Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
cantik


__ADS_3

Devan mengepalkan tangan,dengan sorot mata


penuh amarah ,melihat mereka datang,


"halo tuan Devan Ardiansyah, yang terhormat,


tentu anda tidak menyangka,akan bertemu denganku di sini bukan?"


Hahahaha


pria itu tertawa lepas.


"Dermawan,Brensek kau, ini semua ulah mu,


apa yang kau mau hah?"


"tentu saja aku mau menghabisi mu,


setelah membuat perusahaan dan nama baik ku hancur,


ini adalah hari terakhirmu berada di dunia ini.


dengan sorot mata penuh amarah dan seringai licik.


"cepat habisi dia"


tiga pria kekar mendekati Devan, pertarungan tak bisa di terelakkan lagi ,battle antara seorang pria melawan tiga,


tidak di sangka, dengan keahlian karate Devan yang mempuni ,membuat tiga pria itu tersungkur ,meringis menahan perih.


"Devan..?"


suara teriakan dermawan menggelegar,


saat Devan berbalik , dengan deru nafas masih tersengal.


dooooorr,


tubuh Devan ambruk,


lengan sebelah kiri Devan mengeluarkan darah


Devan , meringis memegangi pundaknya, merasakan sakit yang luar biasa,


dengan tatapan penuh amarah, menatap pria di depannya yang sedang mengacungkan pistol.


Emeli terperanjat, lalu berlari mendekati Devan


"kau tidak apa-apa?"


dengan wajah yg khawatir dan mata mulai mengembun.


"pergi, pergi dari sini ,Devan mendorong tubuh emeli dengan kasar.


hiks hiks hiks


"tidak aku tidak akan pergi"


"aku mohon pergilah, "aku tidak bisa menyelamatkan mu"


dengan nada membentak.


"Aku mohon... , Laura setidaknya aku tidak merasa bersalah lagi,"


Devan menatap emeli dengan sorot mata memohon.


Emeli mengangguk, lalu berlari pergi dengan hati yang berkecamuk.


Devan menatap nanar kepergiaan emeli, ada rasa sesak di dada, karena sebenarnya Devan berharap ,emeli akan menemaninya.


Sedangkan dermawan hanya, tersenyum mengejek melihat interaksi keduanya.


"Kasihan sekali, kekasihmu saja ,tidak mau menemanimu di saat terakhir."


"Urusan mu hanya bersamaku, bukan dia,"


"Baiklah aku akan membereskan mu, lebih dulu." Dermawan mulai melangkah lebih dekat, mengarahkan pestol ke kepala Devan,


bersiap-siap lah pergi ke neraka.


Devan memejamkan mata.


Dooooorr


suara tembakan menggema namun, Devan tidak merasakan tembakan lagi ,dia membuka mata , dan terlihat emeli dengan deru nafas memburu sambil memegang kayu, sedangkan dermawan tersungkur meringis kesakitan memegang kepalanya yang berdarah.


dengan cepat emeli mengambil pistol itu dan mengacungkannya pada dermawan.


"Jangan mendekat kalau tidak, akan ku tembak?"


"Dasar gadis sialan ,harusnya aku membereskan mu dahulu," dengan sorot mata penuh amarah.


"Sedangkan Devan diam mematung tidak percaya apa yang di saksikan.


"Ayo kita pergi dari sini.


emeli mendekati Devan dan memapahnya.


emeli dan Devan berjalan,mundur.


Gadis itu mengarahkan senjata pada empat pria yang telah berdiri di depannya.


Door, dor

__ADS_1


"Mundur, aku bilang...


Emeli melayangkan pistol ke segala arah.


para pria itu mengangkat tangan.


"Hari mulai gelap ,tidak ada cara Lain..."


kecuali kita bersembunyi di hutan, kita tidak mungkin bertahan kalau terus di sini."


Tampa menjawab Devan hanya menatap lekat wajah Emeli.


emeli menggandeng Devan berlari ke dalam hutan,di buntuti empat pria yang mengejar,


setelah di rasa cukup jauh mereka, bersembunyi di semak-semak yang rimbun.


Sedangkan para pria itu, berada di depannya, hanya tertutupi semak belukar , mereka yang kebingungan Mecari Devan dan emeli,


"Di mana mereka...?"


"Tadi saya melihat disini bos"


"Dasar bodoh,,,! aku tidak mau tau ,kalian temukan mereka hidup atau mati kalau tidak besok mayat kalian yang terlentang disini"


"Tapi bos?"


"Tidak ada tapi-tapian ,kalian tau yang kita serang bukan orang sembarangan,


kalau dia masih hidup dapat di pastikan kalian semua akan mati,


"Cepat cari..."


dengan sorot mata penuh amarah.


lalu seorang pria berjalan mendekat ke arah Devan dan emeli , menyibak-jibak semak belukar yang berada di depan mereka.


tubuh emeli bergetar, mata mengembun, deru nafas memburu ,ia memegang erat pistol di tangan seolah yakin dirinya akan tertangkap karena jarak yang begitu dekat.


Tiba-tiba tangan kekar Devan menutup mulut emeli seraya menggeleng kepala,


mata mereka saling beradu Dengan pikiran yang semakin dalam.


"Hei..." teriak pria yang cukup jauh.


ngapain di situ ,mereka tidak ada disini , ayo pergi ,nanti bos marah."


pria itu menggaruk lehernya,


,"tadi aku yakin sekali mereka di sini", lalu melangkah pergi.


Emeli Manarik tangan Devan dan bernafas lega,


"Mungkin kita sudah aman, ayo kita pergi.


sepertinya ,di sini aman.


emeli duduk dan menyenderkan tubuhnya ke sebatang pohon.


"Kenapa diam duduklah," menepuk tanah


di sebelahnya.


"Bagai mana luka mu, apa sakit?"


Devan hanya mengangguk,


emeli mengambil sapu tangan ,dan mengikat lengan Devan yang masih basah karna darah.


"Jangan, terlalu banyak bergerak biar darahnya tidak mengalir,bertahanlah,


semoga besok pagi aku bisa membawamu keluar dari sini," dengan wajah khawatir dan mata mulai mengembun,


"Apa kamu takut?"


emeli menggelengkan kepala.


tenanglah aku baik-baik saja, menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.


"Bagaimana bisa baik-baik saja, lihatlah darahnya begitu banyak?"


"Apa kamu khawatir?"


"Tentu saja..."


sambil menyeka air mata yang telah lolos di pelupuk mata.


hiks hiks hiks


"Hei jangan menangis, kau terlihat lucu ,kalau menangis,mencubit pipi emeli dengan tangan kanan.


"Apa di saat seperti ini masih bisa bercanda" emeli menghempas tangan Devan.


"Awwww" teriaknya


Devan meringis,


"Maaf aku tidak sengaja , lalu melihat luka di lengan Devan.


Devan hanya, mengangguk.


"Kenapa kau kembali, harusnya kau pergi,


,bahkan kau bisa mati karna aku.?"

__ADS_1


"Aku percaya kematian itu adalah takdir, jika jalanku mati bersama mu itu tidak akan bisa ku hindari,


tapi meninggalkan dan membiarkan mu mati ,aku akan merasa bersalah seumur hidupku."


"Terima kasih"


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya, terimakasih untuk kembali dan tidak meninggalkanku."


"Aku minta maaf atas perlakuan yang telah kasar padamu?"


"Sudah, Jagan di bahas lagi."


"tidak ,aku tulus minta maaf bukan karena papa, aku menyesal telah salah menuduh mu."


"Aku tahu... ,aku sudah memaafkan mu,


emeli tersenyum dan membuang


padangan ke arah Laen.


"Saat itu aku sangat kacau ,lagipula dulu kamu ,tidak bisa berenang jadi aku menyangka yang tidak-tidak."


tidak bisa berenang ?"


emeli mengerutkan dahi mencoba berfikir,


"Ternyata selama ini Laura tidak bisa berenang" ucapnya dengan lirih,


"Kau mengatakan sesuatu?"


"Tidak,


"Seiring berjalannya waktu seseorang bisa berubah."


"Kamu memang benar aku sempat berfikir ,kalau kamu bukan Laura?"


Deg


"Kenapa begitu?"


"Karena begitu banyak perubahan yang terjadi padamu,tapi aku sadar kalau memang selama ini pikiranku salah, kamu memang Laura."


"Kenapa diam ?"


tidak aku hanya melihat bulan lihatlah,


mengarahkan tangannya ke langit.


"Bulan itu sangat cantik dan hamparan bintang yang indah, menjadikan langit itu sempurna


bahkan hanya menatapnya saja aku bahagia."


namun Devan hanya diam mematung, menatap lekat wajah emeli yang tersenyum,


"Kamu kenapa, apa semakin sakit?" mengibaskan tangan di depan wajah Devan yang melamun.


"Kidak aku tidak apa-apa,"


"Sudahlah sebaiknya kita istirahat,


merekapun beristirahat di bawah pohon besar,


mata emeli mengerjjab, samar-samar mendengar suara orang meracau..."


dia mengucek matanya,dan melihat sumber suara.


Matanya terbelalak, melihat Devan menggigil dan meracau.Dengan cepat emeli menghampiri,"Kamu kenapa?"


memegang kening Devan yang terasa panas karena demam.Emeli panik dia membuka jaket yang berada di pinggangnya dan menutupi ke tubuh Devan."dingin,dingin"


Ucap Devan lirih, tubuhnya menggigil hebat,dengan keringat yang bercucuran,


"Tidak ada cara lain,"


akhirnya emeli menyenderkan kepala Devan di bahunya dan tangan emeli melingkari tubuh Devan."Tenanglah kamu akan baik-baik saja , sambil menepuk-tepuk punggungnya.


Sinar matahari mulai menyingsing bersama embun pagi yang menyapu dedaunan ,


seorang lelaki yang tengah tertidur ,mulai terbangun bersama mentari yang menyinari wajahnya.


" Devan menutupi wajahnya dengan tangan


karna matanya silau, terkena sinar matahari.


Dia terkejut melihat tubuhnya sedang di peluk seorang wanita,yang masih tertidur


, Devan mengingat kejadian semalam,


menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman ,


dia menyibak kan rambut yang menutupi wajah emeli,


"Cantik..."


...****************...


...****************...


...****************...


terimakasih telah mampir semoga suka,

__ADS_1


__ADS_2