Misi Dan Cinta

Misi Dan Cinta
itu, itu suara Diandra


__ADS_3

Sebuah mobil melaju dengan kencang memecah keramaian mobil yang melalu lalang. Saga terperanjat saat melihat ponselnya berdering. Lelaki tegap itu, mengambil ponselnya yang tersimpan di saku celananya dengan satu tangan.


Melihat Emeli yang menghubunginya. Saga mendadak menginjak rem, dengan wajah panik Saga menerima telpon itu. Devan terperanjat melihat reaksi Saga, lalu menajamkan pendengarannya.


"Halo Emeli? kamu dimana. Bagaimana keadaanmu sekarang, kamu baik-baik saja kan, Emeli?". Saga begitu khawatir sampai tidak memberi jeda untuk Emeli menjawab.


"Emeli, kenapa Saga terus menerus menyebut nama itu,dan kenapa wajah Saga begitu panik apa jangan-jangan.Apa yang diucapkan Saga itu benar.Tapi tidak, tidak mungkin Diandra membunuh Laura, itu tidak mungkin terjadi." Devan menerka-nerka di hatinya.


Devan yang duduk di samping Saga menatapnya dengan seksama. Saga yang tengah menelpon dengan serius. Sementara pikiran Devan sibuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Halo Emeli, tolong jawablah?"


"Iya Saga ini aku, tolong pelankan suaramu. Aku tidak mau para penjaga itu tau, aku mengambil ponselnya" suara Emeli terdengar pelan.


"Apa kamu baik-baik saja. Aku sudah melacak keberadaan mu, Aku sekarang menuju kesana, tunggu aku Emeli." Saga meyakinkan Emeli


"Iya Saga, tapi apapun yang terjadi padaku, jangan pernah menyerah pada Diandra , Diandra harus tertangkap. Apapun yang terjadi" Emeli mengingatkan di seberang sana.


"Tapi Emeli!"

__ADS_1


Devan yang begitu penasaran langsung merampas handphone Saga.


"Halo siapa kamu sebenarnya?" tanya Devan dengan yang menelpon.


"Devan..?" Emeli terperanjat, mendengar suara Devan, dia tidak menyangka Devan akan mengetahui semuanya, sedang posisinya sangat tidak memungkinkan untuk menjelaskan.


"Aku mohon, pelankan suaranya, Aku takut mereka mendengar." lirih Emeli. Ketakutan.


"Kurang ajar! berikan ponselku. Kalau tidak, aku akan menurunkan mu di sini" bentak Saga begitu marah saat ponselnya Devan rampas.


"Hei kenapa kalian jangan ribut, disini nyawaku taruhannya, pelankan suaranya. Aku mohon!"


"Kamu puas sekarang, Aku mohon jangan bertindak bodoh?" lirih Saga, menatap Devan dengan tatapan memohon.


Emeli yang mendengar suara langkah kaki mendekat. Langsung menaruh handphonenya di kolong nakas setelah mengaktifkan speaker ponsel, agar Saga dan Devan tau kondisi dirinya.


"Brak!"suara pintu terbuka.Terlihat seorang wanita dan dua orang pria kekar di belakangnya.


"Emeli Anandita, mau kabur rupanya, cepat ikat dia." Diandra memerintah.

__ADS_1


"Diandra kurang ajar kamu," ucap Emeli lalu bangkit untuk mencoba menyerang Diandra, yang berdiri melipat tangannya menatap Emeli dingin, Emeli ingin mencekik Diandra tapi kedua pria kekar itu memegangnya. Mereka dengan kasar menyeret gadis muda itu ke sebuah kursi dan mengikatnya.


"Lepaskan! lepaskan aku, Diandra. Kamu wanita iblis, setelah begitu banyak orang yang kamu bunuh. Kamu juga ingin membunuhku hah.?" Mendengar teriakan Emeli Diandra tertawa.


"Pergilah! biarkan gadis ini, menjadi urusanku!" Titah Diandra pada dua orang suruhannya. Wanita cantik itu mendekati Emeli yang terus meronta ingin di lepaskan, lalu menjulurkan tangan menjambak rambut Emeli.


"Dasar tikus kecil, kamu mau menantangku. Kamu harusnya sadar diri betapa cerdasnya orang yang kamu tantang. Bahkan aku tidak segan membuatmu menyusul Laura."


Dari handphone yang dipegang Saga. Kedua lelaki itu, tertegun dengan perasaan berkecamuk. Apalagi Devan. Dia tidak percaya dengan apa yang didengar saat ini.


"Itu, itu suara Diandra!" Devan berucap lirih, dengan manik mata berkaca-kaca. Bagai tersambar petir di siang bolong. Mengetahui istri lembutnya menjadi seorang penjahat.


Tubuhnya melemas, tidak terasa bulir-bulir kristal jatuh di pelupuk mata lelaki berparas tampan itu. Devan mengusab wajahnya mencoba menerima kenyataan yang begitu pahit terasa.


Devan melirik Saga yang mendengar dengan seksama. pria itu menghela napas berat, mencoba menguatkan diri. "Saga jalankan mobilnya mungkin jika kita sampai lebih cepat kita bisa menyelamatkan Emeli" lirih Devan, menatap Saga dengan tatapan nanar. Saga mengangguk lalu memberikan ponselnya ke tangan Devan.


Saga mengerti, mengetahui kebenaran, ini sangat sulit bagi Devan. Tapi kebusukan Diandra tidak bisa dia simpan sendiri, lambat laun Devan harus tau kenyataan sebenarnya.


Saga menghidupkan mesin mobil dengan kencang melajukannya menuju tempat yang Emeli tunjukan, melalu ponselnya. Mereka berdua di buru waktu ,Takut kalau Diandra berubah pikiran dan melenyapkan Emeli.

__ADS_1


__ADS_2