Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
harus bertahan


__ADS_3

Saat Naina sedang menyetir notifikasi pesan masuk di handphone Naina. Matanya terbelalak menatap pesan yang terpampang jelas. tubuhnya bergetar dengan hati mulai bergemuruh.


"Pergilah dengan tenang putrimu yang cantik akan aman."


Naina yang terkejut menjatuhkan handphone di tangannya.dia langsung mencoba menginjak rem.... Namun rem sudah tidak berfungsi mobil tetap melaju.


Dia mencoba mencari bantuan dengan cara menelpon Naina menjulurkan tangan ke bawah untuk mengambil handphone sedang tangan satunya mengemudi.


Dengan sekuat tenaga dia mencoba meraih hp namun tangannya tidak sampai ,tubuhnya lemas ada guratan kesedihan yang nampak di wajahnya bulir-bulir kristal mengalir deras dari pelupuk matanya


"Aku harus bertahan...untuk Caca dia pasti menungguku ." lirihnya.


Dia menyisir pandangannya lalu menatap handphone yang tergeletak di samping kakinya. "Mungkin jika aku menelpon untuk meminta bantuan aku... akan selamat"


Naina salah satu tangan Naina mencoba menggapai handphone.Sedang tangan lain mengemudi.


Saat beberapa kali mencoba, handphone bukan di dapat malah semakin jauh...dia lebih membungkukkan badannya lalu memberanikan diri menatap ke arah handphone. saat handphone berada di tangganya.


Tiba-tiba di arah yang berlawanan ada mobil melaju cepat di depannya membuat Naina reflek membanting setir


hingga laju mobil tak terkendali.


Brukkkk


Mobil itu menabrak tiang pembatas jalan dengan keras,Beruntung Naina selamat hanya keningnya memar,Naina mengerjakan mata mengedarkan pandangannya mencari benda pipih yang ingin di digapainya sembari memijat pelipisnya yang terasa pening.


Pandangannya terhenti pada handphone yang tergeletak.dia meraih handphonenya namun naas handphone yang di pegang... layarnya retak tak bisa berfungsi lagi.


Naina memejamkan mata tak terasa bulir-bulir kristal mengalir deras tak dapat di bendung lagi..."Caca mungkin ini akhir dari hidup bunda kmu harus baik-baik saja Tampa bunda." menyeka air matanya yang telah jatuh. badannya teras remuk.dengan deru nafas mulai memburu.. "tidak aku tidak boleh pesimis aku harus bertahan" ucapnya.


Naina bangkit keluar dari mobil dengan sisa tenaga yang ada...


tolong..... tolong..... tolong aku teriaknya namun tidak ada sautan jalan begitu lengan tidak ada satupun mobil yang lewat,


terpaksa Naina menyusuri jalan dengan langkah pelan berharap menemukan seseorang yang dapat membantunya.


Bayangan Caca terus bermunculan.


kakinya terasa lemas, kesakitan menjalar di sekujur tubuh nya,


"Aku harus hidup demi Caca."


Naina memegang besi pembatas jalan pandangan matanya mulai kabur.Seolah tak mampu lagi berjalan.


" Kalau ini akhir dari hidup bunda... Caca kamu harus baik-baik Tampa bunda. hiks hiks hiks sembari menangis pilu.


Brukk


Naina merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya tangannya terangkat memegangi kepalanya. Tiba-tiba darah mengucur deras mengalir melewati celah jari-jarinya hingga membasahi gelangnya.


Naina berbalik matanya terbelalak


menatap orang itu di depannya. membawa sebuah balok.Dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan mu"


ucapnya seraya tersenyum.


Dia melempar balok itu dan menarik tangan Naina, dengan sisa tenaga yang Naina punya,dia meronta-ronta untuk melepaskan cengkeramannya membuat gelang Naina terlepas.orang itu tidak bergeming malah mempererat pegangannya.


Naina merasakan pusing yang luar biasa penglihatan Naina mulai kabur.


Caca Caca lirihnya tiba-tiba semuanya menjadi gelap.


Brukkkk Naina pingsan,orang itu memapah tubuh Naina masuk dalam mobil.


lalu mengambil balok kayu dia tidak menyadari gelang Naina tertinggal.


memasukan kayu itu dalam mobilnya dan mengambil selang yang telah di persiapkan.


Dia membuka tangki bensin mobil Naina. lalu memasukkan selang itu dan meniupnya


bensinnya mengalir keluar dan membasahi jalan di bawah mobil.


dia berjalan dengan santai sembari menyunggingkan senyum. Selang beberapa langkah dia berhenti mengambil pemantik dalam sakunya.


Dia menghidupkan pemantik api lalu menatap tajam nyala api itu.


Jagan salahkan aku Naina... ini semua salahmu terlalu banyak tau tentang ku.


lalu melempar pemantik itu ke arah mobil


flash off


Seseorang yang berdiri di jembatan itu memandang sungai yang cukup deras dengan gemercik air yang masih menari-nari di sapu angin malam.Dia memejamkan mengeratkan gelang Naina dalam genggaman. Lalu melemparkannya dalam air.


Dan bergegas pergi meninggalkan mobil Saga yang terparkir di bibir jalan.


*****


Di rumah sakit dengan setia Saga menunggu Emeli yang terbaring lemas di ranjang.


tangan Emeli mulai bergerak dan matanya mulai terbuka.lalu mengedarkan pandangannya menatap tempat yang begitu asing.


Pandangannya terhenti pada lelaki yang tengah duduk menyenderkan kepalanya di bibir ranjang dengan mata terpejam, sedangkan tangannya masih bertumpu di tangan Emeli.


Saga ucap emeli lirih


pemuda itu membuka matanya.


mengusap mata yang terpejam seolah enggan terjaga.Tiba-tiba matanya terbelalak menatap gadis di depannya sudah siuman.


"Syukurlah Emeli kamu sudah sadar..."


Mengusap lembut kepala emeli dengan mata berbinar."Aku di mana saga?" menatap Saga penuh tanya.


"Kamu di rumah sakit kemaren Kamu pingsan dan kehilangan banyak darah.Bahkan sudah satu hari kmu belum tidak sadar."

__ADS_1


"Kamu tau Emeli... aku sangat takut Jagan berbuat apapun lagi yang membuatmu dalam bahaya " Saga memegang tangan Emeli dengan tatapan sendu.


"Maafkan aku saga.. aku salah..."


menundukkan wajah dengan air mata mengalir mengingat kesalahan yang di lakukan.


"Jagan menangis... aku tidak suka." Saga mendogakkan wajah Emeli lalu menyeka air matanya.


"Tersenyumlah untuk ku... sebagai Hadiah sudah seharian menemanimu di sini." dengan kerlingan mata menggoda.Membuat Emeli tersenyum...


"Kalau begitu kan cantik." lalu mengacak-acak rambut Emeli sembari tersenyum.


Emeli... pekiknya tampak ragu


Tiba-tiba suasana jadi serius


Ada apa saga?" lirihnya menatap Saga. Penuh tanaya.


"Begini tuan Ardi menelpon dia menghawatirkan hubungan mu dengan Devan beliau mengatakan jika. besok kita tidak pulang, dia akan menjemput kita disini....,


kalau itu terjadi maka kemungkinan besar rahasia kita akan terbongkar."


"Baiklah besok pagi kita pulang."ujar Emeli.


"Apa kamu yakin dengan kondisimu sekarang?"


Saga menatap Emeli seolah ragu.


"Aku yakin... lagi pula aku tidak mau rahasia kita terbongkar... sebelum pelakunya tertangkap."


"Terima kasih Emeli untuk semuanya, kamu telah berkorban begitu banyak untuk misi ku."Saga memegang tangan Emeli sembari menunduk sendu.


"Tidak apa-apa, aku ikhlas melakukan semua ini


mungkin ini garis hidupku"


Saga tersenyum menatap Emeli yang tersenyum padanya.


********


"Emeli Bagun" ucap Saga seraya menepuk pelan pipi Emeli.Gadis itu mengerjap lalu membuka matanya.Dia berbalik menatap kaca mobil." Hah...rumah ini, kapan kita sampai di rumah Devan?"tanya Emeli


"Sekitar sepuluh menit yang lalu.."jawab Saga datar.Emeli mendongakkan wajahnya menatap Saga. "Kenapa tidak membangunkan ku?"


"Aku tidak tega kamu tidur terlalu pulas." Emeli membuka jaket Saga, yang menyelimuti tubuhnya. "Terima kasih"


menyodorkan jaket ke tangan Saga.


Emeli membuka pintu mobil, lalu bergegas keluar. Tiba-tiba Saga menarik pergelangannya.


Emeli terlonjak kaget dan menutup kembali pintu mobil. "Ada apa saga?"tanyanya.


"Kamu yakin mau tinggal di sini... di rumah Devan.?"

__ADS_1


__ADS_2