
Tubuh Emeli terpental di pinggir jalan,membuat keningnya sedikit terluka karna kerikil tajam.
Dia bangkit matanya terbelalak mendapati Fandi yang terkapar di tengah jalan bersimbah darah, sebelum mobil itu menabrak Emeli. Fandi terlebih dahulu mendorongnya membuat mobil itu menabrak dirinya.
Emeli terkejut dadanya terasa sesak mendapati keadaan Fandi dia merangkak mendekat, dengan tubuh bergetar karna isakan
dia memangku kepala Fandi yang penuh darah,
"Kenapa kamu lakukan itu, kenapa tidak aku saja yang tertabrak...." tubuhnya terguncang dalam kekalutan. Ada rasa sesal mendalam menatap orang yang paling dicintai berkorban.
Fandi menggelengkan kepala dengan pelan sembari tersenyum di tengah kekuatannya yang mulai melemah.
"Apa kamu mau memaafkan ku..?" lirihnya Emeli mengangguk dalam tangisan.
"Jagan bicara lagi, aku akan membawamu ke rumah sakit, tiba-tiba Fandi mencengkram tangan Emeli sembari menggelengkan kepala.
"Tidak ada waktu lagi...." Ucapnya sembari menahan sakit.
"Tidak Jagan bilang begitu, aku akan berusaha menyelamatkan mu kak..."Mecoba meyakinkan di tengah kepanikan.
"Emeli... " ucap Fandi dengan suara lebih pelan.
Emeli mendekat kan wajahnya ke wajah Fandi,
mencoba mendengar ucapannya.
"Aku sudah menepati janjiku, untuk mencintai mu selamanya... apalagi kamu telah memaafkan ku. Jadi aku bisa pergi dengan tenang. lirihnya dengan mata mengembun.
"Jagan bicara seperti itu..... kakak tau sendiri aku bertahan hidup karna kakak, lalu untuk apa aku di sini kalau kamu pergi..." ucap Emeli histeris dengan suara tangis yang menyayat hati.
Tiba-tiba Fandi terbatuk mulutnya mengeluarkan darah.Membuat Emeli begitu panik.
"Kak Fandi..." ucap Emeli dalam tangis yang memilukan.Fandi menjulurkan tangannya yang bergetar dengan kekuatan yang tersisa mengusab air mata Emeli dengan lembut.
"Jagan menangis, kamu bisa Tampa aku.
Emelia Anandita... aku mencintai. ujarnya
lalu tangan Fandi terjatuh dan matanya mulai tertutup pelan.
Kak fan......di teriak Emeli melengking tajam menggema di bawah guyuran hujan dia terisak sembari memeluk jasad Fandi.
Aku tidak mungkin bisa bertahan.. kalau kakak pergi, Kak Fandi... tubuhnya terguncang dengan tangisan yang memilukan.
*******
Sedang di mobil seseorang membanting setir mobilnya dengan kasar.
"Sial kenapa bisa meleset." Teriaknya.
lalu menundukkan kepalanya, di setir mobil hening sejenak. Tiba-tiba orang itu mendongakkan wajahnya dengan tatapan tajam.
"Tidak hari ini dia harus mati." lalu memutar balik mobil itu dan melajukan dengan kencang.
Sedangkan Devan masih tertegun melihat keadaan Fandi dan Emeli. Membuatnya mematung dan tidak tau harus berbuat apa.
pikirannya kalut dan penuh pertanyaan yang belum terjawab. Devan melangkah dengan pelan mengusab wajahnya yang basah karena hujan, melangkah mendekati Emeli yang menangis histeris.
__ADS_1
Tiba-tiba matanya terbelalak menatap mobil hitam melaju kencang ke arah Emeli dan Fandi
"Laura....."teriak Devan, Sembari berlari kencang mencoba menyelamatkan Emeli.
Mobil itu semakin cepat bersama nyala lampu yang menembus hujan.
Tidak ada pikiran yang lain, selain menyelamatkan gadis yang di cintai ya
Tampa berpikir panjang Devan memeluk Emeli yang sedang memeluk tubuh Fandi.
Devan memejamkan mata pasrah dengan apa yang akan terjadi bahkan jika dia harus mati bersama Emeli.
Tiba-tiba mobil itu mengerem mendapati Devan berada di depannya lalu memutar mobilnya dan berbalik arah lalu melajukan mobilnya dengan cepat.
Devan yang terperanjat mendapati mobil itu sudah pergi lalu menatap Emeli yang terdiam mematung dengan tatapan kosong.
"Laura...Laura..." kamu tidak apa-apa?"
Tidak ada sautan dia hanya diam membisu
Devan menepuk-nepuk pipi Emeli mencoba menyadarkan nya membuatnya begitu khawatir namun dia hanya diam.
"Laura kamu....?"ucapan Devan terhenti karna
tiba-tiba tubuh Emeli ambruk di pelukannya.
"Laura... Laura... sadar lah"
mencoba membangunkan di tengah kepanikannya.
"Laura..... " teriaknya membungkam kesunyian malam bersama derasnya hujan yang tak kunjung reda.
Emeli masuk dalam ruangan UGD bersamaan dengan Fandi.Tiba-tiba seorang suster menahan tubuh Devan di balik pintu.
"Maaf tuan anda tidak bisa masuk?"
"Tapi saya suaminya," jawab Devan penuh penekanan.
"Maaf tuan ini sudah peraturan rumah sakit, sebaiknya anda kooperatif agar pasien cepat di tangani" jawab suster itu datar penuh penegasan.
Devan mengalah..lalu mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu, hatinya teriris dengan pikiran melayang mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.... Dia menundukkan kepalanya sembari menutup wajahnya dengan tangan.
"Devan bagaiman keadaan Laura?"
Suara itu membuyarkan lamunan Devan dia mendongak wajah menatap pria tua itu dengan tatapan mengembun.
"Laura pa... Laura." lirihnya katanya tercekat dengan perasaan sedihnya yang mendominasi.
Ardi duduk lalu memeluk putranya yang terlihat kacau.
"Tenanglah Devan istrimu akan baik-baik saja papa yakin Laura gadis yang kuat."
Sembari menepuk pelan punggung putranya,meski sebenarnya dia begitu terpukul mendapati keadaan menantunya.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Laura, Devan, tidak akan bisa memaafkan diri Devan,
karena terlambat menolongnya." Lirihnya
__ADS_1
Ardi melepaskan pelukannya merengkuh kedua lengan putranya.
"Mana Devan yang kuat, kenapa kamu serapuh ini jika kamu seperti ini siapa yang akan menguatkan Laura..?"
"Tapi pa..." ucapnya tampak ragu.
"Devan sekaranglah waktunya untuk kamu membuktikan bahwa kamu lelaki yang tepat untuk Laura, temani dia di situasi terburuknya... Papa yakin kamu bisa nak." ucap Ardi dengan sorot mata meyakinkan. Devan menghela nafas sembari mengangguk.
"lihatlah baju mu basah gantilah dulu..."
"Tidak pa... Devan tidak akan pergi sebelum tau keadaan Laura."Ujarnya datar.
"Devan biar papa yang akan menjaga laura, di sini."Ucap Ardi sembari menatap putranya yang kalut.
"Bukan begitu pa... Devan tidak akan tenang sebelum dokter mejelaskan kondisi Laura sekarang." jawabnya penuh penegasan.
"Devan..."Suara Ardi meninggi.
"Pa... aku mohon" lirihnya dengan tatapan mengiba.
Ardi menghela nafas kesal percuma saja berdebat, tetap saja putranya tidak akan mengalah.
"Apa kamu sudah menghubungi Wijaya ?"
"Belum yang aku pikirkan tadi hanya menghubungi papa." Lirihnya yang telah tertunduk dengan tatapan kosong.
"Baiklah... nanti papa yang akan menghubunginya." Ujar Ardi Devan hanya diam. tampa sautan.
Ardi menatap nanar putranya yang terlihat kacau dengan penampilan yang berantakan.
Dia tidak menyangka Devan akan memiliki perasaan sedalam ini pada Laura.
Gadis yang terpaksa di nikahi.Tidak ada lagi Sirat kebencian yang terpancar hanyalah cinta yang mendalam dari manik mata putranya.
Tiba-tiba pintu yang sedari tadi di tatap Devan terbuka.
Keluarlah seorang dokter pria dengan raut wajah tak terbaca dengan cepat Devan dan Ardi menghampiri nya.
"Bagaiman keadaan mereka dok?" tanya Devan
"Maafkan kami, sebisa mungkin kami sudah berusaha yang terbaik. namun takdir berkata lain."
"Apa maksud dokter?" tanyanya khawatir.
"Pria itu tidak bisa kami selamatkan. Dia sudah meninggal sebelum anda membawanya ke sini."
Devan membungkam mulutnya yang menganga karna terkejut.Namun berusaha bersikap tenang.Dia tidak menyangka Fandi akan meninggal pikirannya kacau penuh pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi di malam itu.
"Tapi bagaimana, dengan istri saya." ujar Devan mematahkan lamunannya.
"Sebenarnya tidak ada hal serius,tapi kami harus memeriksanya lagi, lebih menyeluruh untuk memastikan kondisinya." jawab dokter datar.
"Apa saya boleh menemuinya.?" tanyanya lagi.
"Sebaiknya Jagan dulu dia masih belum sadar setelah kami suntikan obat penenang"
"Terima kasih dok..." Ucap Devan sembari menunduk mempersilahkan untuk dokter pergi.
__ADS_1
Tepukan di pundaknya membuat Devan mendongak kan wajah menatap Ardi yang terlihat bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi ?"