Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
lebih penting


__ADS_3

Diandra turun dari ranjang dan berjalan memasuki ruang baju, dia mencari apa yang sebenarnya Emeli temukan.


Dia mengedarkan pandangannya lalu menyusuri sudut-sudut sembari menyibak-jibak baju, gaun, dan jas yang tergantung rapi, setelah lama mencari keningnya mulai berkerut bingung apa yang sebenarnya Emeli dapatkan.


Diandra sangat kesal, dia tidak menyadari apa yang membuat Emeli bersikap mencurigakan.


"Sebenarnya apa yang dia cari, aku yakin sekali tidak meninggalkan bukti sedikitpun yang membuat orang lain curiga, lalu kenapa dia mengendap-endap seperti seorang pencuri keluar dari sini."


"Sial... teriak Diandra.


Dia menaikan satu tangan kepingannya sedang satu tangannya memijat pelipisnya memikirkan sikap Emeli yang mencurigakan membuatnya frustasi.


****


Di kamar Emeli, Devan yang sedang gelisah bergegas keluar dengan langkah kaki kencang dia yakin sekali kalau Emeli keluar menemui Saga, lalu mengepalkan tangan dengan sorot mata penuh emosi


"Laura di mana kamu... awas saja kalau kamu bersama dengan Saga" tiba-tiba langkahnya terhenti menyadari orang yang di cari sedang turun dari tangga.


Emeli turun dengan tatapan kosong pikirannya bercampur aduk antara dua pilihan harus lari menjauhi Devan yang begitu mengerikan, atau tetap tinggal mencari bukti yang seolah menemui titik terang.


Devan menarik satu sudut bibirnya menyunggingkan senyuman menatap Emeli yang turun dari tangga bertelanjang kaki dengan rambut yang terurai sedikit berantakan.


Apalagi memakai kemeja putih Devan, yang terbalut seksi di tubuhnya dengan celana levis yang menutupi kaki jenjangnya.


Emeli terlihat begitu cantik sangat menggoda meski wajahnya terlihat sembab, tidak mengurangi pesonanya, Devan mendekat dengan langkah senang.


Brukk.... Emeli yang berjalan tidak fokus menabrak tubuh Devan yang tiba-tiba muncul di depannya, Seketika tubuh Emeli terjungkal beruntung Devan memegang pinggang Emeli sedangkan Emeli yang reflek memegang bahu Devan agar tubuhnya tidak terjatuh.


Sesaat hening terasa dengan tatapan saling beradu.Tampa aba-aba Devan mengecup kening Emeli membuatnya kesal lalu buru-buru bangkit.


"Kamu...?" ucap Emeli kesal sembari mengacungkan tangan ke tubuh devan dengan sorot mata penuh kebencian.


"Apa mau marah, itu hanya hukuman ringan dari ku, kamu tau...., seharusnya aku yang marah dari tadi kebingungan mencari mu." tegasnya santai dengan tatapan tajam.


"Hah....Emeli berdecak kesal, percuma berdebat dengan seorang lelaki yang tidak punya hati seperti mu." lalu bergegas pergi namun tiba-tiba tangannya di cekal Devan. membuatnya berbalik menatap Devan sembari meronta.


"Lepaskan Devan...." teriaknya,Devan hanya memicingkan mata menatap perlakuan Emeli.


"Tidak..... kamu dari mana kenapa turun dari lantai atas, tidak biasanya kamu ke sana.?" Emeli terperanjat atas pertanyaaan Devan dia bingung harus bilang apa.


"Jagan bilang kamu akan bunuh diri melompat dari balkon atas, Karena tidak bisa bersama selingkuhan mu." tanyanya menyelidik.


Emeli terperanjat atas penyataan Devan sekaligus bernafas lega karena tidak mencurigainya.


"Kamu pikir aku selemah itu, aku tidak akan menyia-nyiakan nyawaku, hanya karna ulah lelaki sepertimu, Kamu tau Devan Ardiansyah aku sangat membencimu. jawabnya tegas dengan manik mata penuh amarah." Devan menanggapinya dengan senyuman.


"Aku tidak peduli kamu membenciku yang aku tau aku mencintaimu, dan suatu saat akan aku buktikan kalau kamu akan menerima cintaku" jawabnya santai dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Tidak akan...." teriak Emeli lalu mengigit tangan Devan.


"Aww......" Devan meringis kesakitan lalu melepaskan tangan Emeli, dengan cepat Emeli kabur lalu masuk kamar. Dia menahan pintu dengan tubuhnya bersama debaran jantung berpacu lebih cepat.Lalu memejamkan mata mecoba menetralkan jantung dengan deru nafasnya yang kian memburu.


"Kamu harus tahan Emeli.... kamu harus kuat,Jagan sampai Karna keegoisan mu Saga menjadi korban..


Dert dert dert


ponsel Emeli berdering membuatnya membuka mata, Emeli bergegas mengambil ponsel yang tertera nama Saga lalu mengangkatnya.


"Halo Saga"


"Emeli kamu dimana, kamu tau betapa khawatirnya akau dari tadi handphone mu tidak aktif.


Setelah aktif tidak ada satupun pesanku yang kamu balas." dari sebrang sana suara Saga terdengar khawatir


"Saga tenang lah aku tidak apa-apa"


"Tidak aku tidak percaya ,aku tau tadi Devan menyeret dengan marah"


"Saga aku baik-baik saja Devan tidak melakukan apapun padaku"


"Tidak kamu bohong kan,Jagan menutupinya dariku Emeli, kamu adalah tanggung jawabku karna aku kamu terlibat dari masalah ini."


"Saga aku tidak papa percayalah."


lalu saga mematikan ponselnya.


"Halo.. Saga halo...."


Emeli menatap ponselnya yang sudah terputus


"Apalagi ini..." teriaknya lalu mengacak-acak rambutnya kesal


***"


Devan tersenyum menatap punggung Emeli yang menjauh lalu menghilang di balik pintu


"Devan...." suara Diandra terdengar di balik punggungnya, membuat Devan berbalik sedikit terkejut menatap Diandra yang telah berjalan turun di tangga dengan sorot mata penasaran.


"Diandra kenapa kamu turun sayang, nanti kamu jatuh lagi," ujar Devan berlari kecil menghampiri Diandra lalu memapahnya.


"Aku menunggu mu terlalu lama makanya aku turun" lirihnya tampak sedikit kesal.


"Maaf sayang tadi aku...." jawabnya gugup mencoba mencari alasan yang tepat di depan Diandra yang menatapnya tajam.


"Ah aku tadi ke kamar mandi sayang, sudah tidak bisa di tahan. Maaf sayang membuatmu menunggu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku mengerti." Devan memapah Diandra mengiringnya ke kursi meja makan.


"Kamu duduk di sini ya....., aku akan buatkan bubur yang sepesial untuk istriku yang tercinta ini." Devan mencium kening Diandra lalu bergegas memasak di dapur.


Diandra menatap Devan yang begitu telaten dan ahli dalam memasak,sembari masak sesekali Devan melirik Diandra lalu tersenyum.


Diandra membalas senyuman Devan dengan hangat, lalu berbalik memunggungi Devan wajah yang tadi ramah berubah drastis dengan raut wajah penuh amarah dengan sorot mata tajam.


"Kamu pikir aku tidak tau sebenarnya apa yang kamu lakukan tadi bersama Laura, aku harus cari cara agar Devan membencinya."


Setelah masak Devan menyuapi Diandra dengan telaten lalu mengantarnya ke kamar untuk istirahat


Devan membantu membaringkan Diandra di tempat tidur lalu menyelimutinya dengan hangat


"Tidurlah, sayang agar tubuh mu cepat pulih." ujar Devan sembari membelai rambut Diandra, diandra menjulurkan tangan menyentuh punggung tangan Devan


"Temani aku tidur..... aku tidak tenang kalau aku tidur sendirian," lirihnya dengan tatapan memohon, sejenak Devan terdiam mencoba berpikir apa yang harus dia lakukan, sebenarnya dia ingin menemui Emeli menyelesaikan masalah tadi. tapi apa boleh buat Diandra lebih membutuhkannya.


Devan mengangguk Devan berbaring di samping Diandra, lalu menarik tubuh Diandra dalam pelukannya, dengan perasaan resah di hatinya.


"Terima kasih sayang" ucap Diandra


"Sama-sama, tidurlah aku tidak akan ke mana-mana." Ucapnya membelai rambut Diandra. Sedangkan Diandra mendekatkan wajahnya ke dada Devan agar bisa senyaman mungkin di pelukan suaminya.


"Malam ini aku tidak akan biarkan kmu menemuinya lagi devan."


*******


Emeli yang gelisah mondar-mandir di depan gerbang sampai sekuriti keheranan menatapnya


"Ada apa nona, bisa saya bantu?" ucap sekuriti di samping Emeli yang terhalang gerbang.


"Ah tidak, aku sedang menunggu Saga ada sedikit masalah." tegasnya mencari alasan.


"Apa boleh saya bantu" tanyanya sopan


"Tidak usah hanya masalah kecil ,satu lagi Jagan bilang kalau saya di sini,soalnya Devan sedang mengurus Diandra yang lagi sakit aku takut dia kepikiran." bohong Emeli


"Baik nona" sekuriti ini sedikit merunduk lalu melangkah pergi.


Terlihat lampu sorot mobil mulai mendekat lalu berhenti. benar saja setelah mobil itu berhenti Saga keluar buru-buru menghampiri Emeli


"Kamu tidak apa-apakan?" tanyanya merengkuh kedua lengan Emeli sembari menelisik seluruh tubuh Emeli dari ujung kaki ke ujung rambut dengan khawatir


"Aku tidak apa-apa" jawab Emeli yang menurunkan Saga dari lengannya Tampa kata Emeli menarik Saga ke dalam mobil


"Kita pergi dari sini" ujar Saga,saat saga memutar kunci mobilnya dengan cepat tangan Emeli memegang tangganya sembari menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Ada yang jauh lebih penting selain pergi dari sini."


__ADS_2