
Setalah di rasa aman, semua orang telah pergi Emeli memulai rencananya.Dia menaiki tangga berlalu masuk kamar Devan.
"Kreeaak... pintu terbuka, Emeli masuk ke ruang baju Devan.
Emeli melangkah masuk tatapannya tertuju pada satu lemari Diandra, yang sedari tadi menjadi incarannya, Emeli membuka lemari itu mencari baju yang dulu tertinggal.
Setelah melihatnya, tangan Emeli terulur mengambil baju hitam itu, dia tertegun lalu menyentuh baju itu.
" Baju ini..., sangat mirip yang di pakai pelaku saat itu, apakah pelakunya. Diandra pasti ada bukti lain." Emeli bangkit dari keterkejutan nya, dengan cepat membongkar semua baju di lemari Diandra.
Mata Emeli tertuju pada celana hitam yang, dirasa pernah di lihatnya, Emeli menjulurkan tangan mengambil celana hitam itu, yang masih tersusun rapi. dia menyatukan tangan menatap baju dan celana itu dengan seksama.
"Aku yakin pernah melihat celana ini tapi dimana,?"
Tiba-tiba Emeli tertegun membelalakkan mata tak percaya.
"Tidak mungkin ini sebuah kebetulan, aku yakin sepasang baju ini yang di pakai pelaku saat mendorongku ke jurang.
" Apa Diandra, benar-benar pelakunya.?" Emeli menutup mulutnya yang menganga tak percaya, pasalnya selama ini dia hanya menduga dan berasumsi saja.
Kilatan kejadian terus bermunculan, tiba-tiba teringat detik terakhir sebelum ia di dorong. Emeli sempat membuka penutup Kepala pelaku.
Hingga rambut pelaku terurai, sebelumnya Emeli tidak yakin kalau dia seorang wanita. Tapi setelah ini dia yakin apa yang di lihat nya dulu benar.
"Ya... aku ingat, rambutnya panjang kenapa aku tidak menyadari postur tubuhnya Sama dengan Diandra, tidak salah lagi pelakunya. Emeli terdiam sejenak berpikir lebih dalam lagi lalu mengepalkan tangan dengan kilatan kebencian.
Diandra pelaku nya, kalau memang dia, kamu harus menerima balasannya Diandra, sudah cukup banyak orang yang menjadi korban mu." Emeli menggertakkan gigi, dengan mata memerah, penuh emosi.
"Apa alasan Diandra melakukan semua ini,
bagaimana dia bisa membunuh banyak orang apa yang dia inginkan."
Kilatan kejadian tentang, pengejaran, dan janjinya pada anak kecil dan kak Fandi yang bersimbah darah. Terlihat jelas dalam benaknya.
kepala Emeli terasa berat mengingat kejadian demi kejadian yang sangat menyakitkan, tubuh Emeli mulai lemas, dia mencoba menahan tubuhnya memegangi lemari tapi tubuhnya sudah tidak bisa berkompromi.
Bruk..... Emeli ambruk tak sadarkan diri.
******
Devan yang di telepon bik Imah sangat panik saat di kabari Emeli tiba-tiba menghilang.
__ADS_1
Dia memutuskan menunda perjalanan nya dengan Diandra meski Diandra tidak setuju tapi Devan tidak bergeming kemarahan Diandra lebih baik dari pada kehilangan Emeli untuk kedua kalinya. Pilihnya.
Di mobil Devan melajukan dengan kencang. Kekawatiran dan cemas membuat dia tidak bisa mengendalikan diri.
"Devan aku mohon, jangan terlalu kencang kita bisa celaka kalau kamu mengemudikan mobil ini sekencang ini." Jelas Diandra yang duduk di sampingnya.
"Maafkan aku Diandra, aku tidak ingin kehilangan Emeli lagi cukup sudah, dia sudah menghilang kemarin aku tidak ingin kecolongan lagi."
"Devan aku mohon pelan kan mobilnya,?" Teriak Diandra lagi, setelah tak ada sautan dari ucapannya yang pertama.
"Kamu taukan, aku bisa gila kalau ada apa-apa dengan Laura." Bentaknya. Mendengar pernyataan Devan darah Diandra mendidih membuatnya naik pitam.
"Lalu bagaimana dengan ku?" bentaknya dengan intonasi cukup keras.
"Kamu anggap aku apa, kenapa aku merasa kamu hanya mencintai Laura lalu aku ini apa?" teriaknya lagi geram sembari mengoncang l Ngan Devan bersama air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Diandra cukup, aku tidak ingin membahas ini pikiran ku sedang kacau, bisa tidak berhenti mengintrogasi ku aku muak.
"Tapi Devan,?" Sanggah Diandra emosi.
"Diandra...." teriak Devan penuh amarah membuat Diandra bungkam, melihat kemarahan Devan yang begitu besar.
Hari menjelang malam Devan memarkir mobilnya depan rumah. Lalu bergegas menghampiri bik Imah yang berdiri dengan cemas menantinya.
"Begini Den, tadi pagi nona meminta bibik untuk membelikan obat MAH saat bibik kembali Nona sudah tidak ada. Bibik cari-cari di seluruh rumah tapi tidak ada Den.Jelasnya sedikit takut melihat Devan menatapnya tajam seolah menyalahkan.
Bibik sangat panik, dan tidak ingin menganggu Aden dan nona Diandra. bibik menelpon tuan Saga. Tapi kata den Saga Nona Laura tidak ada di sana, mendengar nama Saga di sebut Devan naik pitam dengan cepat merengkuh lengan wanita renta itu dengan tatapan tajam
"Kenapa kamu menghubungi lelaki sialan itu, aku kan sudah bilang kalau ada apa-apa harusnya kamu menghubungiku." Teriaknya penuh amarah.
"Maaf Den..." Lirihnya tertunduk gemetaran ketakutan
Melihat ketakutan bik Imah, Devan melepaskan dia sangat frustasi mengusab wajahnya, hatinya begitu gusar tentang keberadaan Emeli .Sedang Diandra keluar dari mobil dengan malas menatap suaminya yang terlihat frustasi.
"Emeli awas kamu... Jagan sebut aku Diandra jika tidak bisa menyingkirkan mu."
******
Emeli mengerjapakan mata lalu membuka matanya berlahan, dia memegang kepalanya yang terasa pening.
Lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, Emeli sedikit terkejut melihat jam di tangannya menunjukkan 20:00.
__ADS_1
"Hampir seharian aku pingsan di sini, dia terus memijat pelipisnya yang masih pening. Tampa sengaja matanya teralih pada baju dan celana yang tergelatak di lantai. Melihatnya Emeli teringat.Kejadian sebelum pingsan kini muncul kembali di kepalanya.
"Diandra aku akan membalaskan semuanya" Emeli bangkit lalu melangkah keluar penuh emosi dengan tangan masih mencekam kuat sepasang baju itu.
Sedang Devan Diandra dan bibik terperanjat melihat Emeli melewati tangga dengan penuh emosi.
Devan tersenyum lega, sedang Diandra membelalakan mata dengan apa yang di pegang Emeli.
"Apa Emeli tahu , tidak aku harus tetap tenang dan bermain cantik."
Diandra tertunduk tubuhnya gemetar dia tidak tau apa yang akan terjadi tapi ketakutan itu nampak jelas di matanya bersama keringat dingin yang keluar membasahi keningnya.
Devan berjalan mendekat menyambut kedatangan Emeli
"Sayang kamu dari mana, tanya Devan yang mendekat lalu memegang tangan Emeli.
Dengan cepat Emeli menghempas tangan Devan, manik matanya hanya tertuju pada Diandra yang terlihat gugup.
Brukk..... Emeli menghempaskan pakaian itu di wajah Diandra dengan kasar. Devan dan bik Imah tertegun sedang Diandra mengepal kan tangan di tatap Emeli penuh emosi
Tampa ba bi bu Emeli mencengkram baju Diandra dengan sorot mata penuh kebencian.
Kenapa kamu melakukan ini Diandra, Teriaknya penuh emosi. Devan tertegun mematung tak mengerti apa yang terjadi.
"Ada apa Laura?" Elaknya dengan nada lembut.
"Jagan berlaga bodoh, kamu kan, yang melakukan semua ini, kenapa kamu setega itu Diandra dimana hati mu.?" teriak Emeli geram dengan air yang mengalir penuh kebencian.
"Apa maksud mu aku tidak mengerti," jawabnya pura-pura lugu. Mendengar itu Emeli melepaskan tangan.
Plak, plak dua tamparan sekaligus mendarat keras di wajah Diandra membuat semua orang yang berada di sana tercengang tak percaya.
Diandra mengusab pipinya yang memerah sedang Emeli menatapnya geram lalu mencengkram bajunya lagi.
"Cukup Diandra berhentilah berpura-pura menjadi wanita suci. Aku tau semuanya Diandra, Kenapa kamu setega itu Diandra di mana hatimu." Teriaknya lagi.
"Apa Laura, aku tida mengerti." Lirihnya pelan.
Kamu tau dengan jelas, aku bukan Laura , Laura sudah kamu bunuh. pernyataan Emeli yang di lontarkan membuat Devan menganga tak percaya dia masih tertegun untuk memastikan.
" Aku tidak menyangka kamu setega itu, bahkan kamu membunuh seorang ibu sampai anaknya menjadi yatim, kamu benar-benar iblis Diandra."
__ADS_1
maaf baru bisa up, lagi bikin naskah sebelah jadi harus membagi waktu tapi usahain sampai tamat terima kasih buat pembaca setia 🤩😘