
Dengan cepat saga, memegang tangan emeli menatap manik matanya dengan penuh harap,
"aku akan selalu ada untuk mu, menyelesaikan masalah ini bersama."
dengan sorot mata penuh keyakinan.
"kamu percayakan, padaku?"
Emeli menatap wajah saga ,lalu menganggukkan kepalanya,
saga ,tersenyum sambil mengacak-acak rambut emeli
"Gadis pintar."
ayo kita kembali , sudah terlalu lama kita keluar, aku takut tuan Wijaya sudah siuman."
merekapun bergegas pergi.
Saga dan emeli masuk beriringan kedalam sebuah ruangan, di dalam
terlihat Wijaya berada di kasur dengan posisi setengah duduk dan menyenderkan punggungnya di sebuah bantal.
"Dari mana saja nak,ayah menunggu mu dari tadi,duduklah di sini" sambil menepuk-tepuk kasur, menggeser sedikit tubuhnya.
Emeli melangkah perlahan dan duduk di sebelah Wijaya,
dengan sedikit rasa takut dan sungkan , raut wajahnya menunjukkan kecemasan ,hingga *******-***** ujung bajunya..
pak Wijaya yang melihat ekspresi gadis itu,lalu memegang tangan yang di anggap putrinya.
"Apa ada,
ada yang kmu khawatir kan?"
dengan sorot mata penuh tanya.
"Tidak ayah ,aku tidak apa-apa"
Sanjaya mengusap rambut emeli
"Ayah ini ayah mu nak,
siapa lagi yang lebih memahami mu kecuali ayah."
Deg....
perasaan bersalah menyeruak di hati emeli,bagaiman bisa dia berbohong pada seorang ayah yang begitu mencintai putrinya, matanya mulai mengembun,,menahan sesak di dada.
Tiba-tiba emeli memeluk pak Wijaya,
maafkan aku ,lirihnya
tak terasa butiran kristal telah lolos di mata indahnya.
Pak Wijaya merasa heran dengan sikap putrinya yang tak biasa,lalu menatap ke arah
saga yang berdiri mematung ,
seolah mencari sebuah jawaban
"Kenapa,cerita pada ayah?"
sesekali mengusap kepala emeli,
namun emeli hanya diam tubuhnya bergetar menahan issakan .
"Kamu kemana selama ini, apa yang terjadi?"
"Selama menghilang,
nona emeli mengalami, kecelakaan dia mengalami amnesia tuan."
"Amnesia?
iya tuan ,nona emeli tidak bisa mengingat semuanya"
Wijaya melepaskan pelukan ,menatap wajah Emeli ,"Apa benar yang di ucapkan saga?"
Emeli terdiam ,kemudian menganggukkan kepala.
karena rasa bersalah,air mata emeli kembali jatuh membasahi pipinya.
"Sudahlah yang penting kamu kembali." sambil mengusap air mata emeli,
lalu memegang tangannya,"ayah akan berusaha menyembuhkan mu, bila perlu kita keluar negeri"
"Terima kasih" ,lirihnya dengan suara pelan namun masih terdengar
"Sama-sama sayang"
tiba-tiba terdengar ketukan pintu .pintu itu terbuka secara perlahan nampak lah seorang pria paru baya ,yang cukup tampan meski ada beberapa garis keriput di wajahnya.
"Ardiansyah"
pekik wijaya
__ADS_1
Ardiansyah mengedarkan pandangan,.manik mata itu terhenti pada seorang gadis di samping sahabatnya.
"Laura,,,,
lirihnya ,melangkah setengah berlari kemudian memeluknya ,
"Kau baik-baik saja sayang.?"
Laura yang di peluk hanya diam mematung
tak mengerti dengan keadaan ini.
Ardiansyah melepaskan pelukannya dengan mata berkaca-kaca.dengan wajah tertunduk lesu, "Ini salah papa nak,maafkan papa memegang tangan emeli lalu menciumnya,"
dengan air mata yang mulai menetes.
"Papa bukan mertua yang baik untukmu ,papa telah gagal mendidik Devan,
papa sangat malu kepadamu dan Wijaya"
suasana haru begitu terasa,
"Sudahlah"
suara Wijaya memecahkan suasana ,
"Yang berlalu biarlah berlalu,
apa kau tak mau memeluk sahabat mu ini, yang talah sadar dari masa kritisnya."
Ardi menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
Melepaskan tangan emeli dan menghampiri Wijaya kemudian memeluknya,
maafkan aku,
"Semua akan baik-baik saja.
pak Wijaya menepuk-nepuk punggung Ardi.
"Kata dokter, kamu setiap hari datang ke sini?"
"Tentu saja , aku datang setiap hari, tapi kau tidak mau sadar,sekali putrimu datang kau langsung siuman,
sebenci itu kah kau padaku?" dengan sudut bibir yang mengerucut,
Hahahaha
tawa Wijaya terdengar di setiap sudut Rungan,
aku sudah bosan datang ke rumah sakit setiap hari."
emeli dan Saga hanya menatap dan sesekali tersenyum melihat interaksi kedua pria itu terus mengobrol di sembari di selingi candaan, hingga yang mendengarnya tersenyum sendiri.
Tiba-tiba Ardi memegang tangan Wijaya
suasana itu berubah menjadi serius
"Aku akan berusaha mengubah ,putraku
menjadi suami yang baik untuk putrimu"
dengan sorot mata penuh harap.
Pak Wijaya melirik sekilas emeli, lalu Emeli mengangguk kan kepalanya
Wijaya menarik napas panjang dan membuang dengan kasar,"Sebenarnya ada yang harus kamu tau"
Ardi mengerutkan dahinya dengan sorot mata penuh tanya.
" Laura menghilang karena kecelakaan, yang membuat putriku kehilangan ingatan,
dia melupakan semuanya, termasuk aku ayahnya.
Ardi terlonjak kaget,menatap lekat wajah emeli .
"Ini semua salahku," Ardi menunduk dengan wajah lesu dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
Wijaya menepuk-nepuk punggung ardi, "Sudah tidak apa-apa ini semua takdir tak ada yang salah,
maka dari itu biarkan laura tinggal bersama ku setidaknya sampai dia bisa menerima semuanya."
"Tapi,,,"
Wijaya memegang tangan Ardi
"Putriku butuh waktu untuk menerima Devan sebagai suaminya,"
apalagi kau tau keadaan ini terlalu rumit untuk Laura."
Ardi menunduk ,menghela nafas panjang
"aku tidak bisa berbuat apa- apa, semua keputusan ada di tangan mu
ku harap ini yang terbaik"
__ADS_1
Ardi menatap jam tangan,
di tangan kirinya
kurasa aku terlalu lama di sini ,banyak pekerjaan yang ku tinggalkan hanya demi dirimu,dengan senyum kecut,
Ardi bergegas pergi ,namun sebelum itu dia menghampiri emeli lalu memeluknya
"Sebenarnya papa sangat berharap kamu satu satunya menantuku"
Ardi melepaskan pelukannya lalu mengelus pipi emeli
"Jagan lupa bahagia sayang"
bergegas pergi di iringi saga yang membukakan pintu sambil membungkuk kan tubuhnya.
*********
Selang beberapa hari Wijaya sudah mulai membaik ,dia jga sudah rawat jalan ,
emeli menghabiskan waktunya untuk merawat Wijaya, sedangkan saga menghandle semua urusan kantor.
Ya Sagara bukan cuma asisten pribadi Laura dia jga anak angkat Wijaya,yang di asuhnya sedari kecil.
Makanya dia di perlakukan layaknya putra
sebenarnya Wijaya ,menyuruhnya memanggil ayah ,namun saga menolak karena saga mengerti akan status dirinya yang sebenarnya.
Di rumah mewah beberapa orang sedang berkumpul untuk sarapan ,
bukankah pak Broto mengundang kita ke resepsi pernikahan anaknya? ,
"Benar tuan,"
"Kalau begitu ajak Laura".
kasian selama ini, dia terlalu sibuk mengurusku hingga tak sempat keluar rumah,
"Tidak ayah, aku senang mengurus ayah?"
"Ayah tau tapi kamu jga butuh suasana baru setelah apa yang kmu alami "
"Tapi,,,,"
"Tidak ada tapi-tapian, nanti malam kamu pergi bersama saga,jagan khawatir kan ayah,
di sini banyak pembantu yang akan mengurus keperluanku nanti."
"Baiklah kalau itu yang ayah mau"
sore menjelang ,emeli yang sedang asik menyiram bunga, di kejutkan dengan tepukan. di punggungnya
emeli berbalik dan melihat saga yang tersenyum,
"Apa kamu sudah siap?"
"Siap, siap kemana,bukankah pestanya nanti jam 8 malam,
ayah yang menyuruhnya pulang cepat ,agar membawa mu berbelanja keperluan pesta, sanggah Wijaya yang duduk di teras yang sedari tadi menemani emeli menyiram bunga.
"Emeli mengerutkan dahi, bukankah baju laura masih banyak yang bagus ayah,?
tiba-tiba Wijaya tergelak, bahkan dulu hampir setiap hari kmu belanja,
lalu melangkah mendekati emeli uang bukan masalah asalkan peri kecil ayah ini bahagia, sambil mencubit pipi emeli dengan halus,
,emeli tersenyum dan memeluk Wijaya
sudah sana berangkat ,Jagan sampai terlambat
saga dan emeli pun pergi menaiki mobil mewah,sebelum ke pesta emeli berhenti di sebuah mall
untuk ke salon dan butik langganan Laura.
"Bagaimana?"
Emeli. keluar dari ruang ganti memakai gaun pesta di bawa lutut berwana abu muda,terkesan mewah namun elegan,dengan model rambut Bob vintage Curly.
Tentu saja dengan wajah yang telah di poles makeup , tidak terlalu tebal namun pas di wajah emeli dengan lipstik berwana pink Shof
membuatnya terlihat lebih manis.
Saga yang sedari tadi sibuk memainkan gawainya, mendongkakan kepalanya ,melihat sumber suara.
Matanya terbelalak, dengan mulut menganga melihat gadis yang berparas cantik di depannya, saga diam bagai patung seolah tersihir.
"Bagai mana aku terlihat cantik kan?"
...****************...
...****************...
...****************...
,
__ADS_1