
"Karena aku cemburu Devan ,aku berusaha menerima namun perasaanku tidak bisa di bohongi." jawab Diandra dengan mata berkaca-kaca.Devan mendekati Diandra dan menggenggam tangannya.
"Bukankah, kamu bilang bersedia berbagi, aku akan berusaha untuk adil."ujar Devan menatap istrinya yang sedang marah sembari melangkah mendekat.
"Aku sudah berusaha...., berusaha yang aku bisa, tapi aku tidak bisa,ini terlalu sakit melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain." ujar Diandra.
Diandra melangkah mundur menjauhi Devan sembari mengusab air matanya, lalu berlari menaiki tangga dengan air mata yang terus berlinang,sedangkan Devan berdiri mematung tidak tau harus berbuat apa.
Diandra masuk kamar dan mengunci pintunya
kini tatapan Diandra yang sedih berubah tajam
"Apa Emeli tau, kalau aku sudah memberikan sedikit obat di makanan itu, agar membuatnya mati secara perlahan."Lalu menghempas kan tangannya dengan kasar.
"Sial cara ini tidak bisa aku lakukan lagi, ini terlalu berisiko, bagaimana kalau dia menyuapi Devan dengan makanan yang aku berikan.
Aku harus cari cara lain untuk menyingkirkan Emeli dari Devan selamanya.
*******
Sedang di lantai bawah Emeli menatap Devan yang tengah frustasi Tiba-tiba tatapan Devan teralih melihat Emeli yang menatapnya tajam.
Dia melangkah mendekati Emeli yang terdiam,lalu menggapai tangannya.
"Laura aku akan menyakinkan Diandra agar bisa berbagi dengan mu." Ujarnya memohon,namun dengan cepat Laura menghempas tangan Devan.
"Berbagi perasaan tidak semudah yang kamu pikirkan Devan, kita balik saja, bagaimana posisi mu berada di posisi kami, apa bisa kamu menerimanya." tanya Emeli kesal dengan sorot mata tajam.
"Apa maksudmu Laura, tolong jangan begini.?"Lirihnya
"Misalnya saja Devan, jika aku berbagi perasan ku dengan Saga, apa kau mau menerima nya?" tanyanya lagi. Membuat Devan terperanjat mendengar ucapan Emeli.
"Cukup Laura aku tidak ingin membahas lelaki lain saat kita bicara serius." jawabnya dengan intonasi meninggi.
"Kenapa tidak ini sama saja,seperti aku dan Diandra yang harus membagi mu"ucap Emeli tajam nan menusuk membuat Devan tambah gusar dan sedikit menjauh
"Sudah Laura aku tidak ingin bertengkar lagi,aku minta tolong Jagan sebut pria lain di depanku apalagi Saga." teriaknya penuh emosi.
"Kamu egois Devan hanya memikirkan perasaan mu sendiri,aku baru sadar sebagai wanita seharusnya aku tidak menyakiti Diandra.
Sebaiknya kamu selesaikan Masalah mu dengan Diandra, aku tidak mau dia semakin sakit hati melihat mu bersamaku."
"Kenapa tidak Laura... kamu juga istriku." Devan mendekat lalu mencengkram lengan Emeli dengan kasar. Tapi lagi-lagi Emeli melepaskan tangan Devan dengan tatapan kesal.
"Aku tidak mau Devan bahagia di atas penderitaan istrimu yang lain, sebelum mendapat persetujuan Diandra. Jagan pernah mendekatiku lagi." Membuat Devan mematung mendapat ultimatum dari Emeli
Sedangkan Emeli masuk kamar dan buru-buru mengunci pintunya.Devan yang tersadar langsung mengejar lalu mengetok pintu.
__ADS_1
"Tok tok tok gedoran di balik pintu kamar laura terdengar, namun Emeli tidak bergeming,dia menahan tubuhnya di belakang pintu.
"Laura kita bisa bicarakan ini baik-baik, aku mohon... Jagan begini." Setelah lama berdiri di pintu namun tak ada sautan dari Emeli. Devan menendang pintu dengan kesal lalu melangkah pergi.
Terdengar suara gaduh, seperti barang barang yang di banting hingga pecah. Laura tetap terdiam di daun pintu sembari mendengar suara gaduh, semakin lama suara itu semakin menghilang.
"Untuk hari ini aku masih punya alasan untuk menghindari Devan,tapi bagaimana kalau Diandra setuju.
"Aaaaarkrkk..." teriaknya sembari mengacak-acak rambutnya, lalu melangkah ke sana-sini mencoba berpikir keras.
"Aku tidak boleh terjebak di sini, Aku harus cari cara lain untuk terlepas dari Devan. Tapi
kalau di pikir lagi, kenapa sikap Diandra berubah, apa benar karna cemburu atau ada hal lain.
Emeli ingat, kali ini pada siapapun aku harus waspada, apalagi ke Devan ,dia salah satu alasan aku di sini.
Dan aku harus mencari tau alasan kenapa penjahat itu tidak menabrak Devan.
Aku harus bergerak cepat, untuk mengungkap semuanya agar bisa keluar dari Drama ini."
Setelah membanting semua barang hingga berserakan,Devan terdiam sejenak termenung mencoba berpikir keras.Lalu melangkah gontai menuju kamar atas.
"tok tok tok Devan mengetok pintu.
Diandra sayang bisa kita bicara,tolong Jagan diamkan aku begini, aku sangat gelisah jika kamu marah. Ok sayang aku minta maaf. Diandra sayang kita bisa bicarakan baik-baik."
"Diandra aku..." Devan belum selesai bicara Diandra memeluk Devan sembari menangis.
"Tolong Jagan perlakukan aku begini ,aku memang tidak bisa marah padamu, tapi aku juga sakit hati melihatmu bermesraan dengan wanita lain."Membuat Devan mengangkat tangannya lalu mengusab rambut Diandra dengan pelan.
"Maafkan aku Diandra, aku terlalu egois hingga mengesampingkan perasaan mu." Tangan Devan sudah berpindah mendekap tubuh Diandra dengan erat.
****
Pagi sekali Devan terbangun melihat Diandra yang tertidur sembari memeluk tubuhnya.devan melepaskan pelukan Diandra dengan pelan lalu bangkit dan keluar menuju kamar Laura.
"Laura sayang...?"ujarnya sampai beberapa kali Devan memanggil tidak ada sautan, lalu Devan memutar gagang pintu, keningnya berkerut menyadari pintunya tidak terkunci.
Dengan cepat Devan mendorong pintu itu, matanya terbelalak menatap kamar Laura yang kosong,dia mencari di kamar mandi namun laura tak terlihat.
"Aku tau kamu pergi kemana Laura."
Devan mengepal penuh amarah lalu mengambil kunci mobil Tampa Menganti piyama tidurnya dia bergegas melajukan mobilnya dengan kencang.
"tok tok tok ketokan pintu yang terdengar memaksa membuat Saga dan Wijaya bertanya tanya Saga melangkah lalu membuka pintu.
"Kamu...." ucap Saga heran menatap Devan di pagi hari sudah bertamu memaki piyama.
__ADS_1
Tampa aba-aba Devan mencengkram kerah Saga.
" Di mana istriku?" tanya Devan penuh amarah.
"Apa maksudmu?" jawab Saga heran.
"Laura di mana Jagan berlagak bodoh, siapa lagi yang tau keberadaannya kalau bukan kamu?" tanyanya lagi.
"Ada apa ini Devan?" ucap Wijaya yang baru saja datang dengan sorot mata heran menatap kedua pria yang sedang bertikai.
"Di mana Laura katakan, kalau tidak aku tidak akan segan,"teriak Devan yang tidak menghiraukan mertuanya yang berdiri di sampingnya.
"Hah Saga tergelak mengapa bertanya padaku bukan kah kau suaminya." Devan mulai geram mencoba melayangkan tangannya untuk meninju Saga,namun dengan cepat Wijaya menangkapnya.
"Tenang Devan ,Laura tidak di sini."
pernyataan mertuanya membuat Devan berbalik menatapnya
"Iya Laura tidak ada di sini kalau kamu tidak percaya kamu lihat saja kamarnya dan seisi rumah ini."
Lalu Devan melepaskan cengkeramannya dan melangkah pergi menuju kamar Laura namun masih terlihat kosong,
"Laura kamu di mana, Laura...?" teriaknya mengelilingi seluruh ruangan di rumah Wijaya setelah puas Devan melangkah pergi.
"Bagaimana istrimu tidak ada di sini kan, bukankah kamu suaminya, mengapa tidak becus menjaganya ,oh iya aku lupa kalau istrimu bukan cuma satu." Ujar Saga dengan nada mengejek.
Mendengar itu Devan menghentikan langkahnya lalu berbalik dengan tatapan penuh amarah
"Kurang ajar, berani sekali mulut mu bicara begitu," Lalu mendekati Saga Namun Wijaya menghadang tubuh Devan.
"Tenanglah Devan aku yakin putriku sedang pergi sebentar, kalau dia kemari nanti aku akan mengabari mu " ucap Wijaya serius.Mendengar itu Devan melirik mertuanya yang terlihat jujur dan serius lalu menghela nafas kesal.
"Baiklah kali ini Saga aku maafkan.Dan Jagan lupa kalau Laura ke sini, suruh dia pulang ke rumahku." lalu melangkah pergi.
Saga dan Wijaya menatap punggung Devan hingga masuk mobil dan menghilang di kejauhan.
******
Emeli sedang duduk di pusara Fandi sembari menaruh buket bunga mawar putih.
"Apa kabar kak,aku tidak percaya sekarang dunia kita berbeda,Aku ke sini ingin mengucapkan terimakasih atas semuanya.
terimakasih telah mencintaiku hingga akhir hanyatmu, dan terimakasih pengorbanan yang kak Fandi lakukan untuk ku."ucapnya dengan mata mulai mengembun.
"Aku berjanji aku tidak akan melepaskan penjahat itu, sudah cukup perbuatan jahatnya yang menelan banyak korban."
gerimis turun dari langit yang mendung,Emeli tersenyum lalu menjulurkan tangan menatap tetesan hujan yang mendarat di telapak tangannya.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang menutupi tubuh Emeli dengan jaketnya, membuat Emeli berbalik lalu menatapnya dengan mata terbelalak.