Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
Apa Laura sudah di temukan


__ADS_3

"Diandra Bagun Bagun Diandra." Ujar Devan menepuk-nepuk pipinya, namun diandra masih saja belum sadar. Membuat devan panik setengah mati. Tampa aba-aba Devan menggendongnya membawa tubuh Laura ke mobil.


Mobil itu melaju dengan kencang menembus gelapnya malam, bersama kekalutan Devan yang tak kunjung reda.


Saga menghentikan mobilnya tepat di rumah Devan, setelah tadi berpapasan dengan mobil Devan tanpa mereka sadari.


Saga keluar bergegas pergi setengah berlari tergopoh-gopoh menemui bik Imah penuh kekhawatiran.


"Bik apa Laura sudah di temukan?" bik Imah terperanjat sekaligus suara Saga memecahkan lamunan panjangnya. Setelah menyaksikan pertengkaran hebat majikannya.


Bik Imah menghela nafas panjang, melihat kedatangan Saga bersama kelegaan karena dia datang setelah kepergian tuannya.Dia tidak akan membayangkan bagaimana marahnya Devan saat tau Saga berkunjung.


"Begini tuan, Nona Emeli telah kembali tapi dia." Ucapannya tercekat seolah ada keraguan yang menghantamnya untuk jujur.


"Tapi kenapa bik?" tanya Saga penasaran melihat bibik tampak ragu sembari meremas tangannya sedari tadi.


Bik Imah memberanikan diri menatap Saga yang terlihat tulus, dia juga khawatir tentang keadaan nona mudanya setelah sedari tadi tidak kunjung muncul.


"Tuan dan nona barusan berantem, Tuan menarik nona Laura dalam kamar. Setelahnya pergi bersama nyonya Diandra sekarang saya tidak tau keadaan nona di dalam.


"Apa...." Saga terperanjat melangkahkan kaki dengan cepat melihat kamar Emeli yang kosong lalu matanya teralih ke kamar mandir yang sedikit terbuka, lalu mengerakkan kakinya melangkah mata Saga terbelalak setelah membuka pintu.


"Emeli..." ucapnya dengan tubuh sedikit bergetar dengan keterkejutan yang teramat,


terlihat Emeli pingsang bersama genangan air yang memerah yang mengalir darah dari kening Emeli yang terluka.


Saga segera menghampiri Emeli lalu mengendong ya dengan langkah kencang membawanya ke rumah sakit.


Tidak ada lagi raut wajah manis dan mengemaskan, yang ada raut wajah pucat pasif seperti kulit yang tidak tersentuh matahari.


Dingin sangat terasa di telapak tangan Emeli Saat Saga memegangnya tidak terasa bulir-bulir kristal lolos dari pelupuk matanya.


Saga menyesali diri membiarkan Emeli kembali bersama Devan. Janji tiga hari yang Emeli ucapkan kini berakhir petaka.

__ADS_1


"Emeli kamu harus kuat "ucap Saga sembari melangkah kencang mendorong tubuh Emeli yang terbaring di troli ranjang rumah sakit menuju UGD.


Namun dengan tiba-tiba langkah Saga terhenti saat Suster melarangnya masuk dalam ruangan, Rafka menghela nafas panjang.


Begitu frustasi di menyenderkan punggungnya di balik dinding perlahan tapi pasti tubuh tegap dan tinggi itu kian merosot bersama penyesalan yang kian berkecamuk.


Kini tatapan penyesalan berubah tajam seakan elang menemukan mangsa. Mata Saga memerah penuh emosi lalu mengepal hingga urat-urat kekar terlihat dari tangannya.


"Devan aku tidak akan melepaskan mu. Kalau sampai terjadi seseuatu pada Emeli aku sendiri yang akan menghabisi mu."


Di rumah sakit yang sama tapi berbeda ruangan Diandra sudah sadar di temani Devan yang selalu setia berada di samping nya meski pikirannya berkecamuk, memikirkan keadaan Emeli setelah apa yang dia perbuat.


Namun Diandra terus saja mengengam erat dirinya , seolah mengatakan aku sangat membutuhkan mu kalimat pamungkas membuat Devan tidak berkutik.


"Diandra bagaimana keadaan mu sayang ?" tanya Devan sembari mengusap pipi lembut sang istri.


"Aku lebih baik Devan, tapi aku takut Emeli akan berbuat nekat padaku, kamu tau tadi, betapa dia ingin menghabisi ku. Ujarnya dengan wajah memelas bersama air mata yang mengalir deras membasahi pipinya. Devan tersentuh menarik Diandra dalam pelukannya.


"Tenanglah sayang ,kamu akan baik-baik saja Laura tidak akan bisa menyakitimu, aku janji Jagan takut." Sahut Devan begitu lembut agar istrinya lebih tenang, Diandra tersenyum rencananya menarik simpatik Devan berhasil.


Malam sebelum insiden kecelakaan


Diandra keluar kamar hendak mengambil minum, matanya teralih pada Emeli yang keluar dini hari mengendap-endap.


Senyum terlukis di bibir Diandra karna pemikiran licik sudah ada di benaknya, Diandra kembali ke kamar.


Lalu mengambil handphone sebelum pergi Laura mengambil selimut di tata sedemikian rupa lalu di tutupi selimut tidurnya maka tampak seperti seorang yang sedang tertidur di bawah selimut.


Tidak ada pergerakan dari Devan yang tertidur sangat pulas.Lalu Diandra melangkah pelan keluar kamar sembari membawa handphone.


untuk berkirim pesan.


Diandra menunggu di sudut jalan terlihat sebuah mobil berhenti di depannya, Zico keluar dari mobil menghampiri Diandra yang sedari tadi menunggu.

__ADS_1


"Ini kunci mobilnya?" ujar Zico sembari menjulurkan tangan memberi kunci mobil.


"Bagus, apa kamu sudah memalsukan plat nomornya?" ucap Diandra menjulurkan tangan menagapai kunci mobil itu.


semua yang kamu perintahkan sudah aku laksanakan. Untuk apa meminta mobil di pagi buta begini?" tanyanya penasaran.


"Aku ingin menghabisi seseorang yang menganggu kehidupanku." Jelasnya.


"Kenapa tidak meminta bantuan ku, aku selalu siap membantu mu" Tawar zico


"Tidak aku ingin menghabisinya sendiri, akan sangat menyenangkan melihat dia meregang nyawa." Ujar Diandra dengan senyum yang tersungging di bibirnya lalu melangkah beberapa langkah di depannya.


"Kamu sangat cantik Diandra, tapi kamu begitu jahat." Sahut Zico mengelengkan kepala heran.


"Tentu saja, bukankah aku begitu pintar memainkan peran. Dan Emeli inilah akhir hidupnya mati di tanganku." Senyum kembali merekah di bibirnya meremas kunci di tangannya dengan kuat.


*****


Dari kejauhan Diandra mengintai Emeli yang sedang berbicara serius dengan Fandi dia menunggu saat tepat untuk menyerang .


Tepat pada saat Emeli berlari ke tengah jalan di ikuti Fandi. senyum kembali hadir di bibir Diandra dengan gerakan cepat menjalankan mobil.


Matanya berbinar-binar melihat mangsanya terkunci. Tiba-tiba Fandi mendorong Emeli membuat Fandi yang tertabrak hingga terpental bersimbah darah.


"Arrkk..." teriak Diandra kesal dalam mobil rencana yang tersusun rapi kini berantakan.


"Tidak hari ini dia harus mati."


Diandra kembali saat ingin menabrak Emeli yang berada di tengah jalan menangisi Fandi Diandra melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi memecahkan derasnya hujan. Tiba-tiba Devan datang memeluk Emeli .


Seketika Diandra terkejut lalu menghentikan mobilnya. Tidak mungkin baginya untuk mencelakai orang yang paling dia cintai, lalu memutar mobilnya kembali


Flash off.

__ADS_1


"Kamu hanya miliki Devan, hanya milikku."


Diandra mengeratkan tangan memeluk perut Devan dengan senyum penuh kemenangan


__ADS_2