Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
mulai curiga


__ADS_3

Devan pulang sambil memapah Diandra masuk masuk pandangannya tertuju pada kamar Emeli yang tertutup rapat


"Apa dia masih di dalam, atau dia kabur,"


"Kakiku lemas sekali sayang, tolong gendong aku ya ," ucap Diandra mengalihkan perhatikan suaminya yang terus menatap kamar Laura.


" Ah iya..... "Devan pun mengendong Diandra menaiki tangga menuju kamar ,setelah sampai Devan membaringkan tubuh Diandra di rajang dengan perlahan.


"Baju kamu kotor diandra aku ambilkan baju ganti sebentar ya,?"


" Terima kasih sayang," lirihnya


"Sama-sama " jawab Devan sembari mengusab lembut kepala istrinya lalu melangkah pergi menuju ruang baju.


*******


"Baju ini...." ucap Emeli terperanjat mengingat orang yang dulu mendorongnya ke jurang sekilas sama dengan baju hitam ini.


Emeli mencoba mengambil baju


itu untuk memastikan, tiba-tiba terdengar suara kenop pintu. Membuat Emeli terperanjat lalu bersembunyi di belakang gaun-gaun Diandra yang tergantung rapi.


Devan masuk mengerutkan kening menatap ruangan ini terlihat sedikit berbeda, tapi entah apa, perasaannya mulai curiga.


Devan melangkah ingin mengambil baju ganti Diandra dia mendekati lemari dengan perasaan yang berbeda


"Kenapa aku merasa ada orang lain selain aku, apa hanya perasaanku saja ya ."


Tiba-tiba Devan memegang tekuk lehernya yang mulai meremang, lalu meneruskan langkahnya menuju lemari Diandra.


Sedangkan Emeli membelalakkan mata dengan nafas memburu menatap langkah Devan yang semakin mendekat,dia mengeratkan pegangannya ke gaun-gaun yang menutupi dirinya.Melihat kaki Devan berada persis di depannya.


"Aku harus bagaimana kalau aku ketahuan aku harus bilang apa,"


Devan mengambil baju di rak baju Diandra yang berada di atas Emeli, Dia dengan santainya mengambil tampa menyadari Emeli bersembunyi di bawahnya.


Devan menarik satu baju namun naas salah satu baju terjatuh, membuatnya menghela nafas menatap baju yang terjatuh di kakinya


Sedangkan Emeli membelalakan mata menatap baju itu berada begitu dekat dengannya, pasti dia akan ketahuan kalau Devan merunduk, Emeli mempererat penganngannya dengan peluh yang bercucuran.


"Aku pasti ketahuan aku harus memberi alasan apa, "


Jantung Emeli berpacu lebih cepat seakan telah berlari maraton, dia mulai pasrah jika di ketahuan hal apa yang akan terjadi pada dirinya .

__ADS_1


Devan membukukan badan, lalu menjulurkan tangan untuk mengambil baju yang tergelatak di lantai, tiba-tiba perasaan curiga mulai timbul saat menatap gaun yang di rasa aneh dan sedikit bergerak karena tersentuh tubuh Emeli yang mulai bergetar takut ketahuan.


Sejenak Devan menatap gaun itu dengan tajam lalu menjulurkan tangan untuk membukanya


"Devan sayang kenapa lama?" suara Diandra terdengar di balik pintu membuat Devan bergegas menurunkan tangannya yang melayang lalu buru-buru mengambil baju yang tergelatak di lantai,lalu di taruh nya di keranjang kotor dan bergegas keluar.


Emeli menghela nafas lega mendengar pintu tertutup, dia keluar dengan perlahan dari


gaun-gaun indah yang menutupi tubuhnya.


Emeli ingin mengambil baju hitam itu tiba-tiba keningnya berkerut menatap lemari sudah di kunci Devan, dia mencoba menarik gagang lemari namun terlalu kuat membuat Emeli mengecap kesal, lalu memijat pelipisnya karna frustasi.


"Kenapa harus di kunci sih ,tidak Emeli Jagan bertindak gegabah kamu bisa mengambilnya lain kali, dan memastikan ke Saga apa benar itu baju yang sama yang di pakai pelaku saat mendorong ku ke jurang.


jika memang benar, berarti pelakunya adalah Diandra, tapi model baju seperti itu banyak di pasaran, apa ini hanya prasangka ku saja ya


Sebaiknya aku keluar dulu, nanti setelahnya aku akan mencari cara mengungkap kebenaran nya."


Emeli melangkah mendekati pintu, lalu membuka sedikit pintu itu, dia mengintip di celah yang terbuka, terlhat Diandra sedang berbicara dengan Devan.


*****


Setelah Menganti baju Diandra, Devan duduk di samping Diandra karena tangannya terus di pegangin sementara Devan merasa cemas takut Emeli kabur darinya dan ingin memastikan.


"Tidak aku ingin kamu menemani ku," jawab Diandra terdengar manja.


"Aku tau Devan kamu pasti ingin menemuinya kan, tidak akan aku biarkan Devan, Hari ini kamu harus bersama ku."


Devan mengerutkan kening berpikir keras mencari alasan agar terbebas dari Diandra.


Sedetik kemudian Devan menyunggingkan senyuman liciknya.


"Diandra sayang, kamu kan, belum minum obat, sekarang minum obatnya biar cepat sembuh."


"Tapi..." jawabnya sedikit ragu.


"Tidak ada tapi-tapian, aku tidak mau melihat mu sakit begini ,jadi minum obat dan istirahat," ujar Devan lembut sembari mengusap pipi Diandra.


"Tapi aku, mau kamu selalu bersama ku," jawab Diandra sambil bergelayut manja di lengan Devan, membuat Devan tersenyum lembut


"Tentu saja sayang aku akan selalu menemanimu. Tapi sebelum minum obat kamu kan harus makan dulu." ujar Devan lalu menari tubuh Diandra dalam pelukannya .


"Aku tidak usah makan, aku langsung minum obat saja ya. Rengek Diandra dalam pelukan Devan.

__ADS_1


"Sayang itu tidak baik untuk lambung mu, aku ambilkan makanan dulu ya" Devan melepaskan pelukannya.


"Aku tau Devan ini alasan mu kan ingin bertemu dengan Emeli"


"Apa harus kamu yang mengambilnya,?"ucap Diandra sembari memegangi tangan Devan membuat Devan menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri Diandra


"Lalu siapa lagi sayang bibi kan pulang kampung, tanyanya lembut.


"Kalau begitu aku ikut." ujarnya dengan wajah masam.Devan memegang kedua pipi Diandra dengan sorot mata mulai serius.


"Diandra sayang Jagan konyol aku gah mu kamu jatuh pingsan seperti tadi


aku mohon diandra, aku hanya ingin mengambilkan mu makan" ucapnya mulai kesal.


Diandra meluluh dia tidak punya lagi alasan untuk mencegah Devan pergi lalu melepaskan penganngnya.Devan berbalik dan tersenyum dia bergegas keluar dan sedikit berlari kecil menuju kamar Laura


"Ceklek ..... suara pintu kamar Emeli terbuka.


Mata Devan terbelalak menatap Emeli sudah tidak ada di kamar nya hanya ada koper yang berdiri di lantai.


Devan membuka koper itu sudah terisi baju baju Emeli, membuatnya kesal tiba-tiba pandangan teralih pada handphone yang tergeletak di lantai yang tadi Emeli hempaskan.


Devan mengambil handphone yang telah mati itu lalu menghidupkan nya kembali.


"Dert dert dert seketika pesan bermunculan dari Saga yang terlihat khawatir.


"Ini berarti Saga tidak tau dimana Laura, lalu dimana dia.ujar Devan kebingungan, dia mondar-mandir begitu frustasi memikirkan keberadaan Emeli.


Emeli mengintip terlihat Diandra tertidur. Lalu bergegas keluar, mengendap-endap melangkah dengan pelan.


Diandra membuka sedikit matanya dia terbelalak menatap Emeli seperti seorang pencuri keluar dari ruang baju


Sebelum keluar Emeli berbalik memastikan Diandra tertidur dengan cepat Diandra menggeliat lalu memunggunginya


Emeli yang sempat terperanjat akhirnya bernafas lega dia mengira Diandra tidak mengetahui kehadirannya dan melangkah keluar ruangan,Diandra membuka matanya dengan tatapan tajam.


"Apa yang kamu cari Emeli ,apa dia ingin mencuri, tidak kalaupun iya, sudah lama dia lakukan apalagi Devan, sangat menggilainya kalau soal harta Devan tidak akan berpikir untuk memberikannya.


Tiba-tiba Diandra tertegun lalu mendudukkan tubuhnya di atas ranjangnya


"Apa dia mulai curiga padaku, Aku tidak akan biarkan kamu mempunyai sedikitpun bukti tentang kejahatan ku.


Emeli... kamu tidak tau siapa lawan mu sebenarnya."

__ADS_1


Diandra Mencengkram kuat sprei sembari menggertakkan gigi nya dengan tatapan tajam


__ADS_2