Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
harus sekarang


__ADS_3

Saga kamu tidak apa-apa kan.tanya Emeli merasa heran dengan sikap saga yang memeluknya terlalu lama.


Suara Emeli membuat saga tersadar dia menyeka air matanya lalu melepas pelukannya


"Kamu baik-baik saja kan." tanyanya lagi sembari menelisik wajah saga yang terlihat sedih dengan sorot mata menyelidik.


"Tidak apa-apa aku hanya terbawa suasana." jawabnya santai sembari tersenyum.


"Kenapa aku marasa sikap mu aneh. Apa kamu sedang kerasukan." Tiba-tiba Emeli bergidik ngeri sembari menatap tajam Saga.


"Sudah lah hentikan pikiran kotor mu itu," sambil menunjuk-nunjuk kening Emeli dengan jari telunjuknya.


"Sakit Saga..." Ucap Emeli lalu mengusab keningnya dengan raut wajah kesal.


" Sudah Jagan cemberut lagi ayo kita pulang ini sudah terlalu raut." Ucap Saga lalu merangkul Emeli dan melangkah pergi.


"Iya aku tau bisa-bisa tuan Devan itu akan marah besar,mengingatnya saja aku merasa takut."Ujar Emeli kesal membuat Saga tersenyum gemas.


"Kamu tenang saja sebentar lagi kamu akan terlepas darinya.


"maksudnya...?" Emeli menghentikan langkah


dengan sorot mata penuh tanya.


"Kenapa diam ayo jalan, jadi orang itu jagan banyak tanya, nanti kamu juga bakal tau sendiri."


"Tapi jelaskan dulu maksud kamu tadi apa?" tanyanya penasaran.


"Bisa gak sih diam.Dan Jagan cerewet."


Saga menghela nafas panjang lalu melepaskan rangkulannya dan melangkah pergi meninggalkan Emeli.


Emeli yang tertinggal di belakang menelan Slavina dengan kasar mengedarkan pandangannya. Terlihat suasana jalan yang begitu lengang dan sepi, membuat bulu kuduknya meremang.


"Saga tunggu aku..." teriaknya berlari tergopoh-gopoh dengan pandangan tak terarah sembari membawa tas belanjaannya.


"Bruk.... Emeli terbentur di tubuh Saga. Dia mendongak wajahnya menatap Saga yang tenga berkacak pinggang sembari menggelengkan kepala.


"Kalau jalan pakai mata, Jagan pakai dengkul." Ucap saga, sembari melotot.


"Maaf...lirihnya Emeli menggaruk lehernya yang tidak gatal, sembari nyengir kuda.


Saga berbalik dan melangkah namun tiba-tiba Emeli memegang tangannya, Saga yang terkejut berbalik menatap Emeli


"Ada apa lagi..." tanyanya malas


"Tolonglah bawakan belanjaan ku, aku capek dan tanganku kram." Ucapnya manja dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Saga menggelengkan kepalanya melihat barang-barang itu yang sudah di turunkan di jalan.


"Baiklah tapi kali ini saja"


"Terimakasih saga kamu memang yang terbaik" mengangkat kedua jempol di depan Saga sembari tersenyum.


Mereka berdua menyusuri jalan dengan hangat sesekali bercanda dan tertawa ria.


Sesampainya di rumah Emeli masuk kamar menaruh tasnya di lantai. Dan menghempaskan tubuhnya di ranjang yang empuk.


"Enaknya aku capek sekali hari ini."ujarnya sembari memejamkan mata.


"Dari mana saja kamu, kenapa baru pulang?"


Suara seorang pria membuat Emeli memaksa membuka matanya yang baru saja terpejam dengan cepat dia bangkit dan menoleh.


Benar saja apa yang dia duga.


Suara itu, dari Devan yang sedang berdiri melipat tangannya di balik pintu.


"Mau apalagi.." tanya Emeli sinis.


"Aku hanya ingin bicara padamu. Mengingat kamu menghindari ku, tidak ada cara lain aku harus datang ke kamar istriku. Seperti seorang penyusup." ujarnya dengan Santai lalu mendekat membuat Emeli takut hingga memundurkan tubuhnya beberapa langkah.


Devan menyunggingkan senyum lalu merebahkan dirinya di kasur . Dia mengambil remote tv dan menghidupkannya seolah Tampa dosa dia menonton tv dengan santai nya


"Aku bilang pergi dari kamarku," ucap Emeli dengan intonasi tinggi.Lalu berjalan mendekat dan mengambil remote paksa dari tangan Devan dengan tatapan tajam.


"Apa salahnya seorang suami masuk dalam kamar istrinya, bahkan jika aku berbuat lebih dari itu wajar saja." masih bersikap Santai di depan Emeli yang sudah marah.


"Devan cukup Kamu tau hubungan kita, dengan jelas." Lalu menarik tangan Devan untuk menyuruhnya pergi.


Devan tersenyum lalu berbalik menarik tangannya hingga Emeli terjungkal di tubuhnya. Dengan cepat Devan memutar tubuhnya sembari mengunci tubuh Emeli di bawah Kungkungannya.


Emeli terlonjak kaget dan membelalakan mata melihat tubuhnya yang sudah berada di bawah tubuh Devan.Emeli meronta, namun kekuatan nya kalah jauh membuat Devan tak sedikitpun bergeming.


Devan menyeringai licik, umpatan yang keluar Emeli tidak dia hiraukan lalu merebahkan kepalnya di dada Emeli


"Sayang ingin rasanya mengajari kamu permainan di atas ranjang. kamu tau sesungguhnya aku selalu bergairah saat melihatmu.Jatungku selalu berdebar lebih cepat saat melihat mu." Ucapnya dengan lembut.


Lalu mendogakkan wajahnya menatap wajah Emeli yang terlihat kesal. Namun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang... sebagai lelaki normal, aku selalu menginginkan tubuhmu. Andai kau mau...aku akan mengajarimu dengan pelan dan penuh kelembutan hingga membuatmu melayang ke nirwana sayang...."ujarnya menggoda.


"Hentikan omong kosong mu itu devan bahkan sebentar lagi kita akan berpisah"


"Apa kau yakin..." ucapnya dengan seringai licik

__ADS_1


lalu mendekat kan wajahnya ke wajah Emeli matanya tertuju pada satu titik menatap bibir mungilnya itu begitu intens, lalu memejamkan mata seolah ingin menikmatinya.


Tiba-tiba Emeli membenturkan kepalanya dengan keras ke kepala Devan membuat dia meringis ngilu. dan melepaskan cengkraman nya. Devan menyentuh keningnya yang memar dengan sigap Emeli mendorong tubuh Devan hingga terjungkal.


Lalu Emeli bangkit dengan wajah kesal bersama dengan kilatan amarah yang terlihat jelas dari tatapannya.


"Permainan mu, di atas ranjang cukup bringas sayang membuat aku tidak sabar." Ucapnya dengan senyum mengejek.


"Jagan main-main Devan, ini tidak lucu,kamu tau sendiri kita akan pisah, aku bisa saja adukan sikap mesum ini pada papa."


Devan tergelak lalu bangkit dan duduk di bibir ranjang dengan santainya, membuat Emeli merasa heran.


"Kata siapa aku akan menceraikan mu, jangan terlalu berharap itu tidak akan terjadi,


aku di sini ingin memperjelas itu.


Dan ada kabar baik lagi tentang papa, sekarang papa setuju dengan hubungan kita dia tidak lagi memaksaku menceraikan mu, bukankah itu sangat membahagiakan sayang."ucapnya sembari tersenyum.


Emeli terkejut dengan pernyataan Devan namun sebisa mungkin dia terlihat biasa saja.


"Kamu bohong kan itu tidak mungkin"tanyanya Emeli di tengah keterkejutannya.


"Kenapa tidak sayang, buktinya papa tidak menghubungimu setelah hari itu kan."


lalu Devan bangkit mendekati Emeli.


"Dan satu lagi aku sudah berjanji pada papa akan membuat mu jatuh cinta padaku "


lalu mengusab rambut Emeli yang berdiri mematung


Emeli yang baru sadar dengan sentuhan Devan, langsung menghempaskan tangan Devan dengan keras sembari menatapnya dengan tatapan tajam.


"uuups Jagan marah istriku, aku hanya mengatakan kebenarannya.Dan Jagan sebut aku Devan, jika tidak bisa membuatmu mencintai ku." Lalu mendekatkan bibirnya di telinga Emeli. Dan suatu saat aku pastikan kamu sendiri yang akan menarik ku di atas ranjang sayang." Ujarnya dengan suara menggoda.


Emeli membelalakan mata mendengar penuturan mesum Devan dia mulai geram lalu menarik Devan keluar pintu.


"Dasar pria gila. Jagan pernah masuk ke kamar ku lagi." lalu menutup pintu dengan keras


Devan tergelak mengeluhkan kepala sembari tertawa lepas melihat tingkah Emeli yang begitu mengemaskan menurutnya.Sedangkan di lantai dua Diandra mengepalkan tangan melihat kejadian barusan yang membuat hatinya panas.


"Awas kau Laura aku tidak akan pernah memaafkan mu"


Malam semakin larut bersama angin malam yang dingin. Membuat penghuni rumah terlelap... di bawah hangatnya balutan selimut .


Tiba-tiba ponsel Emeli berdering,Emeli mencoba menghiraukan. Namun handphonenya tetap bernyanyi nyaring. memaksa Emeli untuk Bagun dan mengangkatnya.


"Halo apa.... apa harus sekarang"

__ADS_1


Emeli memaksa matanya terbuka lalu menatap jam yang masih menunjukan 01:00 dini hari.


Dengan cepat mengambil jaket yang tergantung lalu melangkah pergi.


__ADS_2