
"Iya itu Zico orang yang ingin mencelakai ku sekaligus kaki tangan Diandra" sahut Emeli melihat raut wajah Saga terkejut.
"Kamu dapat dari mana ponsel ini,?"Saga bertanya sambil mengecek handphone di tangannya.
"Coba kamu lihat isi pesan dan semua bukti ada di situ. Dengan ini kita punya bukti kuat memasukan Diandra ke penjara."
"Iya kamu benar, tapi untuk apa Zico menyimpan bukti ini, bukankah dia sangat setia pada Diandra hingga mempertaruhkan dirinya.?" tanya Saga penasaran.
"Karena keluarganya, aku baca pesan Zico ke temannya jika Diandra mengkhianati keluarga Zico, teman Zico akan menyebar luaskan kejahatan Diandra." Jelas Emeli
"Zico tentu tau siapa Diandra, dia serigala berbulu domba. Menyembunyikan kejahatannya di balik tampang lugunya."
"Jadi apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Saga menatap Emeli mencari sebuah jawaban
"Lapor polisi, setidaknya semua orang harus tau kalau Laura yang sebenarnya sudah meninggal di bunuh diandra.Lagi pula kita harus menuntut keadilan untuk para korban!"
"Iya kamu benar"Sahut Saga mengengam erat ponsel Zico di tangannya.
Dan yang tidak kalah penting aku akan hidup sebagai Emeli, tidak sebagai bayang bayang Laura lagi. Akhirnya aku bisa hidup dengan namaku sendiri Saga." Ungkap Emeli dengan mata berbinar-binar.Saga tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu benar, jadi baiklah nanti aku akan melapor pada polisi , biar semuanya cepat selesai."
"Sebelum itu copy dulu,kita harus mempunyai cadangan takut ada hal yang tidak kita inginkan, kamu tahu Diandra kan dia sangat licik." Jelasnya menatap Saga dengan tatapan menyakinkan.
"Aku setuju, bahkan sampai sekarang, aku masih tidak percaya kalau dia dalang dari semua ini.Tapi ini terlalu larut, belum lagi kita mengkopinya dulu. Bagaimana kalau kita lapor besok pagi.?" tawar Saga menatap Emeli seakan meminta persetujuan,Emeli diam sejenak mencoba berpikir lalu mengangguk setuju.
"Boleh Saga, tapi lebih cepat lebih baik aku tidak ingin Diandra yang licik itu bisa lolos lagi."
"Tidak akan besok pagi semuanya akan berakhir." Tegas Saga dengan sorot mata meyakinkan.
****
Devan yang terbangun dengan posisi di peluk Diandra Beranjak dengan perlahan setelah memindahkan tangan Diandra dengan pelan.
Hatinya sedang gelisah memikirkan Emeli yang sudah tidak di lihatnya dari kemarin. Devan bangkit dan melangkah, langkahnya panjang menuruni anak tangga menuju kamar Emeli.
__ADS_1
Devan sudah berdiri di depan pintu kamar Emeli, mengepalkan tangan sedikit ragu untuk menemuinya.
Namun rasa bersalah dan penyesalan itu teramat kuat. Apalagi mengingat kemarin sikapnya yang keterlaluan, menyeret Emeli ke dalam kamar mandi dengan kasar.
Namum Devan tidak tenang jika harus menunggu, perasaannya kian memanas bersama kerinduan yang semakin mengakar membuatnya ingin menemui Emeli.
Satu ketukan terdengar Namun tidak ada jawaban, Devan mengetuk berkali-kali daun pintu berbahan kayu jati itu.Namun lagi-lagi tidak ada sautan.Hingga keningnya mengerut lalu menghela nafas kasar.
"Mungkinkah dia sedang tertidur pulas?"
Devan mendogakkan wajahnya menatap jam dinding menunjukkan jam 2 dini hari.Lalu melangkah pergi, dia takut kedatangannya akan menganggu tidur Emeli.
Wajahnya tertunduk menunjukan rasa kecewanya lalu melanjutkan langkahnya dengan gontai ke kamar atas. Sampai suara bik Imah terdengar dari balik punggungnya.
"Tuan belum tidur?
Suara bik Imah terdengar parau suara khas bangun tidur. Devan menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap bik Imah yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Iya bik aku belum bisa tidur?" jawabnya datar.
"Apa perlu sesuatu biar bibik bantu tuan?" tanyanya berjalan mendekati Devan.
"Saya hanya mau ambil air minum Tuan." ujarnya menunjukan gelas berbahan alumunium yang dia pegang.
"Hem.." Devan hanya berdehmm sambil mengangguk-angguk mengerti.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan.?" Ucap Imah lalu berangsur menjauh.
"Bik tunggu?" teriak Devan lalu melangkah mendekati Imah yang berbalik menatapnya.
"Ada apa tuan,?" jawab Imah sopan.
"Bagaimana keadaan Laura, setelah kejadian itu apa dia baik-baik saja,?" tanya Devan penasaran.Mendengar nama Laura di sebut seketika mata imah membola dia tidak tau harus menjawab apa.
Imah tertunduk takut tuannya akan marah kalau tidak jujur, tapi jika berbohong dia juga tidak berani.Devan mengerutkan kening melihat tingkah bik Imah yang tampak gugup.
__ADS_1
"Ada apa bik, apa ada yang terjadi?" tanya Devan yang mulai curiga pada pembantunya yang telah berumur setengah abad itu.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan, kalau telah lancang.?" jelasnya sedikit ragu namun bagai teka-teki buat Devan.
"Minta maaf lancang maksudnya apa?" tanyanya lagi dengan tatapan menyelidik.
"Sebenarnya begini tuan, itu non Emeli." jawabnya gugup dengan tangan sedikit bergetar.Membuat Devan semakin penasaran.
"Jawab bik Jagan buat aku tambah penasaran.?" teriaknya lebih kencang dengan tatapan penuh amarah.
"Setelah tuan pergi bersama nona Diandra, tuan Saga datang dia membawa nona Emeli ke rumah sakit" Jelasnya.
"Maksud bibik apa,rumah sakit kanapa dengan Laura?" tanya Devan geram memegang kedua lengan bik Imah dengan mata melotot tajam.
" Tuan Saga menemukan nona laura bersimbah darah di kamar mandi. Lalu tuan Saga membawanya pergi, sampai sekarang bibik belum tau keadaan nona tuan." Jelasnya jujur, tertunduk takut.
"Apa..?"Devan terperangah dia begitu terkejut tangannya melemah hingga tanpa sadar melepaskan cengkraman nya.Bagaimana mungkin dia bisa kecolongan hingga Saga lebih dulu menolong Emeli dari pada dirinya.
"Kenapa bibik tidak bilang padaku,?"Teriaknya keras menggemma di ruangan."
"Maaf tuan, saya takut menganggu tuan yang sedang merawat nona Diandra!." Ungkapnya masih tertunduk gemetaran.
"Bik Imah, harusnya kamu bilang dari awal Jagan sampai begini jadinya. Laura itu istriku bukan Saga, jadi kalau ada apa-apa harusnya kabari aku dulu bukan dia.!" bentak Devan membuat Imah tersentak kaget.
"Maaf kan saya tuan" ujar Imah masih menunduk takut.
"Untung kamu kerja sudah lama, kalau tidak, aku tidak tau, apa yang akan aku lakukan padamu." Tegasnya geram
"Sial..." Devan membanting tangannya, mengusab rambutnya frustasi lalu setengah berlari menuju kamar mengambil kunci mobil.
Di mobil Devan melajukannya dengan kencang sesal meliputi pikirannya. Dia tidak tau harus bersikap bagaimana pada Emeli.Di posisi lain, dia dalam ke adaan yang sulit dia hidup di antara dua wanita yang sama-sama penting di hidupnya.
Emeli wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta, sedang Diandra orang yang membuatnya merasa nyaman,pikirannya terus melayang entah kemana hingga Devan menghentikan mobilnya di depan rumah Wijaya, setelah memaksa masuk di gerbang rumah dengan satpam.
Devan membunyikan bel berkali-kali membuat Emeli yang tertidur terusik, Emeli menatap Jam yang masih menunjukan. Setengah tiga pagi
__ADS_1
"Siapa malam-malam begini bertamu?" Lirihnya Emeli yang penasaran lalu beranjak dari tidurnya. Langkah Emeli malas menuju pintu depan, samar-samar terdengar orang bertengkar, Emeli meneruskan langkahnya penasaran.
Matanya terbelalak menatap Devan sedang ribut bersama Saga dan Wijaya tepat di depan pintu.