
Di sebuah ruangan seorang pria tampak uring-uringan, emosi tidak sambil membuatnya selalu marah-marah tidak jelas
"Apa ini?"menarik satu alisnya,menatap makanan berkuah yang tersaji di dalam mangkok.Di atas meja makan khusus pasien ,
"soto tuan, saut Jhoni yang berdiri di sampingnya.
"Kenapa bentuknya seperti ini?"
mengangkat bihun dalam soto dengan garpu sambil mengerucutkan bibirnya.
"Memang soto bentuknya seperti itu tuan,bukankah Anda tadi yang meminta, dan tidak mau makanan rumah sakit."
"kenapa suasana hati Anda sangat buruk tuan, hingga slalu marah tidak jelas,
kalau saja anda bukan majikan saya , sudah saya lempar anda ke segitiga Bermuda," gumam jhoni.
"Kenapa , menatapku seperti itu,
kamu mengumpat ku dalam hati."dengan sorot mata tajam,
"Tentu saja tidak tuan, mana berani saya, berfikir pun tidak pernah."elaknya lalu
mengelap keringat yang membahasi keningnya."Ngomong-ngomong rumah sakit ini bukankah rumah sakit ini milik pak Wijaya,?"
" Benar tuan?"Devan menghela nafas kesal.
"Tapi kenapa pemilik rumah sakit ini tidak menjenguk ku... setidaknya Laura sebagai gantinya, bukankah aku Pasian VVIP."
Jhoni menyeritkan dahi, mendengar kata-kata konyol yang tuannya utarakan.
"Tidak ada kebijakan rumah sakit seperti itu tuan,"mendengar ucapan Jhoni Devan menatapnya tajam Tampa kata.
" maaf tuan , apa anda merindukan nona Laura?"tanyanya sedikit gugup.
"Tidak, aku hanya heran bagaimana mungkin seorang istri mengacuhkan suaminya yang tengah terbaring di rumah sakit.
"cih istri katanya, bahkan nona Laura tidak menganggap tuan sebagai suami "
"Tuan sebaiknya anda makan sotonya, selagi hangat, apa perlu saya suapi?"
"Apa kamu tidak melihat, tangan kanan ku baik-baik saja, lagipula lengan kiri ku yang tertembak."
Kreaakk... suara pintu terbuka.
Mata Devan terbelalak dan menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman,
seseorang pria paruh baya dan seorang gadis berjalan mendekati Devan ,dengan tangan membawa bingkisan buah.
"Bagaimana keadaan mu nak?" menelisik seluruh tubuh putranya lalu mengelus punggung Devan.
"Aku jauh lebih baik pa."
menampilkan senyuman namun matanya melirik gadis di samping papa Ardi.
"Syukurlah semoga kamu cepat kembali pulih,"
Ardi mengerutkan kening melihat putranya menatap intens gadis di sampingnya, sedangkan yang di lihat seolah tidak perduli membuang muka menatap ke arah Lain.
"Oiya tadi papa mampir ke rumah pak Wijaya, sekalian mengajak istrimu kemari..."
merangkul Emeli mendekati Devan.
Sedang Emeli hanya bisa menelan Slavina ,dan tersenyum paksa di depan papa Ardi.
"Papa pergi dulu ya, mau cek up bulanan, ke dokter Antoni."
"Memang papa kenapa?"dengan sorot mata penuh tanya.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir ini
hanya cek up rutin bulanan saja."
"Papa titip suami mu, kalau nakal jewer saja." mengusap kepala emeli dan bergegas pergi,
Emeli melirik Devan dan Jhoni yang berdiri di sampingnya.
"Hmmm, bagaiman keadaan mu?"
"Seperti yang kamu lihat, merentangkan kedua tangannya,sembari tersenyum.
"Syukurlah, ini buah dari ayah dan maaf dia tidak bisa menjenguk karna masih kurang sehat." menaruh buah itu di atas meja.
"Tidak apa-apa, lagipula aku mengerti"
gadis itu hanya mengangguk Tampa kata.
"Bagaimana dengan kening mu?"Devan menjulurkan tangganya ingin menyentuh kening Emeli,namun dengan sigap emeli memundurkan tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan?"dengan sorot mata heran."tentu saja aku ingin memeriksa kening mu." menurunkan tangan yang masih melayang lalu menepuk-nepuk ke ranjang , karna kesal atas penolakan Emeli,
"Tidak perlu aku sudah baik-baik saja." memegang keningnya sendiri yang masih di plester bergambar kartun.
"Oh syukurlah" dengan senyum di paksakan.
sedangkan Jhoni, hanya terkekeh melihat bosnya yang tampak bodoh.
Emeli melangkah menjauh dan duduk di sofa yang berwarna coklat mengambil gawai yang tersimpan di tas, lalu memainkannya,
"tuan sebaiknya sotonya di makan nanti dingin"ucap Jhoni.
Saat menatap makanan berkuah, tiba-tiba ,Devan tersenyum.
"Aku lapar," matanya melirik emeli
"Kalau lapar makan saja tuan, kan sudah ada di hadapan anda." Jhoni menundukkan wajah mensejajarkan ke wajah Devan.
Devan hanya menatap tajam pada Jhoni , dan mengedip kan matanya, Jhoni mengangkat satu alisnya untuk berfikir apa yang di inginkan tuannya."Oh ,Jhoni mengacungkan jempol, tanda mengerti ,devan pun tersenyum.
"Tuan makanlah ,sudah seharian anda tidak makan ,aku khawatir anda akan pingsang." melirik emeli dengan bibir mengerucut
"Aku lapar tapi aku tidak bisa makan, tanganku sakit" dengan intonasi meninggi
"Aku jga minta maaf tanganku kram, jadi tidak bisa di gerakan , apalagi menyuapi anda."
emeli memutar matanya dengan malas,lalu menghela nafas panjang "berjalan mendekati mereka.
"Ada apa" tanyanya malas.
" Tuan ingin makan tapi tanganku kram, dan tangan tuan masih lemah..."
Tampa mengucap apapun Emeli mengambil mangkuk dan menyuapi Devan.
Devan memakannya dengan lahap Tampa sisa,
"Sudah habis lab mulut mu , mengambil tisu dan memberikan pada Devan,
,"Lab kan.." sembari memanyunkan mulutnya.
Emeli mengerutkan kening nya.
"Jagan seperti bayi, aku tahu kalau cuma mengelap mulut, pasti kamu biasa kan" menarik tangan Devan dan memberi tisu itu ke tangannya.
"Laura ,kita pulang"
suara bariton pria terdengar, seorang yang telah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Emeli menarik sudut bibirnya , membentuk sebuah senyuman, dan beranjak pergi namun tangan kekar Devan menggenggam erat.
"Siapa yang menyuruh mu pergi?"
"Lepaskan, apa urusan mu?" menatap Devan dengan sorot mata heran,
"Tentu saja ini menjadi urusanku kamu istriku."
"Lepaskan dia Devan ,ucap saga yang sudah di samping Emeli.
"Jangan membuat ku marah" dengan sigap emeli mengangkat tangan menahan tubuh saga,lalu menggelengkan kepala.
"Baiklah, ayo kita pergi menarik tangan,
namun tubuh gadis itu tertahan karna devan masih memegangnya.
"Aku bilang lepaskan dia."ucap saga dengan mata penuh amarah,
"Kamu yang lepaskan, dia istriku"
dengan wajah geram,
Saga tergelak
"Hah istri bukankah dulu kamu tidak Sudi mengapa sekarang mengakuinya?"
"Diam.... tutup mulut mu"wajah Devan mulai memerah.
"Kenapa merasa malu, seorang Devan Ardiansyah menelan ludahnya sendiri"
"Sagara ..... teriaknya.
"Diam....."
, Emeli menghempaskan kedua tangannya dengan kasar,membuat cengkeraman mereka terlepas,"Aku manusia bukan barang yang kalian perebutkan.
Aku mau pulang sendiri,kalau kalian masih mau bertengkar aku tidak peduli,
menunjuk saga dan Devan secara bergantian dengan sorot mata geram dan bergegas pergi
brakkk
Emeli menutup pintu dengan keras ,sedang tiga pria hanya mematung menatap kepergian gadis itu.
"Sesampainya di rumah emeli bergegas ke kamar membaringkan tubuhnya yang terasa lengket dan lelah,
"aku capek sekali hari ini , sebaiknya aku mandi.
Emeli keluar kamar mandi dengan tubuh yang masih terlilit handuk ,
"Taruh dimana ma bibi,baju tidur yang sering aku pakai"bergegas menuju lemari yang cukup besar, membuka lemari tapi yang di cari tidak ada.ya sudahlah aku mau pakai baju laura saja." Mengambil salah satu baju tidur , yang tumpuk rapi, saat mengambil baju ,
Tiba-tiba sebuah kertas jatuh ke lantai,
gadis itu berjongkok dan mengambil kertas , matanya terbelalak , setelah membacanya,
"ini kan..
beranjak dari duduknya,mengambil gawai dalam tas, lalu menghubungi seseorang
"Halo, saga bisa kita bertemu ada hal penting yang aku sampaikan,"
...----------------...
...----------------...
terima kasih telah mampir semoga kalian suka,
__ADS_1
dan maaf bila kata-kata nya masih berantakan* ,