Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
kamu tidak bisa mengelak


__ADS_3

Emeli mengerjapkan mata, lalu mengedarkan pandangannya, mengerutkan kening melihat ruangan yang terasa asing.


Pandangan Emeli terhenti pada sesosok pria yang menyenderkan kepalanya disisi ranjang dengan mata masih terpejam.


Posisinya setengah duduk sembari memegang punggung tangan Emeli, sungguh terlihat tidak nyaman tapi tidur Saga begitu pulas.


"Saga." Ujar Emeli.


Emeli mengerakkan tangan yang di pegang Saga. Merasa ada pergerakan yang mengusik tidurnya Saga. Membuka matanya dengan malas, karna masih terlalu mengantuk, Setelah semalaman tidak bisa tidur menjaga Emeli.


Perlahan berangsur sadar saat netranya menangkap Emeli yang sudah terjaga dengan raut masih pucat.


"Bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya Saga khawatir menatap Emeli dengan tatapan nanar.


"Aku baik-baik saja Saga, cuma masih sedikit pusing," Sahutnya


"Syukurlah Emeli aku khawatir setengah mati tadi, aku menyesal membiarkan mu ikut dengan Devan, mulai sekarang aku tidak akan mengizinkan mu bersama dia lagi."


Sejenak Emeli terdiam mengingat kejadian sebelum dia pingsang, Tiba-tiba keringat dingin membasahi keningnya. Tangan Emeli yang terulur mencengkram sprei menatap Saga dengan manik mata tajam.


"Saga aku tau pelakunya.?" Ucap Emeli langsung tampa basa-basi.


"Pelaku apa Emeli,?" tanya Saga yang tidak mengerti.


"Pelaku yang selama ini kita cari, pembunuh berantai yang siap melakukan apa saja agar tujuannya tercapai.Aku tau siapa pelakunya, dia sangat dekat dengan kita." Jelasnya.


"Siapa...?"tanya Saga terkejut.


"Diandra, Diandra pelakunya."


"Apa...?"teriak Saga dengan mulut menganga tak percaya. Sedetik kemudian mulai sadar dari keterkejutan.


"Tidak mungkin Emeli, tidak mungkin Diandra kamu tau kan Diandra sangat lembut bagaimana mungkin dia menjadi pembunuh,?" Saga berucap penuh keheranan.


"Apa yang aku katakan itu benar adanya" Terang Emeli mencoba meyakinkan.


"Lantas apa yang membuatmu begitu yakin kalau dia pelakunya.?" tanya Saga tidak percaya menganggap perkataan Emeli hanya gurauan semata.


"Aku mempunyai bukti," ujar Emeli membuat Saga mulai serius menyimak.


"Baju yang dikenakan pelaku saat mendorong tubuhku ke jurang, itu sama persis dengan setelan baju yang berada di dalam lemari Diandra."


"Kamu tidak bercanda kan Emeli?" Ucap saga menaikan satu alisnya dengan nada menggoda.


"Saga untuk apa aku bercanda dalam hal sepenting ini " Ucap Emeli penuh keseriusan membuat Saga tersadar apa yang di ucapkan Emeli bukan gurauan, lalu menyimak lebih dalam.


"Kamu ingat pelaku itu mengetahui kalau aku bukan Laura tapi Emeli. Karena dia Diandra orang yang mengetahui banyak gerak gerik kita Saga.Tolong Saga kali ini percaya padaku.?" Ucap Emeli memegang tangan Saga dengan sorot mata memohon.


Saga, menatap Emeli dengan yakin sedetik kemudian mengangguk setuju.Menjulurkan tangan membalas tangan Emeli.

__ADS_1


"Aku percaya padamu kita akan buat diandra menerima balasan yang setimpal."


Emeli menghela nafas lega setidaknya Saga akan dapat membantunya untuk menangkap Diandra.


"Tapi Emeli, hanya bukti itu kurang kuat untuk membuktikan kalau Diandra bersalah."


"Aku tau aku terlalu gegabah waktu itu. Aku sangat marah. Tampa berpikir panjang menyerang Diandra, aku menyesal, harusnya aku mencari bukti yang lebih kuat dulu." Lirih Emeli mengusab wajahnya penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa Emeli yang terjadi biarlah terjadi yang penting kamu selamat. Dan aku yakin Diandra tidak akan tinggal diam, pasti dia akan lebih waspada." Saga memegang dagunya seraya berpikir keras.


"Aku teringat waktu kamu di rumah sakit. Ada seseorang yang masuk ingin mencelakai mu dan itu bertepatan saat Diandra yang menjaga."


"Jadi Diandra berniat membunuhku lagi, aku tidak menyangka Diandra sejahat itu.


Terus di mana orang itu Saga, dia akan menjadi bukti kuat untuk menjerat Diandra ke penjara." tanya Emeli antusias.


"Dia sudah meninggal bunuh diri?"jawab Saga tertunduk lemas.


"Apa..." Emeli menutup mulutnya yang menganga tidak percaya.


" Ini semakin sulit untuk kita?" Terangnya malas


"Apa tidak ada bukti menyangkut Diandra


dari jasadnya."


"Aku sudah memeriksanya beberapa kali tapi tidak ada sedikitpun bukti yang berhubungan dengan Diandra, dia sungguh cerdik bahkan bukti sekecil apapun tidak dapat aku temukan."


"Handphone.. " mendengar kata itu membuat Saga teringat akan sesuatu.


"Ya aku ingat, saat aku menatap Zico dia sedang menelpon seseorang, tapi saat memeriksa jasad nya handphone itu sudah tidak ada."


"Sial mengapa aku melupakan hal sepenting itu."Saga membanting tangannya frustasi akan kebodohannya.


Tenanglah Saga, mungkin kita bisa mencari bukti lain, bukankan kejadian itu di rumah sakit ini dan sudah hampir satu bulan.


"Apa ada fotonya aku mau melihat?" Tanya Emeli penasarannya.Yuda menunjukkan foto Zico yang tersimpan di handphone nya.


"Dia masih mudah tapi mati mengenaskan karena Diandra. Mungkin handphone itu sudah di temukan seseorang." ujar Emeli mendogakkan wajah menatap Saga


"Aku pikir juga begitu, kamu tenang saja Emeli aku akan mengurusnya, pasti ada cara untuk menangkap diandra.


Tidak ada kejahatan yang sempurna,yang terpenting kamu Jagan selalu bertindak gegabah, ingat berapa kali nyawamu hampir melayang karna kecerobohan mu" Jelas Saga.


"Tapi Saga"


"Tidak ada tapi tapian percayakan padaku, aku akan membuat Diandra membusuk di penjara."


****

__ADS_1


Sehari setelah nya Emeli di ijinkan pulang dia sedang berdiri di depan resepsionis menunggu antrian untuk membayar rumah sakit.


"Tadi tuan Wijaya menelpon katanya dia sulit menghubungimu, aku lupa memberitahunya kalau kamu bersamaku, telpon tuan agar tidak kahawatir." Saga menyodorkan handphone nya.


" Aku bayar rumah sakit dulu." Emeli mengangguk sembari mengambil handphone Saga.


Saat hendak menelpon Tiba-tiba perut Emeli merasa mules,dia mengurungkan menelpon lalu berlari ke arah kamar mandi.


Suasana kamar mandi begitu sepi terdengar langkah seseorang masuk. Dua orang OB yang akan membersihkan kamar mandi itu.


"Lihat apa yang gue bawa,?" ucap salah seorang OB sembari mengambil handphone mahal dari kantongnya.


"Wuih dapat dari mana Loe ponsel mahal kayak gitu,?"


"Sini gue bisikin"


"Gak usah di bisikin lagian gak ada orang.


pintu juga dipasang tulisan di larang masuk, ayo dapat dari mana ponsel itu. Jangan-jangan loe nyuri ya...?"


"Sebenarnya gue sudah menemukan hampir sebulan, dan orang yang punya ini sudah meninggal."


"Kok loe tau bro,?" tanyanya.


"Gue cocokin fotonya ma foto di surat kabar. foto itu sama persis lagian dia bunuh diri di sini, pasti dia orangnya." Jelasnya.


"Terus mau loe apain tu ponsel?"


"Niatnya sih mau gue jual kan lumayan lagian udah sebulan gak ada yang hubungin." Jelasnya.


"Benar juga nanti bagi-bagi ya.?"


"Hem...." Suara deheman seseorang dari balik punggung mereka membuat OB itu terperanjat menoleh kaget.


*******


Diandra sudah pulang dia melakukan rutinitas biasa bersama Devan tapi kali ini lebih manja dan over protektif. Membuat Devan sulit bergerak bahkan untuk mencari Emeli di kamar.


Devan duduk di ruang TV, dia menyalahkan TV tapi pandangannya teralih pada pintu kamar Emeli yang selalu tertutup rapat.


Ada rasa ingin tau tapi amarah, masih menahan untuk datang sampai Devan tidak tau kalau Emeli tidak berada di rumah.


Diandra mendekat membawakan susu hangat untuk Devan. Tiba-tiba dering ponsel berbunyi yang tersimpan di sakunya.


Diandra menaruh susu itu di meja lalu mengambil handphone nya. Sontak matanya terbelalak melihat nama Zico tertera di layar ponsel.


Degup jantung Diandra semakin kencang ketakutan menyelimutinya dengan tangan bergetar Diandra mengangkat telpon


"Halo..." ucapnya ragu.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa mengelak lagi bersiaplah Diandra kamu akan membusuk di penjara," ucap Emeli di sebrang telpon


Diandra terperangah lalu menjatuhkan handphonenya, hingga tergeletak lantai.


__ADS_2