Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
Dokter


__ADS_3

Jhoni memegang telunjuk dokter Adila sembari menunjukan gigi putihnya yang berbaris rapi


membuat adila melotot tajam.


"Aku buta akan cinta mu" ucap jhoni


Adila yang mendengar ucapan langsung Jhoni terperangah dengan cepat menghempaskan tangannya.


"Dasar manusia gila.." ucapnya dengan wajah geram lalu bergegas pergi.


meninggalkan Jhoni dengan senyum simpulnya.


"Dokter..." teriaknya.


mendengar teriakan Jhoni Adila menghentikan langkah, menghela nafas panjang lalu berbalik menatap Jhoni yang tertinggal jauh di belakang.


"Ini untuk mu.." mengepalkan tangan yang telah di ciumnya lalu mengerakkan seolah melempar ke arah Dila.


Dila yang reflek menjulurkan tangan seolah menangkap.


"Apa ini..." ujarnya melihat tangannya yang terkepal lalu berbalik menatap Jhoni.


"Hatiku.. " ucap jhoni menunjukan tangan berbentuk love sembari tersenyum menggoda


Dila memutar matanya malas mengerakkan tangan seolah membuang sesuatu lalu di injak-injak. dan melengos pergi dengan wajah kesal.Sedang Jhoni tertawa terpingkal-pingkal di buatnya.


"Jodohku... akhirnya aku menemukanmu" ucapnya."memasang wajah bahagia.


Tiba-tiba hp Jhoni berdering membuyarkan lamunan indahnya. menatap layar ponselnya membuat Joni menepuk jidat.


"Tuan pasti marah lalu melangkah pergi."


Sebuah ketukan membuat Devan memalingkan wajahnya ke arah pintu.


Setelah sedari tadi menatap Emeli yang memunggunginya.


Pintu terbuka perlahan, terlihat seorang pria berkacamata berjalan mendekat dan membawa paper bag sembari mendekap berkas.


Dari mana saja kamu.. kenapa baru datang?" Devan menodongkan pertanyaan dengan tatapan tajam.


"Maaf tuan... ada sedikit masalah di jalan."Elaknya dengan senyuman di paksakan. pandangan Jhoni terali pada sosok yang berbaring di ranjang.


"Nona Laura... apa kabar, sudah cukup lama kita tidak bertemu ?" tanya Jhoni


"kamu bisa melihat kondisiku sekarang..."ujar Emeli datar. Jhoni menggaruk lehernya sembari tersenyum.. mengingat pertanyaan konyolnya.


"Saya doakan semoga anda cepat sembuh dan bisa beraktivitas seperti sedia kala."ucap Jhoni tampak tulus.


"Terima kasih atas doanya..."Emeli menatap Jhoni yang sudah berada di samping Devan.


"Hah.. bisa-bisanya dia bicara santai dengan Jhoni sedangkan aku sedari tadi di acuhkan."


Gumam devan menatap sinis Jhoni.


"Jhoni mana pesanan ku.?"ucapnya kasar.


"Ah ..iya ini tuan, ini baju ganti,dan berkas penting yang harus anda tanda tangani. seraya memberi map dan paper bag. pada tuannya.


"Maaf tuan apa hari ini anda tidak akan ke kantor." tanyanya menyelidik.


Devan menghela nafas dan menatap jhoni sinis."Apa kamu tidak lihat, istriku sedang sakit.?"


"Ah... iya maaf tuan." Jhoni gelagapan atas pernyataan Devan.


"Aku sudah tidak apa-apa... sebaiknya kamu pergi saja." Saut Emeli yang sudah setengah duduk menyenderkan punggung di bantal yang bertumpu pada dinding.


"Apa aku meminta pendapatmu tentang hal ini hah?"jawab Devan kesal atas penolakan istrinya.

__ADS_1


Lalu melangkah pergi ke kamar mandi khusus ruangan VIP. dengan tangan membawa paper bag.Emeli menghela nafas kesal,dengan mulut mengerucut menatap kepergian Devan sampai menghilang di balik pintu.


"Maaf nona kenapa anda bisa berada di tempat seperti ini." tanyanya begitu penasaran.


"Panjang ceritanya dan sepertinya kamu tidak usah tau." ujarnya dengan wajah datar.


Jhoni hanya bisa menelan Slavina nya mendengar jawaban menjengkelkan dari sang majikan .


"Bos sama istri Sama saja sama-sama menyebalkan." gumamnya dalam hati.


"Jhoni bisakah aku meminjam handphone mu?" ucap emeli memecahkan suasana.


"Memang hape anda kemana?" tanyanya penasaran. "Tertinggal di rumah.. boleh tidak aku pinjam kali ini saja?"


Jhoni terdiam sembari berfikir keras.


"Bukan itu maksud saya.."


Jhoni menghela nafas kasar


"ini nona.."


menjulurkan handphone di Depannya


setelah cukup lama Emeli berkutat dengan handphone dia mengalihkan lagi pada Jhoni


"Kamu belum makan dari pagi kalau tidak mau makanan rumah sakit bicaralah nanti biar Jhoni yang membelinya."


mendekati Emeli sembari mengusap lembut kepalanya sedang kan istrinya melengos dan menjauhkan tubuhnya dari Devan .


Devan menghela nafas melihat penolakan istrinya sebisa mungkin untuk tidak marah seperti pesan dokter dila


mendengar namanya di sebut Jhoni hanya bisa menggelengkan kepala dan menelan Slavina nya.


"Aku kenyang..." jawabnya dengan nada ketus membuat Jhoni tersenyum mengejek


bisa tidak kamu Jagan membantah sehari saja


"Kamu Devan menunjuk Emeli mulai emosi...


Ada apa ini.." terdengar suara perempuan datang dari arah pintu "


membuat semua orang menoleh apalagi


Jhoni terlonjak kaget melihat kedatangan dila, dia terpaku deng sorot mata berbinar-binar dan senyum mengembang.


Sedangkan Devan menatap Dr. Dila kesal dengan sorot mata tajam


"Apa pria ini telah mengganggu mu lagi.?"


Tanyanya menatap Devan dengan geram.


"Jagan lupa pasien mu ini.. juga istriku.." jawabnya ketus.


"Memang benar tapi jika anda menyakiti dia lagi sebagai sesama wanita aku jga tidak akan tinggal diam, aku tidak mau kaum ku di injak-injak oleh pria macam anda."ucapnya penuh penegasan.


"Benarkan Laura...?"


Emeli mengangguk sembari tersenyum.


"Kau ini benar-benar..." Devan mengacungkan tangan ke wajah Dila dengan kilatan penuh amarah.


"Apa... "ucapnya menantang sembari mengangkat kedua tangannya menyentuh pinggang.Tatapan mereka saling beradu seolah ingin menyerang.


Jhoni datang menghampiri mencoba merelai


"Tenanglah...."Sembari mengangkat kedua tangannya..

__ADS_1


Tuan..nona Laura memang pasien dokter cantik ini, tapi..dok, nona Laura juga istri dari tuan Devan. Jadi jawaban kalian sama-sama benar."


"Diam..." bentak Devan dan Dila secara bersamaan menatap Jhoni dengan tajam


Jhoni yang di tatap hanya bisa menggaruk kepalanya dengan frustasi.


Tiba-tiba Emeli meraih tangan Adila


membuat adila menoleh padanya.


"Dr aku tidak apa-apa... dia tidak menganggu ku kami hanya sedang berdebat kecil."


"Benarkah?" Dila menatap manik mata Emeli mencari sebuah kejujuran.


"Kali ini aku percaya tapi jika dia sekali lagi mengganggumu Jagan takut bicaralah padaku."


"Pasti dok.." jawab Emeli menyakinkan.


Kemudian Dila memeriksa keadaan Emeli yang dirasa cukup baik.


"Bagaimana mana dok?" tanya Emeli


Semuanya cukup baik...


nanti sore anda sudah boleh pulang."


"Benarkah terimakasih dok". dengan mata berbinar.Dila hanya tersenyum simpul.


Sedang kan Devan memilih menjauh, memainkan gawainya di sofa karena tidak ingin berdebat lagi.


Tapi tidak dengan Jhoni pria itu sedari tadi memandang Dila dengan mata berbinar-binar dan senyum tersungging di bibirnya.


Dila yang merasa dirinya terus di tatap Jhoni memberanikan diri bertanya.


"Kenapa anda menatap ku seperti itu.." tanyanya dengan wajah menyelidik.


Jhoni berbalik mencari seseorang di belakangnya anda berbicara padaku


tentu siapa lagi


"Ah itu..tidak dok." jawabnya gelagapan menggaruk kepalanya merasa malu.


Jagan memandang seperti itu pada wanita nanti di kira anda mempunyai niat jahat.


"Tidak dok.. saya orang baik kalau tidak


percaya.. tanyakan saja pada mereka di sini." Ucap Jhoni meyakinkan.


"Terus kenapa anda terus menatap ku?"


tanyanya lagi.


"Tidak dok saya cuma mau tanya.. ucapan Jhoni terpotong seolah meminta ijin.


"Tanyalah..."ucap Emeli datar.


"Apa selain membawa stetoskop anda jga membawa magnet. tanyanya gugup


Dila mengerutkan kening mencoba berpikir


"Apa maksud anda?"


"Karena setiap berada di dekatmu, mata dan hati saya tertarik."


Sembari menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.


"Astaga... dasar gila, lalu melangkah pergi." sedang Jhoni melambaikan tangan menatap kepergian Dila.

__ADS_1


"Apa tidak ada pilihan lain kenapa dokter bermulut pedas itu pilihanmu...?"


Jhoni menghela nafas kesal mendengar ucapan Devan.


__ADS_2