Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
membayar


__ADS_3

Apa tidak ada pilihan lain kenapa dokter bermulut pedas itu pilihanmu...?"


Jhoni menghela nafas kesal mendengar ucapan Devan.


Sore tiba Emeli sudah selesai berkemas untuk pulang. Sedangkan Jhoni tengah sibuk merapikan berkas-berkas yang sudah di tanda tangani Devan.


Jhoni terkejut saat melihat seorang pria masuk dan bergegas menghampiri nyonya mudanya.


"Laura kamu baik-baik saja?"ucap Saga sembari menelisik seluruh tubuh gadis di depannya.


"Aku khawatir saat menerima pesan mu, untuk menjemput ke rumah sakit ini."


"Aku tidak apa-apa, hanya memeriksa luka lenganku Saja, karena kemaren sedikit perih."


"Syukurlah aku bergegas kemari takut terjadi apa-apa padamu."Saga menjulurkan tangan memegang lengan Emeli menelisiknya dengan seksama.


"Apa lukanya sudah mendingan?"lalu mendongakkan wajah menatap Emeli.


" lya...percayalah aku baik-baik saja, aku bisa menjaga diri dengan baik" ucap Emeli sembari tersenyum.


Sedangkan Jhoni dari tadi hanya bisa menatap mereka dari jauh dia khawatir bosnya akan marah. Kalau tau Saga ke sini, apalagi Emeli menghubungi saga memakai handphonenya.


Membuat Jhoni bingung dan frustasi.


Lalu mendudukkan tubuhnya di sofa sembari memijat pelipisnya.


Saga mengedarkan pandangan menatap seluruh ruangan, pandanganya terhenti pada Jhoni yang sedari tadi duduk di kursi.


"Laura Jhoni ada di sini juga?" tanyanya.


"Ah iya... bukan hanya Jhoni, Devan juga ada di sini. Dia sedang membayar administrasi."


Saga mengerutkan kening atas penyataan Emeli. "Lalu kenapa kamu memintaku menjemputmu di sini.?" Tanyanya menyelidik.


Emeli memakai tas selempangnya seakan mau bersiap."Aku ingin pulang ke rumah ayah dulu.. apa boleh,?" Ucap Emeli gugup.


"Kamu bicara apa... tentu saja boleh bahkan aku senang. Sejujurnya aku khawatir kalau kamu tinggal di sana. Sedangkan aku tidak bisa menemanimu kemaren."


"Apa pekerjaan mu di kantor sudah selesai?"


"Ya begitulah...bahkan aku berniat pulang kerumah devan tadi, tidak taunya kamu mengirim pesan."Saga menatap Emeli yang sudah selesai berkemas.


"Udah selesaikan ayo kita pulang."


Emeli mengangguk, lalu melangkah pergi beriringan dengan Saga.


Tiba-tiba Jhoni datang menghadang dengan merentangkan satu tangannya untuk menutupi jalan di pintu.


"Nona anda mau kemana," tanyanya menyelidik.


Emeli mengerutkan keningnya menatap tingkah Jhoni."Aku mau pulang ke rumah ayah Jhoni bisa tolong minggir."


"Maaf nona.Apa tidak sebaiknya anda menunggu tuan untuk meminta persetujuan."


"Tidak usah... nanti sampaikan saja kalau aku pergi ke rumah ayah." Lalu melangkah pergi.

__ADS_1


Tidak nona anda Jagan pergi.Nanti bagaimana nasib saya sudah pasti tuan akan marah besar.?" Ujarnya khawatir.


Emeli menghentikan langkah. Lalu berbalik menatap Jhoni yang lesu.


Devan hanya marah,dia tidak akan membunuhmu..., lagi pula. aku hanya tinggal sementara saja di rumah ayah. Emeli menepuk lengan Jhoni pelan lalu meneruskan langkahnya.


Tiba-tiba Jhoni mencengkram tangan Emeli


"Maaf nona, anda tidak boleh pergi. Tampa persetujuan tuan Devan," ucapnya dengan sorot mata datar, namun penuh penegasan.


Emeli terperanjat atas sikap Jhoni. Lalu menghempaskan tangannya, namun cengkraman Jhoni malah semakin kuat. Jhoni lepaskan aku, Joni... teriak Emeli.


"Lepaskan teriak saga." Dengan tatapan mengancam.


Mata Jhoni memerah, tubuhnya bergetar. Bagaimana ini... sudah di pastikan aku akan babak belur mengingat kemampuan Saga bertarung.Tapi kalau aku lepaskan nona. Tuan Devan pasti akan menghajar ku habis-habisan.


Kenapa posisiku selalu saja serba salah.


Ini yang namanya lolos dari mulut Bunya masuk kandang harimau.


"Aku tidak ingin menyakitimu Jhoni tolong turuti kami," ujar Saga. membuyarkan lamunan Jhoni.


Peluh membasahi kening Jhoni dadanya bergemuruh. ada penolakan dalam diri, namun dia faham apapun yang di pilih akan membuatnya celaka.


"Aku akan bertahan setidaknya aku menjadi bawahan tuan yang setia."


Tidak ti...dak ucapnya gelagapan. aku tidak akan biarkan nona pergi.


Saga menarik kerak baju Jhoni.


Tangan Saga melayang ingin melayangkan pukulan Namun dengan cepat Devan menangkap tangan itu.


"Berani sekali kamu... memukulnya."


Lalu menghempaskan tangan Saga dengan kasar.Jhoni membuka mata saat mendengar suara Devan, yang tadi terpejam karna Bogeman mentah saga sudah melayang.


Sadar dirinya selamat. Jhoni menarik nafas panjang sembari mengusap dadanya. "Slamet Slamet," ujar Jhoni lega.


Saat sadar Devan telah datang. Emeli mundur selangkah tidak bergeming, lalu bersembunyi di punggung Saga dengan raut wajah cemas.


"Laura kita pulang sekarang...,"ucap Devan sambil terus menatap Saga tajam.


Namun wanita yang di panggilnya tidak bergeming malah diam di tempat.


"Laura Jagan menguji kesabaran ku." Devan mendekat mencoba meraih tangan Laura tapi dengan cepat Saga menepisnya.


"Jagan paksa dia Devan dia tidak ingin pulang bersama mu."


"Jagan ikut campur ini masalah rumah tanggaku." Jawabnya ketus.


"Aku tahu tapi itu jadi masalah jika kmu memaksa," ucapnya penuh emosi.


Devan tidak peduli, sekali lagi ingin menggapai tangan Emeli tapi lagi-lagi Saga menepis.


"Cukup Devan Jagan berlagak menjadi suami yang baik ,bukankah dulu kamu menolaknya kenapa sekarang memaksanya ikut dengan mu.?"

__ADS_1


Tiba-tiba Devan mencengkram baju Saga.


"Jangan macam-macam dengan ku kalau tidak..."


"Kalau tidak apa?" Jawab Saga menantang


pandangan mereka saling beradu seolah siap saling menyerang.Suasana menjadi panas tidak terkendali.


"Cukup..." teriak Emeli


Membuat Saga dan Devan mengalihkan pandangannya secara bersamaan. Menatap ke satu arah."Aku akan ikut bersamanya," ujarnya.


Devan tersenyum mengejek lalu melepaskan cengkraman nya. "Kau dengar itu..?"


Tampa aba-aba Devan menarik tangan Emeli Namun gadis itu diam tak bergeming.


Apalagi Laura dengan tatapan melotot.


"Aku ikut dengan mu jika Saga juga ikut."


"Laura apa yang kamu katakan... ada apa sebenarnya, kenapa kalian selalu bersama apa ada yang kalian sembunyikan." Tanyanya dengan sorot mata menyelidik.


Deg.. hati Emeli terlonjak lalu menatap Saga. Mata mereka saling pandang Seolah mengisyaratkan sesuatu, kemudian Emeli berbalik menatap Devan.Sebisa mungkin dia terlihat biasa saja.


.


"Tidak bukankah itu. Inikan sudah pernjanjian awal. jika kamu tidak setuju, aku akan bilang ke papa untuk membuat perjanjian yang baru."


Devan menghempaskan tangan Emeli dengan kasar lalu melangkah pergi sedang Jhoni mengekornya.


Emeli mendekati Saga. "Kamu tidak apa-apa Saga." tanya Emeli.


"Iya aku baik, sepertinya Devan mulai curiga. Kita harusnya lebih berhati-hati sekarang Emeli."Gadis itu hanya mengangguk.


Devan pulang ke rumah sendiri sedang Saga dan Emeli pulang dengan mobil Saga.


Sesampainya di rumah. Devan masuk dengan perasaan kesal alangkah terkejutnya Devan saat mendapati keadaan Diandra.


Keningnya di perban. Tangannya memakai


arm slim untuk penyangga tangannya.


Saga terperanjat langsung mendekati Diandra dengan wajah khawatir.


"Kamu kenapa sayang. kenapa begini?"


"Aku kecelakaan kemarin aku takut kamu marah. Saat tahu keadaan ku."


"Ya ampun sayang harusnya kamu mengabari ku, aku kira kamu masih dalam perjalanan bisnis. Maafkan aku tidak menjadi suami yang baik."


Devan memeluk Diandra mengusap rambutnya dengan pelan.Secara bersamaan Emeli dan Saga masuk dalam rumah.Emeli mengerutkan kening menatap keadaan Diandra yang memperihatinkan.


Laura ucapan saga membuyarkan lamunan. "Emeli aku masuk kamar dulu ya... dan sebaiknya kamu istirahat."


Dia melewati begitu saja Devan dan Diandra yang berpelukan.

__ADS_1


Tiba-tiba satu tangan Devan mencengkram tangan Emeli membuat langkah Emeli terhenti.dan satu tangan yang lain masih memeluk Diandra.


__ADS_2