
Mendengar ucapan itu, mata emeli terbelalak, tubuhnya mematung, deru nafasnya memburu dengan detak jantung yang tak beraturan.
Emeli menjatuhkan tubuhnya setelah melihat celah dia berlari masuk ke kamar mandi dengan rasa takut yang berkecamuk.
"Dia benar-benar membuatku takut aku harus cari cara menjauh darinya."
Sedangkan Devan hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol emeli.
*******
Setelah semuanya siap mereka kembali pulang menaiki mobil suasana hening terasa, Emeli yang sibuk dengan gawainya ,Devan sibuk dengan pikirannya sesekali melirik Emeli sedangkan, Jhoni tengah fokus menyetir
"Jhoni, sepertinya aku tidak ke kantor sekarang, aku ingin di rumah saja." suara Devan memecahkan suasana.
"Maaf tuan, hari ini ada rapat penting, dengan PT Adiguna core, bukankah kemaren anda sudah membatalkannya, jika anda membatalkan lagi, maka profesionalitas perusahaan kita akan di pertanyakan tuan."
Devan menghela nafas kesal, "Baiklah setelah mengantar, Laura kerumah, kita langsung ke kantor"ucapnya.
"Baik tuan...saya tahu tuan anda ingin bersama nona Laura ,tapi anda tidak bisa meninggalkan tanggung jawab Anda begitu saja. gumam jhoni.
Mobil berhenti di depan rumah Devan, Tampa bicara Emeli keluar dari mobil menghampiri
Saga yang tengah duduk di teras,
Devan mengepalkan tangan ,dengan sorot mata penuh amarah menatap Emeli dan Saga yang sedang mengobrol.
Tiba-tiba mobil, Diandra datang dia keluar dan menghampiri Devan.
"Sayang kamu baru datang?" Devan mendongak wajahnya menatap Diandra yang terlihat letih, "lya baru sampai ,kamu juga baru datang?" ucap Devan lembut.
"Ayo kita masuk?" menarik lengan Devan.
"Tidak aku harus ke kantor ada rapat penting, baiklah aku pergi dulu ya." mencium pipi Diandra, Devan melirik sekilas Emeli dan Saga
dengan wajah masam, lalu masuk mobil.
"Jhoni ayo jalan" dengan raut wajah kesal
Jhoni menggelengkan kepala menatap ekspresi wajah tuannya.
__ADS_1
"Suasana tuan sedang buruk...pasti di kantor dia akan marah-marah lagi." lirihnya
"Kamu bilang sesuatu?"menatap Jhoni penuh tanya."Tidak tuan "
"kenapa diam, ayo cepat jalan"
"baik tuan" jhoni pun menjalankan mobil.
******
"Emeli kamu sudah pulang, apa kamu baik baik saja?""Tentu saja aku kan gadis kuat," mengangkat kedua tangannya bak binaraga,
membuat saga tersenyum kecil emeli duduk di samping saga.
"Tumben kamu gak ke kantor?"
"Biasanya meski libur, kamu selalu saja ke sana mengecek ulang berkas."
"Tidak apa-apa hanya ingin libur saja,"
"Jagan bohong aku tahu sekali kamu,
kenapa wajahmu nampak gelisah apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan ?"
"Saga apa ini, ada hubungannya dengan..."
kata kata emeli berhenti melihat Diandra yang mendekat lalu masuk rumah Tampa menyapa.
"Emeli sebaiknya kita bicara di luar"
saga dan emeli masuk mobil selang beberapa mobil terhenti di tepi jalan yang sepi.
"Katakan saga, Jagan buat aku penasaran?"
"Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan mu dengan masalah ini" dengan wajah lesu.
"Apa ini masalah Laura ?"
"Iya..." sembari mengangguk.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak melibatkan ku, jelas aku peran utama dalam masalah ini, kamu tahu saga, aku sudah sangat lelah menjadi bayangan Laura, aku jga ingin masalah ini selesai agar aku bisa melanjutkan hidupku sebagi Emeli."
"Maafkan aku emeli mungkin semuanya sudah terlambat, kita sudah tidak bisa mengungkapkan kebenaran nya"menatap emeli dengan sorot mata sendu.
"Maksudmu ?"
"Sebenarnya rumah sakit telah menghubungiku bahwa mereka sudah menemukan dr naina,
"Bahkan aku jga sudah menghubunginya, dan kita sudah janjian untuk bertemu."
"Bukankah itu bagus... kita akan tau semuanya dan aku akan terbebas" dengan mata berbinar-binar.
"Andai itu benar,"
saga memejamkan mata lalu
menghela nafas letih.
"Di tempat yang di janjikan aku menunggunya, dari pagi sampai malam, tapi sayangnya dr naina tidak datang."
dan kamu tahu....tadi pagi pihak rumah sakit mengatakan dokter naina kecelakaan mobilnya terbakar dan meninggal di tempat."
"Apa...?"
"Itu benar emeli mungkin demi pak Wijaya selamanya kamu akan menjadi Laura"
"Maafkan aku."
"Tidak saga, jika ini di sebut kecelakaan ini terlalu kebetulan."
"Maksudmu...?"menatap emeli dengan intens
"Aku yakin dia tidak kecelakaan tapi di dilenyapkan."
"Emeli aku tahu, kamu sedih tapi kamu harus terima, bahwa saksi kunci kita sudah tidak ada"
"Itu maksudku, dia saksi kunci, dia kecelakaan saat akan bertemu dengan mu, ini sungguh kebetulan yang sempurna saga"
"Ja....di maksudmu?"
__ADS_1
"Yang mencelakai Laura bisa saja mencelakai dokter naina untuk menutupi bukti?"
"kita harus selidiki ini.."