
Emeli menghempaskan tangannya dan bergegas keluar di saat yang sama Jhoni masuk hingga mereka berpapasan
"Nona bagaimana kabar anda ?"ucap Jhoni sopan.
"Kabarku buruk karena Bos mu," jawabnya acuh sembari berjalan dengan kesal.
Jhoni mengerutkan keningnya mendengar ucapan Emeli, lalu menatap bosnya yang melangkah mendekat, bersama Diandra yang merangkul lengannya dengan mesra.
"Mau kemana dia Jhoni ?"tanya Devan sembari melihat punggung Emeli yang terus menjauh.
"Entahlah tuan, Nona tidak bilang apa-apa"
Devan menarik satu sudut bibirnya menyunggingkan satu senyuman.
"Pergilah Kemanapun kamu bisa Laura ,karena kamu tidak bisa lari dariku,hanya aku tempat mu kembali."Lirihnya pelan namun masih bisa di dengar.
Diandra yang mendengar ucapan Devan memutar matanya malas dengan tangan mencengkram baju Devan, namun tanpa Devan sadari.
"Tuan ini sudah waktunya Anda berangkat" ujar Jhoni,mendengar penuturan Jhoni Devan mengangkat tangannya, lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. dan berbalik menatap Diandra di sampingnya.
"Sayang aku berangkat dulu.. kamu mau bareng atau berangkat sendiri," tanya Devan dengan tatapan lembut
"Aku berangkat sendiri saja sayang," jawab Diandra sembari tersenyum.
"Yasudah aku berangkat dulu." Lalu mengecup kening Diandra dan melangkah pergi.
Devan berjalan menuju mobil dan menghilang bersama mobil yang berjalan menjauh.
"Devan... akan aku buat kamu membeci Emeli aku janji, Jagan sebut aku Diandra kalau tidak bisa membuatmu mengusirnya dari hidup mu, aku sudah cukup bermain dengan kasar sekarang waktunya bermain dengan lembut." lalu tersenyum licik.
*******
Di kantor Devan begitu kesal dia selalu marah sepanjang waktu, semua karyawan kena semprot, entah salah atau tidak namun modnya hari ini benar-benar buruk.
"Jhoni, aku minta berkas-berkas orang yang berkerjasama dengan perusahaan Wijaya" tegasnya dengan wajah kesal.
"Baik tuan," ucap Jhoni seraya menundukkan sedikit kepalanya lalu melangkah keluar.
"Tunggu... ada satu hal lagi Jhoni," membuat Jhoni menghentikan langkahnya dan berbalik menatap bosnya
"Ada apa lagi tuan?" jawabnya dengan sopan
"Buat mereka memutuskan kerja sama dengan perusahaan Wijaya, berikan kompensasi yang besar aku tidak peduli meski harus sedikit merugi ,yang penting Laura dalam kendaliku."
__ADS_1
"Tapi tuan, bukankah itu perusahaan mertua anda tuan?" tanya Jhoni dengan tatapan menyelidik.
"Aku tidak perduli, aku mau hari ini sudah di jalankan" teriaknya geram dengan tatapan tajam menatap Jhoni di depannya.
"Baik perintah anda akan segera saya laksanakan." Jhoni keluar ruangan dia menghela nafas lega.
"Jangan-jangan tuan Devan berantem lagi dengan nona Laura, dasar tuan bucin sampai semua karyawan kena imbasnya," ujar Jhoni sembari menggeleng kan kepala lalu meneruskan langkahnya.
"Laura akan ku buktikan pada mu, bahwa ucapanku bukan main-main," sembari mencengkram berkas di mejanya dengan tatapan penuh emosi.
"Laura...teriaknya, lalu menghempaskan berkas itu hingga berceceran di lantai.
Apa sepenting itu Saga, hingga kamu mau menuruti apa yang ku mau, baiklah Laura, aku ikuti segala permainan mu sayang, sembari mengepalkan tangannya dengan senyum kemenangan."
****
Wijaya yang sedang menyiram tanaman tiba-tiba mendogakkan wajah sembari tersenyum menatap putrinya datang dari kejauhan, melangkah kian mendekat.
"Laura sayang kamu datang nak" tanyanya,
"Iya yah."lalu mencium tangan wijaya,
"Kamu sendirian, mana Devan?" tanya Wijaya sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok menantu nya Devan.
"Aku sendirian yah."Peryataannya Emeli menghentikan pandangan wijaya dan berbalik menatap putrinya yang terlihat sedih.
"Tidak yah, aku hanya merindukan mu ,bolehkah beberapa hari ini aku menginap disini." ujarnya dengan tatapan mengiba. Mendengar itu,dengan cepat Wijaya merangkul putrinya.
"Kenapa tidak boleh, ini juga rumah mu, justru ayah senang kalau kamu pulang ke sini.jawabnya tersenyum."
Saga muncul dari pintu dia menyunggingkan senyum menatap Emeli sudah berada di rumahnya
Hem... Saga berdehem membuat Wijaya dan Emeli berbalik menatapnya lalu melepaskan pelukan.
"Saga..?"ucap Emeli yang melihat Saga tampil rapi dengan kemeja biru dan celana bahan, terlihat sangat tampan membuat Emeli menganga terpesona.
"Tutup mulutmu, aku tau aku terlihat tampan tapi apa harus memasang ekspresi seperti itu." ucap Saga dengan senyum meledek.
Emeli yang terkejut terbatuk seraya menutup mulut malu.
"Apa aku sakit kanapa saat bersama saga pikiran dan hatiku tidak sinkron begini,sungguh membuat malu "
"Kalian ini ada-ada aja, lebih baik aku pergi, memberi pakan ikan." Ujar Wijaya sembari menggelengkan kepala lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Kalau bercanda itu lihat kondisi donk ,masak ada ayah kamu bercanda begitu."
sembari mencubit perut Saga dengan wajah kesal.
"Awww sakit... sakit...ampun sakit..." saga meringis kesakitan namun Emeli tetap mencubit Saga dengan geram. Tidak ada cara lain Saga memeluk Emeli agar menghentikan cubitannya.
Kaget atas perlakuan Saga, Emeli mematung lalu mendogakkan wajah, menatap Saga yang sendang menunduk menatapnya intens
sesaat mereka terpaku dengan tatapan saling beradu.
"Lepaskan...." ucap Emeli setelah tersandar dari lamunannya,Emeli dan Saga menjadi canggung, secara serempak mereka saling memunggungi dengan pikiran masing-masing.
"Kamu... ucap Saga dan Emeli bersamaan ketika sudah berbalik.Membuat mereka tersenyum canggung.
"Ladies first..."ujar Saga dengan tangan mempersilahkan.
"Kamu belum berangkat,ini sudah siang." Ucap Emeli gugup.
" Ah... iya sudah siang, ini mau berangkat aku pergi dulu ya?" jawabnya malu-malu, Emeli mengangguk lalu melangkah masuk.
"Laura?" teriak Saga menghentikan langkah Emeli,lalu kembali berbalik menatap Saga.
"Aku akan pulang lebih awal,tunggu aku ya..."teriak Saga lagi, dari kejauhan sembari melambaikan tangan. Membuat Emeli tersenyum senang.
******
Devan menatap jam tangan yang melingkar di tangganya sudah menunjukan 18:30. Dia bergegas pulang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sesampainya di rumah, seperti biasa Diandra menyambut Devan, dengan hangat,Devan tersenyum lalu merangkul Diandra lalu melangkah masuk.
"Kenapa pulangnya malam sayang?"tanya Diandra lembut.
"Masih banyak pekerjaan, di kantor yang harus di selesaikan hari ini juga sayang." tegasnya santai.
"Kamu pasti capek aku sudah siapkan air hangat untuk mu mandi, dan aku sudah memasak ayam kecap kesukaan mu."
"Benarkah aku jadi lapar,terimakasih sayang kamu memang istri terbaik ku," ujar devan lalu mengecup mesra kening Diandra.
"Istri terbaik tapi kamu masih saja punya istri lain," timpalnya ketus
"Ayolah... Diandra sayang, aku tidak ingin bertengkar, aku capek pulang kerja masak kamu marah padaku." lirihnya namun Diandra malah melepaskan tangan Devan dan melangkah menaiki tangga.
Devan menghela nafas letih menatap kepergian Diandra seketika pandangannya berbalik ke pintu kamar Laura.
__ADS_1
"Apa Laura sudah tidur?"
Rasa penasaran bersemayam ingin di lepaskan namun keadaan tidak memungkinkan, Devan berbalik dan meneruskan langkahnya mengejar Diandra.