
Di ruangan kantor ponsel Saga terus berdering namun tidak ada jawaban, pria itu masih sibuk dengan rapat yang dipimpinnya. Tidak lagi memikirkan handphonenya yang tertinggal di ruang kerja.
"Baiklah rapat selesai, keputusan sudah disepakati dan terimakasih semua." ucap Saga menutup rapat. Semua orang bergegas keluar, sedang Saga sibuk mencari handphone nya.
"Ada apa Saga, kenapa kamu terlihat mencari sesuatu" tanya Wijaya yang melihat Saga kebingungan
"Iya tuan, aku lupa menaruh handphone." jawab Saga, masih sibuk mencari di saku celananya.
"Mungkin saja tertinggal di ruangan kerja mu. Hari ini rapat sukses besar berkat dirimu, aku bangga padamu nak!" Wijaya berucap, sambil menepuk lengan Saga.
"Makasih tuan!" Sahut Saga menampilkan sedikit senyuman.Wijaya menghela nafas lalu melangkah keluar ruangan. Setelah menatap kepergian Wijaya lelaki itu mengalihkan pandangannya menatap jam yang menempel di dinding menunjukkan 09:45. Saga mengecap sambil mengusap keningnya. "Pasti Emeli sudah menungguku di kantor polisi, aku harus cepat!" ucapnya bergegas pergi setelah membereskan filenya .
Lelaki tampan itu masih menyempatkan masuk keruangan kerjanya. Mencari handphone yang tertinggal, Saga mengerutkan kening melihat no pembantunya yang menelpon belasan kali.
"Tumben bik Imah menelpon ku?"Lalu dengan cepat, Saga menghubunginya, kembali, tapi tidak ada jawaban. Berkali-kali Saga mencoba menghubungi, tapi lagi-lagi hasilnya nihil, malah sekarang ponsel pembantunya tidak aktif.
"Sebenarnya ada apa, kenapa perasaan ku mendadak tidak enak!" Saga menghela nafas panjang, menatap jam tangannya yang menunjukan hampir jam sepuluh.
" Aku harus cepat, kasian Emeli pasti sudah lama menungguku." Lelaki itu berucap sambil melangkah, baru beberapa langkah Saga berjalan, tiba-tiba handphonenya berdering, dia mengerutkan kening menatap no yang terasa asing. Karena penasaran Saga mengangkatnya
"Halo siapa ini?" Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara gelak tawa seorang wanita.
"Jangan main-main siapa ini, aku tanya siapa ini?" Saga meninggikan suara dengan raut wajah marah.
"Kamu tidak mengenalku, atau kamu hanya pura-pura lupa, Sedangkan sekarang kamu coba menantang ku. Kamu salah Saga, Kamu tidak sadar sedang membangunkan singa yang lapar." Sahut Diandra di seberang sana, terdengar mengancam
"Diandra kamu?" Saga menebak.
"Ya... jawaban yang tepat"
"Diandra tamatlah riwayat mu, aku akan membuat kamu mendekam di penjara. Setelah banyak orang yang kamu bunuh, kamu harus membayar semuanya."
"Ehts…, jangan buru-buru sayang. Apa kamu tidak ingin tau kabar apa yang aku ingin beritahu padamu."
"Hah kabar apa, kamu ingin mengancam ku ,itu tidak akan berhasil." jawab Saga menantang.
"Benarkah, coba kamu lihat apa yang aku kirim ke ponsel mu!"
Mendengar itu Saga menatap ponsel yang mendapat pesan dari Diandra. Alangkah terkejutnya, Saga menatap foto emeli yang pingsan di dalam sebuah mobil.
__ADS_1
"Bagaimana Saga, permainanku cerdik bukan, apa kamu tidak takut dengan ancamanku."
"Berani kamu, kurang ajar dasar wanita iblis" Saga begitu marah.
"Wowowoow aku takut, tapi sayangnya aku tidak peduli. Kamu yang mengusik hidupku dan masalah Emeli, hanya melenyapkan satu orang lagi itu sangat mudah bagiku."
"Diandra kalau kamu lakukan itu, aku bersumpah akan membuatmu menyesal pernah hidup di dunia ini"
"Oh ya…, aku sangat takut ancamanmu." suara gelak tawa terdengar mengejek.
"Kamu pikir aku tidak bisa melakukannya berikan bukti itu, mungkin aku akan menyerahkan Emeli dengan selamat.Tapi kalau kamu nekad aku pastikan kamu akan menemukan jasadnya."
"Diandra ternyata ada manusia seperti mu" mata Saga memerah menahan amarah.
"Tentu saja ada, cinta bisa mengalahkan segalanya."
"Jangan mengatasnamakan cinta untuk menutupi kejahatanmu." jawab Saga begitu emosional.
"Baiklah serahkan bukti itu? kalau tidak, aku akan benar-benar melenyapkan Emeli. Nanti aku kabari kapan kita akan bertemu jgan macam-macam dengan ku.Kalau tidak nyawa Emeli jadi taruhannya." Diandra menutup telponnya.
"Halo.. halo.. Saga berteriak, lalu menatap ponsel terlihat panggilannya sudah terputus.
"Arrkkk, Sial !"
Menghempaskan semua barang di meja hingga berserakan di lantai.
*
Seorang wanita mengerjapkan matanya dengan kepala terasa berat, Emeli baru tersadar kalau dirinya berada di sebuah mobil yang sedang melaju.
Di mobil itu ada dua orang lelaki, satu orang mengemudi dan satu lagi duduk di sampingnya.
Emeli menutup matanya kembali, takut kalau para penjahat itu mengetahui dirinya yang sudah sadar, penjahat itu, akan membiusnya kembali, gadis itu sadar jika harus melawan mereka berdua tentu akan kalah telak.
"Arman tadi bos bilang apa setelah loe kirim gambar?"ucap lelaki kekar yang sedang mengemudi mobil.
"Kata si bos, suruh bawa ke tempat yang aman. Nanti dia sendiri bakal eksekusi gadis ini."
"Sayang banget, cantik cantik gini harus mati muda, kalau jadi bini gue bakal mantap deh." Arman berucap, sembari menatap tubuh Emeli sambil menelan ludah.
__ADS_1
"Arman ingat pesan bos, Jangan di apa-apain tu cewek, bisa mampus loe di bantai bos." Bentak kawannya, sambil fokus menyetir mobil.
"Iya ane tahu, gue kan hanya bercanda aja. Eh gue kok kebelet berhenti napa, gue mau buang air besar."
"Loe gila mau berhenti di mana, kita sedang berada di tengah jalan tol. Lagi pula gimana kalau tu cewek kabur?"
"Tapi gue udah gak tahan lagi, cepat donk berhenti, apa Lo mau Gue buang hajat di sini." sahut Arman sambil memegang perutnya kesakitan.
"Loe gila ya?" Pria itu menjawab sambil menekan pedal rem.
"Yaudah cepat!" Bentak temanya.
Arman yang buru-buru keluar hingga melupakan ponselnya yang tertinggal di kursi.
Setelah beberapa menit menunggu temannya yang menyetir mobil, lelaki itu sangat kesal lalu beranjak keluar, mencari keberadaan Arman. Emeli membuka mata, lalu mencari ponselnya di saku celananya. tapi tidak ada.Karena ponsel itu sudah disimpan para penculik tadi.
"Jangan-jangan mereka sudah mengambilnya aku harus bagaimana." Lirih Emeli kebingungan, semua terasa mendesak.
Tiba-tiba pandangan Emeli teralih pada handphone yang tergelak di samping nya, dengan cepat dia mengambilnya dan mengirim pesan pada Saga, gadis itu menganti mode senyap pada ponsel tersebut. Lalu menyembunyikannya di bawah sepatunya.
Saga masih tertunduk di lantai memegang rambutnya frustasi dia terlihat berantakan bingung harus berbuat apa, tiba-tiba ponselnya berdering matanya membola menatap isi pesan .
"Saga aku Emeli, lacak keberadaan ku, tapi Jangan pernah mengalah pada Diandra, apapun yang terjadi kamu harus memenjarakan nya."
Saga beranjak mungkin ada kesempatan untuk menyelamatkan Emeli, dengan cepat Saga bangkit setengah berlari.
"Saga ini ada berkas…," terlihat Wijaya baru masuk ke ruangan Saga. Namun ucapannya terhenti saat melihat ruangan Saga yang berantakan.
"Maaf tuan, aku harus pergi sekarang, ada urusan penting!"
"Tapi Saga?"
Belum sempat Wijaya menyelesaikan ucapannya, Saga telah menghilang karena berlari cukup kencang. Membuat Wijaya keheranan.
Saga sudah berada di basemen dia menggerakkan tangan, membuka pintu mobil. Dengan tiba-tiba satu pukulan mendarat di pipinya hingga bibirnya sedikit mengeluarkan darah
Saga terperanjat menatap pria yang mengepalkan tangan dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu?"
__ADS_1
.