
"Melihat ekspresi mu, aku yakin Laura tidak mengabari mu, tingkahnya masih seperti anak-anak Devan, jadi ku harap kamu bisa mengerti."
"Kenapa kamu mengijinkannya pergi." ucap Devan dengan ketus dengan wajah yang memerah menahan kesal.
"Kenapa tidak... saga yang membawanya, aku tau saga akan menjaga laura dengan baik."
"Kalau memang saga sangat sempurna lalu, mengapa kau memaksaku menikahi putrimu." dengan tatapan tajam.
Wijaya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Karena dulu laura sangat mencintaimu, tapi kamu tau kan kondisinya sekarang ,dia lupa ingatan Bahkan dia lebih mempercayai saga dari pada aku ayahnya." dengan nada santai sembari menaburkan benih ikan ke kolam. "Kapan mereka kembali.?"
"Entahlah mereka tidak memberitahuku tentang itu."karena kesal melihat mertuanya yang seakan acuh, tiba-tiba Devan mengambil pakan ikan dan melemparnya ,Wijaya yang biasa melihat sikap arogan Devan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan menantunya.
"Kalau dia menelpon bilang suruh pulang, kalau tidak aku sendiri yang akan memaksanya." lalu melangkah pergi dengan emosi.
Wijaya menghela nafas panjang sembari menatap punggung Devan yang menghilang di kejauhan."Laura..., Laura kenapa kamu bisa mencinta orang yang angkuh seperti dia.
Devan masuk mobil membanting pintu dengan cukup keras. Lalu mengusap pelipisnya dengan wajah lesu."Dia tidak di sini... aku harus mencarinya kemana.
Sial membanting tangannya dengan kasar.
"Aku benar-benar bisa gila bila begini terus.'
Jhoni hanya mematung di kursi kemudi diam tampa kata.
"Jhoni apa aku harus membayar orang untuk mencari Laura, untuk memaksanya pulang.?"
"Sebaiknya Jagan tuan."
"Hah apa kau sadar, apa yang barusan kamu ucapkan."menatap Jhoni dengan kesal.
"Maaf tuan, anda tau sendiri nona Laura sekarang sangat berbeda dengan yang dulu."
"Maksudmu?" menatap Jhoni dengan intens, yang sedang berbalik menatapnya dari kursi kemudi.
"Nona Laura dulu sangat mencintai anda selalu mengikuti apa yang anda perintahkan. Sedangkan yang sekarang begitu acuh, jika anda terus mengekangnya kemungkinan besar nona akan pergi.
"Dia itu istriku... tidak semudah itu dia akan pergi." "tentu saya mengerti tuan, tapi anda lupa pernikahan anda adalah sebuah perjanjian, jika dia tidak merasa bahagia dia bisa meninggalkan anda... apalagi tuan besar begitu menyanginya, jika nona mempunyai alasan tepat. Tentu tuan besar akan menyetujui permintaan nona untuk bercerai dari anda.
"Tidak aku tidak ingin itu terjadi... lalu aku harus bagaimana,menunggu dia seperti orang bodoh begitu.?" "Tidak tuan berilah dia sedikit kebebasan,lagi pula dia pergi bersama saga, aku yakin saga akan menjaganya dengan baik."
"Jadi menurutmu... saga lebih baik dariku begitu?" dengan tatapan tajam seperti mau menerkam.
"Bukan seperti itu maksudku tuan."
"Di...am kamu membuatku tambah pusing."
dengan suara membentak.
__ADS_1
"Laura kamu membuatku, benar-benar gila" memejamkan mata lalu menyenderkan kepalanya ke kursi mobil.
"Aku tidak menyangka, tuan akan sekacau ini, apa tuan begitu mencintai nona."
menghela napas letih lalu melajukan mobil.
******
Malam datang Emeli yang duduk sendiri memandang gelang yang sudah ditaruh dalam plastik.Tiba-tiba seseorang memegang bahu emeli membuat dia tersentak lalu berbalik.
"Saga aku kira siapa..." sembari memegangi dadanya dengan nafas tersengal.
"Aku sudah mengetok pintu berkali kali, tidak ada jawaban, jadi aku masuk saja, ini aku memesankan susu hangat untuk mu. lalu menyodorkannya di depan Emeli.
"Terima kasih" mendongakkan wajah sembari tersenyum.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan...?" mengambil gelang di atas meja lalu menatapnya intens.
"Aku harus pastikan dulu, saga gelang ini milik siapa."
"Maksudmu?"
"Kita tidak tau gelang ini milik naina, atau pelakunya dan banyak lagi kemungkinan yang lain, untuk memastikan nya kita harus menemui keluarga Dr naina."
"Kamu benar emeli." Saga menganggukkan kepala, lalu memegang dagunya seraya berfikir.
Bagaimana bisa gelang itu di sana, sedangkan jaraknya cukup jauh dari lokasi kecelakaan."
"Itu juga yang menurutku mencurigakan,
kuncinya kita harus tahu gelang ini milik siapa.
"Aku juga sudah mendapat informasi tentang keluarga naina, dia seorang singel parent tinggal bersama seorang anak dan ibunya,
Mungkin besok pagi kita akan ke sana.
"Bagus saga lebih cepat lebih baik."menatap saga sembari tersenyum.
"Tadi tuan wijaya menelpon,katanya suamimu datang ke rumah mencari mu."
"Dia bukan suamiku tetapi suami laura"menatap sinis saga.
"Iya maaf... bahkan Devan mengancam akan menjemput kita pulang."
"Orang itu benar-benar keterlaluan."
"Emeli aku lihat Devan berubah sikapnya padamu, kamu tau.. dulu saat bersama Laura saja dia tidak pernah menanyakan kabar apalagi mencarinya.Sepertinya dia mulai menyukaimu."Emeli memutar matanya dengan malas.
__ADS_1
"Itu bukan hal penting bagiku, Bahkan aku ingin mencari cara agar menjauh darinya."
"kamu aneh... bahkan banyak para gadis berlomba-lomba ingin merebut hatinya, Siapa tidak tau Devan Ardiansyah salah satu pengusaha ternama, memiliki paras tampan dan uang Tampa batas bahkan Laura tergila-gila padanya."menatap emeli yang terlihat acuh Tampa ekspresi.
"Harta bukan hal utama bagiku... yang penting aku merasa Yaman, aku heran kenapa seorang gadis muda seperti Laura bisa mencintai lelaki berumur seperti Devan, bukannya melanjutkan kuliah malah meminta menikah." menggelengkan kepala dengan senyum mengejek.
" belum terlalu tua... Devan masih berumur 27 tahun,itulah cinta kadang yang kita pilih belum tentu memilih"saga menundukkan wajahnya dengan sedih.
"Benarkah apakah cinta mu tidak menerima mu?"dengan sorot mata penuh tanya.
Saga menghela nafas lalu mengangguk.
"Mungkin sampai kapanpun aku tidak bisa memilikinya... dengan wajah sendu.
"Hai Jagan sedih gitu dong, kita senasib cinta pertama ku meninggalkanku Tampa memberi penjelasan, itu sebabnya aku menjauhi cinta."
tiba-tiba saga menarik hidung Emeli.
Awwww sakit... Emeli memegang hidungnya dengan wajah masam.
"Jagan begitu nanti jadi perawan tua baru tau rasa." ucap saga sembari tersenyum mengejek.
"Kamu sendiri tidak punya pasangan, malah meledek ku sudah kita tidur." emeli bergegas lalu menutup pintu kamar dengan keras.
Sedangkan Saga hanya tersenyum.
*****
Emeli dan saga sudah berada di depan rumah yang cukup besar, salah satu asisten rumah tangga menyuruhnya masuk.
"Silahkan duduk, saya akan panggilkan nyonya.
Setelah beberapa lama seorang wanita paruh baya datang dengan seulas senyum yang tersungging di bibirnya.
"Kalian siapa ya?"
Saya Sagara dan ini emeli temanku."sembari bersalaman "Saya Susi.."
"Maaf nona, jika kami mengganggu waktumu?"
"Iya tidak apa-apa silahkan duduk..." menjulurkan tangan mempersilahkan.
"Sebenarnya kami ingin menanyakan sesuatu jika anda tidak keberatan?"
"Katakanlah"dengan sorot mata datar.
"Sebenarnya kami ke sini ingin menanyakan tentang almarhum putri anda dr naina."
__ADS_1
"Memangnya kenapa dengan naina?" mendogakkan wajah sedih dengan mata mulai mengembun.