan tatapan menyelidik.
"Tidak ada apa-apa sayang, cuma ada sedikit masalah di kantor."
"Benarkah?"dengan tatapan tajam.
"Tentu saja benar... Kamu tidak percaya pada suami mu ini." mengusap lembut pipi istrinya.Diandra tersenyum lalu mengangguk.
"Badanku lengket sekali aku mau mandi dulu.
"Mandilah air hangat sudah aku siapkan."
"Terima kasih sayang kamu yang terbaik
mengecup kening Diandra dan bergegas pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Diandra mencengkram kuat sprei di ranjangnya... menggertakkan gigi, dengan mata mulai berapi api.
"Aku tau kamu bohong mas, aku akan pastikan cintamu akan kembali untukku.