
Hei,,,, keluarlah Jagan sembunyi berani sekali kau mengancam ku?"
tiba-tiba ada sekelebat bayangan berlari di balik pohon emeli menghampiri, dengan rasa takut yang berkecamuk di hatinya.
Tiba-tiba seseorang menepuk pundak emeli dari belakang.
Emeli terkejut dan mematung, dadanya bergemuruh, nafasnya tak menentu,dengan sedikit keberanian emeli berbalik.
"Hah kamu...?" Emeli menghela nafas panjang dan menghapus keringat di keningnya.
"Kamu kenapa seperti orang ketakutan?"
ucap saga dengan sorot mata penuh tanya,
"Aku gak papa , kenapa kamu sudah pulang, apa semuanya sudah beres?"
Emeli menatap saga yang nampak lesu.
"Ada sedikit masalah ,ternyata di rumah sakit,,,
"Saga ,,,, sebaiknya kita pulang, kita bahas ini di rumah."Emeli menoleh ke belakang mengedarkan pandangannya, dia memegang tekuk lehernya yang mulai meremang , hatinya yakin ada seseorang di sana yang tengah mengintai.
"Kamu kenapa kok bersikap aneh begitu,
lalu kenapa kamu di sini?"
"Ceritanya panjang ayo kita pulang"
menarik tangan saga dan memaksanya pergi,
baru beberapa langkah emeli berbalik menatap pohon yang dia curigai ada seseorang di sana.
"Emeli ada hal penting yang harus kamu tahu"
saga menoleh ke sampingnya, ternyata emeli diam mematung berada di belakang.
"Kok malah diam di situ, ayo kita pulang"
suara saga membuyarkan lamunan emeli
"Ya ayo,,,,," dia setengah berlari mengejar saga yang beberapa langkah di depannya.
benar saja di balik pohon besar itu, seseorang sedang mengintip mereka, dengan tangan yang masih meneteskan darah.
*********
Sesampai di teras rumah
"Kita harus bicara tapi tidak di sini"
"Baiklah,,, ayo ikut dengan ku." Saga membawa Emeli ke ruangan kerjanya yang berada dalam rumah. "Kamu kenapa emeli,,, mengapa wajahmu terlihat begitu gelisah?"
"Nanti aku jelaskan" sembari duduk di kursi dan ikutin Devan yang duduk di sebelahnya.
"Bagaimana penyelidikan mu,di rumah sakit, apa ada bukti tentang hilangnya Laura?"
Devan menghela nafas panjang,,,"
lalu menundukkan kepalanya yang terlihat sedih."Laura memang ke sana menemui salah satu dokter umum."
"Apa kau sudah menemuinya,,?"
"Tidak,,,, saga menggelengkan kepala,
"Kenapa bukankah itu sangat penting?"
"Dokter itu sudah pindah"
dia pergi ke kota ini ,dan aku meminta pihak rumah sakit untuk menghubunginya,,"
"Kenapa rumah sakit, kenapa tidak anak buah mu sendiri?"
"Itu tidak mungkin anak buah ku adalah orang-orang tuan Wijaya, maka sangat besar kemungkinan tuan Wijaya akan tau rahasia kita,
"lagi pula, rumah sakit di sana sudah mengenal dokter naina, jadi lebih mudah untuk mencari tau keberadaanya."
"naina?" tanya Emeli
"ya,,, namanya naina Larasati.Dokter yang di temui Laura waktu itu.
__ADS_1
"Pihak rumah sakit juga sudah berjanji akan menghubungi ku jika mendapat kabar dari dokter itu"
"Lagi pula, jika pihak rumah sakit yang bertanya tentang keberadaannya, tentu tidak akan membuatnya curiga"
"Benar jga ,tapi kenapa pihak rumah sakit mau repot-repot membantu mu?"
Saga menghela nafas panjang, lalu menatap Emeli intens.
"Kamu tau, bahkan aku sempat di usir oleh petugas keamanan karna ingin melihat rekaman sisi tivi di Sana"
"Tidak ada cara lain, aku bilang saja aku mengenal pemilik rumah sakit itu,"
"Mereka menghubungi pemilik rumah sakit
yang bernama Tomi"
dan benar saja, Tomi meminta petugas untuk membawaku ke tempatnya,
karena saat itu aku bersikeras mengatakan aku mengenalnya akhirnya dia mau menemui ku.
"Apa kmu memang mengenal pemilik rumah sakit itu?"
"Tentu saja tidak"sanggah saga.
"Aku hanya menawarkan kerja sama yang sangat menguntungkan rumah sakit itu makanya dia melakukan segalanya untuk membantuku." tapi...,wajah Saga nampak serius dengan sorot mata tak terbaca,,, dia mengepal kan tangannya menatap arah lain.
"Tapi kenapa?"data para pasien dokter naina yang berada di rumah sakit itu tidak ada."
"Maksudmu?"
"Ada yang sengaja menghilangkan nya,
aku semakin yakin memang ada hal buruk menimpa Laura."Saga memijat pelipisnya karena frustasi.
"Kamu tahu?"
orang ini benar-benar licik, bahkan semua bukti yang mengarah padanya,
semua di hilangkan, entah seperti apa orang yang kita hadapi dan dimana dia sekarang?"
"Mungkin ada di sini, di sekitar kita,"
saga mendongakkan wajahnya menatap lekat Emeli dengan sorot mata serius,
"Tadi kamu bertanya kenapa aku bisa di jalan sepi itu,,, kan, aku mengejarnya"
mengejar orang yang mencelakai laura"
"apa, saga terperanjat mendengar pernyataan Emeli.
" Jagan bercanda emeli ini tidak lucu?"
"untuk apa aku bercanda lihatlah ini,"
memberikan kertas yang sedari tadi di genggam di tangannya,
Devan langsung membaca matanya terbelalak
Isi surat
jaga sikapmu jika tidak ingin nasibmu
berakhir seperti Laura Wijaya
lalu di silang x dengan darah
"ini tidak mungkin,,, berarti dugaan ku benar, Laura selama ini memang celaka,"
brakkk
Devan mengebrak meja di depannya
aku terlambat menyadari semua ini,
"Tenanglah saga"
menepuk punggung saga dengan pelan,
"Dengarkan aku, saat ini kita harus fokus mencari siapa dalang dari semua ini" memegang pipi saga dan menghadapkannya pada wajah emeli dengan sorot mata menyakinkan.
__ADS_1
"Orang ini sungguh misterius saga,
ketika aku membaca surat ini
aku mencium bau darah yang masih amis di kertas ini.dan aku yakin darah itu masih baru,
aku berfikir mungkin saja darah ini berasal dari tubuhnya.
Jadi aku reflek mengejar,
benar saja, aku melihat orang itu,tapi karena penerangan yang kurang jelas aku tidak bisa mengenalinya,
dan yang terpenting dia tau kalau aku bukan Laura."
"Tunggu,,,,tapi kenapa dia muncul sekarang?"
,bukankah kamu di sini cukup lama,
jika pelakunya orang di sekitar kita,
tentu sudah lama dia tahu kalau kamu bukan Laura?" "ltu yang masih aku pikirkan sekarang"
kenapa semuanya semakin rumit
kita harus bagaimana?"
"Tunggu Laura,,,, apa hari ini kami melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu lakukan?"
"Aku hanya mengantar berkas ke kantor Devan dan pergi ke danau,"
memegang dagu untuk berfikir.
"Tapi yang pasti dia berani muncul karena satu alasan.."kita harus harus tahu alasan itu,,, lalu memancingnya keluar"saga mengigit bibir bawahnya mencoba berpikir keras.
"Aku ingat,,,, saat aku di danau bersama Devan aku merasa ada orang mengintai ku, tapi Devan mengatakan itu tidak mungkin,,,,
apa sedikit banyak ini ada sangkut pautnya dengan Devan,,,, kenapa jadi serumit ini," Emeli menggaruk rambutnya karena frustasi.
"Apa pelakunya Devan?" menatap emeli dengan sorot mata penuh tanya.
"Tidak,,,, itu tidak mungkin aku melihat orang itu posturnya berbeda jauh dari devan.
"Kita Jagan gegabah kita tidak tahu siapa yang sebenarnya kita hadapi" memegang pundak emeli dengan sorot mata khawatir.
"lni sudah kepalang tanggung, mau tidak mau kita harus mengungkap misteri ini,
satu hal yang pasti kuncinya ada di Devan.
Lalu melepaskan tangan saga, kemudian sedikit melangkah dan mengepalkan tangannya.
"Aku harus lebih dekat dengan Devan agar semua nya semakin jelas"
"Tapi Emeli.. ucap saga seolah menolak
gadis itu mengangkat satu tangan bahwa keputusannya sudah bulat
"Kamu sadar ini sangat berisiko,
aku takut hal buruk yang terjadi pada Laura akan terjadi padamu?"
Menjambak rambut nya lalu saga berjalan menjauhi emeli dan menghadap dinding,
"Apa kita harus diam saja, dan menutup mata dan telinga, setelah mengetahui semuanya
apa kmu mau seperti itu?"
"Sial,,,,,,"
saga meninju dinding hingga tangannya memerah dan sedikit mengeluarkan darah
lalu manjatuh kan tubuhnya, menutupi wajahnya yang sedang menangis
"Aku tidak mau mengorbankan mu emeli, cukup Laura yang menjadi korbannya"
Emeli menghampiri saga,lalu menepuk punggungnya. "Aku akan baik-baik saja,,, karena kamu akan selalu melindungi ku"
Saga menatap emeli dengan mata berkaca-kaca lalu memeluknya,
" berjanjilah kamu akan baik-baik saja"
__ADS_1
"iya aku berjanji"