
Emeli menatap kepergian Saga dengan nanar ada rasa berat di hatinya lebih memilih Devan.
"Saga maafkan aku, kamu taukan ini harus aku lakukan agar aku bisa cepat bebas dari semua ini."
"Ayo kita pulang." Saut Devan menyadari istrinya menatap Saga intens, Emeli hanya terdiam membuat Devan bertambah kesal lalu menariknya ke dalam mobil
Mobil Devan berhenti di depan rumahnya, Devan berbalik menatap Emeli yang tertidur pulas di sampingnya. Dia membersihkan anak rambut yang menutupi paras cantik istrinya.
"Laura kamu benar-benar membuatku gila.
Aku sadar sebagai seorang suami belum bisa menjadi yang sempura tapi sebisa mungkin
aku akan melakukan yang terbaik untuk mu."
Devan mengusap lembut pipi Emeli , membuatnya membuka mata merasakan sentuhan yang mengusik tidurnya
"Devan...?" Emeli bangkit mengusab wajahnya,lalu mengedarkan pandangannya
menyadari dirinya sudah berada di rumah Devan.
"Kita sudah sampai sejak kapan kenapa tidak membangunkan ku ?" tanya Emeli penasaran
"Baru saja.... aku tidak tega membangunkan mu yang tertidur pulas," ujarnya sembari mengusap lembut rambut hitam Emeli.Tampa basa basi Emeli menghempaskan tangan Devan lalu melangkah masuk rumah.Sedang Devan hanya tersenyum, mengerti akan sikap acuh istrinya.
Emeli merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan mata, tiba-tiba tangan kekar melingkar di perutnya membuat emeli membuka mata. Menyadari Devan sudah berada di belakang punggungnya.
"Devan lepaskan,aku mau tidur." Emeli meronta ingin melepaskan tangannya, namun devan tidak bergeming, tersenyum mengeratkan pelukannya.
"Biarkan seperti ini, aku hanya ingin tidur di samping mu hari ini saja jangan membantahku." Devan semakin menenggelamkan wajahnya ke rambut hitam Emeli menghirup aroma tubuh istrinya yang membuat nya tenang.
Emeli yang terlalu capek untuk berdebat memilih tidur di banding meladeni Devan yang tidak ada habisnya.
Paginya Emeli membuka mata dia tersenyum menyadari Devan telah pergi.
lalu bangkit merentang tangan mencoba melemaskan otot-otot yang mulai kaku
Emeli membelalakan mata mendapati Devan keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya hingga nampak jelas dada bidang dan otot kekar yang membuat Emeli menelan Slavina, Dengan cepat membalikan badan dengan wajah bersemu merah.
"Devan tolong pakai bajumu," ucapnya Emeli kesal melihatnya bertelanjang dada, Devan tersenyum lalu memeluk Emeli dari belakang.
"Kenapa kamu malu sayang aku kan suamimu, kamu lupa sudah beberapa kali melihatnya, jangan kan melihatnya kamu jga boleh memilikinya, Devan menumpukan dagunya di pundak Emeli memeluknya lebih erat.
"Devan lepaskan jagan seperti ini," Emeli meronta ingin melepaskan tapi Devan tidak bergeming.
"Tidak sayang aku masih sangat merindukan mu,"Emeli menghela nafas kesal atas perlakuan Devan tapi jga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku mohon Devan lepaskan, aku mau mandi." dalihnya agar Devan mau melepaskan.
__ADS_1
"Baiklah aku menunggumu di sini." Devan mencium pipi Emeli lalu melepaskan pelukannya ,Emeli yang menyadari tangan Devan terlepas, buru-buru pergi mengambil baju di lemari dan bergegas ke kamar mandi.
Devan tersenyum mengelengkan kepala, melihat tingkah Emeli yang masih malu-malu padanya.
Brukk....!
Emeli menutup pintu dengan keras lalu berdiri membelakangi pintu.
"Devan.... kenapa dia selalu menggangguku aku harus segera menemukan bukti sebelum Devan melakukan hal di luar batas," ujarnya lalu mengusap wajahnya frustasi.
Setelah membersihkan diri Emeli membuka pintu dengan pelan dia menjulurkan kepala lalu mengedarkan pandangannya,
Tiba-tiba mata Emeli terbelalak menatap Devan yang berdiri di samping pintu sembari melipat tangan menatapnya dengan tajam, membuat Emeli menelan Slavina nya dengan kasar.
"Ngapain mengintip keluar, lihat sudah jam berapa ini" Tegasnya.
"Lagian siapa suruh menungguku." lirihnya, tersenyum, menggaruk kepalanya merasa gugup.
Devan mendekati Emeli lalu merengkuh lengannya mengiring Emeli duduk di meja rias.
"Devan kamu mau ngapain," tanyanya penasaran.
"Tidak baik membiarkan rambutmu basah nanti masuk angin." Jelasnya lalu menjulurkan tangan mengambil hadlayer dan mengeringkan rambut Emeli dengan telaten.
"Kamu ngapain tanya Emeli?" bingung melihat tingkah Devan.
"Devan kamu suami yang baik, tapi aku bukan istrimu Laura."
"Sudah cantik kan." Ujar Devan setelah menyelesaikan pekerjaan nya. Lalu mencium pucuk kepala Emeli.
"Ini sudah siang, ayo temani aku makan." Devan menarik tangan Emeli keluar kamar,
Langkah Devan terhenti melihat Diandra berdiri depan pintu.
Diandra kamu kenapa.?" Devan bertanya khawatir melihat Diandra berdiri dengan tatapan kosong.
"Kamu kenapa sayang, kenapa terlihat sedih.?" tanya Devan khawatir.
"Selama seminggu ini kamu sibuk mencari Laura setelah ketemu kamu melupakanku." Diandra menangis merasa Devan tidak perduli lagi padanya.Devan merengkuh lengan Diandra menatapnya dengan lembut.
"Maafkan aku sayang, jika Tampa sadar aku menyakitimu, sekarang kamu mau apa agar aku bisa menebus kesalahanku." Jelasnya.
"Luangkan hari ini denganku, hanya denganku Kamu mau kan?" tanya Diandra meraih tangan Devan menatapnya dengan tatapan memohon.
Devan berbalik menatap Emeli meminta sebuah jawaban,Emeli yang mengerti mengangguk setuju.
"Baiklah kamu mau kemana, aku temani." Ujar Devan, menjulurkan tangan menghapus air mata Diandra.
__ADS_1
"Terimakasih Devan," Diandra memeluk devan, Devan yang dipeluk mengusab lembut rambut hitam Diandra dengan perasaan tak terbaca.
"Bagus kalau mereka keluar aku dengan leluasa mengeledah kamar mereka"
Emeli tengah sarapan sedang Devan dan Diandra masih di atas untuk siap-siap.
Terdengar langkah kaki Diandra dan Devan menuruni tangga Emeli mendogakkan wajah menatap mereka berdua berpakaian lebih rapi tapi tetap santai.
Devan melepas tangan Diandra lalu mendekati Emeli yang tengah sarapan
"Sayang aku berangkat dulu, kalau ada apa-apa Jagan lupa kabari aku ya?" Emeli hanya mengangguk lalu meneruskan makannya.
.
"Jangan lupa makan yang banyak dan Jagan pergi kemanapun sebelum aku kembali." Jelasnya.
"Iya bawel banget sech , udah sana berangkat." tegas Emeli merasa terganggu dengan kedatangan devan.Devan tersenyum melihat Emeli membuka mulutnya untuk makan tiba-tiba Devan memegang sendok Emeli, memutar ke mulutnya sendiri.
"Enak....." devan tersenyum sembari menguyah makanannya, sedangkan Emeli tertegun, tidak percaya, menelan slavina dengan kasar atas perlakuan Devan.
"Sayang ayo nanti kesiangan," panggil Diandra dari kejauhan.Membuat Devan dan Emeli mendongakkan wajah menatap Diandra yang terlihat kesal.
"Aku berangkat dulu sayang," Devan mencium kening Emeli dan melangkah pergi.
Emeli menghela nafas kasar lalu membanting sendok dengan pelan.
"Devan selalu saja menganggu ku , membuat selera makan ku hilang."ujarnya dengan malas. Aku harus membuktikan kebenaran dengan kode
Emeli bangkit mengintip dari jendela melihat Devan dan Diandra sudah masuk mobil, Emeli tersenyum.
"ini waktunya Emeli,"
Emeli menghampiri pembantunya yang tengah mencuci piring
"Bik bisa bantu saya." tanyanya santai
"Kenapa non?" tanya bik Imah yang menghentikan pekerjaaan nya dan berbalik menatap Emeli.
.
"Perut saya sakit bik, sepertinya mah saya kambuh,tolong belikan saya resep obat ini tapi adanya di apotik yang agak jauh." Emeli memberikan resep obat lalu memegang perutnya sembari meringis agar meyakinkan bik Imah.
"Baik non bibik akan membelinya." ucapnya khawatir pada Emeli
"Makasih bik," Sahut Emeli bik Imah bergegas pergi , Emeli tersenyum rencananya berhasil.
"Aku akan memastikan sekarang."
__ADS_1