
Kamu tau saga Devan sekarang berubah, dia bersikap layaknya suami yang baik, aku bingung bagaimana cara untuk menghindari nya, di sisi lain aku yakin penjahat itu ada hubungan dengannya." ujar Emeli dengan mata mulai mengembun
"Emeli aku akan usahakan secepatnya untuk menemukan penjahat itu, agar kamu terlepas dari semua ini, terutama Devan, jadi kamu bisa kembali memakai status Emelia Anandita bukan Emeli Wijaya lagi." tegasnya berusaha meyakinkan, sedangkan Emeli hanya menjawab dengan senyuman.
"Sudahlah Jagan bahas devan, membuat suasana kita yang baik ini jadi kacau. Hari ini hari kita jadi tidak ada lagi kesedihan.
Sebaiknya kita nonton saja aku dengar ada film bagus." Lagi lagi Saga menarik tangan Emeli Tampa persetujuan nya.
"Mereka Masuk bioskop dan duduk di paling belakang ,Emeli mengerutkan kening sembari menelan Slavina nya kasar, menatap layar yang menunjuk kan adegan romantis menuju erotis."
"Apa ini yang di maksud saga film bagus, fix hari ini Saga otaknya benar-benar geser."
Emeli tidak habis pikir Saga akan mengajaknya melihat film seperti itu membuatnya menguap beberapa kali karna ngantuk.Sedangkan Saga yang menyadari tingkah konyol Emeli hanya tersipu malu sambil diam-diam memperhatikan.
Setelah beberapa lama Saga serius menatap film, dia di kejutkan dengan kepala Emeli yang bersandar di bahunya.
"Dasar gadis ini bukannya nonton malah tidur," ujarnya sembari menjulurkan tangan memegang wajah Emeli untuk menyamankan posisinya.
Tiba-tiba tangan Saga terhenti ada desiran hangat di hatinya ketika menatap gadis cantik yang tertidur pulas berada begitu dekat dengan wajahnya.
Saga mendekatkan wajahnya menatap intens bibir Emeli yang menggoda tampa sadar lalu mencium bibir Emeli yang awalnya kecupan lembut berubah menjadi ciuman menuntut membuat Emeli terbangun dan membelalakkan mata.
"Apa ini... pa Saga mencium ku, apa aku hanya hanya berhalusinasi saja tapi terasa nyata."
Karena bingung harus berbuat apa dia memutuskan menutup kembali matanya dan pura-pura tidur sembari mencengkram kuat kursinya.
Tiba-tiba lampu hidup membuat suasana tadi yang meremang menjadi terang, Saga terkejut dengan pa yang di lakukan,dia memundurkan wajah lalu mengusab lembut pipi Emeli.
"Apa benar tadi Saga mencium ku, tidak Emeli ini hanya mimpi ,karna banyak pikiran makanya mimpimu terasa nyata."
"Emeli bangun filmnya sudah selesai, kamu tidur apa pingsan,"Saga mengguncang lengan Emeli dengan lembut, membuat Emeli terperanjat lalu membuka matanya dengan gugup.
"Benarkah aku ketiduran." Jawabnya sembari mengusab hidungnya dengan wajah tertunduk karena semakin gugup.
__ADS_1
"Apa kamu sangat mengantuk,hingga tidur mu begitu pulas" ujar Saga sembari membereskan rambut Emeli yang berantakan, membuatnya tersipu malu dengan wajah bersemu memerah.
"Saga aku keluar dulu" lalu beranjak pergi dengan buru-buru.
"Emeli hati-hati" baru selesai Saga berucap Emeli sudah tersandung di kursi hingga kakinya terkilir.
"Awww sakit..." lirih Emeli meringis memegangi kakinya.
"Baru aku bilang," Saga z melangkah mendekat
lalu berjongkok di depannya. dan memijat kaki Emeli.
"Sakit Saga.."lirihnya sembari meringis, Saga menghela nafas kasar sembari menggelengkan kepala. lalu berbalik berjongkok membelakangi Emeli
"Mau apa?" tanya Emeli bingung
"Tentu saja mengendong mu, apa kamu bisa jalan kalau kakimu seperti itu."
"Tapi Saga,ujar Emeli ragu
Saga tersenyum lalu mengangkat tubuhnya sembari mengendong Emeli di belakang punggungnya,Emeli yang merasa malu di tatap orang saat melintas lalu menundukkan wajahnya di bahu Saga.
"Saga apa kamu tidak risih menggendongku di depan umum?"
"Tidak justru aku senang Emeli mengerutkan kening mendengar pernyataan Saga
"Maksudmu senang, apa kamu senang kaki ku terkilir." tanya Emeli dengan tatapan menyelidik dengan raut wajah masam.
"Sudahlah cerewet sekali kupingku sakit mendengar ocehan mu dari tadi." ujar Saga sembari tersenyum sedangkan Emeli menelan Slavina kasar dengan wajah masam.
Saga terus berjalan mengendong Emeli melewati beribu pasang mata yang menatapnya lalu berhenti di tepi jalan.
"Taksi..." teriak Saga ketika melihat taksi yang sedang lewat.Lalu memasukan tubuh Emeli ke dalam taksi, dengan hati-hati, setelahnya di ikuti Saga masuk dan duduk sebelah Emeli.
__ADS_1
"Saga kenapa naik taksi, bagaimana dengan motor mu" tanya Emeli bingung.
"Nanti biar orang ku yang ambil, lagian apa bisa kamu menaikinya sedang kakimu begitu." jawab Saga menatap Emeli yang sedang menatapnya intens.Sesaat pandangan mereka beradu,membuat Emeli tertegun menatap pria tampan di depannya.
"Sumpah demi apapun Saga terlihat tampan, kenapa aku baru menyadarinya, apalagi dengan sikapnya yang hangat membuat hatiku meleleh"'
"Kenapa terpesona dengan ketampanan ku." ujar Saga, menatap Emeli yang melamun memandangi nya. seketika Emeli terlonjak malu lalu membuang muka menatap jendela mobil.
"Bodoh sekali kamu Emeli mengapa bisa berpikir bodoh seperti itu." sembari menjitak-jitak kepalanya sendiri.
"Sudah Jagan di pukul lagi nanti kepala mu memar, lagian aku sudah terbiasa dengan seseorang yang terpesona dengan wajah ku." Jawab Saga menowel-novel punggung Emeli dengan senyum menggoda, membuat Emeli malu kelimpungan.
"Sudah diam Saga, kamu salah makan apa kenapa sikap mu aneh,?" tanya Emeli emosi yang telah berbalik menatap Saga kesal.
"Masak sepertinya kamu yang salah tingkah dekat dengan ku." ujarnya dengan kerlingan menggoda
"Saga.....teriak Emeli
Di sepanjang perjalanan Saga selalu meledek Emeli hingga membuat nya kesal. Mobil itu berhenti di depan rumah Devan, karena keinginan Emeli untuk menyelesaikan misinya.
"Kamu yakin, akan tinggal di sini lagi."tanya Saga heran
"Aku ingin masalah ini cepat selesai Saga" jawab Emeli dengan keseriusan.
"Yasudah kalau itu keinginan mu, tapi tetap waspada di sana,karena kita belum tau siapa penjahatnya" Emeli menjawab dengan anggukan dan melangkah keluar.Sedangkan Saga menatap punggung Emeli hingga menghilang di balik pintu.
Emeli membuka pintu secara perlahan lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dan menghela nafas lega menatap rumah itu kosong lalu menutup pintu dengan santai dan melangkah sedikit pincang
"Dari mana kamu,?" ujar Devan yang berada di lantai atas bersama Diandra.
Emeli sejenak memejamkan mata kesal sembari menghentikan langkanya mendengar suara Devan lalu mendogakkan wajahnya menatap Devan yang terlihat marah.
" Aku main sebentar," jawabnya gugup sembari meremas bajunya khawatir menatap Devan dan Diandra menuruni tangga mendekatinya.
__ADS_1
"Kamu bilang main, lihat jam berapa ini,dari pagi kamu pergi pulang sampai malam, apa kamu sadar. Aku mencari mu ke mana-mana seperti orang gila." ujar Devan yang sudah berada di depan Emeli lalu merengkuh kedua lengan Emeli menatapnya penuh emosi.
"Tidak bisakah, kamu seperti Diandra, menjadi istri yang baik menunggu suaminya pulang ke rumah, tidak seperti kamu keluyuran tidak jelas."bentaknya